<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita seks &#187; Uncategorized</title>
	<atom:link href="http://jablayonline.info/category/uncategorized/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jablayonline.info</link>
	<description>Kumpulan cerita dewasa</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Mar 2010 16:18:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.3</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Maya mantan pacarku</title>
		<link>http://jablayonline.info/2008/05/09/maya-mantan-pacarku.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2008/05/09/maya-mantan-pacarku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 03:22:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/2008/05/09/maya-mantan-pacarku/</guid>
		<description><![CDATA[saya tergolong orang yang memiliki nafsu seks yang besar sehingga saya sering mencari partner wanita yang bisa menerima penyaluran nafsu saya. Tapi walaupun begitu saya lebih tertarik melakukannya dengan wanita yang bisa betul-betul menikmati rasanya bercinta, bukan karena membeli di tempat-tempat prostitusi. Rasanya bagi saya berbeda sekali, saya kurang bisa menikmati rasa bercinta di tempat-tempat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saya tergolong orang yang memiliki nafsu seks yang besar sehingga saya sering mencari partner wanita yang bisa menerima penyaluran nafsu saya. Tapi walaupun begitu saya lebih tertarik melakukannya dengan wanita yang bisa betul-betul menikmati rasanya bercinta, bukan karena membeli di tempat-tempat prostitusi. Rasanya bagi saya berbeda sekali, saya kurang bisa menikmati rasa bercinta di tempat-tempat prostitusi dan hal tersebut sudah pernah saya lakukan sebanyak 2 kali di tempat prostitusi yang berbeda.<br/><br/>Sering kali saya memberikan bacaan dari site in kepada rekan-rekan wanita saya yang terbilang &#8216;dekat&#8217; dengan saya. Salut untuk tim web ini yang tetap eksis menyajikan bacaan seputar pengalaman sex ;D Berikut ini saya ingin berbagi pengalaman saya kepada rekan-rekan tentang pengalaman sex saya dengan mantan pacar saya yang saya anggap pengalaman ini paling berkesan di antara pengalaman sex saya yang lain.<br/><br/>*****<br/><br/>Kota BL, Senin-31 Desember 2007 Pukul 13.00<br/><br/>Sama-samar kudengar suara hujan dari kamar hotel yang kubooking bersama teman-teman untuk acara tahun baru nanti malam. Kupandangi kamar yang bertarif 700 ribu dengan pandangan kagum dan bangga karena bisa menginap di hotel mewah bintang lima yang baru berdiri sejak 5 bulan yang lalu. Interior yang mewah dan suasana yang romantis serta ciri khas kebudayaan daerah yang jelas terpampang membuatku merasa nyaman untuk tinggal di kamar berduaan dengan pasangan, begitu yang terlintas di benakku.<br/><br/>Perlahan saya bangkit dari tempat tidur berukuran king size yang telah kududuki selama 5 menit. Pandanganku yang semula menonton acara MTV kualihkan ke arah jendela. Saya berjalan menuju jendela, memandang keluar melihat kotaku yang disiram oleh hujan yang telah berlangsung selama selama dua pekan. Dingin hujan ditambah dengan dinginnya AC membuat diriku merasa bergolak untuk menikmati kehangatan dari seorang wanita yang telah lama menjadi partnerku untuk urusan sex.<br/><br/>Klik..<br/><br/>Kudengar suara kunci pintu diputar dan pintu kamar mandi terbuka diiringi dengan langkah seorang gadis yang keluar dari kamar mandi. Maya, begitu nama gadis partner sexku. Sebenarnya kami pernah berpacaran selama kurang lebih tiga tahun yang selalu disertai putus sambung sehingga akhirnya kami menyadari bahwa kami tidak dapat bersatu disebabkan oleh perbedaan prinsip. Namun karena masih memiliki rasa sayang kami akhirnya berkomitmen untuk menjadi &#8217;sahabat&#8217; yang saling membantu termasuk untuk urusan sex.<br/><br/>&#8220;Loh, kok belum dibuka sih bajunya say. Lagi liat apa?&#8221;<br/>&#8220;Hhmm.. Gak liat apa-apa kok. Cuman lagi liat pemandangan kota aja.&#8221; jawabku.<br/><br/>Maya berjalan ke arahku dan kemudian memelukku dari belakang. Kurasakan dadanya yang berukuran 36-B menghimpit punggungku. Rasa hangat kurasakan di punggungku, kudekap tangannya yang melingkari dadaku. Memang tinggi badan kami sepadan, yaitu 168 cm. Yang berbeda hanya beratnya saja, Maya 48 Kg dan saya 55 Kg.<br/><br/>&#8220;Say, udah lama yah kita ga berduaan seperti ini. Saya kangen banget ama kamu.&#8221; bisik Maya.<br/>&#8220;Namanya juga tinggal berjauhan. Masak kamu tega sih nyuruh saya tiap hari bolak balik S-BL. Emangnya saya penjabat? Kalo pengacara iya. He.. He.. He..&#8221; candaku.<br/>&#8220;Ihh.. Nihh orang. Asal aja ya ngomongnya.&#8221; sambil berkata demikian Maya memasang tampang cemberut sambil melayangkan cubitan ke arah pinggang dan tanganku.<br/><br/>Secara refleks kubalikkan badanku dan kutangkap kedua tangannya. Sambil senyum kutatap kedua matanya dan perlahan kucium bibirnya yang merah merona. Dengan mata terpejam Maya menerima ciumanku dan kedua tangannya perlahan-lahan memeluk leherku. Kedua tanganku kuarahkan ke bongkah pantatnya yang montok dan kuremas-remas. Ternyata Maya hanya mengenakan celana dalam berenda warna merah dan buah dadanya dibiarkan tanpa ditutupi dengan BH. Kurasakan lidah Maya menari bersama lidahku, kami saling berpagutan dengan penuh nafsu.<br/><br/>Tiba-tiba..<br/><br/>&#8220;Aduh..!! Apaan sihh! Sakit tahu!&#8221; kulepaskan ciumanku. Kurasakan sakit di bibirku. Maya sengaja menggigit bibir bawahku, raut muka nakal terlihat dari wajahnya yang bersih.<br/>&#8220;Rasain. Itu balasannya yang udah buat saya kangen selama 6 bulan. Gara-gara suara kamu yang mendesah-desah di telepon saya sampai gak bisa tidur sebelum masturbasi.&#8221; jawab Maya sambil tersenyum.<br/><br/>Memang selama ini setiap kali kami saling telepon akan ada selingan sex telepon selama 20 menit. Hal itu sering kami lakukan sehingga membuat tagihan telepon kami menjadi bengkak. Maklumlah selama ini kami kuliah di kota berbeda. Maya di kota Sd dan saya di Kota S tetapi setiap 6 bulan saya dan Maya berusaha pulang ke kota kami di BL.<br/><br/>&#8220;Awas kamu yahh. Kubalas nih..&#8221; Langsung kucium bibir Maya dengan penuh nafsu. Maya berusaha mengimbangi ciuman yang kulancarkan sambil tangan kanannya mengelus-elus penisku dari luar celana. Tangan kananku pun tak mau kalah, kuremas buah dada Maya sebelah kanan sambil kupelintir putingnya yang berwarna kecoklatan.<br/><br/>Masih saling berciuman, kedua tangan Maya berusaha membuka kancing celana jins biru tua kesayanganku. Setelah berhasil membuka kancing dan resleting celanaku, secara otomatis celanaku jatuh ke bawah melewati kedua kakiku, yang tersisa hanyalah CD-ku saja. Kuangkat kedua kakiku secara bergantian untuk lepas dari celana yang sudah jatuh ke lantai. Maya langsung memasukkan tangannya kedalam CDku, perlahan-lahan tangannya mulai mengelus dan mengocok penisku yang sudah tegak berdiri dari tadi.<br/><br/>Kulepaskan ciumanku dan dengan cepat pula kulepaskan kaos yang kupakai serta CD-ku. Begitu melihat penisku yang berdiri tegak ke atas, Maya terlihat kaget.<br/><br/>&#8220;Gila! Say, kontolmu kok tambah gede? Habis kamu apain?&#8221;<br/>&#8220;Nggak kuapa-apain kok. Paling cuma ngocok aja waktu kita sex di telepon.&#8221;<br/>&#8220;Ah yang bener.. Jangan-jangan kamu sering ngentot ama perempuan lain yahh..&#8221;<br/><br/>Pertanyaan Maya hanya kujawab dengan senyuman, memang gaya bahasa Maya agak kasar bagiku tapi Maya memang kuajarkan untuk berbahasa kasar ketika kami sedang bercinta karena Maya dulunya adalah gadis alim yang punya nafsu sex yang besar tapi tidak dapat tersalurkan.<br/><br/>&#8220;Udah jangan ngerusak suasana, mo dilanjutin nga acara ngentotnya? Kalo mau buka donk CD-nya&#8221;<br/>&#8220;Ihh.. Yayangku kok jadi pemarah sih.. Hehehehhe..&#8221; Sehabis berkata demikian Maya segera melepas CD-nya. Terlihat bulu kemaluannya yang tercukur tipis dan rapi membuat diriku bertambah nafsu.<br/><br/>Kembali kucium Maya dengan penuh nafsu sambil kutuntun Maya ke arah ranjang dan kuremas-remas kedua buah dadanya. Maya pun tidak tinggal diam, kedua tangannya asyik mengelus biji penisku dan mengocok penisku dengan lembut. Kudengar suara napas Maya dan diriku sudah mulai berat seperti habis olahraga selama 2 jam. Begitu sampai di tepi ranjang, Maya menjatuhkan dirinya secara perlahan dengan ditopang oleh kedua tangannya dengan posisi masih dalam keadaan berciuman. Begitu Maya sudah dalam posisi tidur, perlahan ciumanku mulai kuarahkan ke bagian telinganya, turun ke leher dan akhirnya berhenti di dada sebelah kanan. Kuhisap secara bergantian kedua puting milik Maya yang sudah mengeras sambil kuremas-remas dengan penuh nafsu. Tangan Maya mencengkeram kepalaku sambil merintih pelan.<br/><br/>&#8220;Sstt.. Ah.. Ahh.. Hmm.. Eennaakk Say..&#8221;<br/><br/>Lidahku mulai menari di kedua puting milik Maya. Kujilat, kusedot-sedot dan kugigit-gigit pelan kedua putingnya secara bergantian. Puting yang sudah mengeras seperti biji kacang atom menambah nafsuku untuk terus bermain di dadanya. Memang untuk ukuran wanita puting susu milik Maya termasuk besar dan saya termasuk lelaki yang lumayan suka dengan puting susu wanita yang besar (karena menurut mitos yang kubaca di majalah, wanita dengan puting susu besar memiliki nafsu sex yang besar pula).<br/><br/>Kedua tangan Maya mulai mengacak-acak rambutku. Kuarahkan tangan kiriku ke daerah vaginanya. Perlahan kuarahkan jari tengahku ke belahan vaginanya. Kurasakan vagina Maya sudah mulai basah. Kumasukkan secara perlahan jari tengahku kedalam lubang vaginanya dan jari tengahku mulai bermain di dalam lubang kenikmatannya.<br />
 Kedua tangan Maya menjambak rambutku secara tiba-tiba sambil mengeluarkan suara.<br/><br/>&#8220;Uuhh.. Ahh.. Say udah nga tahan lagi nniihh.. Cepat Masukin kontolnya..!&#8221;<br/><br/>Rengekan Maya tetap tak kuhiraukan, kumainkan kedua dadanya sambil kupercepat pompaan jari tengahku di dalam lubang kenikmatan milik Maya. Rupayanya Maya sudah tidak tahan, berkali-kali kedua pahanya menjepit tanganku. Selang 5 menit kemudian Maya mengejang, kedua pahanya menjepit tanganku dan rambutku dijambak dengan kuatnya.<br/><br/>&#8220;Aahh..&#8221; Erang kenikmatan Maya.<br/><br/>Tanganku penuh dengan cairan kenikmatan yang terasa hangat, jari tengahku pun terasa dipijit perlahan oleh dinding kenikmatan milik Maya. Begitu kedua pahanya mulai longgar kutarik tanganku dan kujilat cairan kenikmatan dari Maya tanpa sisa. Tampaknya saya masih haus dengan cairan kenikmatan milik Maya, segera kuarahkan kepalaku ke vaginanya dan kujilat serta kusedot-sedot vagina milik Maya. vaginanya terasa becek lagi, Maya kembali mengusap-usap kepalaku.<br/><br/>&#8220;Say, gantian donkk. Maya khan juga pengen ngisap kontolmu, pengen rasain sperma kamu.&#8221;<br/>&#8220;Ya udah kita ganti posisi ke 69 aja. Saya di bawah yahh..&#8221;<br/><br/>Kami pun berganti posisi, saya tidur telentang dan Maya naik diatas perutku. vagina Maya yang terlihat basah dengan warna merah kecoklat-coklatan diarahkan ke mukaku. Segera kusambar vagina, kujilat, kusedot-sedot, dan kumainkan lidahku di vagina Maya. Maya sendiri asyik dengan kontolku, perlahan dikocok dan dihisap kontolku dengan lembut disertai dengan permainan lidah Maya di seputar kepala kontolku. Kurasakan rasa dingin bercampur nikmat setiap kali Maya memainkan lidahnya di seputar kepala kontolku. Tanpa bisa kucegah kutembakan cairan spermaku kedalam mulut Maya, Maya langsung berhenti menghisap kontolku. Setelah selesai kukeluarkan spermaku Maya menelan semua spermaku dan menjilat sisa-sisa sperma yang ada di kontolku.<br/><br/>&#8220;Satu sama yahh..&#8221; Maya tersenyum sambil mengedipkan matanya.<br/>&#8220;Spermamu banyak juga, saya sampe sempat eneg waktu nelannya..&#8221; Sambil berkata demikian Maya berlutut di samping tubuhku.<br/>&#8220;Iya udah dua minggu nggak ngocok biar bisa keluarin di mulut kamu ama di dalam memek kamu.&#8221;<br/>&#8220;Daasarr..! Masukkin ya kontolnya..&#8221; ujarnya sambil meraih kontolku dan mengarahkannya ke vagina miliknya.<br/>&#8220;Iya, masuukin aja. Saya udah nggak tahan nih..&#8221;<br/><br/>Kontolku masuk dengan mudahnya di vagina Maya yang sudah basah oleh cairannya sendiri dan cairan ludahku. Setelah masuk semuanya, Maya mulai perlahan naik turun diatas kontolku. Dengan posisi Maya diatas dia terlihat sexy, kedua payudaranya ikut naik turun mengikuti irama Maya yang memompa kontolku. Kupeluk pinggangnya dan perlahan kugoyangkan kedua pinggulku mengikuti irama goyangan Maya. Tak lama kemudian Maya terlihat begitu liar, dia menggoyang pinggulnya dengan cepat dan ditopangkannya kedua tangannya ke dadaku.<br/><br/>&#8220;Cepookk.. Cepokk.. Ceepookk..&#8221;, ternyata vagina Maya sudah becek sekali sehingga menimbulkan bunyi dan tak berapa lama kumudian Maya mengalami orgasmenya yang kedua.<br/><br/>Maya pun merebahkan tubuhnya ke dadaku yang bidang, kurasakan kontolku dipijat-pijat dengan perlahan oleh dinding vagina Maya. Kubiarkan Maya menikmati sisa-sisa orgasmenya. Setelah nafas Maya mulai teratur segera kubalikkan tubuhnya dan kini posisi kami adalah missionary. Maya hanya bisa menatapku sambil tersenyum, kupompakan kontolku dengan perlahan sambil mencium bibir Maya. Semakin lama kupercepat pompaan kontol dengan hitungan 10x pompa cepat 1x tusukan yang dalam (teknik ini kupelajari semalam sebelumnya dari sebuah majalah bacaan dewasa). Rupanya Maya sangat menikmati teknik yang kulakukan padanya.<br/><br/>&#8220;Ehh.. Hhmm.. Say.. Enakk..&#8221;<br/>&#8220;Teerruuss sayy.. Teerruuss.. Ahh..&#8221;<br/>Tiba-tiba.., &#8220;Saayy..&#8221; teriak Maya.<br/><br/>Saya masih terus memompa vagina Maya, tak kuhiraukan teriakan dan cakaran Maya di punggungku. Kucium bibir Maya dan kemudian kualihkan ke payudaranya. Kunikmati kedua puting coklat Maya seperti saya menikmati es krim. Rasa pegal dikedua tanganku mulai terasa, perlahan kurebahkan badanku diatas tubuh Maya dan kucium bibirnya dengan nafsu. Maya tampak begitu nafsu menyambut ciumanku, dia menyedot lidahku dan memainkan lidahnya didalam rongga mulutku. Puas dengan ciuman dibibir kuarahkan ciumanku kekupingnya. Kumainkan lidahku di lekukan telinganya, hal ini membuat Maya tambah naik nafsunya.<br/><br/>&#8220;Say.. Geellii.. Aahh..&#8221;<br/>&#8220;Sayy.. Lebbihh dallaamm lagii.. Teruusshh..&#8221;<br/><br/>Racauan Maya tak kudengar lagi karena tiba-tiba kurasakan kontolku hendak memuntahkan &#8216;peluru&#8217; yang sudah lama kutahan.<br/><br/>&#8220;May.. Saya mo keluar nihh..&#8221;<br/>&#8220;Sama-sama.. Saya juga mo keluar kokk..&#8221;<br/><br/>Kupercepat pompaanku dan tak lama kemudian.. Kutekan pinggulku dengan kuat ke dalam vagina Maya dan kulepaskan sperma yang sudah siap untuk bertemu dengan induknya. Sekejap rasa nikmat, puas dan lega menjadi satu membuat diriku seperti terbang ke langit kesembilan.<br/><br/>&#8220;Saayy.. Saya.. Sayaa.. Aahh..&#8221;<br/><br/>Kedua paha Maya menjepit pinggulku, Maya pun mengalami orgasme yang ketiga. Kubiarkan Maya memelukku, kudengar suara nafas Maya yang terengah-engah seperti lari 5 km. Berangsur-angsur nafas Maya mulai kembali normal. Perlahan kuangkat tubuhku, kulihat Maya tersenyum dengan bahagia. Kucium bibirnya dan kurebahku tubuhku disampingnya. Maya memelukku sambil tangannya mengelus-elus kontolku (Sejenak saya berpikir mengapa kontolku tidak lemas setelah berhubungan dengan Maya, apa memang nafsuku sedang tinggi. Tapi tak kuhiraukan kejanggalan tersebut karena hari ini saya memang akan bercinta sampai puas dengan Maya).<br/><br/>&#8220;Say, tadi itu enak banget. Saya ampe keluar empat kali. Kamu emang perkasa..&#8221;<br/>&#8220;Loh.. Bukannya tiga kali? Tadi kamu tiba-tiba teriak kenapa?&#8221;<br/>&#8220;Ihh.. Kamu ini. Tadi itu pas ngentot pertama saya keluar trus keluar lagi barusan. Jadi selama ngentot tadi saya keluar 2 kali.&#8221; Maya tersenyum malu ketika mengatakan hal tersebut<br/>&#8220;Jadi hari ini saya yang menang yahh.. Hehehhehe..&#8221;<br/>&#8220;Iya, kamu yang menang. Kontol kamu enak banget say. Tambah gede dan juga kamu tambah pintar aja. Sapa yang ngajarin?&#8221;<br/>&#8220;Ada dehh.. RAHASIA. Tapi memek kamu juga enak, kelihatannya tambah sempit. Beda ama waktu kita ngentot pertama kali. Makasih yahh..! CUP..&#8221; ujarku sambil kukecup keningnya tanda ucapan terimakasih dan sayang. Tampak raut muka Maya tersipu malu bercampur senang dan memelukku dengan lebih erat lagi.<br/>&#8220;Yang penting kamu bisa membuat saya puas itu sudah cukup kok.&#8221;<br/><br/>Setelah itu permainan kami lanjutkan seharian di kamar mandi, di ranjang, di atas kursi tamu, di depan jendela yang menghadap ke kota serta di lantai kamar beralaskan selimut hotel yang tebal. Total permainan kami saat itu adalah sekitar 8 kali.<br/><br/>Akhirnya Maya kuantar pulang ke rumah pukul 21.45 dan saya kembali ke hotel tempat saya melakukan &#8216;olahraga&#8217; nikmat bersama Maya karena malam itu saya mengadakan pesta tahun baru bersama teman-temanku. Sepanjang jalan kuputar lagu Stinky yang berjudul &#8216;Cinta Suci&#8217; secara berulang-ulang dan saya pun dengan suara lemas ikut menyanyikan lagu tersebut.<br/><br/>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2008/05/09/maya-mantan-pacarku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My Dear Lily</title>
