<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita seks &#187; Seks Umum</title>
	<atom:link href="http://jablayonline.info/category/seks-umum/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jablayonline.info</link>
	<description>Kumpulan cerita dewasa</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Mar 2010 16:18:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.3</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Yuli Namaku</title>
		<link>http://jablayonline.info/2009/08/11/yuli-namaku-2.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2009/08/11/yuli-namaku-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 17:36:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[Cerita berikut adalah cerita dari salah satu teman korespondensi saya, Yuli. Dia menceritakan kisah nyata dia tentang pengalaman dia berhubungan dengan anak tetangganya sendiri. Cerita tersebut akan saya paparkan dengan tambahan pernak-pernik sensual agar menarik untuk dibaca.
*****
Yuli, 29 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3 dan 5 tahun. Suaminya, Herman, 36 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cerita berikut adalah cerita dari salah satu teman korespondensi saya, Yuli. Dia menceritakan kisah nyata dia tentang pengalaman dia berhubungan dengan anak tetangganya sendiri. Cerita tersebut akan saya paparkan dengan tambahan pernak-pernik sensual agar menarik untuk dibaca.</p>
<p>*****</p>
<p>Yuli, 29 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3 dan 5 tahun. Suaminya, Herman, 36 tahun, adalah karyawan dari salah satu perusahaan swasta besar di Bandung. Perawakan Yuli sebetulnya biasa saja seperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, sesuai dengan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang bulat.</p>
<p>Kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis. Dengan 2 anak yang sedang lucu-lucunya, ditambah dengan posisi Herman yang cukup tinggi di perusahaannya, membuat mereka menjadi keluarga yang cukup di hormati di lingkungan kompleks mereka tinggal. Yuli pada dasarnya adalah istri yang sangat setia kepada suaminya. Tidak pernah ada niat berkhianat terhadap Herman dalam hati Yuli karena dia sangat mencintai suaminya. Tapi ada satu peristiwa yang menjadi awal berubahnya cara berpikir Yuli tentang cinta..</p>
<p>Suatu siang, Yuli sedang mengasuh anaknya di depan rumah. Dikarenakan kedua anaknya waktu itu berlari jauh dari rumah, maka Yuli langsung mengejar mereka. Tapi tanpa disengaja, kakinya menginjak sesuatu sampai akhirnya Yuli terjatuh. Lututnya memar, agak mengeluarkan darah. Yuli langsung berjongkok dan meringis menahan sakit. Pada waktu itu, Darmawan, anak tetangga depan rumah Yuli kebetulan lewat mau pulang ke rumahnya. Ketika melihat Yuli sedang jongkok sambil meringis memegang lututnya, Darmawan langsung lari ke arah Yuli.</p>
<p>&#8220;Kenapa tante?&#8221; tanya Darmawan.<br />
&#8220;Aduh, lutut saya luka karena jatuh, Wan&#8230;&#8221; ujar Yuli sambil meringis.<br />
&#8220;Bantu saya berdiri, Wan&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Iya tante,&#8221; kata Darmawan sambil memegang tangan Yuli dan dibimbingnya bediri.<br />
&#8220;Wan, tolong bawa anak-anak saya kemari.. Anterin ke rumah saya, ya&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Iya tante,&#8221; kata Darmawan sambil segera menghampiri anak-anak Yuli.</p>
<p>Sementara Yuli segera pulang ke rumahnya sambil tertatih-tatih. Waktu Darmawan mengantarkan anak-anak Yuli ke rumahnya, Yuli sedang duduk di kursi depan sambil memegangi lututnya.</p>
<p>&#8220;Ada obat merah tidak, tante?&#8221; tanya Darmawan.<br />
&#8220;Ada di dalam, Wan,&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Kita ke dalam saja&#8230;&#8221; kata Yuli lagi sambil bangkit dan tertatih-tatih masuk ke dalam rumah.</p>
<p>Darmawan dan anak-anaknya mengikuti dari belakang.</p>
<p>&#8220;Ma, Donny ngantuk,&#8221; kata anaknya kepada Yuli.<br />
&#8220;Tunggu sebentar ya, Wan. Saya mau antar mereka dulu ke kamar. Sudah waktunya anak-anak tidur siang,&#8221; kata Yuli sambil bangkit dan tertatih-tatih mengantar anak-anaknya ke kamar tidur.</p>
<p>Setelah mengantar mereka tidur, Yuli kembali ke tengah rumah.</p>
<p>&#8220;Mana obat merahnya, tante?&#8221; tanya Darmawan.<br />
&#8220;Di atas sana, Wan&#8230;&#8221; kata Yuli sambil menunjuk kotak obat.</p>
<p>Darmawan segera bangkit dan menuju kotak obat untuk mengambil obat merah dan kapas. Tak lama Darmawan segera kembali dan mulai mengobati lutut Yuli.</p>
<p>&#8220;Maaf ya, tante.. Saya lancang,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Tidak apa-apa kok, Wan. Tante senang ada yang menolong,&#8221; kata Yuli sambil tersenyum.</p>
<p>Darmawan mulai memegang lutut Yuli dan mulai memberikan obat merah pada lukanya.</p>
<p>&#8220;Aduh, perih&#8230;&#8221; kata Yuli sambil agak menggerakkan lututnya.</p>
<p>Secara bersamaan rok Yuli agak tersingkap sehingga sebagian paha mulusnya nampak di depan mata Darmawan. Darmawan terkesiap melihatnya. Tapi Darmawan pura-pura tak melihatnya. Tapi tetap saja paha mulus yuli menggoda mata Darmawan untuk melirik walau kadang-kadang. Hati Darmawan agak berdebar.. Biasanya dia hanya bisa melihat dari kejauhan saja lekuk-lekuk tubuh Yuli. Atau kadang-kadang hanya kebetulan saja melihat Yuli memakai celana pendek.</p>
<p>Darmawan biasanya hanya bisa membayangkan saja tubuh Yuli sambil onani. Tapi kini, di depan mata sendiri, paha mulus Yuli sangat jelas terlihat. Yuli sepertinya sadar kalau mata Darmawan sesekali melirik ke arah pahanya. Segera Yuli merapikan duduknya dan juga menutup pahanya. Darmawanpun sepertinya terkesima dengan sikap Yuli tersebut. Darmawan menjadi malu sendiri..</p>
<p>&#8220;Sudah saya berikan obat merah, tante&#8230;&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Iya, terima kasih,&#8221; kata Yuli sambil tersenyum.<br />
&#8220;Sekarang sudah mulai tidak terasa sakit lagi,&#8221; ujar Yuli lagi sambil tetap tersenyum.</p>
<p>Darmawan, 16 tahun, adalah anak tetangga depan rumah Yuli. Masih duduk di bangku SMP kelas 3. Seperti kebanyakan anak laki-laki tanggung lainnya, Darmawan adalah sosok anak laki-laki yang sudah mulai mengalami masa puber.</p>
<p>&#8220;Kenapa kamu nunduk terus, Wan?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Tidak apa-apa, tante&#8230;&#8221; ujar Darmawan sambil sekilas menatap mata Yuli lalu menunduk lagi sambil tersenyum malu.<br />
&#8220;Ayo, ada apa?&#8221; tanya Yuli lagi sambil tersenyum.<br />
&#8220;Anu, tante.. Maaf, mungkin tadi sempat marah karena tadi saya sempat melihat secara tidak sengaja&#8230;&#8221; kata Darmawan sambil tetap menunduk.<br />
&#8220;Lihat apa?&#8221; tanya Yuli pura-pura tidak mengerti.<br />
&#8220;Lihat.. Mm.. Lihat ini tante,&#8221; kata Darmawan sambil tangannya mengusap-ngusap pahanya sendiri. Yuli tersenyum mendengarnya.<br />
&#8220;Tidak apa-apa kok, Wan,&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Kan hanya melihat.. Bukan memegang,&#8221; kata Yuli lagi sambil tetap tersenyum.<br />
&#8220;Lagian, saya tidak keberatan kok kamu melihat paha tante tadi,&#8221; kata Yuli lagi sambil tetap tersenyum.<br />
&#8220;Kamu kan tadi sedang menolong saya memberikan obat,&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Benar tante tidak marah?&#8221; tanya Darmawan sambil menatap Yuli.</p>
<p>Yuli menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum. Darmawanpun jadi ikut tersenyum.</p>
<p>&#8220;Tante sangat cantik kalau tersenyum,&#8221; kata Darmawan mulai berani.<br />
&#8220;Ihh, kamu tuh masih kecil sudah pintar merayu&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Saya berkata jujur loh, tante,&#8221; kata Darmawan lagi.<br />
&#8220;Kamu sudah makan, Wan?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Belum tante. Saya pulang dari rumah teman tadi belum makan,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Makan disini saja, ya.. Temani saya makan siang,&#8221; ajak Yuli.<br />
&#8220;Baik tante, terima kasih,&#8221; kata Darmawan.</p>
<p>Mereka menikmati makan siang di meja makan bulat kecil. Ketika sedang menikmati makan, tanpa sengaja kaki Darmawan menyentuk kaki Yuli. Darmawan kaget, lalu segera menarik kakinya.</p>
<p>&#8220;Maaf tante, saya tidak sengaja,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Tidak apa-apa kok, Wan&#8230;&#8221; kata Yuli sambil matanya nenatap Darmawan dengan pandangan yang berbeda.</p>
<p>Ketika kaki Darmawan menyentuh kakinya, seperti terasa ada sesuatu yang berdesir dari kaki yang tersentuh sampai ke hati. Yuli merasakan sesuatu yang lain akan kejadian tak sengaja itu.. Tiba-tiba Yuli merasakan ada sesuatu keinginan tertentu muncul yang membuat perasaannya tidak menentu. Sentuhan kaki Darmawan terasa begitu hangat dan membangkitkan suatu perasaan aneh..</p>
<p>&#8220;Kamu sudah punya pacar, Wan?&#8221; tanya Yuli sambil menatap Darmawan.<br />
&#8220;Belum tante,&#8221; kata Darmawan sambil tersenyum.<br />
&#8220;Lagian saya tidak tahu caranya mendapatkan perempuan,&#8221; ujar Darmawan lagi sambil tetap tersenyum. Yulipun ikut tersenyum.<br />
&#8220;Pernah tidak kamu punya keinginan tertentu terhadap perempuan?&#8221; tanya Yuli lagi.<br />
&#8220;Keinginan apa tante?&#8221; tanya Darmawan. Yuli tersenyum.<br />
&#8220;Kita habiskan dulu makannya. Nanti kita bicara&#8230;&#8221; kata Yuli.</p>
<p>Selesai makan, mereka duduk-duduk di ruang tengah.</p>
<p>&#8220;Kamu ada sesuatu yang harus diselesaikan di rumah tidak saat ini?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Tidak ada, tante,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Tadi tante mau tanya apa?&#8221; kata Darmawan penasaran.<br />
&#8220;Begini, apakah kamu suka kepada wanita tertentu? Maksud saya suka kepada tubuh wanita?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Kita bicara jujur saja, ya.. Saya tidak akan bicara pada siapa-siapa kok,&#8221; kata Yuli lagi.<br />
&#8220;Kamu juga mau kan jaga rahasia pembicaraan kita?&#8221; kata Yuli lagi.<br />