		<link>http://jablayonline.info/2008/04/13/my-dear-lily.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2008/04/13/my-dear-lily.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Apr 2008 19:08:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/2008/04/13/my-dear-lily/</guid>
		<description><![CDATA[Kutelusuri jalanan Kota S yang sudah 2 tahun aku tinggalkan, masih tidak banyak perubahan yang berarti, melewati jalan protokol yang dihiasi beberapa hotel bintang lima, sepanjang jalan BR hingga EM. Melintas di depan Hotel H, S dan W semuanya mengandung banyak memory di kota ini. Sopir mobil sewaan nyerocos tak karuan menerangkan seluk beluk kota [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kutelusuri jalanan Kota S yang sudah 2 tahun aku tinggalkan, masih tidak banyak perubahan yang berarti, melewati jalan protokol yang dihiasi beberapa hotel bintang lima, sepanjang jalan BR hingga EM. Melintas di depan Hotel H, S dan W semuanya mengandung banyak memory di kota ini. Sopir mobil sewaan nyerocos tak karuan menerangkan seluk beluk kota ini<br/><br/>Sementara pikiranku melayang beberapa tahun yang lalu, saat itu musim hujan Desember kemaren di sela gemericik gerimis hujan, aku masih ingat betul tanggalnya 27 karena saat itu ada perayaan Natal yang disiarkan secara sentral oleh seluruh TV. Melalui Alex, aku dikenalkan seorang cewek sesuai yang aku idamkan, tinggi, putih dan tentu saja cantik, meskipun dadanya tidak sebesar yang aku dambakan, tetapi 34B bukanlah ukuran yang kecil, tinggi 167 cm ditambah dengan sepatu hak tingginya menambah pesona sexynya.<br/><br/>&#8220;Hi, Lily,&#8221; katanya saat dia memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.<br/>&#8220;Henri,&#8221; balasku menyambut uluran tangannya.<br/>Cantik sekali dengan potongan rambut shaggy-nya, celana jeans dan kaos press body orange tidak bisa menyembunyikan potongan lekuk tubuhnya yang aku taksir sekitar 25 tahun umurnya. Malam semakin merangkak naik, gerimis di luar benar-benar mengundang kehangatan, begitu juga percakapan kami sepertinya sudah kehabisan topik umum.<br/><br/>&#8220;Kita ke kamar yuk,&#8221; ajaknya sambil tatapan matanya penuh arti.<br/>&#8220;OK, oh ya Alex, urusan dengan kamu besok aja ya,&#8221; kataku sambil menggandeng Lily ke arah lift.<br/>Dia berjalan di sampingku sementara kupeluk pinggangnya dengan mesra, sungguh serasi dengan tinggiku yang 180 cm, membuat semua orang melirik ke arah kami. Kamar 815 terletak di ujung koridor, jalan koridor terasa tidak sepanjang tadi siang saat aku check in di hotel ini. Kubuka kamar hotel, masih tercium bau asap rokok sisa aku merokok tadi siang. Rupanya Room Boy belum membersihkan kamar yang sudah aku tinggal sejak tadi sore, sehingga kamar tidur kelihatan tidak rapi.<br/><br/>&#8220;Kamu habis main tadi siang ya?&#8221; godanya setelah melihat keadaan dalam kamar.<br/>&#8220;Ah enggak, Room Boynya saja yang malas ngeberesin&#8221; sanggahku, &#8220;lagian lebih baik energinya disimpan untuk real fight,&#8221; lanjutku.<br/>&#8220;Emang mau fight dengan siapa?&#8221; godanya lagi.<br/>&#8220;Ya dengan siapa yang mau dan yang ada, dan sepertinya sudah ada di kamar ini,&#8221; godaku balik sambil merebahkan badanku di ranjang.<br/>Kunyalakan rokok Gudang Garamku untuk menghilangkan nervous-ku (itu biasa aku lakukan) sementara dia mengeluarkan Marlboro putih dari tas Channelnya.<br/>&#8220;Boleh aku merokok?&#8221; tanyanya dan tanpa menunggu jawaban dariku, dia sudah menyelipkan sebatang rokok di bibir merahnya dan segera menyalakannya.<br/>Kutarik lembut tangannya ke arahku, dia duduk di tepi ranjang, dapat kucium parfum Issey Miyakenya semerbak di sekeliling tubuhnya, menambah gairahku semakin menaik tinggi.<br/><br/>&#8220;Dasar hidung bodoh, masak tidak bisa mencium parfumnya sejak di lift,&#8221; umpatku dalam hati.<br/>Kutarik lagi tubuhnya supaya lebih mendekat, dia rebahkan kepalanya di dadaku, kembali rambutnya semerbak wangi, tanganku mulai bergerak mengusap punggungnya, kemudian kusisipkan dibalik kaos orange-nya sehingga aku bisa merasakan halusnya kulit punggungnya yang putih mulus.<br/>&#8220;Aku lepas kaosnya ya, kainnya ini kasar,&#8221; Kemudian dia bangkit berdiri menghadap jendela dan membelakangiku, menyingkap kaosnya ke atas dan melipatnya di sofa, selanjutnya dilepasnya pula celana jeansnya sehingga aku bisa melihat pasangan pakaian dalamnya hitam dengan renda renda hijau.<br/><br/>Meskipun masih kulihat dari belakang, tapi aku sudah tidak bisa menahan gejolak di dalam ini, dia begitu sexy. Kemudian dia berbalik dan berjalan ke arahku, oh very very sexy, it&#8217;s perfect. Kulit tubuhnya yang putih mulus hanya berbalut bikini semakin menonjolkan potongan body sexy-nya, buah dadanya yang putih terlihat sebagian menonjol dibalik BH semakin membuat penisku tidak mau dikontrol lagi. Sungguh pemandangan yang begitu indah.<br/>&#8220;Lho, koq belum dilepas Bang?&#8221; tanyanya (aku tak mau dipanggil Pak, supaya tidak terlalu resmi).<br/>&#8220;Eh eh,&#8221; aku sampai terbengong karena terpesona keindahannya.<br/>&#8220;Aku lepasin ya, nanti kusut bajunya,&#8221; katanya sembari mendekat ke arahku.<br/>Perlahan dia membuka kancing bajuku, terus celanaku sehingga tinggal cuma celana dalamku saja, kelihatan sekali tonjolan di selangkanganku.<br/><br/>Aku masih terbengong menikmati cantiknya wajah dan keseksian tubuhnya, lalu dia menciumi mukaku, aku sudah tidak bisa menahan diri lagi, kutarik tubuhnya sehingga menindih tubuhku, buah dadanya terasa menempel didadaku. Kami berciuman, sementara tanganku mulai meraba tali BH dibelakang dan melepas kaitannya, terus terang tanganku agak gemetaran sehingga perlu perjuangan untuk melepas kaitan di punggungnya.<br/>&#8220;Ah Abang nakal,&#8221; desahnya disela sela ciuman kami, tapi dia tidak perduli ketika BH-nya aku tarik ke samping sehingga terlepas dan kulempar ke sofa.<br/>Terasa buah dadanya menempel langsung ke dadaku, betapa hangatnya tubuhnya, dia terus menciumiku, kemudian turun ke leher, hingga sampai ke dadaku, dijilati dan diisapnya puting sebelah kananku (merupakan titik rangsangan paling sensitif bagiku).<br/>&#8216;Gila, ganas juga ini cewek&#8217; pikirku sambil memainkan puting buah dadanya.<br/><br/>Hot banget, aku sudah tidak tahan lagi, ingin kubalikkan tubuhnya dan gantian untuk menikmati keindahannya tubuhnya. Tapi sebelum itu terlaksana, dia langsung turun kebawah, menarik celana dalam Jockey putih ku, sehingga nongollah penis yang dari tadi tertekan celana dalam.<br/>&#8220;Wow very big, very very big,&#8221; gumamnya sambil memegang penis 17 cm-ku.<br/>Terlihat tangan putihnya begitu mungil dan sangat kontras dengan penisku yang kecoklatan. Dikocoknya penisku dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya mengusap pangkal penis dan kantong pelir dibawahnya, sambil dia duduk di antara selangkanganku yang aku buka lebar. Sekarang terlihat begitu jelas bentuk buah dadanya begitu jelas, begitu indah dan padat lagi.<br/>&#8220;Tetekmu bagus,&#8221; kataku sambil menggumam tidak jelas.<br/>Dia terus melihatku sambil tersenyum manis, aku gemes melihat bibirnya yang indah itu, tanpa sadar bahwa barusan aku mengulum bibir itu.<br/>&#8220;Terima kasih,&#8221; katanya sambil terus mengocokku, hingga keluar cairan putih bening karena begitu terangsang.<br/>Tiba tiba dia menunduk dan menjilat kepala penisku yang basah itu terus turun ke pangkal penis selanjutnya turun lagi hingga mendekati anus.<br/>&#8220;aahh&#8221; aku menggeliat kegelian atau keenakan atau apa aku sudah tidak tahu lagi mengatakannya.<br/><br/>Akhirnya aku tidak tahu lagi ketika tersadar bahwa penisku sudah didalam mulutnya, kulihat kepalanya turun naik seirama keluar masuknya penisku dalam mulutnya, aku tahu dia kesulitan memasukkan semua penis itu kedalam mulutnya sehingga hanya separo yang bisa keluar masuk, tapi aku sudah tidak perduli lagi, kupegangi kepalanya sambil mendorongnya supaya penisku bisa masuk lebih dalam lagi.<br/><br/>Setelah beberapa saat, dia naik keatas dan rebah disebelahku, menarikku ke atas tubuhya.<br/>&#8216;Nah sekarang giliranku&#8217; pikirku sambil melepas celana dalam hitam-hijaunya.<br/>Kulihat cairan di bagian dalamnya, rupanya dia sudah begitu terangsang. Aku naiki tubuhnya, kuciumi wajahnya dan lagi aku kulum bibir yang begitu merangsang, kemudian aku kulum telinganya. Dia menggeliat kegelian dan mulai mengerang keenakan sambil tangannya memainkan dan mengocok penisku yang sudah makin mengeras seolah mau meledak.<br/>&#8220;Ouuhh ya,&#8221; desahnya di telingaku, aku terus menjilati leher jenjangnya sambil tanganku mulai memainkan bibir vaginanya, basah.<br/>Aku jilat putingnya yang kemerahan terus mengulumnya kemudian pindah ke puting satunya terus pindah lagi, begitu seterusnya.<br/>&#8220;Ayo Bang, masukin, sudah nggak tahan nih,&#8221; pintanya sambil mendesah.<br/>Tak tega juga aku melihatnya (atau mungkin lebih tepat tak tahan kali), kemudian aku atur posisi tubuhku diantara kakinya yang sudah dibuka lebar, dia menekuk lututnya ke atas dengan posisi siap menerima. Aku gesek gesekkan penisku di bibir vaginanya yang sudah basah, kemudian perlahan lahan kumasukkan ke dalam. &#8220;aa<br />
hh pelan bang,&#8221; desahnya. Sedikit demi sedikit kumasukkan, tapi belum sampai setengah kucabut, kumasukkan lagi dan kucabut lagi, begitu terus sampai semua 17 cm penisku tertanam kedalam.<br/><br/>Aku diam sesaat sebelum mulai mengocok vaginanya, sambil merasakan kenikmatan jepitan dan pijatan didalam. Gila, penisku rasanya dipilin pilin didalam. Kemudian kutarik perlahan sampai hampir keluar dan kumasukkan lagi sampai pangkal penisku begitu seterusnya. Beberapa kali dia mengubah posisi kakinya, mulai diangkat keduanya dan diletakkan di bahuku, lalu kaki kanan ditekuk keatas sampai hampir menyentuh kepalanya, kemudian menjepit pinggangku begitu seterusnya sambil tak lupa aku terus mengulum kedua putingnya secara bergantian ketika posisiku memungkinkan. Setiap posisi kaki yang berbeda memberikan efek jepitan vagina yang berbeda (bagi yang pernah merasakannya pasti mengerti).<br/><br/>Merasa sperma udah di ujung penis, aku cabut keluar kemudian kubalikkan dia hingga tengkurap dan kutarik pantatnya keatas sehingga posisinya nungging dengan bibir vagina tepat di depan penisku yang masih tegang. Terlihat raut mukanya seakan akan mau protes merasakan kenikmatan yang terputus, tetapi aku jawab dengan menusukkan penisku ke vaginanya dengan keras, rupanya dia tidak menyangka akan mendapat gerakan begitu keras menghunjam di vaginanya sehingga dia cuma bisa mengerang, &#8220;Auu&#8221; sembari kepalanya mendongak sesaat dan tangannya meremas seprei ranjang. Buah dada yang menggantung tentunya tidak bisa ku sia siakan, kubungkukkan tubuhku untuk meraih tetek yang indah itu, sebagai pegangan kutarik kebelakang sehingga penisku makin masuk ke dalam menyentuh ujung dinding vagina yang dalam (rahim?) seolah ujung penis yang keras ini terkena benda yang ada di dalamnya.<br/><br/>Beberapa saat kemudian dia sudah bisa mengikuti irama goyangan pantatku, sehingga dia sudah bisa mulai menikmatinya. Akhirnya aku keluar meskipun belum orgasme (harap dibedakan antara keluar dan orgasme, bagi yang tahu dan mengalami pasti paham perbedaan antara orgasme dan keluar) tak lama kemudian kurasakan tangannya mencengkeram tanganku dengan kencang sambil mengerang.<br/>&#8220;Aaauuhh Bang&#8221; erangnya sambil menutup mata dan menggoyang-goyangkan kepalanya ke kiri dan kanan, kurasakan denyutan didalam vaginanya, dia sudah orgasme, kucabut penisku yang sudah basah.<br/><br/>Karena aku belum orgasme, game is not over yet, kutarik tubuhnya kearahku sehingga kami berdua dengan posisi jongkok di atas lutut, dengan dorongan sekali lagi kumasukkan seluruh penisku ke dalam vaginanya yang sudah basah, dia mendongakkan kepalanya dan melihat ke arahku, kaget karena tidak menyangka akan kuperlakukan seperti itu, dia terus mengerang tak jelas. Aku paling suka melihat expresi cewek yang sudah orgasme tapi terus di entot, mungkin anda tahu sendiri bagaimana rasanya kalau sudah orgasme tetapi masih terus dikerjain sama cewek, antara geli, enak, nggak enak pokoknya kayak gitu lah.<br/>&#8220;Aaah Abang naakaall,&#8221; teriaknya, tapi beberapa saat kemudian dia juga mulai ikut menggoyangkan iramaku.<br/>Hingga akhirnya aku benar-benar orgasme setelah keluar beberapa kali, dan ku semprotkan sperma tetesan terakhir di dalam vaginanya. Kami berdua kemudiah telentang kecapekan di ranjang, kulihat langit langit kamar hotel seperti puas menikmati pertunjukan kami, tangan Lily masih memainkan penisku yang sudah mulai lemas, tak terasa 45 menit sudah permainan ini.<br/><br/>Malam itu kami masih bisa main dua kali lagi dengan berbagai posisi yang mungkin sebelum ketiduran. Ketika bangun kulihat dia sudah mandi dan mengenakan pakaiannya yang sexy, dengan koran dan kopi disebelahnya, tapi perasaanku sudah tidak seperti kemarin, karena aku sudah melihat dan menikmati tubuh sexy dan kemontokan di balik kaus ketatnya. Aku tersenyum puas.<br/><br/>Setelah aku mandi dan bersiap ke kantor, kuselipkan amplop di tas Channelnya dengan sepengetahuan dia sebagai imbalan atas servisnya semalam. Lily adalah memang seorang gadis panggilan freelancer.<br/><br/>Lamunanku buyar ketika mobil sewaan memasuki area Airport J, jam tanganku menunjukkan pukul 8:30 malam, berarti masih 30 menit menunggu pesawat dari Jakarta. Sambil menunggu dimobil kunyalakan lampu baca diatas dan kubaca Post, koran sore. Tapi kembali kenangan masa lalu menyelinap lagi dikepalaku.<br/><br/>Setelah pertemuan itu, aku sering memakai jasa dia, baik di Kota S ataupun saat keluar kota, tidak jarang aku booking dia untuk temanku yang datang dari Jakarta atau client kantor (akan diceritakan di lain kesempatan).<br/><br/>Karena sering ketemu, akhirnya kami menjadi akrab dan berpacaran sehingga sifatnya sudah bukan bisnis tetapi sudah kebutuhan suka sama suka. Pada pertengahan April 1997, atas saranku dia pindah kost yang lebih baik (terutama bagi kami berdua) dan sejak saat itu aku lebih sering nginap di tempat kostnya dia dari pada di Mess. Saat di tempat kost dia baik menginap atau tidak, bukan hal asing bagiku untuk mengantar dia ke hotel apabila ada bookingan, pada awalnya sih kacau perasaan ini tetapi setelah beberapa kali akhirnya bisa menyesuaikan apalagi kalau dia cerita bagaimana dia berhubungan sex dengan tamunya barusan, aneh memang tetapi aku sangat menikmati ceritanya, bisa membuat semakin horny. Tamu-tamunya adalah dari kalangan atas mulai dari pengusaha sampai pejabat bahkan beberapa menteri orde baru (sebagaian masih menjabat hingga sekarang) menjadi tamu langganannya (Kisah-kisah petualangan dia akan diceritakan pada kesempatan lain, apabila cerita ini dianggap layak diteruskan).<br/><br/>Kami memang punya agreement bahwa kalau aku lagi menginap di tempatnya, maka tidak boleh dia menerima bookingan Over Night, kalau short time bebas tanpa batasan terserah kekuatan dia, rekor tertinggi saat aku mengantarnya melayani tamu adalah 7 atau 8 tamu dalam satu hari. Mungkin ada dari pembaca yang pernah membookingnya, ceritanya bisa dikirim di situs  ini juga.<br/><br/>Empat bulan kemudian tepatnya Agustus 1997, aku dipindahkan ke Kantor Pusat Jakarta dia aku beri kebebasan untuk ikut atau tetap di Kota S dan akhirnya dia ikut ke Jakarta. Selama di Jakarta dia aku bebaskan boleh menerima tamu seperti di Surabaya asal jangan teman sekantor atau rekanan kerjaku. Tapi selama di Jakarta dia sudah tidak lagi mau melayani tamu yang mau mem-booking-nya (sejauh yang saya tahu)<br/><br/>Akhirnya, 10 November 1997 kami menikah secara resmi dan dia menyatakan berhenti dari pekerjaannya, meskipun sebenarnya aku tidak melarang karena aku juga menikmati sensasi saat dia main sex atau tepatnya di entot oleh orang lain (sampai sekarang)<br/><br/>&#8220;Pak.. Pak, pesawat terakhir dari Jakarta telah datang,&#8221; kembali lamunanku buyar oleh teguran sopirku.<br/>Aku bergegas ke pintu kedatangan, gerimis dan tak lama kemudian muncullah sosok yang aku tunggu, sosok yang tinggi jangkung dengan pakaian yang ketat bersepatu hak tinggi sungguh anggun berjalan diantara penumpang lainnya, dialah Lily, istriku tercinta, masih tetap seperti dulu senang menarik perhatian orang, dengan bangga dan mesra kugandeng dia memasuki mobil dan segera meluncur ke luar kota menjenguk keluarganya.<br/><br/>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2008/04/13/my-dear-lily.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenangan Menjadi Comblang</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/12/31/kenangan-menjadi-comblang.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/12/31/kenangan-menjadi-comblang.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jan 2008 05:18:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/12/31/kenangan-menjadi-comblang/</guid>
		<description><![CDATA[Sewaktu aku masih di SMU, aku mempunyai teman akrab yang ayahnya seorang pejabat tinggi di kantor pajak. Kami sering bolos sekolah berdua, dan kalau temanku ada yang mengganggu, aku selalu membelanya, karena aku kebetulan mempunyai ilmu bela diri sabuk hitam. Suka duka sering kami lalui bersama.