&#8220;Iya, tante,&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Kalau begitu jawablah pertanyaan tante tadi&#8230;&#8221; kata Yuli sambil tersenyum.<br />
&#8220;Ya, saya suka melihat perempuan yang tubuhnya bagus. Saya juga suka tante karena tante cantik dan tubuhnya bagus,&#8221; kata Darmawan tanpa ragu.<br />
&#8220;Maksudnya tubuh bagus apa,&#8221; tanya Yuli lagi. Darmawan agak ragu untuk menjawab.<br />
&#8220;Ayolah&#8230;&#8221; kata Yuli sambil memegang tangan Darmawan. Tangan Darmawan bergetar.. Yuli tersenyum.<br />
&#8220;Mm.. Saya pernah.. Pernah lihat majalah Playboy, juga.. Juga.. Juga saya pernah lihat VCD porno.. Mm.. Mm.. Saya lihat banyak perempuan tubuhnya bagus&#8230;&#8221; kata Darmawan dengan nafas tersendat.<br />
&#8220;Oh, ya? Di VCD itu kamu lihat apa saja,&#8221; kata Yuli pura-pura tidak tahu, sambil terus menggenggam tangan Darmawan yang terus gemetar.<br />
&#8220;Mm.. Lihat orang sedang begituan&#8230;&#8221; kata Darmawan.<br />
&#8220;Begituan apa?&#8221; tanya Yuli lagi.<br />
&#8220;Ya, lihat orang sedang bersetubuh&#8230;&#8221; kata Darmawan.</p>
<p>Yuli kembali tersenyum, tapi dengan nafas yang agak memburu menahan sesuatu di dadanya.</p>
<p>&#8220;Kamu suka tidak film begitu?&#8221; tanya Yuli.<br />
&#8220;Iya suka, tante?&#8221; kata Darmawan sambil menunduk.<br />
&#8220;Mau coba seperti di film, tidak?&#8221; kata Yuli.</p>
<p>Darmawan diam sambil tetap menunduk. Tangannya makin gemetar. Yuli mendekatkan tubuhnya ke tubuh Darmawan. Wajahnya di dekatkan ke wajah Darmawan.</p>
<p>&#8220;Mau tidak?&#8221; tanya Yuli setengah berbisik.</p>
<p>Darmawan tetap diam dan gemetar. Wajahnya agak tertunduk. Yuli membelai pipi anak tanggung tersebut. Lalu diciumnya pipi Darmawan. Darmawan tetap diam dan makin gemetar. Yuli terus menciumi wajah Darmawan, lalu akhirnya dilumatnya bibir Darmawan.. Lama-lama Darmawanpun mulai terangsang nafsunya. Dengan pasti dibalasnya ciuman Yuli.</p>
<p>&#8220;Masukkan tangan kamu ke sini&#8230;&#8221; kata Yuli dengan nafas memburu sambil memegang tangan Darmawan dan mengarahkannya ke dalam baju Yuli.<br />
&#8220;Masukkan tangan kamu ke dalam BH saya, Wan.. Pegang buah dada saya,&#8221; kata Yuli sambil tangannya meremas kontol Darmawan dari luar celana.</p>
<p>Sementara tangan Darmawan sudah masuk ke dalam BH Yuli dan mulai meremas-remas buah dada Yuli.</p>
<p>&#8220;Mmhh.. Terus sayang&#8230;&#8221; kata Yuli.<br />
&#8220;Tangan saya pegal, tante&#8230;&#8221; kata Darmawan polos.<br />
&#8220;Uhh.. Kita pindah ke kamar, yuk&#8230;&#8221; ajak Yuli sambil menarik tangan Darmawan. Sesampainya di dalam kamar..<br />
&#8220;Buka pakaian kamu, Wan&#8230;&#8221; ujar Yulipun melepas seluruh pakaiannya sendiri.<br />
&#8220;Iya, tante&#8230;&#8221; kata Darmawan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2009/08/11/yuli-namaku-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kejutan Tak Terduga</title>
		<link>http://jablayonline.info/2009/08/11/kejutan-tak-terduga.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2009/08/11/kejutan-tak-terduga.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 17:36:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[Siang itu aku agak cepat pulang kuliah, bukan karena malas ikut kuliah yang masih ada, tetapi karena kakiku sakit (mungkin terkilir) dan ada bagian yang membiru sedikit. lagi-lagi karena main sepak bola yang kurang hati-hati, dengan teman sekampus tadi pagi. Dengan naik motor, aku ingin secepatnya pulang dan memberi obat (minyak urut), terus istirahat di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang itu aku agak cepat pulang kuliah, bukan karena malas ikut kuliah yang masih ada, tetapi karena kakiku sakit (mungkin terkilir) dan ada bagian yang membiru sedikit. lagi-lagi karena main sepak bola yang kurang hati-hati, dengan teman sekampus tadi pagi. Dengan naik motor, aku ingin secepatnya pulang dan memberi obat (minyak urut), terus istirahat di rumah.</p>
<p>15 menit kemudian aku sudah tiba di rumah, dan agak sepi kalau jam segini, karena semua pada kerja dan kuliah atau sekolah. Hanya ada pembantu, yang usianya sekitar 35 tahun, biasa dipanggil Mbak Suli. Tapi jangan kaget lho.., badannya terawat dan masih kencang, walaupun kulitnya agak hitam (hitam manislah menurutku). Agak kaget juga aku, setelah dibukakan pintu, kulihat dia mengenakan baju kaos yang agak ketat dan rok putih yang selutut. Tetapi tonjolan di dadanya itu, membuat darahku berdesir cepat.</p>
<p>&#8220;Kok pulangnya cepat, Mas..?&#8221; katanya menyapa.<br />
Aku memang dipanggil Mas olehnya, singkatan dari Dimas.<br />
&#8220;Iya Mbak, kakiku agak sakit, tadi jatuh waktu main sepak bola..&#8221; kataku membalas.<br />
Spontan matanya melirik ke kakiku dan berkata, &#8220;Coba Mbak lihat, dia pun menarik celana panjangku agak ke atas, &#8220;Sakit nggak..?&#8221; tambahnya sambil agak menekan bagian yang membiru dan mulai berjangkok.<br />
&#8220;Lumayan juga sih..&#8221; kataku ssdikit memelas sambil melirik bagian betisnya yang mulus.<br />
Setelah aku berganti pakaian menjadi celana pendek, dia membalur kakiku dengan minyak urut. Saat itu dia duduk di depanku dan kulihat pahanya karena roknya tersingkap. Karena posisiku yang yang duduk dan kaki agak ditekuk, dia tidak tahu bahwa kejantananku sudah mulai bangkit. Dia pun mengurut-ngurut dan memijit bagian kakiku yang sakit. Mataku juga tidak lepas dari dadanya yang menonjol sebesar mangga.</p>
<p>Dengan perlahan, kuberanikan memegang pahanya di bagian yang tersingkap. Dia agak kaget dan berkata, &#8220;Mas, kamu mulai nakal, ya..?&#8221; ucapnya sambil melirikku.<br />
&#8220;Nggak pa-pa kan..? Cuma dikit kok..!&#8221; balasku seadanya.<br />
Lama kelamaan tanganku mulai bergerak lebih ke atas dan sampai di pangkal pahanya.<br />
&#8220;Jangan nakal lho, ntar ada yang lihat..!&#8221; katanya mencoba memindahkan tanganku dari pahanya.<br />
&#8220;Nggak ada orang kok Mbak, cuma kita berdua kok..!&#8221; ucapku terus membujuknya.<br />
Dia masih mengurut kakiku dan kucoba untuk menampakkan celana dalamku lewat celah celana pendekku.<br />
Dengan keberanian yang menggebu, aku berkata, &#8220;Boleh kulihat yang di balik roknya Mbak..?&#8221; kataku menggoda lagi.<br />
&#8220;Jangan Mas, Mbak malu..&#8221; katanya sedikit ragu.<br />
&#8220;Ayo dong Mbak, sekali aja..!&#8221; ucapku sedikit membujuk.<br />
Mula-mula dia ragu, dan akhirnya dia berbicara, &#8220;Jangan bilang siapapun ya..?&#8221; katanya sambil mengedipkan mata.<br />
Kujawab, &#8220;Aku janji deh, ini menjadi rahasia kita aja..&#8221;</p>
<p>Perlahan dilepaskannya roknya, dan wow.., terlihatlah pahanya yang mulus dengan celana dalam merah muda. Agak lama kupandangi, karena itu benar-benar pemandangan yang indah, dan kejantananku mulai membengkak di celanaku. Perlahan kupegang celana dalamnya, dan kudekatkan wajahku ke arah celana dalamnya. Wow.., baunya wangi sekali, mungkin dia baru mandi tadi.<br />
&#8220;Sudah cukup kan..?&#8221; katanya sambil menjauhkan wajahku dari pahanya dan mencoba memakai roknya lagi.<br />
Tetapi hal itu dengan cepat kucegah, &#8220;Ntar dulu Mbak, saya pingin lihat di balik celana itu, boleh ya..?&#8221; kataku membujuk.<br />
&#8220;Yee.., sudah dikasih hati malah minta jantung..!&#8221; ucapnya sedikit menyindirku.<br />
&#8220;Mbak tau nggak, jantungku debar-debar nih.., dan aku terangsang..&#8221; kataku mencoba menyatakan bahwa aku benar-benar terangsang.<br />
Sambil bercanda dia menjawab, &#8220;Masak gitu aja terangsang, Mbak nggak percaya, kamu pasti cuma iseng, mau mempermainkan Mbak, ya..?&#8221; katanya membalas ucapanku.<br />
&#8220;Kalau nggak percaya, coba lihat nih..!&#8221; kataku sambil menurunkan celana pendekku.<br />
Dia agak kaget karena celana dalamku seperti penuh dan menonjol besar di bagian penisku.<br />
&#8220;Bener juga, kamu nggak boong.., kamu terangsang ya..?&#8221; katanya melirikku nakal sambil tersemyum.</p>
<p>Agak lama dia melihatnya, kemudian mengelus dan mengusap-usap, dan mendekatkan wajahnya ke dekat celana dalamku.<br />
&#8220;Sekarang kita sama-sama buka, gimana Mbak..?&#8221; kataku memberi tawaran gila (he-he-he).<br />
Mungkin karena sudah terangsang dan sangat ingin melihat penisku, akhirnya dia mengangguk. Perlahan dia menurunkan celanaku, dan tampaklah kejantananku berdiri tegak dan siaga.<br />
&#8220;Wow.., hmm.., punyamu lebih besar dari yang Mbak bayangkan, tapi Mbak suka yang besar seperti ini.&#8221; katanya sambil mengelus, menyentuh kepala penisku dengan jarinya dan kemudian mengocoknya.<br />
&#8220;Aahh.., ouch.., ouch..&#8221; aku mengerang nikmat, sementara dia terus mengocok sampai penisku terlihat memanjang maksimal.</p>
<p>Mungkin dia sudah tidak tahan, dia mulai mengulum dan meghisap penisku.<br />
&#8220;Ouch.., ouch.., ah.. ah.., nikmat sekali..!&#8221; aku mendesis kenikmatan, sementara tanganku sudah membuka celana dalamnya.<br />
Dan wow.., benar-benar pemandangan yang indah, bulu-bulu halus di sekitar vaginanya yang kemerahan sangat merangsang birahiku. Jariku menyentuh dan menggesek bibir vaginanya.<br />
&#8220;Oh.., ahh.., ahh.., terus Mas, gesekin terus..! Ahh.., ahh..!&#8221; suaranya mendesah-desah.<br />
Kudekatkan wajahku ke vaginanya, menciuminya dan menjilatnya. Celahnya mulai agak basah, mungkin dia sudah terangsang hebat, sementara kemaluanku terus dikulumnya, bahkan sekarang lebih dahsyat sampai ke pangkalnya. Aku merasakan hangat mulutnya, dan kemaluanku seperti panas sekali dan mau mengeluarkan sesuatu. Tanpa dapat kutahan, spermaku muncrat di mulutnya untuk pertama kali.</p>
<p>&#8220;Ohh.., ahh.., kamu udah keluar Mas.., ahh.., enakk.., gurih..!&#8221; katanya sambil menjilat sperma yang keluar dari mulutnya, sementara lidahku terus bergerilia di celah vaginanya, bahkan lidahku berusaha masuk lebih ke dalam dan terus menyeruak di seluruh dinding vaginanya.<br />
&#8220;Ouch.., ahh.., ahh.., lebih dalam, Mas..!&#8221; pintanya sambil mendesis-desis.<br />
Aku mendengar dia mendesis dan menyerocos tidak karuan, dan mulai mengocok kemaluanku lagi sehingga membesar kembali. Hanya dalam hitungan menit, punyaku sudah membesar lagi dan mencapai ukuran yang maksimal.<br />
&#8220;Sekarang saya masukin ke vagina Mbak aja, oke..?&#8221; kataku sudah tidak sabaran.<br />
&#8220;Ehe.., ya Mas, Mbak juga sudah nggak tahan nich..!&#8221; katanya sambil membuka kedua pahanya lebar-lebar, sehingga vaginanya tampak membelah dan merekah.<br />
&#8220;Oouh.. ss.., darahku berdesir semakin cepat melihat vagina yang merekah seperti itu.</p>
<p>Sambil memegang kemaluanku yang tegang, kuarahkan ke lubang tersebut. Sesaat kepala penisku kugesekkan ke bibir vaginanya, kemudian dengan sedikit ditekan, dan, &#8220;Bless..!&#8221; masuk seluruhnya ke dalam liang vaginanya.<br />
&#8220;Ouh.., och.., ahh.., terus Mas, lebih dalam..! Ahh.., ahh..!&#8221; desisnya mengikuti gerakan masuknya batang kejantananku.<br />
Aku pun semakin bersemangat menggenjotnya dan memaju-mundurkan kemaluanku di dalam vaginanya. Sementara tanganku tidak lepas memegangi puting payudaranya yang mengencang.<br />
&#8220;Terus, terus Mas, enak.., nikmatt.., ah.., ah..!&#8221; ucapannya sudah terdengar tidak karuan.</p>
<p>Sekitar 10 menit dengan posisi tersebut, aku mengeluarkan kemaluanku yang masih menegang.<br />
&#8220;Mbak, sekarang kita rubah posisi ya..? Pasti lebih nikmat..!&#8221; kataku ingin mencoba gaya lain.<br />
&#8220;Posisinya gimana Mas..?&#8221; dia bertanya balik.<br />
&#8220;Mbak menungging saja, kakinya diangkat sebelah dan letakkan di meja, dan Mbak membelakangi saya..!&#8221; saranku memberi penjelasan, dia menurut saja.<br />
Aku tertawa dalam hati (soalnya ini seperti anjing pipis, he-he-he). Dia sudah mengambil posisi seperti itu dan aku dapat melihat celah vaginanya mengintip dari belakang. Dengan memegang kemaluanku yang tegang, kuarahkan ke celah itu. Dengan sedikit tekanan, kepala penisku masuk, dan masuknya terasa lebih sempit dari yang tadi. Sengaja tidak kumasukkan seluruhnya dan kutanya kepadanya, &#8220;Gimana..? Lebih enak kan..?&#8221; kataku.<br />
&#8220;Ehe.., ahh.., lebih enak dari yang tadi, ahh.., oh.., enak.., ahh..!&#8221; suaranya mendesah lagi.<br />
&#8220;Ini belum seluruhnya lo Mbak, baru sebagian..!&#8221; aku mencoba menggodanya lagi.<br />
&#8220;Masukin semua dong, Mas..! Biar terasa lebih enak lagi..!&#8221; pintanya.</p>
<p>Dengan menekan lebih kuat, maka kemaluanku masuk seluruhnya. Dan oh.., betapa nikmatnya, serasa berada di awang-awang.<br />
&#8220;Ah.., oh.., aah.., nikmat sekali, tekan lebih kuat Mas.., lebih dalam, ahh, ahh..!&#8221;<br />
Sesekali dia menggoyang pinggulnya, dan ohh.., benar-benar luar biasa goyangan pinggulnya, punyaku seperti ditarik dan diurut-urut di dalam vaginanya.<br />
&#8220;Oh.., ah.., aku tak ingin berhenti capat-cepat, goyangin terus Mbak..!&#8221; kataku.</p>
<p>Sekitar 10 menit aku memaju-mundurkan kemaluanku ke vaginanya, rasanya aku sudah berada di puncak dan mau memuntahkan lahar.<br />
&#8220;Mbak, aku sudah mau keluar nich..!&#8221; kataku.<br />
Dia membalas, &#8220;Aku juga mau keluar nich. Kita keluar sama-sama ya..?&#8221; pintanya.<br />
Dengan menggenjot lebih kuat agar cepat sampai ke puncak kenikmatan, maka kumulai menekan lagi lebih cepat. Dan akhirnya, &#8220;Ouc.., ah.., ah..&#8221; dengan erangan panjang, aku memuntahkan spermakau di vaginanya.<br />
Bersamaan dengan itu Mbak juga mengerang panjang, &#8220;Ouh.., ouc.., ah.., ah.., nikmat.. ah..&#8221;<br />
Sementara di vaginanya aku merasakan punyaku disemburi cairan vaginanya, terasa begitu hangat.</p>
<p>Perlahan kutarik punyaku keluar, terlihat sudah mulai mengecil. Kami tergolek di tempat tidur dan saling berpandangan.<br />
&#8220;Mbak.., nggak menyesal kan..?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Ah.. nggak, kamu bandel dan bisa memuaskan Mbak.&#8221; dia membalasku.<br />
&#8220;Tapi saya khawatir Mbak, soalnya tadi keluar di dalam.&#8221; tanyaku sedikit khawatir.<br />
&#8220;Nggak pa-pa, Mbak tidak dalam masa subur kok, Mbak tidak akan hamil..!&#8221; jelasnya.<br />
Wajahku sedikit lega setelah mendengar perkataanya.<br />
Dengan sedikit menggoda aku berkata, &#8220;Aku suka melihat wanita menggunakan celana dalam putih atau merah muda (karena dia memang banyak punya celana dalam putih dan merah muda).&#8221;<br />
&#8220;Idih..! Kamu suka mengintip Mbak ya..?&#8221; dia bertanya balik.<br />
&#8220;Kadanga-kadang aja, pas Mbak lagi tidur atau mandi..&#8221; kataku menggoda nakal.<br />
&#8220;Kamu nakal sekali..!&#8221; katanya sambil mencoba mencubitku.<br />
&#8220;Tapi Mbak suka kan..?&#8221; godaku lagi.<br />
Dia hanya tersenyum tersipu-sipu.%0</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2009/08/11/kejutan-tak-terduga.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekasihku</title>
		<link>http://jablayonline.info/2008/09/04/kekasihku.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2008/09/04/kekasihku.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 14:37:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/2008/09/04/kekasihku/</guid>
		<description><![CDATA[Aku seorang pemuda yang bercita-cita tinggi namaku paulus 24 tahun. Waktu itu aku masih kuliah di semester 2 ekonomi di sebuah perguruan tinggi swasta terkenal di kota ini. Aku tinggal di kota medan yang penuh dengan kesibukan orang yang bermacam-macam pekerjaan dari kerja kuli, pegawai, sampai pejabat pemerintahan. Aku tinggal di sebuah pondok yang hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku seorang pemuda yang bercita-cita tinggi namaku paulus 24 tahun. Waktu itu aku masih kuliah di semester 2 ekonomi di sebuah perguruan tinggi swasta terkenal di kota ini. Aku tinggal di kota medan yang penuh dengan kesibukan orang yang bermacam-macam pekerjaan dari kerja kuli, pegawai, sampai pejabat pemerintahan. Aku tinggal di sebuah pondok yang hanya di tempati oleh seorang nenek dan cucunya yang manis, aku di situ mengontrak (kost) perbulan. Kisah ini aku angkat sekalian untuk mengenang kekasihku itu.<br/><br/>Awal kisah ini terjadi waktu aku jalan-jalan di sekitar tempat kostku. Aku berjalan tidak tentu arah karena masalah keuangan membuatku bingung untuk membayar uang kost. Karena aku masih mengharapkan kiriman uang dari orang tuaku yang tinggal di kota Palembang, kota tempatku di lahirkan. Aku terus berjalan tidak tentu arah, menundukkan kepala ke bawah sakin bingungnya hingga aku tidak melihat sekelilingku. Rasa bingung sempat tertunda sejenak karena rasa lelah berjalan seharian. Dan kisahku pun bermulai dari situ.<br/><br/>Karena rasa lelah, akupun mencari tempat duduk yang menurutku nyaman. &#8220;Hmm.. taman bunga,&#8221; gumamku dalam hati melihat taman bunga yang ada di seberang jalan kota. Singkat cerita, aku menemukan tempat duduk yang biasa ada di taman pada umumnya, menghela napas dan menikmati tiupan angin sambil menghilangkan rasa lelahku. Belum sempat rasa lelahku kabur, dan di saat rasa bingung itu mulai menghantuiku kembali, aku mendengar teriakan seorang wanita yang kecopetan. Bertambah lagi suatu rasa dalam hatiku waktu itu. Dengan rasa kaget dan bingug karena terus terang, aku tidak tahan mendengar suara teriakan, apalagi teriakan seorang wanita, karena aku biasanya hanya suka mendengar suara desahan dari seorang wanita.. hehe. Dengan rasa yang bergelimang itu, akupun mulai mencari dari mana suara itu datangnya. Dan benar, aku melihat seorang gadis kira-kira berumur 20 tahun sedang histeris karena kecopetan. &#8220;Hmm .. lumayan juga ni cewek,&#8221; sekilas terlintas di pikiranku. Sementara dia sendiri sedang panik sambil menunjuk seorang pria berlari menjauhi, yang pasti dia adalah pencopet itu. Ego kejantanan dan heroikku timbul, tanpa memikirkan lelah dan lain-lain, aku lari mengejar si pencopet. Lumayan lelah mengejar pencopet itu ditambah rasa lelahku tadi yang tidak sepenuhnya hilang, aku berhasil memojok kan si pencopet, itu juga karena dia sedang sial jalannya buntu terhalang tembok.<br/><br/>&#8220;Hehe.. pencopet baru dan ngga kenal lokasi ni orang,&#8221; pikirku dalam hati sambil mendekati.<br/>&#8220;Ayoo.. mau lari kemana kau!?&#8221; gertakku membuat dia panik.<br/>&#8220;Mau apa kau?&#8221; katanya balik bertanya.<br/>&#8220;Ehh.. kembalikan itu dompet yang kau copet!&#8221; bentakku lagi.<br/>Mungkin karena memang bandel, dia balik bertanya &#8220;Lah, kau siapa?&#8221; tidak kalah keras suaranya sambil mengucapkan kata-kata kotor.<br/>&#8220;Hahaha..&#8221; aku tertawa sok jagoan.<br/>&#8220;Kembalikan tidak dompet itu!&#8221; ancamku mulai tidak sabar.<br/>&#8220;Enak aja kau bilang kembalikan,&#8221; katanya sambil mengeluarkan pisau dari balik bajunya.<br/><br/>Aku kaget dan aku mundur 2 langkah ke belakang, &#8220;Oic,&#8221; kataku tenang sambil senyum aku dan memperhatikan tingkahnya. Singkat cerita, kamipun terlibat duel. Dia menyerang dengan ganas, sedangkan aku berusaha terus menghindar untuk membuat dia lelah. Dengan bermodalkan ilmu silat yang aku pelajari waktu di kampung kelahiranku, akupun berhasil membuat si pencopet pingsan tak sadarkan diri. Aku mengambil dompet yang ada di kantongnya. Aku cari wanita tadi bermaksud mengembalikan dompetnya. Wanita itu senang karena dompetnya telah kembali. Dia ulurkan tangannya mengambil dompetnya yang di copet tadi, dan Dia tertegun menatap aku, aku jadi salah tingkah, dan Dia mengucapkan terimakasih. Dia membuka dompetnya dan mengambil uang Rp50.000 untuk diberikan kepadaku sebagai tanda terimakasih, aku menatapnya tidak berkedip sampai Dia heran.<br/>&#8220;Maaf mbak, bukannya aku menolak pemberian mbak, tapi aku tidak bisa menerima karena aku tadi ihklas kok membantu,&#8221; kataku.<br/>Dari sorotan matanya nampak Dia kecewa sekali karena kutolak pemberiannya. Kemudian Dia mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan dirinya.<br/>&#8220;Saya Wati..&#8221; dengan mengulurkan tangannya, lalu aku sambut uluran tangannya dan memperkenal kan diriku.