Singkat cerita, aku dan temanku naksir gadis adik kelas 1 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sewaktu aku masih di SMU, aku mempunyai teman akrab yang ayahnya seorang pejabat tinggi di kantor pajak. Kami sering bolos sekolah berdua, dan kalau temanku ada yang mengganggu, aku selalu membelanya, karena aku kebetulan mempunyai ilmu bela diri sabuk hitam. Suka duka sering kami lalui bersama.</p>
<p>Singkat cerita, aku dan temanku naksir gadis adik kelas 1 SMU. Kemudian kami mempunyai rencana saling membantu untuk mendapatkan gadis incaran kami tersebut. Tetapi sayangnya sampai kami berdua lulus SMU, gadis incaran kami belum juga dapat kami miliki. Akhirnya kuputuskan untuk melupakan gadis impianku tersebut. Tetapi temanku masih bertekad untuk mendapatkan gadis incarannya sejak SMU, akhirnya aku pun membantu temanku untuk mendapatkan gadis tersebut. Kendala yang dialami oleh temanku adalah karena dia masih mempunyai kekasih sejak kelas 1 SMU. Tetapi aku mengatur siasat bagaimana caranya agar gadis incaran temanku itu dapat menjadi kekasihnya yang baru. Oh iya, nama temanku sebut saja Budi dan gadis incarannya bernama Ica.</p>
<p>Karena aku sering bertemu dengan Ica, akhirnya kami menjadi sangat akrab. Banyak teman-temanku mengira aku berpacaran dengan Ica, padahal aku menganggap Ica sebagai adikku sendiri. Karena kegigihanku, akhirnya Ica menaruh hati terhadap Budi teman akrabku. Budi memutuskan kekasihnya yang lama dan berpacaran dengan Ica. Tetapi tidak lama mereka berpacaran, Budi diberangkatkan orangtuanya ke Amerika untuk Kuliah. Sebelum berangkat, Budi sempat berpesan kepadaku agar aku menjaga Ica. Akhirnya Budi dan Ica berpacaran jarak jauh, tetapi walaupun begitu mereka berpacaran hingga setahun lebih. Ketika itu aku sudah jarang bertemu dengan Ica, karena aku sangat sibuk dengan kegiatanku.</p>
<p>Hingga suatu hari, Ica meneleponku agar aku datang ke rumahnya, katanya ada masalah antara Ica dengan Budi. Setelah kudatangi Ica di rumahnya, dia bercerita bahwa Budi sudah mulai berubah, karena Budi sudah kecanduan narkotik. Dan yang membuatku kaget serta heran adalah Ica rela memberikan keperawanannya kepada Budi asalkan dia mau berhenti mengkonsumsi narkotik. Tetapi Ica kecewa karena Budi memilih narkotik daripada Ica sebagai kekasihnya yang dengan rela memberikan tubuhnya dengan tujuan menyelamatkan Budi dari kecanduan narkotik. Aku tidak dapat memberikan komentar banyak kepada Ica, aku hanya berusaha untuk mengingatkan Budi agar menjauhi dunia narkotika, dan menyadari Budi bahwa Ica sangat mencintainya dengan sepenuh hati.</p>
<p>Tetapi setelah aku bertemu Budi, dia tidak menanggapi perkataanku, malahan kami hampir berkelahi. Namun aku mengalah untuk meninggalkannya. Kemudian aku temui Ica dan menceritakan semuanya tanpa ada yang kututupi. Dan aku menyarankan kepada Ica agar melupakan Budi dan konsentrasi untuk ujian tingkat akhir, karena pada waktu itu Ica sedang menghadapi Ebtanas SMU dan Ujian UMPTN. Aku selalu menemui dan menemani kemanapun Ica pergi. Sampai-sampai aku rela mengontrak rumah di dekat rumahnya.</p>
<p>Setelah Ica lulus dari SMU, dia mengajakku berlibur bersama teman-temannya di Anyer. Kebetulan orangtua Ica mempunyai villa lumayan besar di kawasan Anyer. Aku dipercaya oleh orangtua Ica untuk menjaga Ica dan temannya selama berlibur di Anyer. Kami berlibur selama 4 hari di Anyer. Aku tidur bersama dengan teman-teman Ica yang laki-laki. Setiap malam aku menemani Ica dan teman-temannya pergi ke diskotik di kawasan tersebut. Hingga suatu ketika, pada malam ketiga Ica tidak ikut teman-temannya pergi ke diskotik, alasannya dia ingin menikmati suasana malam di pinggir pantai Anyer. Maka berangkatlah semua teman-teman Ica ke tempat hiburan di sekitar Villa.</p>
<p>Aku menemani Ica di Villanya, walaupun dia menyuruhku pergi bergabung bersama teman-temannya. Aku memberikan pengertian kepada Ica bahwa aku harus menemani dan menjaga Ica sesuai pesan orangtuanya. Ica mengajakku bertukar pikiran mengenai masa lalunya dan rencana masa depannya. Aku mendengarkan seluruh curahan hatinya dan aku pun memberikan masukan positif untuk Ica. Tidak terasa kami berbincang-bincang hingga larut malam, dan cuaca dingin pun mulai menyentuh kulit kami. Secara tidak sadar, kami mendekatkan diri kami untuk menghilangkan rasa dingin. Secara spontan aku memeluk tubuh Ica karena kulihat dia kedinginan. Entah karena cuaca dingin yang menggoda kami, tiba-tiba tubuh kami saling berpelukan rapat.</p>
<p>Aku tidak sengaja menyentuh payudaranya yang kenyal dan besar, karena Ica mempunyai ukuran BH 36B. Dan Ica pun menyentuh kemaluanku yang mulai menegang dengan pahanya. Kami saling berpandangan tanpa keluar sepatah kata pun dari bibir kami. Jantungku berdebar-debar, aku merasakan bahwa aku sebenarnya menyukai Ica. Kemudian aku mulai mendekatkan bibirku untuk melumat bibir Ica yang seksi. Dan ternyata Ica pun membalas ciumanku dengan sepenuh hati. Kami saling berpagutan cukup lama. Kemudian kutarik bibirku dan mulai menciumi seluruh wajahnya dengan penuh kasih sayang. Aku mendengar nafas Ica yang mulai tidak beraturan, kemudian sambil mencium telinganya aku membisikkan bahwa aku meyukai dan mencintainya. Ternyata dia pun menyukaiku dengan memberikan tanda anggukkan kepalanya.</p>
<p>Tangan kiriku mulai membelai rambutnya yang panjang sebahu, sedangkan tangan kananku mulai meraba tubuhnya. Tanpa kusadari akhirnya aku menyentuh payudaranya yang kenyal dan sudah kencang, sehingga membuatku gemas untuk meremas payudaranya dengan penuh kelembutan. Nafas Ica mulai memburu kencang ketika aku menyingkap kain pantai yang hanya dililitkan di pinggangnya. Aku mulai meraba-raba pahanya yang putih mulus, kemudian tanganku mulai menggerayangi tubuhnya di balik kaos putih yang dikenakannya. Tangan kiriku ikut memainkan tali BH-nya, ketika aku mulai memainkan puting payudaranya yang sudah mengeras, tiba-tiba tangan kiri Ica mulai menyelusup ke dalam celana pendek yang kukenakan dan memijat-mijat kemaluanku yang sudah mengeras seluruhnya. Kami sudah larut dalam kenikmatan yang sebelumnya belum pernah kami rasakan.</p>
<p>Kemudian tangan kananku mulai menyusup ke dalam celana dalam Ica, dan mengelus rambut kemaluannya yang lebat. Aku mulai menyentuh bibir kemaluannya dan memasukkan jariku ke dalam liang keperawanannya, aku merasakan vagina Ica sudah basah, ia mengerang menahan nikmat.Tiba-tiba Ica mendorong tanganku dan berkata, &#8220;Andy, aku tidak kuat berlama-lama berada di luar.&#8221;<br />
Kemudian Ica berdiri dan menarikku dengan setengah berlari menuju ke Villa.</p>
<p>Setelah berada di dalam Villa, Ica mengajakku masuk ke dalam kamarnya. Ketika sampai di kamar, Ica mulai membuka seluruh pakaiannya dan yang tersisa hanya celana dalamnya saja. Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku pun membuka pakaianku dan hanya celana dalam saja yang kukenakan. Ica menarikku ke atas ranjang, dan rebahan dengan posisi yang sangat menantang. Aku mulai menggerayangi tubuhnya dengan kedua tanganku dan menciumi serta menjilat tubuhnya mulai dari kakinya hingga kemudian wajahnya. Aku sangat bernafsu sekali ketika Ica menyuruhku untuk menjilat, menciumi payudara dan puting susunya yang menonjol keras dengan warna coklat muda kemerahan.</p>
<p>Kemudian aku mulai membuka celana dalamku dan celana dalam milik Ica. Kuusap bulu-bulu yang tumbuh lebat di sekitar liang kewanitaan Ica. Aku mulai memasukkan dua jariku ke dalam liangnya yang sudah basah oleh lendir dari dalam kemaluannya. Ica mengerang dan tubuhnya menggeliat menahan nikmat.<br />
Nafasnya sangat berat dan yang terdengar hanya desahan dan rintihannya, &#8220;Andy terus Dy, Ooohh.. sshh..!&#8221;<br />
Kemudian Ica bangun dan mendorongku hingga telentang. Ica mulai memegang penisku yang besar dan panjang sambil dikocok-kocok dengan gemas.</p>
<p>Ica mulai mendekatkan wajahnya dan menjilat serta mengulum batang kemaluanku hampir seluruhnya. Perasaanku terbang melayang menahan rasa geli dan nikmat tiada tara. Setelah Ica puas mengulum batang kejantananku, dia pun mengambil posisi telentang dengan kaki dibuka selebar-lebarnya. Tanpa menunggu lama, aku mulai menuntun batang kejantananku untuk dimasukkan ke dalam liang senggama Ica. Ica menahan sakit karena dia masih perawan. Ia memintaku untuk memasukkan batang rudalku ke dalam vaginanya secara pelan-pelan. Aku menuruti keinginannya, hingga akhirnya seluruh batang kemaluanku masuk ke dalam liang keperawanannya.</p>
<p>Aku mulai menggerakkan pinggul dan pantatku, sehingga batang kemaluanku keluar masuk liang kewanitaan Ica yang sudah banjir. Hingga akhirnya aku mulai merasakan sesuatu yang akan keluar dari batangku, aku berniat ingin mengeluarkan air maniku di atas tubuh Ica, tetapi Ica menarik pantatku sehingga batang kejantananku terbenam masuk seluruhnya ke dalam liang kenikmatannya dan aku memuntahkan air maniku di dalam rahim Ica. Aku juga merasakan cairan hangat yang keluar dari dalam liang kemaluan Ica. Kami sama-sama menjerit, penuh dengan rasa nikmat dan puas. Tetapi kami mengulangi perbuatan tersebut hingga pagi hari.</p>
<p>Kami mulai ketagihan untuk melakukan hubungan seks, bukan hanya selama liburan di Anyer saja, tetapi berlanjut hingga kini. Tetapi kami tidak dapat menikah karena Ica sudah mempunyai calon suami yang ternyata sepupunya, dan aku pun sudah mempunyai seorang calon istri. Tetapi hingga sekarang kami melakukan hubungan seks bukan dengan calon pasangan kami, aku dan Ica sengaja ingin melakukan hubungan seks sepuas-puasnya, karena Aku dan Ica tidak mungkin bersatu dalam hubungan suami istri.</p>
<p>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/12/31/kenangan-menjadi-comblang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Anakku, Sarana Pelampiasanku</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/11/10/anakku-sarana-pelampiasanku.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/11/10/anakku-sarana-pelampiasanku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Nov 2007 09:46:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/11/10/anakku-sarana-pelampiasanku/</guid>
		<description><![CDATA[
Bukan salahku kalau aku masih menggebu-gebu dalam berhubungan seks. Sayangnya suamiku sudah uzur, kami beda umur hampir 15 tahun, sehingga dia tidak lagi dapat memberi kepuasan kepadaku. Dan bukan salahku pula kemudian aku mencari pelampiasan pada pria-pria muda di luar, untuk memenuhi hasrat seks-ku yang kian menggebu di usia kepala 3 ini. Namun sepandai-pandainya aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p id="article">
<p align="justify"><font class="tiny_font">Bukan salahku kalau aku masih menggebu-gebu dalam berhubungan seks. Sayangnya suamiku sudah uzur, kami beda umur hampir 15 tahun, sehingga dia tidak lagi dapat memberi kepuasan kepadaku. Dan bukan salahku pula kemudian aku mencari pelampiasan pada pria-pria muda di luar, untuk memenuhi hasrat seks-ku yang kian menggebu di usia kepala 3 ini. Namun sepandai-pandainya aku berselingkuh akhirnya ketahuan juga. Suamiku marah bukan kepalang memergoki aku berpelukan dengan seorang pria muda sambil telanjang bulat di sebuah motel. </font></p>
<p><font class="tiny_font">Dan ultimatum pun keluar dari suamiku. Aku dilarang olehnya beraktivitas di luar rumah tanpa pengawalan. Entah itu dengan suamiku ataupun kedua anakku. Tak sedikitpun aku lepas dari pengawasan mereka bertiga. Secara bergantian ketiganya mengawasiku. Tommy anak sulungku yang baru masuk kuliah dapat giliran mengawasi di pagi hari karena dia masuk siang. Siangnya giliran Bagus yang duduk di kelas dua SMA, untuk mengawasiku. Dan malamnya suamiku kena giliran. Tentu saja aktivitas seks-ku pun terganggu total. Hasratku sering tak terlampiaskan, akibatnya aku sering uring-uringan. Memang sih aku bisa masturbasi, tapi kurang nikmat. Dua minggu berlalu aku masih bisa menahan diri. </font></p>
<p><font class="tiny_font">Sebulan berlalu aku sudah stres berat. Bahkan frekuensi masturbasiku terus bertambah, sampai pernah sehari 10 kali kulakukan. Tapi tetap saja tak pernah mencapai kepuasan yang total. Aku masih butuh kemaluan laki-laki! Seperti pada pagi hari Senin, saat bangun pagi jam 8 rumah sudah sepi. Suamiku dan Bagus sudah pergi, dan tinggal Tommy yang ada di bawah. Aku masih belum bangkit dari tempat tidurku, masih malas-malasan untuk bangun. Tiba-tiba aku tersentak karena merasa darahku mengalir dengan cepat. Ini memang kebiasaanku saat bangun pagi, nafsu seks-ku muncul. Sebisanya kutahan-tahan, tapi selangkanganku sudah basah kuyup. Aku pun segera melorotkan CD-ku dan langsung menyusupkan dua jari tangan kananku ke lubang kemaluanku. Aku mendesis pelan saat kedua jari itu masuk, terus kukeluar-masukkan dengan pelan tapi pasti. Aku masih asyik bermasturbasi, tanpa menyadari ada sesosok tubuh yang sedang memperhatikan kelakuanku dari pintu kamar yang terbuka lebar. Dan saat mukaku menghadap ke pintu aku terkejut melihat Tommy, anak sulungku, sedang memperhatikanku bermasturbasi. </font></p>
<p><font class="tiny_font">Tapi anehnya aku tidak kelihatan marah sama sekali, tangan kanan masih terus memainkan kemaluanku, dan aku malah mendesah keras sambil mengeluarkan lidahku. Dan Tommy tampak tenang-tenang saja melihat kelakuanku. Aku jadi salah tingkah, tapi merasakan liang vagina yang makin basah saja, aku turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah Tommy. Anak sulungku itu masih tenang-tenang saja, padahal saat turun dari tempat tidur aku sudah melepas pakaian dan kini telanjang bulat. Aku yang sudah terbuai oleh nafsu seks tak mempedulikan statusku lagi sebagai mamanya. </font></p>
<p><font class="tiny_font">Saat kami berhadapan tangan kanan langsung meraba selangkangan anak sulungku itu. </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Bercintalah dengan Mama, Tommy!&#8221; pintaku sambil mengelus-elus selangkangan Tommy yang sudah tegang. </font><br />
<font class="tiny_font">Tommy tersenyum, &#8220;Mama tahu, sejak Tommy berumur 17 Tommy sudah sering membayangkan bagaimana nikmatnya kalo Tommy bercinta dengan Mama..&#8221; </font><br />
<font class="tiny_font">Aku terperangah mendengar omongannya. </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Dan sering kalo Mama tidur, Tommy telanjangin bagian bawah Mama serta menjilatin kemaluan Mama.&#8221; </font><br />
<font class="tiny_font">Aku tak percaya mendengar perkataan anak sulungku ini. </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Dan kini dengan senang hati Tommy akan entot Mama sampai Mama puas!&#8221;. </font></p>
<p><font class="tiny_font">Tommy langsung memegang daguku dan mencium bibirku dan melumatnya dengan penuh nafsu. Lidahnya menyelusuri rongga mulutku dengan ganas. Sementara kedua tangannya bergerilya ke mana-mana, tangan kiri meremas-remas payudaraku dengan lembut sementara tangan kanannya mengelus permukaan kemaluanku. Aku langsung pasrah diperlakukan anakku sedemikian rupa, hanya sanggup mendesah dan menjerit kecil. Puas berciuman, Tommy melanjutkan sasarannya ke kedua payudaraku. Kedua puting susuku yang waktu kecil pernah Tommy hisap, kembali dihisap anak sulungku itu dengan lembut. Kedua permukaan payudaraku dijilati sampai mengkilat, dan aku sedikit menjerit kecil saat putingku digigitnya pelan namun mesra. Aduh, tak henti-hentinya aku mendesah akibat perlakuan Tommy. Ciuman Tommy berlanjut ke perut, dan anakku itu pun berjongkok sementara aku tetap berdiri. Aku tahu apa yang akan Tommy lakukan dan ini adalah bagian di mana aku sering orgasme. Yah, aku paling tak tahan kalau kemaluanku di oral seks. </font></p>
<p><font class="tiny_font">Tommy tersenyum sebentar ke arahku, sebelum mulutnya mencium permukaan lubang tempat di mana dia dulu pernah keluar. Lidahnya pun menari-nari di liang vagina mamanya, membuatku melonjak bagai tersetrum. Kedua tanganku terus memegangi kepalanya yang tenggelam di selangkanganku, saat lidahnya menjilati klitorisku dengan lembut. Dan benar saja, tak lama kemudian tubuhku mengejang dengan hebatnya dan desahanku semakin keras terdengar. Tommy tak peduli, anak sulungku itu terus menjilati kemaluanku yang memuncratkan cairan-cairan kental saat aku berorgasme tadi. Aku yang kelelahan langsung menuju tempat tidur dan tidur telentang. Tommy tersenyum lagi. Anakku itu kini melucuti pakaiannya sendiri dan siap untuk menyetubuhi mamanya dengan penisnya yang telah tegang. Tommy bersiap memasukkan penisnya ke lubang vaginaku, dan aku menahannya, &#8220;Tunggu sayang, biar Mama kulum burungmu itu sebentar.&#8221; Tommy menurut, di sodorkannya penis yang besar dan keras itu ke arah mulutku yang langsung mengulumnya dengan penuh semangat. Penis anakku itu kini kumasukkan seluruhnya ke dalam mulutku sementara anakku membelai rambutku dengan rasa sayang. Batangnya yang keras kujilati hingga mengkilap. </font></p>
<p><font class="tiny_font">&#8220;Sekarang kau boleh entot kemaluan Mama, Tom..&#8221; kataku setelah puas mengulum penisnya. Anakku itu mengangguk. Penisnya segera dibimbing anakku menuju lubang kemaluan tempat Tommy lahir. Vaginaku yang basah kuyup memudahkan penis Tommy untuk masuk ke dalam dengan mulus. &#8220;Ahh.. Tomm!&#8221; aku mendesah saat penis Tommy amblas dalam kemaluanku. Tommy lalu langsung menggenjot tubuhnya dengan cepat, lalu berubah lambat tapi pasti. Diperlakukan begitu kepalaku berputar-putar saking nikmatnya. Apalagi Tommy seringkali membiarkan kepala penisnya menggesek-gesek permukaan kemaluanku sehingga aku kegelian. Berbagai macam posisi diperagakan oleh Tommy, mulai dari gaya anjing sampai tradisional membuatku orgasme berkali-kali. Tapi anak sulungku itu belum juga ejakulasi membuatku penasaran dan bangga. Ini baru anak yang perkasa. </font></p>
<p><font class="tiny_font">Dan baru saat aku berada di atas tubuhnya, Tommy mulai kewalahan. Goyangan pinggulku langsung memacunya untuk mencapai puncak kenikmatan. Dan saat Tommy memeluk dengan erat, saat itu pula air mani anak sulungku itu membasahi kemaluanku dengan derasnya, membuatku kembali orgasme untuk yang kesekian kalinya. Selangkanganku kini sudah banjir tidak karuan bercampur aduk antara mani Tommy dengan cairanku sendiri. Tommy masih memelukku dan mencium bibirku dengan lembut. Dan kami terus bermain cinta sampai siang dan baru berhenti saat Bagus pulang dari sekolah. Sejak saat itu aku tak lagi stress karena sudah mendapat pelampiasan dari anakku. Setiap saat aku selalu dapat memuaskan nafsuku yang begitu besar. Dan tidak seorang pun mengetahui kecuali kami berdua. </font></p>
<p><font class="tiny_font"><strong>TAMAT</strong></font></p>
<p><br style="clear: both" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/11/10/anakku-sarana-pelampiasanku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku, Istriku dan Mantan Pacarku</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/11/05/aku-istriku-dan-mantan-pacarku.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/11/05/aku-istriku-dan-mantan-pacarku.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Nov 2007 03:46:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/11/05/aku-istriku-dan-mantan-pacarku/</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini aku alami waktu berlibur di kota S bersama istriku. Saat itu aku ketemu mantanku waktu kerja di kota itu. Namanya Maya, sebut saja demikian. Aku dan istriku waktu itu menginap di hotel &#8216;S&#8217;, kami berdua sudah hampir 3 hari menginap untuk sedikit refresing dari kota J. Selama ini aku mendengar Maya hidup sendiri, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini aku alami waktu berlibur di kota S bersama istriku. Saat itu aku ketemu mantanku waktu kerja di kota itu. Namanya Maya, sebut saja demikian. Aku dan istriku waktu itu menginap di hotel &#8216;S&#8217;, kami berdua sudah hampir 3 hari menginap untuk sedikit refresing dari kota J. Selama ini aku mendengar Maya hidup sendiri, dia sudah putus sama yang katanya calon suami waktu dulu dikenalkan denganku, dan dia katanya sekarang adalah biseks (moga-moga bukan begitu yang aku dengar).</p>
<p>Hari keempat setelah usai makan malam, aku dan istriku mulai iseng seperti biasa suami istri saling cium, saling hisap walaupun dengan pakaian setengah telanjang, namun gairah kami berdua tidak ada habis-habisnya (maklum tiap hari pikiran ini dipenuhi pekerjaan kantor, jadi wajar kalau tiap hari waktu liburan kami senantiasa berhubungan). Kata teman-temanku aku punya libido seks yang tinggi, makanya istriku kadang-kadang tidak kuat meladeni diriku di ranjang. Tengah asyik-asyiknya kami penetrasi pintu kamar hotelku diketuk, aku langsung beranjak tanpa mempedulikan istriku yang sudah ngos-ngosan tidak karuan. Betapa terkejutnya aku waktu kubuka pintu, sesosok badan yag anggun berdiri di depanku dengan celana jeans ketat dan kaos putih ketat terawang. Aku hampir terpesona &#8220;Maya..&#8221; kataku setengah gugup. &#8220;Ayo masuk,&#8221; pintaku, tanpa sadar aku sudah setengah telanjang (walau hanya memakai celana pendek waktu itu).</p>
<p>Dia mengikutiku masuk ruangan hotel, istriku pun tengah rebahan dan hanya ditutup oleh selimut hotel.<br />
&#8220;Ini Maya, Mah kenalin,&#8221; mereka pun saling berjabat tangan.<br />
&#8220;Oh, kalian sedang asyik yah, maaf kalo aku mengganggu?&#8221; kata Maya kemudian.<br />
Kami pun agak kikuk, namun Maya dengan santai pun berkata,<br />
&#8220;Lanjutin aja, cueklah kalian kan sudah suami istri, ayo lanjutin aja!&#8221;<br />
Aku dan istriku heran melihat hal itu, namun dengan sedikit kikuk tanpa aku pikirkan siapa dia, aku mulai lagi penetrasi dengan istriku (walaupun agak canggung). Kulumat bibir istriku, turun ke bawah di antara dua payudara nan indah yang kumiliki selama ini (ukurannya sih 34B) kujilat-kugigit puting susu istriku, dengan terpejam istriku mendesah, &#8220;Aaahh.. aahh..&#8221; dia pun tidak memperdulikan sekelilingnya juga termasuk Maya. Mulutku mulai turun ke arah di lubang kemaluan istriku dengan tangan kanan dan kiri meremas-remas kedua payudaranya. Kujilati lubang kemaluan istriku, dia pun mulai bergoyang-goyang. &#8220;Mas.. itilnya.. aahh enak.. Mas.. terus..&#8221; Aku sempat melirik Maya, dia pun melihat adegan kami berdua seakan-akan ingin ikut menikmatinya.</p>
<p>&#8220;Mas, ayo mulai.. aku.. udah nggak.. kuat.. nih..&#8221; lalu penisku yang sudah mulai tegak berdiri mulai masuk ke lubang vagina istriku, &#8220;Bleess.. sleepp..&#8221; begitu berulang-ulang, tiba-tiba tanpa aku sadari Maya sudah melepas semua penutup tubuhnya, dia beranjak dari tempat duduk dan mendekati istriku, dilumatnya bibir mungil istriku. Edan! pikirku, namun ini memang pengalaman baru bagi kami berdua dan lebih ada variasinya. Istriku pun ternyata membalas ciuman Maya dengan bergairah, tangan Maya pun asyik memainkan puting susu istriku. Hampir satu jam aku naik-turun di tubuh istriku, dan tubuh istriku mulai mengejang &#8220;Mas.. aku.. ke.. lu.. aagghh..&#8221; Tubuh istriku tergeletak lemas di ranjang, Maya tahu kalau aku belum sampai puncak, ditariknya diriku agar duduk di tepi ranjang, dengan penis yang masih tegak dan basah oleh sperma istriku. Maya mulai menjilati penisku dengan bergairah, &#8220;Enak Mas cairan istrimu ini,&#8221; katanya. Istriku yang melihat hal itu hanya senyum-senyum penuh arti, Maya masih dengan bergairah mengulum-ulum penisku yang panjang dan besar itu, &#8220;May, aku pengen..&#8221; Dia tahu apa yang kuminta, tanpa bertanya pada istriku Maya naik di antara kedua kaki, rupanya lubang kemaluannya sudah basah melihat adeganku dan istriku tadi.</p>
<p>Lalu &#8220;Bleess..&#8221; penisku sudah masuk ke vagina Maya. Istriku melihat itu hanya terdiam, namun kemudian dia bangkit dan mendorongku sehingga aku di posisi terlentang di ranjang. Ia mulai naik ke tubuhku dengan posisi lubang vaginanya tepat di atas kepalaku. &#8220;Jilati Mas..&#8221; pintanya manja. Aku mulai menjilati lubang kemaluan istriku dan klitorisnya yang indah itu, istriku dengan posisi itu ternyata lebih bisa menikmati dengan Maya, mereka saling berciuman dan posisi Maya pun naik-turun di atas penisku. Istriku dengan bergairah melumat kedua puting payudara indah milik Maya, setelah setengah jam tubuh Maya mengejang, &#8220;Mas.. aku.. mau.. ke.. aahh..&#8221; cairan panas menerpa penisku, begitu pula aku sudah ingin mencapai puncak dan tak tahan lagi spermaku tumpah di dalam lubang vagina Maya. Maya kemudian beringsut dari tempat tidur, dia berjalan ke arah tas yang ia bawa tadi, lalu mengeluarkan sebuah benda coklat panjang dengan tali melingkar, itukah yang dinakan &#8220;dildo&#8221;, aku dan istriku baru tahu waktu itu.</p>
<p>Maya mulai mengenakan dildonya, persis seperti laki-laki, dia berjalan ke arah istriku yang sejak tadi rebahan di sampingku. Maya mulai beraksi, dia menciumi istriku dengan bergairah, melumat puting susu istriku yang tegak, turun ke vaginanya, dijilatinya dengan puas, klitorisnya dimainkan dengan ujung lidahnya, istriku tak tahan dia mendesah-desah kenikmatan. &#8220;May.. terus..&#8221; Maya kemudian melepas vagina istriku yang tadi dijilat dan digigitnya, dia naik di atas tubuh istriku, lalu tangannya membimbing dildo yang dia pakai tepat di atas lubang vagina istriku, dengan sekali tekan masuklah dildo itu, &#8220;Aauugghh..&#8221; teriak istriku. &#8220;Enak Mas.. lebih enak dari punyamu..&#8221; katanya, aku hanya tersenyum. Maya seakan bergairah sekali dalam permainan itu, seakan-akan dia seorang laki-laki yang sedang menyetubuhi wanita, istriku pun menikmatinya. Aku sudah tidak tahan melihat adegan itu, tanpa minta ijin dulu dengan posisi membelakangi Maya aku melihat warna merah indah vagina milik Maya terpampang di depanku. Dengan sekali genjot penisku sudah masuk ke lubang itu, &#8220;Bleess..&#8221; Mata Maya sampai terpejam-pejam menikmati itu.</p>
<p>Setelah beberapa lama tubuh istriku tampak mengejang dan, &#8220;Ahh.. May.. sayang..&#8221; Dia lemas untuk kedua kalinya. Maya tiba-tiba menahanku, sehingga aku terdiam, dia bangkit berdiri dari posisi di atas istriku, dia mendorongku ke tempat tidur, dia melepas dildonya dan naik ke tubuhku, dia mulai lagi dengan posisi seperti awal tadi, wow nikmat sekali. Istriku bangkit dari ranjang, dia iseng mengenakan dildo yang dikenakan Maya tadi, lalu berjalan membelakangi Maya, istriku melihat dengan indah pantat Maya yang putih mulus dan halus itu. Dibelainya dengan lembut, dia mendorong tubuh Maya sehingga terjerambab, dengan posisi itu kami dapat saling berciuman dengan bergairah. Istriku lalu mengambil posisi, dengan perlahan-lahan dia memasukkan dildonya di dubur Maya (dia ingin anal seks rupanya dengan Maya), dengan gerakan lembut dildo itu masuk ke dubur Maya, Maya pun berteriak, &#8220;Aagghh sa.. kit..&#8221; istriku pun berhenti sebentar, lalu dengan gerakan maju-mundur secara pelan dildo itu akhirnya lancar masuk ke dubur Maya. Mata Maya pun sampai terpejam-pejam, &#8220;Mas.. aku.. udah.. nggakk.. ku.. at.. la..&#8221; kembali cairan panas menyerang penisku.</p>
<p>Istriku sudah berhenti memainkan dildonya takut Maya menderita sakit. Tubuh Maya terbaring di ranjang sebelahku, istriku yang nafsunya masih menggebu langsung menyerangku, dia dengan posisi seperti Maya tadi mulai naik-turun dan tanganku pun tak ketinggalan memilin kedua puting susunya. Setelah hampir satu jam kami bergumul, akhirnya klimaks kami berdua sama-sama mengeluarkan cairan di dalam satu lubang. Istriku kemudian beringsut, dia ingin mengulum penisku yang masih tegak berdiri dan basah oleh cairan kami berdua, Maya pun tak ketinggalan ikut mengulum-ngulum penisku. Betapa nikmatnya malam ini, pikirku.</p>
<p>Akhirnya kami bertiga tertidur karena kecapaian dengan senyum penuh arti semoga permainan ini dapat kami teruskan dengan didasari rasa sayang bukan karena nafsu semata di antara kami bertiga. Semoga!</p>
<p>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/11/05/aku-istriku-dan-mantan-pacarku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ale and Me The Next Day</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/11/05/ale-and-me-the-next-day.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/11/05/ale-and-me-the-next-day.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Nov 2007 03:37:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/11/05/ale-and-me-the-next-day/</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda pernah membaca kisah berjudul &#8220;Ale and Me&#8221;, sebenarnya kisah itu ada lanjutannya.. Yang pertama kemarin itu cerita di hari jumat malam waktu kami berangkat. Kemudian sedikit cerita untuk sabtu paginya. Nah.. Ini cerita sepanjang sabtu. Enjoy..