<br/><br/>Dia memberikan kartu namanya kepadaku dan aku menerimanya.<br/>&#8220;Bang.. ini kartu namaku kalau Abang ada perlu, ada apa-apa, kalau bisa aku bantu datanglah,&#8221; pintanya.<br/>&#8220;Hmm.. iya,&#8221; kataku.<br/>Tetapi tiba-tiba Dia memasukkan uang Rp 50.000 ke saku bajuku, aku terkejut.<br/>&#8220;Mbak Wati..&#8221; aku gagap jadinya, mau bilang apa, tiba-tiba saja Dia pergi dan menuju sebuah mobil sedan.<br/>Kalau tidak salah mobilnya Genio merah, karena aku melihat dari kejauhan saja dan Dia menjalankan mobilnya melaju, menghilang di tikungan jalan. Aku menarik napas panjang, &#8220;Hupp.. huhh..&#8221; suara napasku. Lalu aku melihat sekelilingku dan melihat orang-orang memperhatikan aku dengan heran, lalu aku melihat jam tanganku telah pukul 3 sore. Aku bergesan meninggalkan tempat itu sambil melihat kartu nama yang dia berikan kepadaku. Aku baca nama dan alamatnya dan aku ambil uang pemberiannya tadi.<br/>Di dalam hatiku, &#8220;Hmm.. lumayan bisa bayar uang kost,&#8221; lalu aku pulang kembali ke tempat kostku.<br/><br/>Itu awal aku bertemu dengan dirinya. Pertemuan kedua terjadi di kampus, aku melihat Dia berjalan dengan temanya. Aku heran ternyata Dia satu kampus denganku. Selidik punya selidik aku mengetahui dari temanku bahwa Dia anak fakultas sastra, lalu kuberanikan diri untuk menjumpainya tapi ada rasa ragu dan bimbang. Karena sudah niat, aku terus berjalan menuju ruang fakultas sastra, sebelum sampai pintu aku terkejut, Dia keluar dari ruang itu dan aku terkejut mau mengelak tidak sempat lagi.<br/>&#8220;Heii..&#8221; katanya.<br/>&#8220;Heii juga,&#8221; balasku.<br/>&#8220;Abang kok disini?&#8221; tanyanya.<br/>Dan akupun tersenyum, &#8220;Iya..&#8221; jawabku singkat.<br/>&#8220;Ngapain abang disini?&#8221;<br/>Aku jawab, &#8220;Aku kuliah disini mbak.&#8221;<br/>&#8220;Hah?&#8221; Dia heran.<br/>&#8220;Jadi abang kuliah disini yah?&#8221;<br/>Aku hanya bisa senyum saja melihat Dia heran.<br/>&#8220;Abang di fakultas apa?&#8221;<br/>&#8220;Aku di ekonomi.&#8221;<br/>Lalu kami bercanda tentang kuliah dan Dia mengajak aku ke kantin untuk minum dan sekalian curhat. Setelah di kantin kami bicara tidak tentu arah dan Dia bilang, &#8220;Bang.. jangan panggil mbak..&#8221; pintanya.<br/>&#8220;Kenapa?&#8221; kataku.<br/>&#8220;Malukan.. aku kan belum tua,&#8221;<br/>Aku hanya tersenyum saja. Dia tersenyum dan manis sekali.<br/>&#8220;Panggil aja wati, bang, Oke..?&#8221;<br/>Lalu aku jawab, &#8220;Oke.&#8221;<br/>Disinilah awal butir-butir cinta bersemi. Kami saling bertemu dan selalu bercanda, tertawa gembira dan saling terbuka.<br/><br/>Suatu hari, Dia ungkapkan isi hatinya kepadaku bahwa Dia suka kepadaku, dan aku pun membalas cintanya juga. Hari demi hari kami lalui hingga pada hari libur kuliah. Kami jalan-jalan menggunakan Genio merahnya. Aku yang mengendarai mobilnya. Dalam perjalan, kami mesra, di sandarkan kepalanya di bahuku, aku belai rambutnya dengan tangan kiriku. Dia makin mesra dan Dia mencium bibirku. Aku balas ciuman bibirnya. Udara dingin yang keluar dai AC mobil terasa panas rasanya karena kami sudah HOT. Aku dekap kepalanya, aku remas dada yang terbungkus Bra, dan Dia menikmati remasan tanganku.<br/><br/>Kami sampai di puncak, yaitu di sebuah kawasan wisata terkenal di Medan, namanya Brastagi yang berhawa dingin dan sejuk. Karena kami sudah HOT, Dia berbisik ketelingaku, &#8220;Bang.. kita nginap aja yah?&#8221; pintanya.<br/>&#8220;Di mana?&#8221; kataku heran.<br/>&#8220;Di Hotel aja.&#8221;<br/><br/>Aku tidak tahu Hotel apa yang di maksudkan, aku hanya menurut saja. Dia yang membawa jalan.<br/>&#8220;Terus aja Bang, nanti sampai di tikungan belok kanan Bang.&#8221; pintanya.<br/>Aku lihat memang di sebelah kanan ada Hotel yang megah. Dia menyuruh belok. Maklumlah, aku baru dua kali ke daerah yang kami tuju. Waktu itu aku bersama temanku mendaki gunung yang namanya gunung Sibayak. Aku belokkan mobil, aku cari tempat parkir yang aman, kami turun dan masuk ke Hotel itu. Kalau tidak salah, Hotel itu namanya Hotel Sibayak karena jelas terpampang papan nama Hotel itu. Setelah kami masuk dan pesan kamar, kami diantar room-man. Karena bangkit lagi napsu yang tertu<br />
nda itu, begitu masuk kamar, aku kunci pintu. Kudekap dan kupeluk Dia. Kami berciuman dan berguman di ranjang.<br/><br/>&#8220;Hemm.. ouuhh..&#8221; desisnya, dan aku buka perlahan-lahan baju serta BH-nya hingga polos.<br/>Aku kulum dan kuremas buah dadanya yang lumayan gede dengan pucuk yang berwarna merah muda, terus aku kulum kiri dan kanan.<br/>Dia berdesis seperti ular, &#8220;Uhh.. ahh.. ouuhh..&#8221;<br/>Dari lehernya, aku jilatin, terus turun ke perut dan makin ke bawah perlahan-lahan. Aku buka celana jeans yang dia pakai hingga lepas dan aku lihat Dia memakai celana dalam berwarna putih. Perlahan-lahan, aku buka hingga terpampang di depanku sebuah bukit yang di tumbuhi hutan yang begitu lebat. Aku sibak hutan itu, kuciumi dan kujilat.<br/>&#8220;Ouuhh.. ahh.. yahh.. ouugg..&#8221; desisnya.<br/>Aku semakin nafsu dan aku buka baju serta celanaku sehingga kami sama-sama bugil.<br/><br/>Batang kejantananku yang sudah dari tadi tegang makin keras tegangnya ingin mencari sasaran. Dan kujilat lubang surganya dan kelentitnya yang timbul dengan tiba-tiba akibat napsunya makin memuncak.<br/>&#8220;Ahh.. ouugg.. ahh.. yaahh..&#8221; desisnya terus.<br/>Aku jilat terus kelentitnya.<br/>&#8220;Bangg.. akuu.. gak.. tahann.. mauu..&#8221;<br/>Dia mencapai klimaks, aku jilat terus. Terasa asin air yang keluar dari lubang surganya. Aku buka pahanya lebar-lebar dan perlahan-lahan aku bimbing batang kejantananku ke lubang surganya. Kuarahkan pas di lubang surganya, aku dorong perlahan-lahan.<br/>Dia kesakitan, &#8220;Aduhh.. bangg sakit..&#8221;<br/>Aku berhenti sejenak karena Dia kesakitan. Kuulangi lagi doronganku dengan perlahan dan pasti.<br/><br/>&#8220;Slupp..&#8221; sempit sekali lubang surganya hingga batang kejantananku tidak bisa masuk. Aku dorong kedua kalinya, &#8220;Slupp..&#8221; hanya ujung kepala batang kejantananku saja yang masuk. Aku dorong terus tapi kali ini lebih kuat.<br/>&#8220;Slupp.. slupp.. bluss..plopp..&#8221; masuk batang kejantananku semua ke lubang surganya.<br/>Aku melihat darah keluar dari lubang surganya. Ternyata Dia masih &#8220;virgin&#8221; (perawan).<br/>Dia kesakitan, &#8220;Aduhh.. bangg.. sakitt.. bangg..&#8221;<br/>Aku diamkan sejenak batang kejantananku di dalam lubang surganya dan aku kulum buah dadanya yang menjulang karena nafsunya. Aku maju-mundurkan lagi batang kejantananku perlahan-lahan aku mendengar Dia mengaduh lagi, &#8220;sakit bang.. pedih.. tapi enak bang..&#8221; gumannya.<br/>Terus aku maju-mundurkan batang kejantananku.<br/>&#8220;Auoo..ahh.. yahh.. aoouupp.. yaa.. terus bang.. enak bangg.. yahh..&#8221; Dia klimaks kedua kalinya.<br/>Aku terus menyodok lubang surganya maju mundur.<br/>&#8220;Ohyahh.. ouhh.. yahh..&#8221; desisnya.<br/>Seperti ada yang meyedot batang kejantananku dari dalam lubang surganya. Aku makin cepat menyetubuhinya, hingga ada yang mengalir di dalam batang kejantananku sampai ke ujung batang kejantananku. Aku dorong terus.<br/>&#8220;Yahh.. aouuhh.. yaa..&#8221; desisku, karena tiba-tiba alirannya semakin kuat naik ke kepala batang kejantananku, aku pacu terus.<br/>&#8220;Yahh.. aouuhh.. yess.. ouugg.. yahh.. aku mauu..&#8221; tak sempat kulanjuti lagi kata-kataku, tiba-tiba, &#8220;Croott.. croott.. croott..&#8221; maniku keluar banyak, aku tembakkan di dalam lubang surganya.<br/>Dia berdesis, &#8220;Ouhh.. yahh.. uugghh.. ouhh..,&#8221; ternyata Dia mau klimaks lagi.<br/>Dan Dia pegang erat leherku, Dia mencengkram erat sekali sampai ada bekas kukunya di leherku.<br/>&#8220;Yahh.. ouhh.. ya.. yaee.. yaa..&#8221; Dia klimaks lagi ketiga kalinya.<br/><br/>Kubiarkan batang kejantananku di dalam lubang surganya. Aku berbaring di atas tubuhnya sejenak. Karena kelelahan, kami istrahat sejenak. Aku kecup kening dan bibirnya dan aku balikkan badannya sehingga Dia ada di atas dadaku dan batang kejantananku tidak aku cabut dari lubang surganya. Kami tertidur karena lama kami bergelut, kira-kira 2 jam lamanya sampai jam 3 pagi. Aku terbangun dan tiba-tiba batang kejantananku bangkit kembali. Aku balikkan tubuhnya tepat di bawah aku. Aku sodok lagi lubang surganya. Dia terbangun dan aku sodok terus lubang surganya.<br/>&#8220;Slupp.. slup.. slupp..&#8221;<br/>Tidak lama, &#8220;Ouuhh.. yahh.. croott..croott..crott,&#8221; maniku keluar lagi, aku lemas dan tertidur di sebelahnya sapai pagi.<br/><br/>Aku terbangun pada jam 9 pagi. Aku bangunkan Dia dan kami mandi bersama. Kami melakukan lagi di kamar mandi sampai puas. Setelah itu kami bersiap-siapa untuk keluar dari hotel itu dan kami bayar uang sewa hotel.<br/><br/>Kami jalan-jalan di sekitar daerah kota Brastagi. Kami sampai di daerah yang belum pernah aku kesana, kalau tidak salah namanya Kaban jahe. Kami keliling-keling kota dan kami pulang ke Medan. Kami terus bermesraan, Dia merangkulkan tanganya di leherku, dia cium mesra bibirku sampai aku tidak bisa bernafas. Tiba-tiba di depan ada mobil yang berlawanan arah mau nabrak mobil kami. Aku banting setir ke kiri sehingga kami selamat dari maut. Setelah itu Dia tidak berani menciumi aku lagi karena takut. Kemudian kami berhenti di daerah yang kalau tidak salah namanya Penatapan. Orang-orang di daerah sana meyebutnya begitu karena banyak orang di sana melihat-lihat. Setelah kami puas melihat-lihat kami melanjutkan perjalan kembali ke Medan dan mobil kami terus meluncur mulus sampai di Medan.<br/><br/>Aku berhentikan mobil kami di depan tempat kostku. Aku membawa Dia masuk ke dalam dan aku perkenalkan kepada nenek serta cucu pemilik kost. Mereka menyambut dengan ramah. Aku membawa masuk ke kamar kost aku yang berukuran 3&#215;4 luasnya. Aku kunci pintu kamar. Aku peluk Dia, kucium, dan kuremas dadanya yang menantang.<br/>Dia membalas dengan desis suara nafsunya, &#8220;Aouuhh..ahh..,&#8221; kami bergumul selama 20 menit.