*****
Kami semua menuju ruang TV. Ale duduk di singel sofa empuk miliknya depan TV. Barry mulai menjalankan VCD [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika anda pernah membaca kisah berjudul &#8220;Ale and Me&#8221;, sebenarnya kisah itu ada lanjutannya.. Yang pertama kemarin itu cerita di hari jumat malam waktu kami berangkat. Kemudian sedikit cerita untuk sabtu paginya. Nah.. Ini cerita sepanjang sabtu. Enjoy..</p>
<p>*****</p>
<p>Kami semua menuju ruang TV. Ale duduk di singel sofa empuk miliknya depan TV. Barry mulai menjalankan VCD Player dengan film BF yang mereka punya. Aku duduk menyamping diatas pangkuan Ale, pantatku disela sela pahanya. Ketika film dimainkan, tangan Barry dan Sylvy sudah mulai saling merangsang, sementara Micky dan Amy sudah berciuman diatas sofa panjang. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang memperhatikan film di VCD, karena masing-masing sudah memulai permainannya sendiri sendiri.</p>
<p>Jari-jari Ale sudah mulai membelai celah memekku. Menarik-narik klirotisku membuatku semakin terangsang. Ia juga menciumi tetekku menggigit putingku. Tangan kiriku mengocok kontolnya lembut. Tak lama, kakiku diangkatnya hingga aku duduk berhadapan dengannya sementara kontolnya terjepit antara perutnya dan memekku dan kedua kakiku melewati sandaran sofa. Perlahan Ale mengorek-ngorek lubang memekku dengan kontolnya.</p>
<p>&#8220;Ahh..&#8221; desahku saat kepala kontolnya mulai menerobos masuk dalam memekku. Aku menekan pantatku kebawah, hingga kontolnya masuk sampai ke batangnya, sekalipun rasanya sakit sekali, tapi nikmatnya luar biasa. Kemudian aku terlentang diatas pangkuannya masih dengan kontol yang tertancap dalam memekku. Amy dan Sylvy mendekatiku, mereka menjilati tetekku dan menggigit gigitnya serta meremas remasnya hingga memerah, sementara Micky dan Barry memasukkan kontol mereka ke dalam vagina kedua perempuan yang sedang menungging itu, kemudian mengocoknya.</p>
<p>Jari-jari Sylvy dan Amy menggelitik klitorisku, membuatku semakin bergetar. Ale&#8217; memegang pinggangku dan sedikit mengangkatnya, hingga ia bisa mengocokkan kontolnya dalam memekku.</p>
<p>&#8220;Ahh.. Ssshh..&#8221; desahku keenakan..</p>
<p>Tanganku berpegangan pada sandaran tangan sofa dan mulai mengangkat pantatku dan memutar mutarnya, hingga kontol Ale yang panjang serasa mengaduk aduk memekku. Pelan namun pasti, pantat Ale&#8217; pun di goyangkan mengikuti irama goyangan pantatku. Makin cepat dan makin tak beraturan..</p>
<p>&#8220;Ahh.. Alee..&#8221;</p>
<p>Ia mengeluarkan sebuah vibrator kecil, seukuran ibu jari dan memasangnya pada getaran tertinggi. Kemudian menempelkan pada klitorisku.</p>
<p>&#8220;Aahh.&#8221; Jeritku seakan tersetrum listrik seluruh tubuhku, bersamaan dengan itu terasa memekku berkedut sangat kuat dan.<br />
&#8220;Aahh.. Alee.&#8221;</p>
<p>Aku menggoyangkan pantatku semakin kuat dan badanku bergetar sangat keras dan kurasa dinding memekku mengejang sangat kuat menjepit kontol Ale yang masih ada didalam.</p>
<p>&#8220;Aaahh.. Sayang.. Ohh.. Fffuck!&#8221; Desah Ale, bersamaan dengan mengalirnya pejuhnya dalam memekku.</p>
<p>Kedua orang di sebelahku juga mulai mendesah dan mencengkram erat pegangan sofa. Masih dalam posisi yang sama, aku menghampiri Amy dan menghisap teteknya, sementara Ale&#8217; mecium bibir dan memainkan lidahnya dalam mulut Sylvy sambil meremas teteknya. Tak lama mereka menjerit keras sambil menggoyangkan pantat mereka dan kemudian menelungkupkan kepalanya di sandaran kursi.</p>
<p>Setelah sejenak kami semua berisitarahat ditempat, kami semua bangkit dari tempat duduk kami. &#8216;Plop&#8217; suara dari kontolnya Ale yang tadi tertanam dalam memekku ketika terlepas. Ale mengangkatku ke kamar mandi dan meletakkanku dalam bathtub kemudian mengisinya dengan air hangat. Dengan tubuh yang sangat letih, aku tertidur dalam bathtub yang hangat.</p>
<p>Ketika aku terbangun, air sudah meluber keluar dari bathtub. Kemudian aku mandi dan membersihkan memekku dengan sabun. Terasa sangat perih karena sudah beberapa kali dimasukkan kontolnya Ale yang sangat besar itu. Kemudian aku keluar dengan baju mandi yang masih ada di kamar mandi. Ternyata Barry, Micky, Amy dan Sylvy terlelap diatas sofa panjang depan TV, sementara kulihat Ale yang masih telanjang berdiri di dapur sedang membuat secangkir kopi.</p>
<p>&#8220;Sudah mandinya? Seger?&#8221;<br />
&#8220;He.. eh..&#8221; Jawabku sambil menganggukkan kepala.<br />
&#8220;Ini kopimu&#8221; Katanya sambil menyerahkan kopi susu kesukaan ku.<br />
&#8220;Ke kolam yuk.. Pemandangannya bagus!&#8221; Ajaknya sambil melilitkan handuk di pinggangnya.</p>
<p>Aku mengikutinya kolam indoor dengan kaca di sekelilingnya. Pemandangan senja yang indah terlihat dibalik kaca. Matahari yang sudah memerah membuat suasana menjadi sangat romantis. Tapi aku menggigil karena penghangat ruangan baru saja dinyalakan. Tiba-tiba, Ale melepaskan handuknya dan masuk ke dalam kolam kecil itu.</p>
<p>&#8220;Ayo masuk!&#8221; ajaknya.</p>
<p>Pertama aku takut, karena dingin sekali udaranya, tapi kemudian ketika aku memasukkan jari kakiku ke dalamnya, ternyata hangat! Ternyata kolam itu bisa berfungsi menjadi kolam air panas. Maka aku memberanikan masuk ke dalamnya.</p>
<p>Didalam kolam terdapat tangga kecil hingga kami bisa duduk sambil berendam hingga leher. Ale duduk di salah satu pojok kemudian ia menarikku dan meletakkan kepalaku di pundaknya. Ia mengangkat daguku dan mengecup bibirku mesra. Aku membalikkan badanku dan memeluknya dari depan kemudian mencium bibirnya. Lidahnya mulai menari dalam mulutku. Tangannya memijat-mijat tetekku dan menarik narik putingnya. Tangan kananku mulai mengelus-elus kontolnya yang sudah setengah berdiri. Tak lama jarinya mengorek-ngorek memekku.</p>
<p>&#8220;Shh.. Ah.. Aduh.. Sakit say.. Perih!&#8221;</p>
<p>Ujarku langsung melepaskan ciumanku. Terasa sangat perih di daerah klitorisku.</p>
<p>&#8220;Iya.. Pelan pelan deh.. Masukkin aja ya say biar nggak terasa perihnya. Biar terasa enaknya&#8221;</p>
<p>Terdiam ku sesaat, sambil merasakan jarinya yang sudah mulai dimasukkan satu persatu dalam memekku.</p>
<p>&#8220;Iya deh.. Tapi pelan pelan ya.. Ujungnya sakit nih!&#8221; Kataku sambil membimbing jarinya ke klitorisku yang terasa agak perih, berusaha menunjukan daerah yang sakit.</p>
<p>&#8220;Ya sudah.. Dari belakang aja.. Kamu munggungin aku&#8221;</p>
<p>Ujarnya sambil membimbing pantatku naik ke pahanya hingga aku duduk membelakangi Ale. Perlahan ia membimbing kontolnya masuk ke dalam memekku.</p>
<p>&#8220;Sshh.. Aaahh..&#8221; desahku ketika kurasakan kontolnya yang panjang 20 cm dan tebal 5 cm itu menyeruak masuk dalam memekku yang masih sedikit perih.<br />
&#8220;Tahan sayang..&#8221; sambil mendorong pantatku hingga kontolnya masuk sepenuhnya ke dalam memekku. Terasa sedikit perih. Aku bertahan pada pinggir kolam, kemudian mulai menaikturunkan pantatku. Setiap aku menurunkan pantatku, terasa Ale&#8217; mengangkat pantatnya, hingga kontolnya masuk lebih dalam dari yang kuperkirakan.</p>
<p>&#8220;Sshh.. Ahh.. Enak sayang..&#8221; Ujarku setiap ia menusukkan kontolnya. Makin lama, makin cepat dengan sentakan sentakan yang mengejutkan, membuatku semakin melayang.<br />
&#8220;Aaahh.. Ahh.. Ssshh.. Mau keluar saayy..&#8221;</p>
<p>Tanganku makin mencengkram kuat pinggiran kolam, merapatkan pahaku supaya dapat lebih menggigit kontolnya. Tiba tiba, Ale mendorongku sedikit, hingga aku berdiri agak bungkuk menghadap pinggiran kolam. Sementara ia menempelkan dadanya, erat di punggungku sambil meremas remas tetekku dan menusukkan kontolnya bertubi tubi dalam memekku.</p>
<p>&#8220;Aaahh.. Ssshh.. Allee..&#8221; Jeritku tak tahan.<br />
&#8220;Tahan say.. Dikit laggii.. Aaarrgghh..!!&#8221;</p>
<p>Jeritnya bersamaan dengan keluarnya pejuhnya dalam memekku bercampur cairan cintaku yang juga keluar saat itu. Lemas rasanya lututku hingga aku berlutut dan bertopang pada pinggir kolam.</p>
<p>&#8220;Aduh.. Enak ya..&#8221;</p>
<p>Tiba tiba ada suara yang mengejutkan kami berdua. Ternyata keempat teman Ale yang muncul di belakang kami. Barry kemudian duduk di depanku mengarahkan kontolnya ke mulutku.</p>
<p>&#8220;Kata Ale&#8217; isapan mu maut! Isap punya aku ya! Aku ingin ngerasain permainan lidah mu&#8221;</p>
<p>Sebentar aku melihat ke Ale seakan meminta konfirmasinya.</p>
<p>&#8220;Maaf sayang, habisnya kamu jago banget sih kalau ngisep!&#8221; dengan senyumnya yang manis, ia mencium punggungku.</p>
<p>Ketika aku mulai memasukkan kontolnya ke dalam mulutku, tiba-tiba Ale menarik kontolnya dari dalam memekku. Sempat kulirik ke belakang, ternyata ia ditarik oleh Amy dan Sylvy ke bungalow di pinggir kolam. Kumainkan lidahku di kepala kontol milik Barry yang ternyata memiliki ketebalan yang sama dengan Ale, 5 cm tapi masih lebih panjang milik Ale. Kuhisap bijinya dan menjilat batangnya, seperti menjilat es krim. Aku masukkan kontol sepanjang 14 cm itu ke dalam mulutku sambil kukocok. Micky memelukku dari belakang, menciumi punggungku dan memainkan jarinya di putingku dan memekku.</p>
<p>&#8220;Aaahh.. Allee..&#8221; Jerit Amy membuatku harus meliriknya.</p>
<p>Di bungalow yang tak jauh dari tempat kami, kulihat Amy menunggingkan pantatnya, sementara Ale sedang memasukkan kontolnya ke dalam vagina Amy. Dan Sylvy menjilati vagina Amy dari bawah sambil meraba-raba memekknya sendiri. Tanpa sadar aku lebih cepat mengocok kontolnya Barry dan lebih cepat memutar mutar lidahku di kepala kontolnya.</p>
<p>&#8220;Ssshh.. Aaahh.. Lidah lo enak banget Le&#8217; Aku mau keluar say.. Telen ya..&#8221; Ujar Barry ke Ale dan aku sambil menekan kepalaku hingga gelagapan. Hingga aku hampir tak dapat bernafas menerima pejuhnya dalam mulutku. Aku terus menghisapnya hingga kontolnya menciut. Tapi tetap aku tak melepaskannya hingga kontolnya kembali berdiri tegak.</p>
<p>Barry turun dan masuk ke dalam kolam, bertukar tempat dengan Micky yang tadi dibelakangku menjadi berhadapan denganku. Aku dipangkunya dan Micky duduk di tangga. Perlahan ia memasukkan kontolnya ke dalam memekku.</p>
<p>&#8220;Aahh.. Mick..&#8221; Desahku ketika semua batangnya masuk ke dalam memekku. Serasa penuh, sekalipun memekku baru saja dimasukkan oleh kontol Ale yang besar, tapi tetap saja rasanya penuh. Sebentar kulirik bungalow tempat Ale dan dua perempuan lainnya. Kulihat Amy dan Sylvy terlentang hampir bertindihan, sambil membuka liang memeknya. Sementara Ale memasukkan kontolnya bergantian dari vagina Amy ke Sylvy. Kemudian Amy lagi dan Sylvy lagi, Kedua perempuan itu berteriak setiap kali Ale menghujamkan kontolnya ke vagina mereka.</p>
<p>&#8220;Sshh.. Ahh..&#8221; Aku terkejut ketika Micky mulai mengocok memekku.</p>
<p>Ia mencium dan melumat bibirku mesra. Sementara Barry dibelakangku mulai mengelus elus tetekku. Tak berapa lama, Barry mulai mengorek lubang pantatku dengan kontolnya.</p>
<p>&#8220;Ahh.. Barry..&#8221; Desahku ketika kontolnya masuk ke dalam memekku.<br />
&#8220;Ssshh.. Aaahh.. Lleebiihh cceeppaat Mick.. Akku mmau kkeluuaarr..&#8221; Desahku keenakan.<br />
&#8220;Barengg saayyaangngg.. Aaahh.. Ttahhnn.. Bbenntaar llaggii.. Ssshh.. Aaahh aahh&#8221; Jerit Micky bersamaan dengan mengalirnya pejuhnya ke dalam memekku bercampur dengan cairan cinta di dalamnya. Juga kontol di pantatku yang juga menembakkan pejuhnya. Kakiku mengikat pinggang Micky dengan erat, menahan kenikmatan yang tiada tara.</p>
<p>Sekalipun dalam kelelahan, aku masih menginginkan kontol Ale yang besar itu bersarang dalam memekku. Hingga dengan sedikit tertatih, aku melepaskan pelukan dari Micky dan Barry, dan membersihkan memekku dalam kolam itu dengan mengusap-usapnya, dan menghampiri Ale dan kedua perempuan yang masih bergelut. Ale terlentang diatas kursi panjang dengan Amy dan Sylvy menjilati kontol Ale yang panjang itu. Kuarahkan memekku ke mulut Ale.</p>
<p>&#8220;Ssshh.. Hhhaa.. Allee.. Enaakk Sayyangg..&#8221; Desahku ketika ia mulai menjalari memekku dengan lidahnya yang hangat. Tiba tiba, ia mengorek liang memekku dengan lidahnya membuat aku semakin menggelinjang.</p>
<p>&#8220;Ahh.. Alee.. Enak..&#8221; Desahku sambil mengacak acak rambutnya dan menekan kepalanya ke terbenam dalam selangkanganku. Tak lama, terasa liang memekku mulai berkontraksi. Pangkal pahaku mulai bergetar keenakan. Tiba tiba Ale&#8217; mengangkat pantatku dan membawaku ke arah kontolnya dan memasukkan kontolnya dalam memekku.</p>
<p>&#8220;Ssshh.. Aaahh.. Aaacchkk.. Allee.. Aaa..&#8221;</p>
<p>Jeritku saat kontolnya menyeruak masuk, bersamaan dengan bergetarnya liang memekku menandakan aku telah orgasme dan akupun terkulai lemas di dadanya yang bidang, dengan kontol yang masih berdiri tegak dalam memekku. Dengan sisa-sisa tenagaku, aku kembali menggoyangkan pantatku, hingga Ale dapat mengeluarkan pejuhnya.</p>
<p>&#8220;Shh.. Sayyaanngg.. Eennakk.. Ooohh..&#8221; Ale melenguh panjang, ketika ia mengeluarkan pejuhnya dalam memekku. Kami semua tertidur di pinggir kolam, hingga pagi.</p>
<p>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/11/05/ale-and-me-the-next-day.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ale and Me</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/11/05/ale-and-me.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/11/05/ale-and-me.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Nov 2007 03:19:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/11/05/ale-and-me/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ke puncak yuk say..&#8221; ajak Ale&#8217; pacarku tiba-tiba sambil memeluk badanku yang kecil (160/54).
Dia memang punya sebuah villa di puncak. Memang sih, rasanya sudah lama sekali kami tidak berlibur, sejak ia membuka usaha bengkelnya.
&#8220;Boleh.. Kapan?&#8221; jawabku.
&#8220;Jumat sore ini kita berangkat, terus pulangnya senin sore. Kan senin hari libur!&#8221;
Boleh juga pikirku. &#8220;Ok!&#8221; jawabku setuju.
Jumat sore itu, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Ke puncak yuk say..&#8221; ajak Ale&#8217; pacarku tiba-tiba sambil memeluk badanku yang kecil (160/54).</p>
<p>Dia memang punya sebuah villa di puncak. Memang sih, rasanya sudah lama sekali kami tidak berlibur, sejak ia membuka usaha bengkelnya.</p>
<p>&#8220;Boleh.. Kapan?&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Jumat sore ini kita berangkat, terus pulangnya senin sore. Kan senin hari libur!&#8221;<br />
Boleh juga pikirku. &#8220;Ok!&#8221; jawabku setuju.</p>
<p>Jumat sore itu, aku dijemput di kantor. Sudah siap dengan semua barang-barangku. Kuletakkan badanku dijok mobil porche birunya yang empuk. Sebelum berangkat, ia sempat mencium bibirku lembut, kemudian menginjak gas, dan kami berangkat ke puncak.</p>
<p>Dalam perjalanan, sebentar-sebentar tangan kanannya mengusap pahaku, kadang ke dadaku, dan mengusap tetekku yang berukuran 36B, hingga puting ku mengeras. Ku geser badanku menghadapnya dengan satu kaki menekuk ke arahnya hingga rokku terbuka dan memperlihatkan celah vaginaku yang hanya ditutupi celana g-string merah yang dibelikannya minggu lalu. Jarinya pun menggeser tali g-stringku kesamping, kemudian memainkan jarinya di vaginaku yang sudah mulai basah. Jarinya mengorek-ngorek ke dalam vaginaku, seakan berusaha menarik clitorisku keluar.</p>
<p>&#8220;Ssh.. Aah.. Shh.. Ah..&#8221; desahku sambil memuntir muntir putingku sendiri.</p>
<p>Ditengah jalanan yang macet antara puncak dan jakarta, didalam mobil porche nya yang berkaca hitam, aku membuka resleting celananya, dan mulai mengulum penisnya yang sudah mulai mengeras. Batang penis sepanjang 20 cm itu kukulum masuk ke dalam mulutku. Karena tidak dapat semuanya masuk, aku memegang sisa batangnya dengan tangan kananku dan mulai mengocoknya.</p>
<p>&#8220;Aaakhh.. Say.. Enak.. Pinter banget sih..&#8221; sambil tangannya sebentar sebentar menekan kepalaku.</p>
<p>Kujilati batang penisnya, kuemput buah zakarnya. Kusedot sedot kepala penisnya, dan kumainkan lidahku berputar putar diatas helemnya saat penisnya masih dalam mulutku, hingga penisnya yang besar itu seperti berputar putar di mulutku yang sempit. Tiba tiba ia menekan kepalaku hingga penisnya terasa penuh dalam mulutku dan ia mengeluarkan pejunya ke dalam mulutku yang kutelan habis pejunya.</p>
<p>&#8220;Ssshh.. Ahh.. Say, makin mahir aja kamu nyedotnya.. Ada yang ngajarin ya?&#8221; ujarnya sambil tersenyum dan melirikku nakal. Aku kembali ke posisiku bersandar pada sandaran kursi dengan satu kaki naik dan jariku memainkan vaginaku yang sudah sangat basah.</p>
<p>&#8220;Sudah nggak tahan sayang? Ada dildo tuh di dalem dashbord,&#8221; ujarnya sambil menunjuk dashbord mobilnya.</p>
<p>Ia memang paling senang membelikan aku mainan baru berupa dildo atau hanya sebuah vibrator. Sebuah dildo karet yang cukup kecil sepanjang 10 cm dan berdiameter 2 cm dengan duri-duri yang agak rebah. Perlahan dia masukkan dalam vaginaku.</p>
<p>&#8220;Sshh..&#8221; desisku merasakan ada barang yang masuk dalam vaginaku.</p>
<p>Belum sampai mentok ia mendorongnya, tiba-tiba ia menariknya cepat dan membuat duri-duri yang tadinya tidur, tiba tiba berdiri dan menggaruk dinding vaginaku!</p>
<p>&#8220;Aaahh.. Allee&#8217;..&#8221; jeritku kaget, aku tidak mengira akan seenak itu.</p>
<p>Dengan pintu sebagai topangan badanku, aku sedikit menggoyang pinggulku mengikuti irama keluar masuk dildo dalam vaginaku. Karena sesekali Ale&#8217; harus melepas dildo itu, akhirnya aku mengambilnya dan mengendalikannya sendiri.</p>
<p>&#8220;Aaahh.. Aahh.. Allee..&#8221; desahku setiap kali dildo itu kutarik keluar.</p>
<p>Belum aku mencapai klimaks, ternyata mobil telah masuk ke dalam garasi Villanya. Tiba-tiba Ale&#8217; membuka pintu yang kusandari, hingga aku hampir terjatuh, tapi ia menahanku dari belakang. Kemudian ia mengambil alih dildo yang ada dalam vaginaku dan ia mengocoknya cepat.</p>
<p>&#8220;Ssshha aahh.. Aaahh.. Aaahh.. Allee&#8217;.. Ahh.. Fuck me.. Fuck me..&#8221;</p>
<p>Mendengar rintihanku, ia langsung membalik badanku dan mengarahkan penisnya yang telah berdiri tegak ke lubang vaginaku. Sekalipun sudah basah, tapi tetap saja, penisnya yang berdiameter 5 cm itu tidak dapat masuk dengan mudah. Setelah beberapa kali kepala penisnya mengorek lubang vaginaku, akhirnya dapat juga masuk.</p>
<p>&#8220;Sshh aahh..&#8221; jeritku ketika ia menusukkan penisnya dalam sekalipun masih tersisa 4 cm diluar vaginaku.</p>
<p>Ia mengikatkan kakiku ke pinggulnya dan ia menarikku keluar dari mobil, hingga aku digendongnya dengan penis sudah ada didalam vaginaku. Ia membawaku masuk ke dalam kamarnya di lantai 1, sekalipun ia harus naik tangga, Ale&#8217; tetap kuat mengangkatku, dan aku sudah mulai mengejang karena terasa sangat mengganjal dengan 4 cm penisnya yang seperti menusuk-nusuk berusaha mendobrak peranakanku. Dan kakiku semakin kuat menjepit pinggulnya.</p>
<p>Sesampainya di kamar, ia menidurkanku diatas kasurnya yang empuk, kemudian mengangkat kedua kakiku ke pundaknya dan merapatkan pahaku.</p>
<p>&#8220;Ahh.. Allee.. Ennakk.. ffuucckk.. HH..&#8221;</p>
<p>Vaginaku terasa sangat sempit, dan ia mengocok penisnya dan memaksakan penisnya yang tersisa diluar untuk masuk lebih dalam. Namun tetap tidak bisa. Ia segera membalikkan badanku, hingga dalam posisi doggy dengan dia berdiri di pinggir kasur. Badanku sudah mulai bergetar keras karena nikmatnya, Ale&#8217; tetap menusukkan penisnya dengan membabi buta ke dalam vaginaku, sementara tangannya memeras-meras tetekku dengan keras hingga meninggalkan bekas merah.</p>
<p>&#8220;Aaahh.. Allee.. SsSSHH.. Alee.. Aku mau keluaarr nihh.. lebbiihh ceeppaatt ssaayyaangghh..&#8221; pintaku dengan nafsu yang sudah hampir tidak dapat ditahan lagi.<br />
&#8220;Samaa ssayy.. keeluaariin diimanaa?&#8221; tanya alle dengan semakin cepat ia mengocok penisnya.<br />
&#8220;Di daleemm ajaa.. diddalleemm.. Aaahh.. Ssshh.. Aaahh..&#8221; jawabku karena aku sudah minum pil KB beberapa bulan ini.<br />
&#8220;Baarreengngg ssaayy.. Dikkitt llaggii.. Aahh..&#8221;</p>
<p>Bersamaan dengan keluarnya pejunya dalam vaginaku dan rongga vaginaku yang berkedut keras. Entah berapa kali Ale&#8217; semprotkan pejunya, karena cukup banyak, sampai meleleh keluar vaginaku bercampur dengan cairan cinta dari dalam vaginaku.</p>
<p>&#8220;Makasih sayang..&#8221; ujarnya sambil mengecup keningku.<br />
&#8220;Ale&#8217;.. Kamu emang jago!&#8221; pujiku padanya.</p>
<p>Setelah agak lama aku berbaring di dadanya. Ia menyuruhku membersihkan diri di kamar mandi, sementara ia mengambil barang-barang kami di mobilnya.</p>
<p>Sementara aku mandi dengan shower, samar samar aku mendengar ada orang berbincang bincang di kamar. Tadinya kupikir suara TV yang keras. Ternyata ketika aku keluar hanya dengan berlilitkan handuk, aku terkejut melihat Micky dan Barry, dua teman Ale&#8217; yang nggak kalah macho! Ale&#8217; langsung memelukku dari belakang dan mencium leherku dan membuyarkan terkejutku.</p>
<p>&#8220;Mereka kesini mau ikutan main say. Kamukan dulu bilang ingin coba main dengan cowok lebih dari 1. Dari pada cari yang enggak jelas, mending cari teman sendiri. Mereka juga suka kok say, dan mereka juga suka kamu. Nggak papa kan?&#8221; ujarnya mesra.<br />
&#8220;Ale&#8217;.. Kamu tahu aja!&#8221; ujarku sambil melingkarkan tanganku ke belakang kepalanya kemudian menciumnya mesra.</p>
<p>Sambil Ale&#8217; menciumku, ia memberi tanda pada kedua temannya untuk mendekat, ia sedikit mendorongku untuk tiduran di kasur. Ketika aku sudah terlentang diatas kasur, ia menyodorkan penisnya ke mulutku. Langsung ku sambut penisnya yang besar itu dan mulai menjilat jilatnya. Sementara Barry mulai menjilati putingku yang sudah keras. Micky, memainkan vaginaku dengan lidahnya. Mengorek ngoreknya dengan lidahnya yang panas.</p>
<p>&#8220;Emmpphh..&#8221; desahku tertahan penis Ale&#8217; setiap kali Micky mengorek clitorisku dengan lidahnya.</p>
<p>Barry tiba tiba melepas antingnya dan menjepitkan di putingku.</p>
<p>&#8220;Barry.. Sakit sayang..&#8221; kataku sesaat melepaskan penis Ale&#8217; dari mulutku.<br />
&#8220;Tenang sayang.. Enak kok.&#8221; ujarnya kemudian menjilat putingku yang memakai anting itu.</p>
<p>Dan memang ternyata enak. Kujilat kembali penis Ale&#8217; seperti menjilat batang eskrim yang besar. Tak lama, Micky melepas mulutnya dari vaginaku dan tiduran di sebelahku sementara Barry tiduran diatasku. Kulirik Micky yang sedang mengoleskan penisnya dengan madu. Ale&#8217; mengangkatku hingga hampir duduk diatas Micky yang terbaring disebelahku. Ia menyandarkan kepalaku ke dadanya yang bidang, hingga pantatku menghadap Micky.</p>
<p>Tiba tiba kurasakan jari Micky yang telah diolesi madu memasuki anusku.</p>
<p>&#8220;Ssshh.. Aaahh.. Mic, sakit.. Ssshh..&#8221; jeritku.<br />
&#8220;Tenang say.. Sakitnya cuma sebentar, tapi nikmatnya selangit. Relax aja, dan enjoy biar nggak sakit.&#8221;</p>
<p>Aku berusaha tenang sambil bersandar pada dada Ale&#8217;. Makin lama makin enak, tak lama kemudian Micky menusukkan penisnya sepanjang 14 cm dg diameter 4 cm, menerobos dalam anusku.</p>
<p>&#8220;Aaahh.. Ssshh..&#8221; jeritku sambil mempererat pelukanku pada Ale&#8217;.</p>
<p>Setelah penisnya masuk semua ke dalam anusku, Ale&#8217; membuatku terlentang diatas Micky. Kemudian ia mengikatkan kedua tanganku ke kepala ranjang yang cukup tinggi dengan menggunakan kain yang cukup halus, hingga aku dapat berpegangan dan sedikit mengangkat pantatku dengan kaki mengangkang. Ale&#8217; tidak membuang kesepatan ini untuk mulai mengorek lubang vaginaku dengan penisnya yang besar.</p>
<p>&#8220;Aahh.. Hhh.. Ssshh.. Alee.. Massuukkinn ssayy..&#8221; mendengar permintaanku itu, Ale&#8217; tidak segan segan mulai menusukkan penisnya ke dalam vaginaku.<br />
&#8220;Emmpphh.. Penuhh Lee&#8217;.. Pelan pelan..&#8221;</p>
<p>Perlahan namun pasti, Ale&#8217; menusukkan penisnya yang besar itu ke dalam vaginaku hingga mentok. Ale&#8217; mulai mencondongkan badannya ke arahku dan memakai satu kakinya untuk menopang badannya, ia mulai mengayunkan pinggangnya. Pertama pelan.. Kemudian makin cepat, dan makin cepatt..</p>
<p>&#8220;Ssshh aahh.. Alee..&#8221;</p>
<p>Micky juga mulai menggoyangkan pinggulnya membuat kedua lubangku dikocok bergantian. Ketika Ale&#8217; masuk, Micky keluar. Ale&#8217; keluar, Micky masuk, begitu seterusnya hingga..</p>
<p>&#8220;Ahh.. Ssshh.. AAHh.. Ssayy.. Fuckk..!! Alee.. Bentar lagi dapeett nih.. Aaahh..&#8221; jeritku..<br />
&#8220;I&#8217;m coming..&#8221; desah Micky..<br />
&#8220;Ssh.. Iiyaa.. Keeluar bareng ya.. Shh.. Aahh.. Ahh&#8221; ujar Ale&#8217;.</p>
<p>Tiba tiba kurasakan perasaan nikmat yang tak dapat kutahan, lorong vaginaku mulai berkedut keras tanda aku mulai orgasme.<br />
&#8220;AAH..&#8221; jeritku, bersamaan dengan semprotan pejuh di anusku. Disambut dengan tusukkan yang dalam di vaginaku dan tumpahan pejuh Ale&#8217; dalam vaginaku serta kedutan yang keras dari penis Micky di anusku dan penis Ale&#8217; di vaginaku.</p>
<p>Lemas badanku dibuatnya, aku masih berada diantara Micky dan Ale&#8217; seperti sandwich yang basah dengan keringat. Masih dengan penis yang menancap di anus dan vaginaku. Ale&#8217; menarikku hingga penis Micky lepas dari anusku.<br />
&#8220;Plop&#8221; bunyinya nyaring.<br />
Penis Ale&#8217; masih setengah berdiri masih dalam vaginaku, sambil ia menidurkanku di dadanya. Kulirik jam dinding sudah pukul 3 pagi dan aku langsung tertidur lelah.</p>
<p>Paginya, aku terbangun karena merasakan ada yang menjilat jilat vaginaku dan meremas remas tetekku. Ternyata Barry yang menjilatku dan Ale&#8217; serta Micky yang meremas tetekku.</p>
<p>&#8220;Ssh.. Aaahh.. Enak Barry..&#8221;</p>
<p>Tak lama Barry duduk berlutut di depan vaginaku dan mengarahkan penisnya yang agak bengkok ke atas seperti pisang itu ke celah vaginaku.</p>
<p>&#8220;Aaahh..&#8221; jeritku ketika ia menusukkan penisnya dengan cepat ke dalam vaginaku.</p>
<p>Seakan ada yang menggaruk bagian atas lorong vaginaku. Kemudian Barry mengangkat kaki kananku dan meletakkannya di atas kaki kiriku hingga badanku seperti terpelintir karena kedua tetekku ditahan dalam mulut Ale&#8217; dan Micky.</p>
<p>&#8220;Aduuhh.. Enaakkhh..&#8221;</p>
<p>Penisnya yang bengkok itu menggaruk bagian dalam vaginaku. Perlahan namun pasti Barry mengocok vaginaku..</p>
<p>&#8220;Sshh.. Aahahh.. Barryy.. Mmmhh..&#8221;</p>
<p>Dengan irama 3 kali tusukan pelan dan 1 kali tusukan cepat dan dalam, membuatku melayang dibuatnya. Tak lama tusukkan penisnya semakin tak terkontrol, semakin membabi buta membuatku semakin melayang!</p>
<p>&#8220;Ahh.. Ssshh.. Emmpphh..&#8221; desahku saat Barry kembali membuka kakiku hingga vaginaku terbuka lebar dihadapannya.</p>
<p>Ale&#8217; menepuk nepuk dan menekan nekan vaginaku supaya aku semakin terangsang. Ia mengaitkan jarinya ke bibir vaginaku hingga tertarik.</p>
<p>&#8220;Ahh.. Ssshh.. Ahh.. Bbarryy.. Lebihh cceeppaat.. Mauu keluaarr niihh..&#8221;</p>
<p>Segera Barry mencabut penisnya. Seketika aku kecewa, ternyata ia berganti posisi dengan Ale&#8217;, Ale&#8217; langsung menusukkan penisnya yang besar itu dalam vaginaku dan Barry menjepitkan penisnya diantara tetekku dan mulai mengocoknya hingga ia memuncratkan pejunya ke wajahku. Sementara Ale&#8217; mengocokkan penisnya yang panjang itu dalam vaginaku.</p>
<p>&#8220;Aaahh.. Ssshh,&#8221; jeritku terasa semua ototku tegang karena orgasm yang kurasakan sambil merasakan kedutan penis Ale&#8217; menandakan ia sudah mengeluarkan pejunya dalam vaginaku.</p>
<p>Lemas sekali badanku, harus melayani mereka. Ale&#8217; tiba tiba mengangkatku dan membawaku ke kamarmandi. Disana sudah ada Micky yang sedang mengisikan bath tub dengan air panas dan sabun susu wangi. Ale&#8217; mencelupkan badanku yang letih ke dalamnya.</p>
<p>&#8220;Kamu istirahat dulu deh say.. Nanti kalau sudah selesai, langsung ke ruang makan ya,&#8221; ujarnya sambil mencium keningku.</p>
<p>Sekitar setengah jam aku berendam melepas lelah. Setelah selesai, seperti permintaan Ale&#8217; aku menuju ruang makan, hanya dibalut mantel mandi.</p>
<p>Disana sudah ada dua orang perempuan yang sedang memasak di dapur. Keduanya tak kalah sexy dariku. Ternyata mereka adalah Amy (160/54 34C) yang ternyata pacarnya Micky. Serta Sylvy (158/53 34B) yang adalah pacarnya Barry. Keduanya memakai celana hotpants yang memperlihatkan paha mereka yang putih dan mulus dan kaos model kemben yang hanya menutup payudara mereka yang besar. Samar samar terlihat puting mereka menonjol dibalik kaosnya.</p>
<p>&#8220;Sini sayang, kita sarapan dulu,&#8221; ujar Ale&#8217; sambil mengeluarkan kursi disebelahnya.</p>
<p>Setelah menunggu aku duduk, ia pun duduk di kursinya. Micky dan Amy ternyata sudah selesai makan, dan mereka sekarang ada di dapur sambil berciuman ditonton kami berempat.</p>
<p>Celana Amy dibuka dan di lemparkan ke bawah kemudian melepaskan kembennya, hingga Amy menjadi bugil. Kulihat penis Ale&#8217; dan Barry yang berada disisiku yang satunya sudah berdiri tegak. Aku dan Sylvy saling melihat, tak lama Sylvy menghilang dibawah meja, ternyata sedang meng-oral penisnya Barry. Ale&#8217; kemudian melihatku seakan memintaku mengoral penisnya. Tapi karena aku belum selesai makan, aku hanya mengocok penisnya pelan sambil berkata,</p>
<p>&#8220;Sabar sayang..&#8221;</p>
<p>Micky mengangkat kaki kanan Amy kemudian mulai menusukkan penisnya dalam-dalam.</p>
<p>&#8220;Aaahh..&#8221; desah Amy membuatku juga semakin terangsang.</p>
<p>Ale&#8217; yang telah selesai makan, menyingkapkan mantel mandiku dan mulai menggigit putingku yang sudah mengeras dan mengorek vaginaku dengan jarinya. Sambil aku menekan kepalanya ke dadaku, aku melihat Micky yang sedang mengocok vagina Amy sambil menciumi teteknya dan Barry yang keenakan disebelahku karena penisnya dikulum Sylvy.</p>
<p>&#8220;Aaagghh.. Mic.. I&#8217;m commingg..&#8221; jerit Amy.</p>
<p>Tak lama kulihat lelehan pejuh di paha kiri Amy menandakan Micky sudah menembakkan pejunya.</p>
<p>&#8220;Ssshh.. fuucckk..&#8221; desah Barry disebelahku, kemudian kulihat Sylvy muncul dari bawah meja dengan bibirnya penuh dengan pejuh. Ale&#8217; melepaskan pagutannya di tetekku.<br />
&#8220;Nonton BF yuk,&#8221; ajaknya ke ruang TV. Dan kami bermain sepanjang hari.</p>
<p>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/11/05/ale-and-me.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pacarku dan Adik-Adiknya</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/10/31/pacarku-dan-adik-adiknya.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/10/31/pacarku-dan-adik-adiknya.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 05:08:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/10/31/pacarku-dan-adik-adiknya/</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini berawal ketika aku pacaran dengan Dian. Dian adalah seorang gadis mungil dengan tubuh yang seksi dan dibalut oleh kulit yang putih mulus. Walaupun payudaranya tidak terlalu besar, ya.. kira-kira berukuran 34 lah. Selama pacaran, kami belum pernah berhubungan badan. Hanya saja kalau nafsu sudah tidak bisa ditahan, biasanya kami melakukan oral seks.