<br/>Kubuka semua pakainya, Dia juga membuka pakainku hingga kami sama-sama polos. Batang kejantananku yang sudah tegang dari tadi kuarahkan ke lubang surganya yang masih sempit, maklum karena baru hilang perawanya.<br/>Aku arahkan batang kejantananku tepat di lubang surganya, &#8220;Slupp.. slerr.. slupp.. blees..&#8221; masuk sudah batang kejantananku. Aku sodok terus.<br/>Dia berdesis lagi, &#8220;Aouhh.. yahh..&#8221;<br/>Karena aku takut terdengar sama nenek dan cucu yang punya rumah, aku sumbat mulutnya pakai mulutku hingga Dia tidak bisa bersuara. Terus aku sodok lubang surganya, &#8220;Auohh.. ahh.. ahh.. Bangg.. aku mau keluar nih..&#8221;<br/>Aku pacu terus sampai Dia klimaks, &#8220;Serr..&#8221; Dia kelimax terasa di kepala batang kejantananku. Aku masuki terus lubang surganya tampa henti sampai klimaks.<br/>&#8220;Aouh.. yaa.. ouh..&#8221; suara desisan nafsuku.<br/>Aku pacu terus batang kejantananku sampai, &#8220;Croott..croott..&#8221; Aku keluarkan maniku di dalam lubang surganya.<br/>Kami sama-sama puas dan tertidur sejenak Kemudian aku berbenah diri, Dia juga. Aku antar Dia pulang kerumahnya dan aku kembali ke tempat kostku.<br/><br/>Hatiku gembira dan senang dapat kekasih yang selama ini aku dambakan. Hari-hari aku lalui hingga aku menamatkan kuliah ke meja hijau. Aku mendapat nilai &#8216;A&#8217;.<br/><br/>Aku dapat kabar bahwa kekasihku telah menikah dengan orang lain karena di paksa kawin oleh orang tuanya. Dia tidak memberi kabar kepadaku. Aku mendengar dari teman-temanku kalau Dia sangat malu padaku sehingga Dia tidak memberi kabar apapun padaku. Dia hanya memberikan sebuah bingkisan dalam kotak yang ternyata sebuah kenang-kenang. Sebuah jam yang indah berukir emas dan sapu tangan putih serta alamat Dia sekarang. Aku kecewa, tapi apa boleh buat, karena bukan jodoh. Aku memutuskan pulang ke kampung. Kini hanya tinggal kenangan yang kubawa. Oh.. kasihku betapa sedih hati ini, begitu tega engkau hingga tidak sempat memberikan kabar apa pun padaku. Biarlah cintamu aku pendam selamanya dan akan kukenang selamanya. Hanya Doa dan kata-kata saja yang dapat aku panjatkan kepadamu.<br/><br/>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2008/09/04/kekasihku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adventure 2</title>
		<link>http://jablayonline.info/2008/08/22/adventure-2.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2008/08/22/adventure-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 03:14:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/2008/08/22/adventure-2/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Jadi elo mau cerita apaan dong, Ray?&#8221; tanya Zara beberapa menit setelah mereka meninggalkan warung Cak T**** begitu anak-anak gaul menyebut nama warung itu.Ray termenung, mencoba mencari kata-kata supaya tidak terlalu menjurus. &#8220;Eh, coba dech elo ceritain tentang diri elo.&#8221;Mendadak raut wajah Zara berubah kelam, &#8220;Masa lalu gue kagak indah.&#8221;&#8220;Indah? Emangnya taman bunga?&#8221; Ray mencoba [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Jadi elo mau cerita apaan dong, Ray?&#8221; tanya Zara beberapa menit setelah mereka meninggalkan warung Cak T**** begitu anak-anak gaul menyebut nama warung itu.<br/>Ray termenung, mencoba mencari kata-kata supaya tidak terlalu menjurus. &#8220;Eh, coba dech elo ceritain tentang diri elo.&#8221;<br/>Mendadak raut wajah Zara berubah kelam, &#8220;Masa lalu gue kagak indah.&#8221;<br/>&#8220;Indah? Emangnya taman bunga?&#8221; Ray mencoba menjernihkan suasana.<br/>Zara tertawa dan meninju lengan Ray yang langsung pura-pura mengaduh.<br/>&#8220;Serius nih,&#8221; ucap Zara kemudian, &#8220;Nggak ada yang menarik dari masa lalu gua.&#8221;<br/>Ray tersenyum, &#8220;Ah itu an masa lalu. Kenapa harus dipikirin?&#8221;<br/>&#8220;Loh, katanya elo pingin tahu?&#8221;<br/>&#8220;Ye, kalo elo kagak niat cerita ya sudah. Ngapain gua maksa.&#8221;<br/>&#8220;Lalu kerjaan kamu?&#8221; tanya Zara ingin tahu.<br/>Ray menoleh dan memamerkan senyumnya, &#8220;Kan bisa ngutang dulu.&#8221;<br/>Gadis di sebelahnya tertawa, &#8220;Iya deh, gua cerita.&#8221;<br/><br/>Memang masa lalu Zara tak ada yang istimewa, hanya anak yang terlahir dalam lingkungan keluarga yang kurang harmonis. Kedua orang tua kandungnya berpisah saat ia masih berusia sepuluh tahun, lalu ibunya menikah lagi dengan seorang pria asing dari negeri Belanda dan menetap di sana, meninggalkan Zara di Surabaya sendiri. Yah, begitulah. Sedikit klise, menurut Ray.<br/><br/>&#8220;Begitu. Membosankan, kan?&#8221; tanya Zara sambil melirik ke arah Ray, yang lalu mengeluarkan suara mendengkur. Zara tertawa, &#8220;Eh, Ray?&#8221;<br/>&#8220;Ya?&#8221; sahut Ray, &#8220;Ada apa?&#8221;<br/>&#8220;Elo anaknya lucu juga, ya.&#8221;<br/>Ray langsung merasa jengah. &#8220;Ngga juga, ini karena obatnya belum diminum. Kalo udah diminum gua orang yang paling tenang di dunia kok.&#8221;<br/>&#8220;Iya, jadi sleeping ugly.&#8221; Mereka berdua lalu tertawa terbahak-bahak.<br/>Ray mengemudikan mobilnya mengitari jalanan Surabaya. Lampu-lampu jalanan dan gedung pencakar langit tampak megah di tengah kota. Sejenak suasana di dalam mobil terasa hening.<br/>&#8220;Eh, Zara,&#8221; Ray mencoba mengorek cerita.<br/>&#8220;Aku tahu, pasti ada yang melihatku bersama seseorang celeb di salah satu klab malam, bukan? Pasti itu deh yang elo pingin gue ceritain.&#8221;<br/>Ray langsung belingsatan ditembak kaya begitu, &#8220;Kok elo tahu?&#8221;<br/>&#8220;Ya kan itu yang biasanya dilakukan ama wartawan-wartawan kaya elo.&#8221;<br/>Ray langsung ngakak, &#8220;Iya deh. Kena gua sekarang.&#8221; Zara tersenyum dan menundukkan kepalanya, &#8220;Sebenarnya..&#8221;<br/>Ini dia. Ray merasakan jantungnya berdegup kencang. Bukan jantungan, bukan pula ketakutan, tapi membayangkan bonus yang akan diterimanya nanti dari Pak Herman. Duit. Duit. Duit.<br/>&#8220;Lalu..cerita saja..&#8221;<br/><br/>&#8220;Dia itu.. temennya almarhum papa. Kan waktu itu ada acara dengan pejabat-pejabat lainnya. Nah, berhubung tante, Zara manggilnya begitu, sedang keluar negeri bersama ibu-ibu dharma wanita. Maka dia ngajakin Zara. Lagipula Zara kan temen anak ceweknya dia yang kuliah di luar negeri. Begitu loh ceritanya.&#8221;<br/>Ray melongo, sampe mobilnya nyaris menabrak seekor semut yang melintas cuek. Mendadak bayangan duit melayang dan berubah menjadi raut seekor kepala keledai yang bersuara, &#8220;Iiihoo.. iihoo..&#8221; Zara melirik dengan tawa tertahan.<br/><br/>&#8220;Yeh, tahu begitu..&#8221; desah Ray setelah sampai ke depan rumah Zara.<br/>Gadis di depannya memandang dengan wajah sedih, &#8220;Jadi elo hanya ingin ceritanya aja, Ray?&#8221; Elo kaga mau temenan ama gua?&#8221;<br/>Ray langsung kebingungan tidak tahu mesti bilang apa, &#8220;Eh, maksud gue..&#8221;<br/>Zara mendadak tertawa, &#8220;Kena elo!!&#8221;<br/>Ray langsung mengumpat kalang kabut.<br/>&#8220;Tapi enak kok Ray, ngobrol ama elo. Lagipula warung tadi asyik juga.&#8221;<br/>Ray kontan mesam-mesem, &#8220;Udah deh. Gua pulang dulu.&#8221;<br/>&#8220;Err, Ray. Kamu nggak masuk dulu?&#8221;<br/>Ray langsung kaget sambil ngucapin syukur berulang-ulang dalam hatinya. Gue baru kejatuhan bintang apaan nih, pikir cowok gokil itu dalam hati. &#8220;Ngga ah. Udah malem,&#8221; Ray pura-pura alim.<br/>&#8220;Udah pada bobok, kok.&#8221;<br/>Alhasil, akhirnya Ray sudah nongkrong di sofa ruang tamu Zara untuk yang ketiga kalinya hari ini. Sementara Zara berganti pakaian, Ray mencoba mikirin apa yang ngebuat dia bisa ada di rumah itu pukul satu pagi kaya begitu. &#8220;Lama, Ray?&#8221; suara Zara mengejutkan Ray yang masih memikir-mikir. Yah, lagi-lagi Ray tidak bisa berkutik melihat bidadari di depannya yang sudah memakai pakaian tipis tanpa lengan dan celana pendek seperti tadi siang. Langsung saja pikiran kotornya melayang kemana-mana, sampai Pak Udin yang masih asyik nongkrong di jamban bisa merasakan getarannya dan langsung bersiap-siap dengan jurus WCW-nya.<br/><br/>&#8220;Begini kan enak, dingin,&#8221; ucap Zara sambil mengibas rambut panjangnya. Ray merasa tenggorokannya kering seperti musim kemarau. Zara tertawa saat melihat Ray yang celingukan gelisah. &#8220;Nyantai aja, Ray.. gua kaga nggigit kok.&#8221;<br/>&#8220;Eh,&#8221; Ray langsung kumat gatelnya, &#8220;Nggigit juga kaga pa-pa.&#8221;<br/>&#8220;Hihihi,&#8221; tawa Zara, &#8220;Beneran nih nggak pa-pa?&#8221;<br/>&#8220;Suer deh,&#8221; sahut Ray pendek. Maksudnya sih cuman bergurau, tapi malah mendadak Zara mendekat dan menempelkan bibirnya ke bibir Ray. Ngecup, lalu nggigit. Pelan, sedikit sakit, tapi cukup membuat Ray gelagapan.<br/>&#8220;Hkk.. eh.. eh..&#8221; Zara melepaskan pagutannya lalu tertawa kecil. Ray bisa merasakan bau nafas cewek itu di hidungnya. Otomatis, senjatanya mulai &#8220;in charge&#8221;. Tapi sesuatu mengusik benak Ray.<br/>&#8220;Jangan, ah,&#8221; ucap Ray pendek.<br/>Zara tersenyum, &#8220;Katanya ngga pa-pa.&#8221;<br/>&#8220;Hehehe,&#8221; Ray terkekeh, &#8220;Gua cuman kaga mau aja.&#8221;<br/>&#8220;Elo lucu deh,&#8221; tukas Zara lalu bersandar ke kursi dan mengangkat kedua lengannya ke belakang kepala. Ray menelan ludahnya ngeliat kulit lengan Zara yang putih mulus dan dadanya yang mengundang. Posisi cewek yang kaya gitu kan posisi cakep-cakepnya cewek. Gimana coba bisa ngga tergoda.<br/><br/>&#8220;Sini, Ray. Temenin gua.&#8221; Namanya juga manusia normal. Akhirnya Ray KO juga. Langsung saja tanpa banyak tanya dia nyosor Zara yang kontan cekikikan geli saat bibir Ray menelusuri kulitnya. Beberapa saat kemudian Ray sudah dengan cekatan melepas seluruh pakaian yang menutupi tubuh Zara, mencium satu demi satu buah dada Zara dengan kagum yang nggak abis-abis. Zara kontang mengerang-erang kegelian dijilati oleh Ray, &#8220;Geli bego.&#8221;<br/>Ray ketawa aja, &#8220;Tapi enak, kan.&#8221;<br/>&#8220;Sini, Zara bantuin,&#8221; ucap gadis itu lalu mendudukkan dirinya dan membantu Ray melepaskan baju dan celananya. Sementara Ray tidak bosan-bosan melihat tubuh telanjang Zara di sebelahnya, &#8220;Gila, man. Bagus banget.&#8221;<br/>&#8220;Apa, Ray?&#8221; Zara mengangkat kepalanya. &#8220;Ngga pa-pa,&#8221; Ray menjawab cepat. Sekejap kemudian kedua orang itu sudah bergumul di atas sofa.<br/>&#8220;Pelan-pelan dong, Ray. Buru-buru amat sih.&#8221; Zara mengeluh.<br/>&#8220;Iya..iya..,&#8221; Ray langsung memiringkan tubuhnya lalu menyusupkan jemarinya ke dalam kemaluan Zara yang langsung mendesah nggak karuan. Ray yang sudah hot tidak mau nunggu lama-lama, &#8220;Gue langsung yah?&#8221; Zara tertawa kecil lalu nganggukin kepalanya, &#8220;Iya deh.&#8221;<br/>Kontan Ray berseru, &#8220;Yuhuu!&#8221; sambil mengangkat tubuhnya ke atas tubuh Zara.<br/>&#8220;Gila elo, mau make love masih gokil abis,&#8221; tawa Zara. Ray cuek abis, langsung saja menancapkan senjatanya ke kemaluan Zara yang emang sudah basah sejak tadi.<br/>&#8220;Aduh, Ray. Jangan kenceng-kenceng. Aww!!&#8221;<br/><br/>&#8220;Elo tau kagak, Ray,&#8221; bisik Zara di dada Ray yang sudah kecapean.<br/>&#8220;Ada apa?&#8221; tanya Ray, masih memikirkan dua hal. Satu, kok dia bisa sampai making love dengan Zara. Dua, ternyata making love di sofa itu makan energi banyak juga.<br/>&#8220;Ray, lo dengerin kagak sih?&#8221; ucap Zara dengan nada kesal.<br/>Ray mengangkat lengannya terus membelai rambut Zara, &#8220;Iya, gue dengerin.&#8221;<br/>&#8220;Benernya sih, gue emang simpanannya itu oom-oom. Tapi gua dilarang ngomong sama siapa-siapa. Terus dia ngelarang gua keluar ama siapa-siapa juga. Makanya, Ray. Gua seneng banget punya temen kayak elo. Walau kita baru kenalan hari ini, tapi gua udah seneng banget, soalnya elo anaknya hangat dan menyenangkan. Oh, ya. Kalo elo mau gue ceritain, pasti dech gua ceritain. Apa aja. Elo tinggal nanya.&#8221;<br/><br/>Ray sejenak ngerasa ketipu. Tapi Ray berusaha tetap cuek.<br/>&#8220;Kamu kok mau saja dijadiin simpenan dia?&#8221;<br/>&#8220;Gue ini anak desa, Ray. Bokap nyokap gua di desa cuman petani buruh. Itu oom yang nemuin gua di desa waktu lagi ada kunjungan. Trus dia ngeboyong gua ke sini. Mau g<br />
imana lagi, Ray. Gua kan nggak bisa apa-apa. Untung-untungan deh bisa ngidupin ortu di desa. Ini rumah semua dari dia, pembantu, sopir, tapi mereka semua udah jadi temen-temennya Zara, soalnya Zara kan nggak boleh keluar ke mana-mana. Makanya, kemarin siang Zara udah minta tolong ama mereka supaya ngijinin Zara sekali aja buat keluar ama orang lain.&#8221;<br/>Mau tidak mau Ray trenyuh mendengarkan penuturan itu.<br/>&#8220;Yang ini beneran, nih?&#8221;<br/>&#8220;Suer deh. Tanyain aja ama mereka kalo elo nggak percaya.&#8221;<br/>Gue percaya kok, jawab Ray dalam hatinya. Lalu membelai lembut rambut Zara. Gadis malang, pikir Ray dalam hati.<br/><br/>Jay membelalakan matanya mendengar cerita Ray.<br/>&#8220;Gile. Sungguhan tuh, Ray?&#8221;<br/>&#8220;Yap,&#8221; sahut Ray pendek. Badannya masih ngerasa pegel-pegel.<br/>&#8220;Trus, elo bakal muat tuh cerita di tabloid?&#8221;<br/>Ray narik nafasnya dalam-dalam, &#8220;Kayaknya nggak deh, Jay. Kasihan Zara. Soalnya cuman satu pejabat yang kaya gitu, kalaupun pake nama samaran pasti deh ketauan. Jika kita muat ceritanya, bisa-bisa gempar deh Surabaya.&#8221;<br/>Jay langsung panik, &#8220;Trus gimana dong ama monster itu?&#8221;<br/>&#8220;Hehehe,&#8221; Ray ngakak, &#8220;Gue udah ada cerita buat dia.&#8221;<br/>&#8220;Hah?&#8221; sahut Jay terheran-heran.<br/><br/>&#8220;..iya. Begitu, Pak. Ternyata cuman temennya almarhum babenya.&#8221;<br/>Pak Herman langsung manggut-manggut, &#8220;O, begitu ya.&#8221;<br/>&#8220;Iya, Pak,&#8221; sahut Ray sambil mengedipkan mata ke arah Jay yang sudah berkeringat dingin, &#8220;Iya kan Jay?&#8221; Jay langsung mengangguk.<br/>&#8220;Trus, uang goban yang kemarin gua sanguin masih sisa kagak?&#8221;<br/>Ray langsung cengengesan, &#8220;Buat minum teh, Pak. Sosro, loh.&#8221;<br/>Jay bergegas ngacir sebelum kena getahnya.<br/><br/>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2008/08/22/adventure-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adventure   1</title>
		<link>http://jablayonline.info/2008/08/22/adventure-1.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2008/08/22/adventure-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 03:11:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/2008/08/22/adventure-1/</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu Ray bangun kesiangan. Tadi pagi weker antiknya sudah bunyi sih, hanya saja seperti biasanya telinga Ray kalau lagi capek langsung mengadakan mogok kerja. Untungnya ada Jay, teman Ray yang sama-sama gokilnya, yang menggedor pintu dengan kekuatan maksimal, sekedar mengingatkan kalau kuliah sudah berakhir.&#8220;Gila lo, masa kuliah udah kelar elo baru bangunin gue,&#8221; ucap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari itu Ray bangun kesiangan. Tadi pagi weker antiknya sudah bunyi sih, hanya saja seperti biasanya telinga Ray kalau lagi capek langsung mengadakan mogok kerja. Untungnya ada Jay, teman Ray yang sama-sama gokilnya, yang menggedor pintu dengan kekuatan maksimal, sekedar mengingatkan kalau kuliah sudah berakhir.<br/>&#8220;Gila lo, masa kuliah udah kelar elo baru bangunin gue,&#8221; ucap Ray dengan nada digusar-gusarkan.<br/>Jay langsung menyalakan rokoknya dan tertawa, &#8220;Memangnya kalo gue bangunin elo tadi pagi, elo bakalan kuliah?&#8221;<br/>&#8220;Enggak, sih,&#8221; sahut Ray dan mengangkat tubuhnya, lalu mengambil sebatang Marlboro dari atas mesin tik. Sementara Jay sudah menemukan posisi yang enak di atas kasur yang berantakan.<br/>&#8220;Sudah, siap-siap sana. Jangan sampe kita terlambat lagi,&#8221; ucap Jay dan membuat Ray melongo keheranan, &#8220;Loh, memangnya ada acara apa?&#8221;<br/>&#8220;Aduh, kok elo lupa sih. Kita kan ada tugas siang ini. Tuh ama cewek cakep yang kemarin nongol di kantor.&#8221; Ray langsung merasakan bulu tengkuknya meremang. Bukannya takut sih, tapi kebelet pipis.<br/><br/>Alhasil, siang itu Ray dan Jay sudah panas-panasan mencari alamat rumah Zara, gadis cantik yang kemarin &#8211;entah siapa yang bawa&#8211; nongol di kantor mereka. Pak Herman kemarin sore sudah menelepon Ray sambil bilang, &#8220;Pokoknya saya mau kamu dapet ceritanya. Kalo tidak, gua sumpahin elo kagak dapet cewek lagi!&#8221; Jadi langsung saja Ray &#8220;siap grak&#8221; gara-gara disumpahin. Tapi namanya Ray, kalo sudah nenggak tequila lima shots langsung lupa, jangankan tugas, nama presiden RI yang cuman enam huruf aja dia bisa lupa.<br/><br/>Sebenarnya nongolnya Zara kemarin di kantornya bukan lain karena salah alamat, sebenarnya mau ke tingkat paling atas, tapi malah salah tingkat gara-gara ada anak yang kebanyakan nonton Crayon Shinchan mencet-mencet panel lift. Lalu kenapa Ray harus susah-susah mencari alamat Zara? Ternyata, usut punya usut, si Zara itu adalah mantan simpanan Pak Herman, yang setelah dihamili langsung ditinggal pergi? Bukan kok, tapi karena Pak Herman pernah melihat Zara bersama salah seorang pejabat kondang kotamadya Surabaya di salah satu klab malam.<br/><br/>Ternyata mencari alamatnya tidak susah. Sebab ada salah seorang teman Ray yang tahu di daerah sekitar mana Zara tinggal, walau tanpa alamat, dari dia pula lah Pak Herman mengetahui nama gadis itu. Jay yang heroik langsung saja bertanya ke sana ke mari pada warung setempat, dimana nyari cewek yang putih, tinggi, berambut sepunggung, cakep, montok, berhidung mancung dan bergigi gingsul. Pokoknya ciri-ciri lengkap deh.<br/>&#8220;Wah, di lokalisasi dolly banyak, Mas,&#8221; sahut salah seorang tukang becak. Ray langsung sewot, tapi Jay malah bertanya-tanya.<br/>&#8220;Apa bener, Mas, ada yang segitunya di dolly? Berapa&#8217;an, Mas?&#8221;<br/><br/>Setelah dua botol Teh Sosro kemudian, Ray dan Jay sampai di depan sebuah rumah gedongan bercat oranye. Kontan saja keduanya langsung menyusun strategi bagaimana bisa berkenalan dengan yang dicari.<br/>&#8220;Elo masuk aja, Jay. Tampang elo kan mirip tukang listrik.&#8221;<br/>&#8220;Sialan, lo,&#8221; Jay langsung pasang muka sangar, &#8220;Gimana kalo kita pinjam rombong bakso oom-oom di pojokan itu.&#8221;<br/>Ray langsung memandang ke sudut jalan tempat oom tukang bakso berdiri. Melihat oom yang berpakaian loreng merah putih kayak orang Madura itu Ray langsung ciut, &#8220;Nenek elo. Carok baru tau lo.&#8221; Jay terkekeh.<br/>&#8220;Terus gimana dong?&#8221;<br/>Lagi mereka kebingungan, mendadak terdengar suara klakson di belakang mereka. Ray yang sedikit latah langsung menirukan bunyi klakson, sementara Jay ngumpet di balik tong sampah.<br/><br/>Di dalam mobil terlihat seorang gadis cantik yang menutupi mulutnya menahan geli melihat tingkah kedua cowok gokil itu. Sementara seorang bapak setengah baya berwajah sangar di belakang kemudi membuka pintu dan menyentak-nyentak, &#8220;Heh, jangan ngerumpi di depan rumah orang dong. Sana di warung kopi atau di wartel kek. Ngga tau orang mau masuk?&#8221; Jay langsung ciut disentak seperti itu, sementara Ray justru lebih menyibukkan diri dengan memandang gadis di dalam mobil.<br/><br/>&#8220;Heh, heh! Mau ngapain kamu!&#8221; si Bapak bertampang sangar, yang belakangan ketahuan kalo hanya sopir, berteriak saat Ray mengetuk jendela mobil. Tapi si Bapak bertampang sangar langsung terdiam saat gadis di dalam mobil malah membuka jendelanya dan tersenyum pada Ray.<br/>&#8220;Kamu Zara?&#8221; tanya Ray tanpa malu-malu. Di sebelahnya, Jay sedang sibuk berkutat dengan si Sopir, setengah mirip pertandingan Smack Down. Zara, gadis cantik dalam mobil tersenyum.<br/>&#8220;Ya. Kamu siapa?&#8221; tanya Zara setelah melihat tatapan ramah yang keluar dari mata pemuda di depannya. Ray tersenyum dan mengeluarkan selembar foto gadis telanjang yang langsung dimasukkannya kembali dengan wajah merah.<br/>&#8220;Maaf, maaf, salah ambil.