Dian memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita ini berawal ketika aku pacaran dengan Dian. Dian adalah seorang gadis mungil dengan tubuh yang seksi dan dibalut oleh kulit yang putih mulus. Walaupun payudaranya tidak terlalu besar, ya.. kira-kira berukuran 34 lah. Selama pacaran, kami belum pernah berhubungan badan. Hanya saja kalau nafsu sudah tidak bisa ditahan, biasanya kami melakukan oral seks.</p>
<p>Dian memiliki dua orang adik perempuan yang cantik. Adiknya yang pertama, namanya Elsa, juga mempunyai kulit yang putih mulus. Namun payudaranya jauh lebih besar daripada kakaknya. Menurut kakaknya, ukurannya 36B. Inilah yang selalu menjadi perhatianku kalau aku sedang ngapel ke rumah Dian. Payudaranya yang berayun-ayun kalau sedang berjalan, membuat penisku berdiri tegak karena membayangkan betapa enaknya memegang payudaranya. Sedangkan adiknya yang kedua masih kelas 2 SMP. Namanya Agnes. Tidak seperti kedua kakaknya, kulitnya berwarna sawo matang. Tubuhnya semampai seperti seorang model cat walk. Payudaranya baru tumbuh. Sehingga kalau memakai baju yang ketat, hanya terlihat tonjolan kecil dengan puting yang mencuat. Walaupun begitu, gerak-geriknya sangat sensual.</p>
<p>Pada suatu hari, saat di rumah Dian sedang tidak ada orang, aku datang ke rumahnya. Wah, pikiranku langsung terbang ke mana-mana. Apalagi Dian mengenakan daster dengan potongan dada yang rendah berwarna hijau muda sehingga terlihat kontras dengan kulitnya. Kebetulan saat itu aku membawa VCD yang baru saja kubeli. Maksudku ingin kutonton berdua dengan Dian. Baru saja hendak kupencet tombol play, tiba-tiba Dian menyodorkan sebuah VCD porno.<br />
&#8220;Hei, dapat darimana sayang?&#8221; tanyaku sedikit terkejut.<br />
&#8220;Dari teman. Tadi dia titip ke Dian karena takut ketahuan ibunya&#8221;, katanya sambil duduk di pangkuanku.<br />
&#8220;Nonton ini aja ya sayang. Dian kan belum pernah nonton yang kayak gini, ya?&#8221; pintanya sedikit memaksa.<br />
&#8220;Oke, terserah kamu&#8221;, jawabku sambil menyalakan TV.</p>
<p>Beberapa menit kemudian, kami terpaku pada adegan panas demi adegan panas yang ditampilkan. Tanpa terasa penisku mengeras. Menusuk-nusuk pantat Dian yang duduk di pangkuanku. Dian pun memandang ke arahku sambil tersenyum. Rupanya dia juga merasakan.<br />
&#8220;Ehm, kamu udah terangsang ya sayang?&#8221; tanyanya sambil mendesah dan kemudian mengulum telingaku. Aku hanya bisa tersenyum kegelian. Lalu tanpa basa-basi kuraih bibirnya yang merah dan langsung kucium, kujilat dengan penuh nafsu. Jari-jemari Dian yang mungil mengelus-elus penisku yang semakin mengeras.</p>
<p>Lalu beberapa saat kemudian, tanpa kami sadari ternyata kami sudah telanjang bulat. Segera saja Dian kugendong menuju kamarnya. Di kamarnya yang nyaman kami mulai melakukan foreplay. Kuremas payudaranya yang kiri. Sedangkan yang kanan kukulum putingnya yang mengeras. Kurasakan payudaranya semakin mengeras dan kenyal. Kuganti posisi. Sekarang lidahku liar menjilati vaginanya yang basah. Kuraih klitorisnya, dan kugigit dengan lembut.</p>
<p>&#8220;Aahh.. ahh.. sa.. sayang, Dian udah nggak kuat.. emh.. ahh.. Dian udah mau keluar.. aackh.. ahh.. ahh!&#8221; Kurasakan ada cairan hangat yang membasahi mukaku. Setelah itu, kudekatkan penisku ke arah mulutnya. Tangan Dian meremas batangku sambil mengocoknya dengan perlahan, sedangkan lidahnya memainkan buah pelirku sambil sesekali mengulumnya. Setelah puas bermain dengan buah pelirku, Dian mulai memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Mulutnya yang mungil tidak muat saat penisku masuk seluruhnya. Tapi kuakui sedotannya memang nikmat sekali. Sambil terus mengulum dan mengocok batang penisku, Dian memainkan puting susuku. Sehingga membuatku hampir ejakulasi di mulutnya. Untung masih dapat kutahan. Aku tidak mau keluar dulu sebelum merasakan penisku masuk ke dalam vaginanya yang masih perawan itu.</p>
<p>Saat sedang hot-hotnya, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku dan Dian terkejut bukan main. Ternyata yang datang adalah kedua adiknya. Keduanya spontan berteriak kaget.<br />
&#8220;Kak Dian, apa-apan sih? Gimana kalau ketahuan Mama?&#8221; teriak Agnes. Sedangkan Elsa hanya menunduk malu. Aku dan Dian saling berpandangan. Kemudian aku bergerak mendekati Agnes. Melihatku yang telanjang bulat dengan penis yang berdiri tegak, membuat Agnes berteriak tertahan sambil menutup matanya.<br />
&#8220;Iih.. Kakak!&#8221; jeritnya. &#8220;Itunya berdiri!&#8221; katanya lagi sambil menunjuk penisku. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya.<br />
Setelah dekat, kurangkul dia sambil berkata, &#8220;Agnes, Kakak sama Kak Dian kan nggak ngapa-ngapain. Kita kan lagi pacaran. Yang namanya orang pacaran ya.. kayak begini ini. Nanti kalo Agnes dapet pacar, pasti ngelakuin yang kayak begini juga. Agnes udah bisa apa belum?&#8221; tanyaku sambil mengelus pipinya yang halus. Agnes menggeleng perlahan.<br />
&#8220;Mau nggak Kakak ajarin?&#8221; tanyaku lagi. Kali ini sambil meremas pantatnya yang padat.<br />
&#8220;Mmh, Agnes malu ah Kak&#8221;, desahnya.<br />
&#8220;Kenapa musti malu? Agnes suka nggak sama Kakak?&#8221; kataku sambil menciumi belakang lehernya yang ditumbuhi rambut halus.<br />
&#8220;Ahh, i.. iya. Agnes udah lama suka ama Kakak. Tapinya nggak enak sama Kak Dian&#8221;, jawabnya sambil memejamkan mata.</p>
<p>Tampaknya Agnes menikmati ciumanku di lehernya. Setelah puas menciumi leher Agnes, aku beralih ke Elsa.<br />
&#8220;Kalo Elsa gimana? Suka nggak ama Kakak?&#8221; Elsa mengangguk sambil kepalanya masih tertunduk.<br />
&#8220;Ya udah. Kalo gitu tunggu apa lagi&#8221;, kataku sambil menggandeng keduanya ke arah tempat tidur.<br />
Elsa duduk di pinggiran tempat tidur sambil kusuruh untuk mengulum penisku. Pertamanya sih dia nggak mau, tapi setelah kurayu sambil kuraba payudaranya yang besar itu, Elsa mau juga. Bahkan setelah beberapa kali memasukkan penisku ke dalam mulutnya, Elsa tampaknya sangat menikmati tugasnya itu. Sementara Elsa sedang memainkan penisku, aku mulai merayu Agnes. &#8220;Agnes, bajunya Kakak buka ya?&#8221; pintaku sedikit memaksa sambil mulai membuka kancing baju sekolahnya. Lalu kulanjutkan dengan membuka roknya. Ketika roknya jatuh ke lantai, terlihat CD-nya sudah mulai basah.</p>
<p>Segera saja kulumat bibirnya dengan bibirku. Lidahku bergerak-gerak menjilati lidahnya. Agnes pun kemudian melakukan hal yang sama. Sambil tetap menciumi bibirnya, tanganku bermaksud membuka BH-nya. Tapi segera ditepiskannya tanganku.<br />
&#8220;Jangan Kak, malu. Dada Agnes kan kecil&#8221;, katanya sambil menutupi dadanya dengan tangannya. Dengan tersenyum kuajak dia menuju ke kaca yang ada di meja rias. Kusuruh dia berkaca. Sementara aku ada di belakangnya. &#8220;Dibuka dulu ya!&#8221; kataku membuka kancing BH-nya sambil menciumi lehernya.</p>
<p>Setelah BH-nya kujatuhkan ke lantai, payudaranya kuremas perlahan sambil memainkan putingnya yang berwarna coklat muda dan sudah mengeras itu. &#8220;Nah, kamu lihat sendiri kan. Biar dada kamu kecil, tapi kan bentuknya bagus. Lagian kamu kan emang masih kecil, wajar aja kalo dada kamu kecil. Nanti kalo udah gede, dada kamu pasti ikutan gede juga&#8221;, kataku sambil mengusapkan penisku ke belahan pantatnya. Agnes mendesah keenakan. Kepalanya bersandar ke dadaku. Tangannya terkulai lemas. Hanya nafasnya saja yang kudengar makin memburu. Segera kugendong dia menuju ke tempat tidur. Kutidurkan dan kupelorotkan CD-nya. Bulu kemaluannya masih sangat jarang. Menyerupai bulu halus yang tumbuh di tangannya. Kulebarkan kakinya agar mudah menuju ke vaginanya. Kucium dengan lembut sambil sesekali kujilat klitorisnya. Sementara Elsa kusuruh untuk meremas-remas payudaranya adiknya itu. &#8220;Aahh.. ach.. ge.. geli Kak. Tapi nikmat sekali, aahh terus Kak. Jangan berhenti. Mmh.. aahh.. ahh.&#8221;</p>
<p>Setelah puas dengan vagina Agnes. Aku menarik Elsa menjauh sedikit dari tempat tidur. Dian kusuruh meneruskan. Lalu dengan gaya 69, Dian menyuruh Agnes menjilati vaginanya. Sementara itu, aku mulai mencumbu Elsa. Kubuka kaos ketatnya dengan terburu-buru. Lalu segera kubuka BH-nya. Sehingga payudaranya yang besar bergoyang-goyang di depan mukaku. &#8220;Wow, tete kamu bagus banget. Apalagi putingnya, merah banget kayak permen&#8221;, godaku sambil meremas-remas payudaranya dan mengulum putingnya yang besar. Sedangkan Elsa hanya tersenyum malu. &#8220;Ahh, ah Kakak, bisa aja&#8221;, katanya sambil tangan kirinya mengelus kepalaku dan tangan kanannya berusaha manjangkau penisku.</p>
<p>Melihat dia kesulitan, segera kudekatkan penisku dan kutekan-tekankan ke vaginanya. Sambil mendesah keenakan, tangannya mengocok penisku. Karena kurasakan air maniku hampir saja muncrat, segera kuhentikan kocokannya yang benar-benar nikmat itu. Harus kuakui, kocokannya lebih nikmat daripada Dian. Setelah menenangkan diri agar air maniku tidak keluar dulu, aku mulai melorotkan CD-nya yang sudah basah kuyup. Begitu terbuka, terlihat bulu kemaluannya lebat sekali, walaupun tidak selebat Dian, sehingga membuatku sedikit kesulitan melihat vaginanya. Setelah kusibakkan, baru terlihat vaginanya yang berair. Kusuruh Elsa mengangkang lebih lebar lagi agar memudahkanku menjilat vaginanya. Kujilat dan kuciumi vaginanya. Kepalaku dijepit oleh kedua pahanya yang putih mulus dan padat. Nyaman sekali pikirku.</p>
<p>&#8220;aahh, Kak.. Elsa mau pipiss..&#8221; erangnya sambil meremas pundakku.<br />
&#8220;Keluarin aja. Jangan ditahan&#8221;, kataku.<br />
Baru selesai ngomong, dari vaginanya terpancar air yang lumayan banyak. Bahkan penisku sempat terguyur oleh pipisnya. Wah nikmat sekali jeritku dalam hati. Hangat.</p>
<p>Setelah selesai, kuajak Elsa kembali ke tempat tidur. Kulihat Dian dan Agnes sedang asyik berciuman sambil tangan keduanya memainkan vaginanya masing-masing. Sementara di sprei terlihat ada banyak cairan. Rupanya keduanya sudah sempat ejakulasi. Karena Dian adalah pacarku, maka ia yang dapat kesempatan pertama untuk merasakan penisku. Kusuruh Dian nungging. &#8220;Sayang, Dian udah lama nunggu saat-saat ini&#8221;, katanya sambil mengambil posisi nungging. Setelah sebelumnya sempat mencium bibirku dan kemudian mengecup penisku dengan mesra.</p>
<p>Tanpa berlama-lama lagi, kuarahkan penisku ke vaginanya yang sedikit membuka. Lalu mulai kumasukkan sedikit demi sedikit. Vaginanya masih sangat sempit. Tapi tetap kupaksakan. Dengan hentakan, kutekan penisku agar lebih masuk ke dalam. &#8220;Aachk! Sayang, sa.. sakit! aahhck.. ahhck..&#8221; Dian mengerang tetapi aku tak peduli. Penisku terus kuhunjamkan. Sehingga akhirnya penisku seluruhnya masuk ke dalam vaginanya. Kuistirahatkan penisku sebentar. Kurasakan vaginanya berdenyut-denyut. Membuatku ingin beraksi lagi. Kumulai lagi kocokan penisku di dalam vaginanya yang basah sehingga memudahkan penisku untuk bergerak. Kutarik penisku dengan perlahan-lahan membuatnya menggeliat dalam kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Makin kupercepat kocokanku. Tiba-tiba tubuh Dian menggeliat dengan liar dan mengerang dengan keras. Kemudian tubuhnya kembali melemas dengan nafas yang memburu. Kurasakan penisku bagai disemprot oleh air hangat. Rupanya Dian sudah ejakulasi. Kucabut penisku dari vaginanya. Terlihat ada cairan yang menetes dari vaginanya.<br />
&#8220;Kok ada darahnya sayang?&#8221; tanya Dian terkejut ketika melihat ke vaginanya.<br />
&#8220;Kan baru pertama kali&#8221;, balas Dian mesra.<br />
&#8220;Udah, nggak apa-apa. Yang penting nikmat kan sayang?&#8221; kataku menenangkannya sambil mengeluskan penisku ke mulut Elsa. Dian cuma tersenyum dan setelah kucium bibirnya, aku pindah ke Elsa.</p>
<p>Sambil mengambil posisi mengangkang di atasnya, kudekatkan penisku ke mulutnya. Kusuruh mengulum sebentar. Lalu kuletakkan penisku di antara belahan payudaranya. Kemudian kudekatkan kedua payudaranya sehingga menjepit penisku. Begitu penisku terjepit oleh payudaranya, kurasakan kehangatan. &#8220;Ooh.. Elsa, hangat sekali. Seperti vagina&#8221;, kataku sambil memaju-mundurkan pinggulku. Elsa tertawa kegelian. Tapi sebentar kemudian yang terdengar dari mulutnya hanyalah desahan kenikmatan.</p>
<p>Setelah beberapa saat mengocok penisku dengan payudaranya, kutarik penisku dan kuarahkan ke mulut bawahnya. &#8220;Dimasukin sekarang ya?&#8221; kataku sambil mengusapkan penisku ke bibir kewanitaannya. Kusuruh Elsa lebih mengangkang. Kupegang penisku dan kemudian kumasukkan ke dalam kewanitaannya. Dibanding Dian, vagina Elsa lebih mudah dimasuki karena lebih lebar. Kedua jarinya membuka kewanitaannya agar lebih gampang dimasuki. Sama seperti kakaknya, Elsa sempat mengerang kesakitan. Tapi tampaknya tidak begitu dipedulikannya. Kenikmatan hubungan seks yang belum pernah dia rasakan mengalahkan perasaan apapun yang dia rasakan saat itu. Kupercepat kocokanku. &#8220;Aahh.. aahh.. aacchk.. Kak terus Kak.. ahh.. ahh.. mmh.. aahh.. Elsa udah mau ke.. keluar.&#8221; Mendengar itu, semakin dalam kutanamkan penisku dan semakin kupercepat kocokanku. &#8220;Aahh.. Kak.. Elsa keluar! mmh.. aahh.. ahh..&#8221; Segera kucabut penisku. Dan kemudian dari bibir kemaluannya mengalir cairan yang sangat banyak. &#8220;Elsa, nikmat khan?&#8221; tanyaku sambil menyuruh Agnes mendekat. &#8220;Enak sekali Kak. Elsa belum pernah ngerasain yang kayak gitu. Boleh kan Elsa ngerasain lagi?&#8221; tanyanya dengan mata yang sayu dan senyum yang tersungging di bibirnya. Aku mengangguk. Dengan gerakan lamban, Elsa pindah mendekati Dian. Yang kemudian disambut dengan ciuman mesra oleh Dian.</p>
<p>&#8220;Nah, sekarang giliran kamu&#8221;, kataku sambil merangkul pundak Agnes. Kemudian, untuk merangsangnya kembali, kurendahkan tubuhku dan kumainkan payudaranya. Bisa kudengar jantungnya berdegup dengan keras. &#8220;Agnes jangan tegang ya. Rileks aja&#8221;, bujukku sambil membelai-belai vaginanya yang mulai basah. Agnes cuma mengangguk lemah. Kubaringkan tubuhku. Kubimbing Agnes agar duduk di atasku. Setelah itu kuminta mendekatkan vaginanya ke mulutku. Setelah dekat, segera kucium dan kujilati dengan penuh nafsu. Kusuruh tangannya mengocok penisku. Beberapa saat kemudian, &#8220;Kak.. aahh.. ada yang.. mau.. keluar dari memek Agnes.. aahh.. ahh&#8221;, erangnya sambil menggeliat-geliat. &#8220;Jangan ditahan Agnes. Keluarin aja&#8221;, kataku sambil meringis kesakitan. Soalnya tangannya meremas penisku keras sekali. Baru saja aku selesai ngomong, vaginanya mengalir cairan hangat. &#8220;Aahh.. aachk.. nikmat sekali Kak.. nikmat..&#8221; jerit Agnes dengan tangan meremas-remas payudaranya sendiri.</p>
<p>Setelah kujilati vaginanya, kusuruh dia jongkok di atas penisku. Begitu jongkok, kuangkat pinggulku sehingga kepala penisku menempel dengan bibir vaginanya. Kubuka vaginanya dengan jari-jariku, dan kusuruh dia turun sedikit-sedikit. Vaginanya sempit sekali. Maklum, masih anak-anak. Penisku mulai masuk sedikit-sedikit. Agnes mengerang menahan sakit. Kulihat darah mengalir sedikit dari vaginanya. Rupanya selaput daranya sudah berhasil kutembus. Setelah setengah dari penisku masuk, kutekan pinggulnya dengan keras sehingga akhirnya penisku masuk semua ke vaginanya. Hentakan yang cukup keras tadi membuat Agnes menjerit kesakitan.</p>
<p>Untuk mengurangi rasa sakitnya, kuraba payudaranya dan kuremas-remas dengan lembut. Setelah Agnes merasa nikmat, baru kuteruskan mengocok vaginanya. Lama-kelamaan Agnes mulai menikmati kocokanku. Kunaik-turunkan tubuhnya sehingga penisku makin dalam menghunjam ke dalam vaginanya yang semakin basah. Kubimbing tubuhnya agar naik turun. &#8220;Aahh.. aahh.. aachk.. Kak.. Agnes.. mau keluar.. lagi&#8221;, katanya sambil terengah-engah. Selesai berbicara, penisku kembali disiram dengan cairan hangat. Bahkan lebih hangat dari kedua kakaknya. Begitu selesai ejakulasi, Agnes terkulai lemas dan memelukku. Kuangkat wajahnya, kubelai rambutnya dan kulumat bibirnya dengan mesra.</p>
<p>Setelah kududukkan Agnes di sebelahku, kupanggil kedua kakaknya agar mendekat. Kemudian aku berdiri dan mendekatkan penisku ke muka mereka bertiga. Kukocok penisku dengan tanganku. Aku sudah tidak tahan lagi. Mereka secara bergantian mengulum penisku. Membantuku mengeluarkan air mani yang sejak tadi kutahan. Makin lama semakin cepat. Dan akhirnya, croott.. croott.. creet.. creet! Air maniku memancar banyak sekali. Membasahi wajah kakak beradik itu. Kukocok penisku lebih cepat lagi agar keluar lebih banyak. Setelah air maniku tidak keluar lagi, ketiganya tanpa disuruh menjilati air mani yang masih menetes. Lalu kemudian menjilati wajah mereka sendiri bergantian. Setelah selesai, kubaringkan diriku, dan ketiganya kemudian merangkulku. Agnes di kananku, Elsa di samping kiriku, sedangkan Dian tiduran di tubuhku sambil mencium bibirku. Kami berempat akhirnya tertidur kecapaian. Apalagi aku, sepanjang pengalamanku berhubungan seks, belum pernah aku merasakan yang senikmat ini. Dengan tiga orang gadis, adik kakak, masih perawan pula semuanya. That was the best day of my live.</p>
<p>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/10/31/pacarku-dan-adik-adiknya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelayan Toko</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/10/31/pelayan-toko.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/10/31/pelayan-toko.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Nov 2007 03:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/10/31/pelayan-toko/</guid>
		<description><![CDATA[Masa-masa lulus SMU adalah yang paling menjengkelkan, tidak diterima di perguruan tinggi negeri, kuliah di swasta mahal, mau kerja sulit sekali, teman-teman pada hilang, ada yang kuliah, kerja bahkan kawin. Beruntung sekali hanya 3 bulan aku menganggur, aku disuruh untuk menjaga toko milik Tante Ima, di bilangan Pasar *** (edited), Semarang.
Karena toko milik Tante Ima [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masa-masa lulus SMU adalah yang paling menjengkelkan, tidak diterima di perguruan tinggi negeri, kuliah di swasta mahal, mau kerja sulit sekali, teman-teman pada hilang, ada yang kuliah, kerja bahkan kawin. Beruntung sekali hanya 3 bulan aku menganggur, aku disuruh untuk menjaga toko milik Tante Ima, di bilangan Pasar *** (edited), Semarang.</p>
<p>Karena toko milik Tante Ima menjual sembako, maka pembelinya pun kebanyakan ibu-ibu ataupun perempuan. Saya yang bertugas untuk mengambilkan barang-barang seperti beras, gula ya hanya bersikap cuek saja terhadap banyaknya pembeli itu.</p>
<p>Sebut Bu Lina pemilik toko di sebelah tokonya Tanteku, sering datang sore hari setiap toko akan ditutup. Dia biasanya saling omong-omong, bersenda gurau dengan Tanteku, dan apabila telah begini tentu lama sekali selesainya. Dan seperti biasanya, aku pulang duluan ke rumah karena Tanteku biasanya dijemput oleh suaminya atau anaknya.</p>
<p>Tapi suatu saat, ketika mau pulang aku teringat bahwa harus mengantarkan Indomie ke pelanggan, aku cepat-cepat balik ke toko. Dan memang toko sudah sepi, pintu pun hanya ditutup tanpa dikunci. Aku pun langsung masuk menuju tempat penyimpanan Indomie. Ternyata aku menyaksikan peristiwa yang tidak kuduga sama sekali, kulihat Tanteku dengan posisi tetelentang di antara tumpukan karung beras sedang dioral kemaluannya oleh Bu Lina. Tanteku sangat menikmati dengan rintihannya yang ditahan-tahan dan tangannya memegang kepala Bu Lina untuk dirapatkan ke selangkangannya.</p>
<p>Karena terkejut atas kedatanganku, maka keduanya pun berhenti dengan memperlihatkan wajah sedikit malu-malu. Tapi tidak sampai lima detik, mereka pun tersenyum dengan penuh arti.<br />
&#8220;Kamu belum pulang to Her (Hery namaku), kebetulan lho kita bisa rame-rame, ya kan Bu Lina..?&#8221; ucap Tanteku sambil menarik tangan Bu Lina ke arah kedua dadanya yang terbuka.<br />
&#8220;Ayo sini Her.., jangan malu, ughh, ahh..!&#8221; desah Tanteku lagi, kali ini tangannya melambai ke arahku.</p>
<p>Dan aku pun sempat bingung tidak tahu harus berbuat apa, tapi karena kedua wanita dalam keadaan tanpa pakaian seperti itu memanggilku, nafsu kelelakianku bangkit walaupun aku belum pernah merasakan sebelumnya. Perlahan aku mendekati keduanya sambil melihat mereka berdua. Seperti seorang raja aku pun disambut, mereka yang tadinya telentang dan menindih kini mereka bangkit dan duduk sambil menata rambutnya masing-masing.</p>
<p>Hanya lima langkah aku pun sampai di hadapanya, dan dengan lihai mereka berdua langsung meremas selangkanganku.<br />
&#8220;Her, ini pernah masuk ke sarangnya belum..?&#8221; tanya Tanteku manja.<br />
&#8220;Be.., belum Tante..!&#8221; jawabku polos sambil menahan rasa geli yang begitu nikmat.<br />
&#8220;Wah.., hebat dong belum pernah. Pertama kali langsung dapat dua lubang..!&#8221; canda Bu Lina, sementara tangannya menarik lepas celanaku hingga aku benar-benar telanjang di hadapan mereka.</p>
<p>Dan sesaat kemudian aku merasakan kehangatan pada batang kemaluanku. Terdengar srup, srup ahh. Tanteku dan Bu Lina seakan ingin berebut untuk menikmati batang kemaluanku yang berukuran normal-normal saja.<br />
&#8220;Ayo Bu.., hisap yang lebih kenceng biar keluar isinya..!&#8221;<br />
&#8220;Iya Bu.., ini kontol kok enak banget sih..?&#8221;<br />
&#8220;Cupp.., crupp..!&#8221; kata mereka berdua saling menyahut.<br />
Aku hanya pasrah menikmati perlakuannya dan sesekali kuusap pipi-pipi kedua Tante-Tante itu dengan nafsu juga.</p>
<p>Tidak sampai 10 menit, aku merasakan sesuatu kenikmatan luar biasa yang biasanya terjadi dalam mimipi, badanku menegang, mataku terpejam untuk merasakan sesuatu yang keluar dari kemaluanku. Tumpahan maniku memuncrat mengenai wajah Bu Lina dan Tanteku, dan dengan serta merta Tanteku mengalihkan lumatan dari punyaku ke wajah Bu Lina. Dengan buas sekali mereka saling berciuman bibir, berebutan untuk menelan air kenikmatan punyaku. Aku pun berjongkok dan membuka paha Tanteku, Tanteku hanya menurut.</p>
<p>&#8220;Mau apa kau Sayang..?&#8221; desah Tanteku.<br />
Aku hanya diam saja dan mengarahkan wajahku ke arah selangkangannya yang berbau anyir dan tampak mengkilap karena sudah basah. Aku mencoba untuk melakukan seperti di film-film. Kumasukkan lidahku ke dalam rongga-rongga vaginanya serta menyedot-nyedot klitorisnya yang kaku itu. Kurasakan ketika aku menyedot benda kecil Tanteku, Tanteku selalu menggelinjang dan mengangkat pantatnya, sehingga kadang hidungku ikut mencium benda kecil itu.</p>
<p>&#8220;Her.., kamu kok pinter banget sih, terus, terus uggh.. ughh.. ahh, ehh, aahh..!&#8221; ceracau Tanteku.<br />
&#8220;Terus Her, terus..! Beri Tantemu surga kenikmatan, ayo Her..!&#8221; ucap Bu Lina yang memilin dan mengemut puting susu Tante Ima.<br />
&#8220;Terus Bu..! Her.., aku mau muncrat! Ayo Her.., sedot yang keras lagi..!&#8221; pinta Tante Ima.<br />
Aku pun semakin liar memainkan vaginanya, dan dengan teriakan Tante Ima, &#8220;Aghh.., ughh..!&#8221; lidahku merasakan ada cairan kental keluar dari vagina Tante Ima. Aku cepat-cepat menangkapnya dan sedikit ragu untuk menelannya.</p>
<p>&#8220;Her, sudah Her.., Tante sudah puas nih..! Kamu gantian dengan Bu Lina ya..!&#8221; ucapnya sambil tangannya mengusap cairannya yang keluar dari liang senggamanya.<br />
Aku pun tidak sadar bahwa batang kemaluanku sudah bangun lagi, tegak dengan sempurna walaupun sedikit terasa ngilu.<br />
&#8220;Bentar Her.., kamu disini dulu ya..!&#8221; pinta Bu Lina sambil keluar ke tempat tumpukan koran dan mengambil beberapa lembar.<br />
Kemudian Bu Lina masuk ke gudang lagi dengan menggelar koran yang dibawanya. Setelah kira-kira cukup, Bu Lina menelentangkan tubuhnya dan memanggilku, &#8220;Ayo sekarang giliran saya dong Her..!&#8221; katanya sambil tangannya meremas susunya sendiri.</p>
<p>Aku pun langsung mengangkanginya dan kedua tangan pun mengganti tangannya untuk meremas susu-susunya yang masih kenyal. Lembut, halus, enak rasanya memegang payudara orang dewasa.<br />
&#8220;Her.., masukin dong tuh burung kamu ke lubang Lina, ayo dong Her..!&#8221; bisiknya lembut.<br />
Aku pun berusaha untuk mengarahkan masuk ke liangnya, tapi dasar memang masih amatir, terasa terpeleset terus.<br />
&#8220;Ayo Lina bantu biar nggak salah sasaran..!&#8221; ucapnya.<br />
Dan tangannya pun memegang batang kemaluanku dengan lembut dan memberikan kocokan sebentar, dan akhirnya dibimbing masuk ke lubang kenikmatannya.</p>
<p>Ini pertama kali kurasakan penisku masuk ke sarangnya. Terasa hangat, lembab, nikmat dan seperti ditarik-tarik dari dalam kamaluan Bu Lina. Secara naluri aku pun mulai menggerakkan pantatku maju mundur secara pelan dan berirama.<br />
&#8220;Terus Her.., masukkin lagi yang lebih dalam, ayoo, ughh..!&#8221; desah Bu Lina.<br />
Tangan Bu Lina pun telah memegang pantatku dan menekan-nekan supaya doronganku lebih keras, sedangkan kakinya telah melingkar di pinggangku.</p>
<p>Kira-kira hanya 10 menit berlalu, Bu Lina menjerit sambil menggaruk punggungku dengan keras, &#8220;Ooohh.., aku ngejrot.., Her..! Yeess.., uhh..!&#8221;<br />
Kemudian tubuhnya lunglai dan melepaskan kakinya yang melingkar di pinggangku. Aku pun bangkit meninggalkan Bu Lina yang telentang dan tampak dari liang kenikmatannya sangat banyak cairan yang keluar. Kuhampiri Tanteku yang mulai menutup pintu-pintu tokonya. Aku pun turut membantunya untuk mengemasi barang-barang.</p>
<p>Setelah beberapa menit menunggu jemputan, terdengar telpon berdering. Setelah kuangkat ternyata mobil yang dipakai menjemput dipakai suaminya untuk ngantar tetangga pindahan. Kemudian aku pun menawarkan untuk mengantarkan ke rumah Tanteku dengan Impresa 95 kesayanganku.</p>
<p>Di dalam perjalanan, Tante banyak bercerita bahwa hubungan lesbinya dengan Bu Lina sudah 3 tahun, karena Omku suka pulang malam (mabuk-mabukan, judi, nomor buntut, dan sebagainya) sehingga tidak puas bila dicumbu oleh Omku. Sedangkan Bu Lina memang janda karena suaminya minggat dengan wanita lain.</p>
<p>Sampai di rumah Tante Ima, suasananya memang sepi karena anaknya kuliah dan Omku sedang mengantar tetangga pindah rumah. Setelah aku angkat-angkat barang ke dalam rumah, aku pun lalu pamitan mau pulang kepada Tanteku. Aku terkejut, ternyata Tanteku bukannya memperbolehkan aku pulang, tetapi malah menarik tanganku menuju kamar Tanteku.</p>
<p>&#8220;Her.., Tante tolong dipuasin lagi ya Yang..!&#8221; pintanya sambil memelukku dan menempelkan kedua buah dadanya ke tubuhku.<br />
Aku pun mencium bibirnya yang terbuka dan mengulumnya dengan nafsu, demikian pula Tante Ima. Kemudian dengan dorongan, jatuhlah tubuh kami berdua di kasurnya, dan dengan bersemangat kami saling meraba, menindih, merintih. Hingga akhirnya aku melepaskan maniku ke dalam kemaluan Tanteku.</p>
<p>Aku pun pamitan pulang dengan mencium bibirnya dan meremas susunya dengan lembut. Kemudian dari laci lemari diambilnya uang seratus ribuan, dan diberikan kepadaku, &#8220;Untuk rahasia kita..!&#8221; katanya.<br />
Sampai saat ini lebih dari 2 tahun aku bekerja di toko Tanteku, dan hubungan badanku dengan Tante Ima dan Bu Lina masih berlangsung. Dan yang menyenangkan adalah Tanti, anak Bu Lina mau kupacari, dan aku ingin menjadikannya sebagai istri.</p>
<p>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/10/31/pelayan-toko.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Seks Pertama</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/10/30/pengalaman-seks-pertama.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/10/30/pengalaman-seks-pertama.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Oct 2007 05:52:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/10/30/pengalaman-seks-pertama/</guid>
		<description><![CDATA[Aku 21 tahun, kuliah di Fakultas Kedokteran Umum sebuah Universitas swasta di Jakarta. Teman-teman cewekku pada bilang kalau aku cakep dan menarik. Pertama aku mengenal yang namanya seks pada saat aku SMP kelas 2 lewat film-film porno yang kutonton di rumah sendiri sambil sembunyi-sembunyi. Aku merasakan seks sendiri pada saat aku kelas 2 SMU, dimana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku 21 tahun, kuliah di Fakultas Kedokteran Umum sebuah Universitas swasta di Jakarta. Teman-teman cewekku pada bilang kalau aku cakep dan menarik. Pertama aku mengenal yang namanya seks pada saat aku SMP kelas 2 lewat film-film porno yang kutonton di rumah sendiri sambil sembunyi-sembunyi. Aku merasakan seks sendiri pada saat aku kelas 2 SMU, dimana teman-temanku mengajakku ke diskotik. Temanku Alex sangat berpengalaman dalam hal seks.</p>
<p>Di disko itu aku bersama 5 teman aku yang lain membooking tiga cewek. Semuanya seksi dan menarik. Cewek pertama, Vera namanya. Alex yang pertama menggarap dia, tanpa disuruh, Vera telentang. Kedua kakinya di buka lebar-lebar, dadanya dibusungkan hingga punggungnya melengkung. Alex mulai beraksi. Dengan keras dan ganas, dia meremas payudaranya seperti memeras santan kelapa. Vera mendesah sekaligus menjerit kesakitan, tetapi Alex tidak perduli.</p>
<p>Setelah puas memeras payudaranya, Alex beralih ke vagina Vera yang tengah terkuak lebar. Dan tanpa basa-basi lagi, dimasukkannya panisnya dengan sekali tusuk dan Vera menjerit, tidak dapat menahan terjangan keperkasaan Alex. Alex menggoyang-goyangkan pinggulnya naik-turun, membuat Vera mendesah sambil meremas rambut Alex yang panjang. Alex semakin brutal, sehingga ranjangnya berderit-derit dan bergoyang-goyang. Dan akhirnya dia berteriak keras seiring tubuhnya menegang dan akhirnya jatuh di atas tubuh Vera yang juga mengalami hal serupa.</p>
<p>Giliran selanjutnya adalah Boby. Dia punya cara sendiri untuk mrmuaskan nafsunya. Dia memasang tindik di kedua payudara Vera yang sebelumnya telah dia persiapkan. Tindik itu berbentuk segitiga. Dua di antaranya dipasang di kedua payudara Vera, satunya lagi dipasang di klitoris Vera, dan rantai itu melewati punggung Vera, sehingga apabila Vera membungkuk, klitorisnya akan tertarik keluar dengan rasa sakit dan perih. Boby sedikit keterlaluan memang, tetapi idenya boleh juga.</p>
<p>Disuruhnya Vera merangkak sambil membusungkan dadanya yang subur dan besar mengelilingi kami berenam. Gerakannya yang menggiurkan itu membuat Boby, Fredy , Tony dan aku tidak kuasa menahan nafsu. Dihempaskannya tubuh Vera ke atas ranjang yang luas itu setelah Boby melepas tindiknya. Tony langsung mengarahkan penisnya ke arah mulut Vera, aku punya jatah meremas bebas payudara Vera, Boby tengah asyik menikmati vagina Vera, sedangkan Fredy menusukkan penisnya ke anus Vera dari bawah. Sungguh pemandangan yang indah dan erotis, membuat penisku semakin tegang.</p>
<p>Vera merintih karena tubuhnya disatroni 4 penis sekaligus, tetapi kami makin bergairah. Setelah Boby melepas nafsunya, Fredy beraksi. Kedua paha Vera dikuakkannya lebar-lebar sehingga Vera menjerit ketika pahanya hampir horizontal. Fredy memantek vagina Vera dengan kedua tangannya, dan begitu bagian dalam vagina Vera tersembul, dengan perlahan Fredy memasukkan penisnya. Mula-mula seperempat, setengah, tiga perempat, setengah lagi, tiga berempat, setengah, dan tarus berulang-ulang, hingga akhirnya Vera menegang dan Fredy dengan sigap mengejankan seluruh spermanya ke Vagina Vera, dan terdengarlah desahan nikmat dari mulut Vera dan Fredy.</p>
<p>Giliran selanjutnya adalah aku. Aku tidak tahu harus berbuat apa, karena aku baru pertama kali melakukannya, tetapi nafsuku harus tersalurkan segera. Vagina Vera yang banjir sperma itu membuat penisku licin dan berkali-kali terpeleset memasuki gua garbanya. Akhirnya, aku mengganjal pantat Vera dengan bantal, sehingga possisinya lebih ke atas dari tubuhnya yang masih digerayangi 3 orang temanku. Sungguh nikmatnya aku melepas keperjakaanku.</p>
<p>Kunikmati ketika penisku perlahan menyusup ke liang vagina Vera yang terkuak menantang berwarna kemerahan dan merekah itu. Aku memejamkan mataku merasakan kenikmatan yang sangat. Penisku langsung melesat ke dalam, dan anehnya Vera menggelinjang dan bergerak tidak beraturan, tetapi geraknya ditahan oleh ketiga temanku yang masih asyik berkaraoke. Kukerahkan penisku seluruhnya ke vagina Vera, dan kulihat sendiri penisku benar-benar habis tertelan vagina Vera. Aku senang ketika aku melihat dan merasakan sendiri bagaimana penis itu tertancap habis dan kulihat sendiri vagina Vera yang merah itu menjepit, menerima penisku dengan senang hati.</p>
<p>Suatu buncahan dalam jiwaku ingin kukeluarkan ketika Vera menjepit-jepit penisku di dalam sana. Ooohh.. aku merasa sangaat nikmat. Kugerakan pinggulku seperti persneling, ke segala arah. Hal itu membuat Vera semakin menggelinjang dan merintih nikmat.<br />
&#8220;Uuuhh.. ahh.. yeah..&#8221; aku juga merintih nikmat ketika Vera dengan cepat menjepit-jepit penisku.<br />
Dan kurasakan klitoris Vera berdenyut-denyut tanda orgasme. Aku masih menunggu klimaksku sambil terus menggenjot vagina Vera dengan cepat.<br />
Dan.. &#8220;Oouukkhh..!&#8221; aku merintih nikmat mencapai klimaks ketika seluruh spermaku keluar dengan deras kembali membanjiri vagina Vera.</p>
<p>&#8220;Kamu lain dari yang lain..!&#8221; kata Vera setelah kulepaskan vaginanya keras-keras dengan batang kejantananku.<br />
Kulihat vaginanya berkedut-kedut cepat, dan kitorisnya yang merah tua itu ikut berkedut. Aku tergoda untuk menggigitnya, dan aku lakukan.</p>
<p>Kugigit klitoris Vera dengan keras, hampir keluar semua. Vera menjerit keras, tubuhnya menggelinjang hebat, melengkung-lengkung. Aku suka adegan itu. Kembali kugigit, kucucup klitorisnya dan dia semakin bergerak gila. Dia menjerit-jerit sambil mendesah nikmat. Kuakhiri dengan menyodok-nyodok sebuah benda bulat ke vaginanya untuk mengganjal denyutan vaginanya.</p>
<p>Cewek kedua Mira namanya. Disuruhnya dia nungging, dan beramai-ramai kami menyantapnya. Aku mencoba menusukkan penisku ke anusnya, sempit dan sulit kudobrak. Vaginanya yang lezat itu disikat Fredy sambil meremas habis kedua payudaranya, sedangkan Tony berkaraoke. Sewaktu giliranku, kusuruh Mira menunging lebih tinggi, dan tampaklah vagina merah yang merekah, lebar sekali. Kembali kutusukkan penisku disana dengan keras karena aku tidak tahan berlama-lama seperti tadi karena energiku mulai terkuras.</p>
<p>Posisisku yang seperti menungganginya itu hanya bertahan 10 menit, dibanding menunggangi tubuh Vera dalam waktu 30 menit. Dan semua teman-temanku mulai bosan, sedangkan tersisa satu cewek lagi yang lebih menarik. Payudaranya itu, membusung besar dibalik bajunya yang ketat.</p>
<p>Aku yang mulai kelelahan kembali terangsang ketika kulihat Mely duduk di kursi, menaikkan kedua kakinya ke tangan kursi, melenguh-lenguh sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya secara erotis, dan kedua tangannya diangkat ke belakang kursi, membuat semua yang terlihat di tubuhnya begitu menggairahkan. Aku langsung menyerbu ke arahnya.</p>
<p>Vaginanya yang merekah, sangat merekah itu menggodaku untuk menusuknya dengan penisku. Sulit memang memasukkan penis ke vagina Mely yang posisinya seperti itu, tetapi aku tidak menyerah, meskipun aku harus menahan pegal pantatku, tidak urung aku segera merojok vaginanya dengan penisku yang berukuran 15 cm dengan diameter 3cm.</p>
<p>&#8220;Uuhh.. aahh..!&#8221; desahku ketika kulihat penisku tenggelam di dalam vaginanya.<br />
&#8220;Ayoo.. kocok dong..! Kontolmu lemah sekali..!&#8221; Mely mengejek.<br />
Tetapi aku sudah tidak tahan lagi, hanya 7 menit aku langsung ereksi. Dan aku sakit hati ketika dihina tadi. Untuk membalasnya, vaginanya kuangkat tepat tersodor di depan batang hidungku, dan langsung saja kugigit klitorisnya dengan keras, dan dia menjerit sangat keras, aku tidak perduli, aku menikmatinya.</p>
<p>Teman-temanku mengacungkan jempol kepadaku atas kelakuanku pada Mely. Dan akhirnya Mely mengeluarkan cairan dari dalam vaginanya, kusedot keras sampai habis dan kembali kugigigt-gigit klitorisnya seiring dengan teriakannya yang semakin keras, dan aku tidak perduli meskipun klitorisnya hampir putus.</p>
<p>Pengalaman bersama-sama teman-temanku lah yang membuatku sekarang ketagihan dengan permainan seks. Dan sejak itu pula aku menjadi berani menghadapi cewek-cewek.</p>
<p>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/10/30/pengalaman-seks-pertama.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