&#8221; Zara tertawa kecil, sebelum meraih kartu nama yang disodorkan Ray kemudian. &#8220;Hmm,&#8221; gumam gadis itu menimbang-nimbang. Sementara si Bapak sopir sudah menindih tubuh Jay. Seorang tukang becak yang kebetulan penggemar Edwin-Jody langsung menghitung, &#8220;Tu, wa, ga. Yee!! Smaacckk Doowwnn!!&#8221; Persis seperti di TV.<br/><br/>&#8220;Gile, Ray. Persis kayak rumah di sinetron,&#8221; bisik Jay pada Ray yang masih sibuk memikirkan pertanyaan-pertanyaan. Beberapa saat kemudian Zara sudah muncul di ruang tamu dengan mengenakan pakaian kaus putih oblong tanpa lengan dan celana pendek ketat. Ray dan Jay langsung gemetaran. &#8220;Loh, kok belum diminum?&#8221; tanya Zara melihat gelas berisi sirup yang belum diminum. &#8220;Iya, tadi baru minum Sosro,&#8221; sahut Ray dengan nada serius. Zara kontan tertawa. Sementara Jay masih sibuk menelan ludahnya.<br/><br/>&#8220;Jadi kamu tinggal sendiri di sini?&#8221; tanya Ray pada gadis di hadapannya.<br/>&#8220;Iya. Papa dan mama di Belanda. Jadi Zara sendirian, cuman sama Mbok Piyah dan Pak Udin. Oh, ya. Temen kamu dapat salam dari Pak Udin, katanya masih perlu banyak latihan.&#8221; Jay langsung meruncingkan bibirnya. Beberapa menit kemudian, mereka bertiga langsung akrab. Ternyata Zara merupakan seorang gadis yang asyik diajak ngobrol. Sehingga Ray dan Jay langsung terangsang. Eh, langsung suka.<br/><br/>&#8220;Saya tahu kok kalian ke sini tujuannya apa. Pasti deh ada yang pernah melihat saya di salah satu klab malam di Surabaya,&#8221; ucap Zara kemudian, yang membuat Ray dan Jay tersipu malu.<br/>&#8220;Err,&#8221; Ray kehabisan kata, &#8220;Maksud kami..ini..&#8221;<br/>&#8220;Yah, begitulah. Lalu.. ngg..&#8221; Jay ikutan kehabisan kata.<br/>Zara tertawa geli melihat kedua cowok di hadapannya, &#8220;Begini saja. Saya juga kurang sreg kalau ngomong di rumah. Nanti malam saya kosong, bagaimana kalau kita jalan-jalan? Kan bisa cerita-cerita sambil jalan-jalan.&#8221; Ray langsung bersorak dalam hati, sementara Jay merasa air liur mulai memenuhi mulutnya.<br/>Ray dan Jay lalu berpamitan pulang. Sebelum menghidupkan mesin sepeda motor, Jay sempat bersalaman dengan Pak Udin si sopir sangar.<br/>&#8220;Tolong, Pak. Ajarin saya wrestling. Jadikan saya murid Bapak.&#8221;<br/>Si Sopir langsung jual mahal, &#8220;Ah, itu jurus keturunan. Porbiden untuk orang asing.&#8221; Jay lalu putus asa dan memutuskan dalam hati untuk pulang kampung ke Irian berguru pada kakeknya yang konon juara wrestling setempat.<br/><br/>Sorenya, Ray masih menunggu mobilnya di bengkel saat handphone-nya berbunyi. &#8220;Halo?&#8221; Beberapa pemuda kampung memandang dengan beringas haus benda mahal, tapi begitu melihat tampang Tejo, pemilik bengkel sahabat Ray yang muka dan bodinya mirip badak, mereka langsung senyum-senyum dan menoleh ke arah lain.<br/><br/>&#8220;Maaf, bisa bicara dengan Tommy?&#8221; Ray langsung sebal.<br/>&#8220;Maaf, Mbak. Tommy udah ke luar negeri. Entar saya juga nyusul kok, Mbak.&#8221; Yang menelepon langsung kaget. Si Tommy kan bencong tukang salon, kok suaranya jadi sangar begitu. Ray langsung menekan tombol off. Beberapa saat kemudian handphone-nya kembali berbunyi, Ray jadi sungkan sama orang kampung. &#8220;Di dalam saja, Ray,&#8221; kata Tejo. Ray langsung melangkah masuk ke belakang bengkel, &#8220;Halo?&#8221;<br/>&#8220;Ray,&#8221; terdengar suara Jay dari seberang, &#8220;For god&#8217;s sake, Ray.&#8221;<br/>&#8220;Kenapa Jay? Elo abis diperkosa?&#8221; tanya Ray panik.<br/>&#8220;Nenek elo,&#8221; sahut Jay sewot, &#8220;Kayaknya gua nggak bisa deh ntar malem. Gimana kalo diundur besok saja?&#8221; Ray langsung punya ide yang lebih menarik. &#8220;Emang kenapa, Jay? Celana dalam elo abis? Dib<br />
alik aja yang udah item.&#8221;<br/>&#8220;Serius nih,&#8221; ucap Jay dengan nada gusar, &#8220;Nyokap gue sakit.&#8221;<br/>&#8220;Yeh, sakit aja ditungguin.&#8221;<br/>&#8220;Ya taulah, Ray. Kan cuman ada gue semata wayang di sini.&#8221;<br/>&#8220;Tapi ini nggak bisa diundur, Jay. Kita kan udah janjian.&#8221;<br/>&#8220;Itulah. Masa elo mau enak sendiri.&#8221;Ray langsung cengengesan, &#8220;Sori, Jay. Tapi entar gua salamin buat Pak Udin deh.&#8221; Jay mencak-mencak di seberang, &#8220;Tega lo, Ray.&#8221;<br/>Tapi Ray cuek aja. Enakan sendirian, siapa tahu..<br/><br/>&#8220;Masuk saja, Mas. Ngga usah malu-malu,&#8221; ucap Pak Udin pada Ray. Yang dituju cengengesan sambil menganggukkan kepalanya. Ray melirik ke arah jam di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Cukup malam untuk bikin janji. Tapi ini justru akan jadi lebih mengasyikkan, pikir Ray dalam hati. Lalu ia langsung menuju pintu ruang tamu dan memencet bel.<br/><br/>Beberapa saat kemudian Mbok Piyah sudah membukakan pintu. Ray sedikit kecewa, karena ini berarti dia harus nunggu lebih lama lagi. Padahal hatinya sudah tidak sabar untuk segera.. makan gratis. Jangan mikirin yang aneh-aneh. &#8220;Tunggu aja, Mas. Non masih ganti baju.&#8221; Ray tanpa sungkan-sungkan langsung mendudukkan tubuhnya di sofa empuk yang penuh ukiran di sebelahnya.<br/><br/>&#8220;Hai, Ray,&#8221; sebuah suara mengejutkannya. Ray terperangah melihat bidadari yang keluar dari balik ruang tamu. Zara terlihat manis dengan sweater merah menyala dan celana jeans biru yang dikenakannya. Wajahnya tanpa polesan, tapi justeru terlihat lebih alami dan lebih menggoda. Tanpa terasa Ray menelan air liurnya sendiri. Alamak, kapan lagi bisa lihat bidadari.&#8221;Jangan bengong,&#8221; seru Zara sambil tertawa kecil. Ray merasa mukaya memerah.<br/>&#8220;Non, sudah bawa kunci pintu depan?&#8221; Mbok Piyah bertanya.<br/>&#8220;Sudah,&#8221; sahut Zara pendek, &#8220;Dadah, Mbok.&#8221; Lalu menarik lengan Ray yang masih terbengong-bengong.<br/><br/>&#8220;Mana Jay?&#8221; tanya Zara di halaman.<br/>Ray langsung mencari alasan mematikan, &#8220;Jay katanya mau pulang kampung, berguru supaya bisa ngalahi sopir elo.&#8221; Zara ngakak sampai perutnya sakit.<br/>&#8220;Kita mau kemana nih, Ray?&#8221; tanya Zara setelah mobil yang mereka naiki melaju di jalanan. Ray tersenyum sok gagah, lagipula ia tadi siang sudah mengambil lima ratus ribu terakhirnya di ATM, yang khusus dijatahkan buat cewek-cewek cantik.<br/>&#8220;Mau ke cafe?&#8221; tanya Ray, positif Zara akan mengiyakan. Eh, ternyata Zara justeru menggelengkan kepalanya, &#8220;Malas, ah.&#8221; Ray jadi heran sendiri.<br/>&#8220;Eh, Ray. Dari penampilan elo yang asal tadi siang, kayaknya elo anak jalanan juga dech,&#8221; seloroh Zara memecah keheranan Ray.<br/>&#8220;Hehehe,&#8221; tawa Ray sambil garuk-garuk rambut gondrongnya yang tidak gatal, &#8220;Akhirnya ketahuan juga.&#8221; Zara tersenyum.<br/>&#8220;Ray, gimana kalo elo bawa gue ke salah satu warung yang asyik di Surabaya.&#8221;<br/>&#8220;Hah? Warung?&#8221; Ray langsung gelagapan. Kok ngajak ke warung?<br/>&#8220;Warung gimana maksud elo?&#8221;<br/>&#8220;Tau lah. Kan kamu yang lebih paham.&#8221; Ray kontan tertawa ngakak dan merasakan keakraban di antara mereka. Ternyata Zara tak seperti yang diduganya. Gadis ini beda.<br/><br/>&#8220;Nah,&#8221; ucap Ray setelah mereka mendudukan diri di bangku kayu di sebuah warung sudut jalan.<br/>&#8220;Warung ini termasuk yang paling populer di Surabaya. Banyak loh artis yang demen nongkrong di sini. Sesudah dan sebelum terkenal. Tul kan, Pak?&#8221; Bapak penjaga warung terkekeh dan mengangguk mengiyakan.<br/>&#8220;Masa sih?&#8221; tanya Zara dengan rasa ingin tahu, &#8220;Apa yang menarik dari warung ini?&#8221; Ray langsung meraih sebuah nasi bungkus dan menyodorkannya pada Zara, &#8220;Nih, cobain deh. Pasti enak.&#8221; Zara memandang dengan alis berkerenyit, mungkin dia tidak pernah makan gituan sebelumnya.<br/>&#8220;Ayo. Kaya begini loh,&#8221; Ray langsung membuka nasi bungkusnya dan menyendok sesuap ke dalam mulutnya. Zara memandang sejenak lalu tertawa geli, &#8220;Oke deh. Begini kan?&#8221; Zara membuka nasi bungkusnya dan menirukan gaya Ray, mengisi mulutnya penuh-penuh. Ray dan Bapak penjaga warung kontan tertawa-tawa. Pokoknya hangat deh. Beberapa cowok yang duduk lesehan di sebelah warung juga ikutan tertawa melihat gaya Zara makan. Maklum, namanya juga satu-satunya makhluk cantik (jangan dihitung isteri yang punya warung, dong). Yang pasti menyita</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2008/08/22/adventure-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sopir Plus Plus 2</title>
		<link>http://jablayonline.info/2008/08/16/sopir-plus-plus-2-2.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2008/08/16/sopir-plus-plus-2-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 15:19:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/2008/08/16/sopir-plus-plus-2-2/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Auh.. Auh.. Auhh.. Ah.. Ahh&#8221;, tangannya mulai menjambak rambutku dan kadang ditekan-tekannya kepalaku agar teteknya mendapat kenikmatan paripurna. Sesek napas juga sih kalau kelamaan. Kucek selangkangannya. Woow, tambah basah. Kupegang tangan satunya lalu kuarahkan untuk mulai mengusapi dan memencet rudalku. Menurut dia.&#8220;Kulum, Dear&#8221; Dengan menjatuhkan berat badanku sementara kakinya sudah mulai mengangkang, tangan kiriku keselipkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Auh.. Auh.. Auhh.. Ah.. Ahh&#8221;, tangannya mulai menjambak rambutku dan kadang ditekan-tekannya kepalaku agar teteknya mendapat kenikmatan paripurna. Sesek napas juga sih kalau kelamaan. Kucek selangkangannya. Woow, tambah basah. Kupegang tangan satunya lalu kuarahkan untuk mulai mengusapi dan memencet rudalku. Menurut dia.<br/><br/>&#8220;Kulum, Dear&#8221; Dengan menjatuhkan berat badanku sementara kakinya sudah mulai mengangkang, tangan kiriku keselipkan dibawah punggungnya, tangan kananku memegang tetek kanannya, maka kuserbu bibirnya tanpa ampun. Saling memilin lidah kami. Saling tumpah ludah kami. Sambil kusodok-kusodokkan burungku yang masih tersimpan dalam sangkarnya tepat di area tempiknya (memeknya). Gemes aku ingin memasukkan. Tapi ada kenikmatan juga ketika menyodok namun terhambat.<br/><br/>Meskipun agak sakit juga. Sensasi begini kadang lebih mengasyikkan ketimbang main masuk langsung. Terus kukulum, kuhisap, kujilat, ambil napas, lalu serbu lagi. Seperempat jam kami beradu mulut dan bibir. Setelah mengambil nafas sebentar kukulum hidung bangirnya. Kujilati. Aku hobi juga mengulum dan menjilati hidung-hidung yang mancung begini. Kadang kumasukkan (tentu saja tidak masuk, bego) lidahku ke lobang-lobangnya. Kakinya yang kanan mulai membelit, menumpangi kaki kiriku.<br/><br/>&#8220;Lepass baaju dann celanamuu..&#8221;<br/><br/>Kulepaskan ikatan ragawi kami. Turun dari ranjang untuk menelanjangi diriku. Polos. Kunaiki ranjang lagi. Kutempelkan penisku mengarah ke bawah memeknya sehingga dalam posisi masih bebas di luar liangnya. Kutindih lagi. Kunikmati setiap inchi tubuh halus mulusnya melalui kontak tubuh kami yang penuh. Kalau bisa tidak ada yang lolos. Kulanjutkan dengan adu ciuman. Kujilati dagunya, pipinya, kukulum kupingnya. Mendongak-dongak dia. Desahnya semakin kacau. Jepitan kakinya sudah dua sekarang. Tiba-tiba tangannya merogoh burungku. Ditekan-tekannya ke arah bibir liang.<br/><br/>Lalu, &#8220;slep..&#8221; Masuklah burungku. Kubiarkan berdiam diri dulu. Aku masih menikmati kontak total begini sambil menggeliat-geliat. Kuingin menikmati tekanan tetek-teteknya di dadaku lebih lama. Kuingin menikmati gesekan-gesekan antar paha, gesekan-gesekan antar perut, gesekan-gesekan antar kulit. Kupejamkan mataku agar indera sentuhku bekerja dengan sempurna dalam memberikan sarafku kenikmatan sebuah persetubuhan.<br/><br/>&#8220;Sooddook..&#8221; Tanpa rela kumelepaskan belitanku mulai kupompa memeknya dengan melengkung-lengkunkan pinggulku. Tangan kiriku menyusup di bawah punggungnya menggapai pinggir luar tetek kanannya, tangan kananku menyusup ke bawah menjangkau ujung memek belahan belakang.<br/><br/>Kujawil-jawil. Kaki-kakinya merangkul kaki-kakiku semakin erat. Digoyang naik turun pantatnya seirama dengan maju mundurnya sodokanku. Nafas-nafas kami dalam dan berat dalam mendukung kerja persetubuhan. Erangan-erangannya meningkahi sodokanku yang kubikin dalam-dalam. Sedalam mungkin. Suara kecipak cairan memeknya mengiringi maju mundurnya penisku yang memenuhi liang memeknya. Penuh. Diameter rudalku tak menyisakan sela. Padat dan kesat. Itulah mengapa nyonyaku jadi keranjingan.<br/><br/>&#8220;Cepetin.. Cepetin.. Nyoddookknyaa.. Aah.. Ahh..&#8221;<br/><br/>Aku terus menghujaminya bagaikan antan penumbuk padi yang terus bertalu-talu berirama konstan. Kuingin melesak lebih dalam lagi. Lebih jauh lagi. Urat-urat rudalku pasti sebesar-besar kabel listrik kalau bisa dilihat.<br/><br/>&#8220;Edaann.. Teruss.. Banggsaatt.. Jembbuut.. Konttoll.. Aahh.. Aahh.. Aahh.. Ayoo.. Genjott.. Teruss.. Teruss &#8220;<br/><br/>Kejorokan nyonyaku sudah tidak asing lagi di telingaku ketika persenggamaan sedang mendaki puncak. Akan menambah daya hentak dan meluapkan sensasi-sensasi paling primitif sang nafsu yang dimiliki makhluk hidup. Dengan cepat dan kasar kubalikkan tubuhnya tengkurap lalu buru-buru kusodokkan lagi rudalku ke memeknya melalui belakang. Kubelit lagi dirinya. Kususupkan kembali kedua tanganku menjangkau tetek-teteknya secara menyilang. Kuremas-kuremas dengan kasar. Kususupkan kepalaku di samping lehernya. Kuendus dan kuhisap leher jenjangnya yang wanginya telah pudar karena leleran keringat.<br/><br/>&#8220;Plak.. Plok.. Plak.. Plok..&#8221; bunyi pantatnya beradu dengan selangkanganku. Kurangsak. Klitorisnya lebih mudah kugasaki dari belakang. Kupercepat tonjokan-tonjokan ke klitorisnya. Semakin menggila dia.<br/>&#8220;Bajingann.. Sopirr.. Dassarr.. Teruss.. Yah.. Yah.. Bangsat.. Kamuu.. Adduh.. Ennakk.. Uahh.. Uahh.. Auhh.. Ahh.. Eaarghh.. Mmpphh.. Ooh..&#8221;<br/>Semakin cepat kedut-kedutan memeknya memijiti rudalku. Dan, &#8220;aahh.. Hh.. Aku keluaarhh.. Russ.&#8221;<br/><br/>Mengejang dia dan terangkat pantatnya kuat-kuat. Namun masih saja kugasaki sampai beberapa detik akhirnya menyemburlah pancaran magma dari rudalku.<br/><br/>&#8220;Jrrott.. Jroott.. Crrott &#8221; Liangnya kupenuhi dengan semburan-semburan maniku. Lemas. Masih kutumpangi dia. Tersengal-sengal nafas kami. Kugesek-kegesekin hidungku ke lehernya.<br/><br/>****<br/><br/>Awal bagaimana akhirnya kami memadu asmara begini yaitu ketika setelah mengantar anak-anaknya sekolah. Ketika berangkat mengantar anak-anaknya sekolah nyonya duduk sama yang kecil di belakang. Yang gede di depan di sampingku. Mereka kelas 5 dan kelas 2. Cewek semua. Pada jalan pulang nyonya duduk di depan. Dia memintaku untuk tidak langsung pulang. Dimintanya aku masuk tol dalam kota. Kami berputar-putar beberapa kali.<br/><br/>Rupanya sudah agak lama dia sebenarnya ingin curhat. Berhubung nyonyaku membatasi pergaulannya sejak menikah demi suaminya, maka pergaulannya jadi amat terbatas. Sebatas keluarga dan para pembantu-pembantunya, termasuk aku sebagai sopirnya. Sehingga ketika nggak tahan untuk bercurhat maka akulah yang tersedia untuk menjadi sasaran tumpahan emosinya. Lebih mudah dan lebih terjaga kerahasiaannya karena dilakukan di luar rumah, sambil keliling-keliling seperti sekarang ini. Rupanya jatah dari tuan baik dalam bentuk perhatian maupun keintiman dirasanya kurang. Nyonya memaklumi kesibukan tuan, namun sebagai wanita yang masih kuat kebutuhan emosi dan biologisnya menuntut jatah yang normal ketimbang cuma sebulan sekali atau paling banter 2 kali. Tidak terus terang sih ngomongnya, tapi diserempetin.<br/><br/>&#8220;Kamu sama isterimu berapa kali dalam sebulan berkasih-kasihan, Rus?&#8221;<br/>&#8220;Seminggu sekali atau ya bisa dua tiga kali, Nya.&#8221;<br/>&#8220;Wah bahagia sekali dong isterimu ya.&#8221;<br/>&#8220;Ya namanya kewajiban suami untuk membahagiakan isteri mau gimana lagi.&#8221;<br/><br/>Lalu diam seperti melamun. Waktu aku mau oper gigi persneling rupanya tanpa sengaja tanganku menyinggung pahanya. Baru kusadari rupanya nyonya duduknya agak mepet ke tongkat persneling. Aku minta maaf. Nyonya diam saja. Seerr juga aku sebenarnya. Tapi aku mana berani memikirkan kejadian barusan. Entah ini sudah putaran yang ke berapa tapi nyonya masih minta diputerin lagi. Kalau ada yang tahu berapa kali kami muterin Jakarta pasti mikir ini orang mau jalan-jalan tapi maunya irit ya. Sekali bayar tol tapi puas muter-muter. Ketika mau pindah gigi lagi aku sebenarnya sudah agak sungkan-sungkan tapi harus kulakukan karena aku sudah mengurangi kecepatan.<br/><br/>Semoga sudah geser duduknya. Eh lhadalah, kesenggol lagi. Busyet ini nyonya kayak nggak peduli atau sengaja. Sempet kurasakan tadi kalau yang kesenggol bukan kain, lebih halus dari itu, pura-pura nengok spion sebelah kiri maka dengan sudut mataku kucoba cari info apa yang sebenarnya kusenggol tadi apakah benar kulit manusia. Nyonyaku ikut nengok melihat spion kiri. Kesempatan dalam waktu sedetik kulihat ke lokasi persenggolan tadi.<br/><br/>Benar. Deg. Ternyata pahanya yang kesenggol tadi. Wah rok nyonya kok telah tersingkap. Sadar nggak ya dia. Kubiarkan. Ternyata rok yang dipakai ada belahan tinggi di sisi kanan, dan kini belahannya ternyata telah menyibakkannya diri sedemikian rupa sampai.. Pangkalnya. Deg. Deg. Wah. Eh secepat kilat nyonya membalikkan kepalanya ke arahku dan ada senyum tipis. Matanya menatapku tanpa sepatah katapun. Terus kembali lurus menatap jalan di depan.<br/><br/>&#8220;Nggak apa-apa kok&#8221; Modar kowe. Meriang panas dingin sekarang hawa tubuh yang kurasakan. Sebagai lelaki bangkitlah keberanianku mencandainya.<br/>&#8220;Nggak apa-apa gimana, Ny<br />
a?&#8221;<br/>&#8220;Nyenggol-nyenggolnya tadi itu.&#8221;<br/>&#8220;Maaf gak sengaja, Nya.&#8221;<br/>&#8220;Sengaja juga nggak apa-apa.&#8221;<br/>&#8220;Ah nyonya, mana berani.&#8221;<br/>&#8220;Lho, inikan dikasih ijin. O enggak mau ya sama aku? Ya sudah kalo gitu&#8221;<br/>&#8220;Wadduh Nya, mana ada lelaki yang sebodoh itu. Nyonya itu cantik banget. Saya minder di dekat nyonya, sungguh.&#8221;<br/>&#8220;Ah masak sih.&#8221;<br/><br/>Tiba-tiba tangan kiriku diraihnya dan disentuhkan ke pahanya. Yang kesenggol tadi, ingat? Ehhm, kutatapnya dia. Saya balasannya. Mulai berani kugerakkan tangan kiriku yang beruntung itu, lebih menyerupai mengelus. Nyonyaku mulai bersandar. Agak dimajukan duduknya sehingga pahanya semakin mudah kujangkau. Coba kutelusuri menuju pangkal. Merem dia. Agak ke dalam lagi. Lalu sampai pangkal.<br/><br/>&#8220;Ah.&#8221; Lenguhan pendeknya keluar. Kuusap-usapnya pangkal pahanya, tempat sang memek bersemayam. Mendesah dia. Tiba-tiba tangan kanannya menerobos ke pangkalanku juga.<br/>&#8220;Oh, gede punyamu, Min.&#8221;<br/>&#8220;Bagilah dirimu denganku selain istrimu, maukan Rus?&#8221;<br/><br/>Aku diam. Semua ini terjadi mendadak. Lalu aku nafsu dan mengangguk. Dan kami terus saling mengusap sampai bocor bersama. Sebenarnya sejak kejadian itu dia menyatakan menyesal karena telah berbuat sejauh itu yang tidak terbayangkan sebelumnya. Dia berjanji untuk tidak mengulanginya karena akan menyakiti hati suaminya dan isteriku kalau ketahuan nanti. Aku setuju. Tapi waktu jua yang akhirnya mengalahkan kami sesuai kodrat alam yang minta dipenuhi.<br/><br/>Akhirnya kami mengulanginya dan mengulanginya lagi sampai akhirnya benar-benar alat vital kami beradu. Pernah aku sarankan untuk mencari gigolo-gigolo saja yang tampan dan keren daripada aku yang hanya bagian dari kumpulan manusia kasar, jelek dan rendah. Dia hanya menggeleng. Mungkin dia ingin kerahasiaannya lebih terjaga kalau berhubungan dengan satu orang saja. Orang terdekatnya. Apakah demi status sosialnya atau martabatnya atau nama baiknya. Entahlah. Atau takut menjurus ke arah kecanduan, cenderung ingin mencoba-coba berbagai jenis pria. Entahlah. Atau memang sudah tercukupi kebutuhannya.<br/><br/>Entahlah. Atau memang bagian dari fantasinya, mencoba ekstrimitas, menikmati dunia-dunia kasar. Entahlah juga. Kalau aku jelas, sulit menghindari daya pikat wanita dari kelas yang jauh di atasku dan memiliki kecantikan yang bagaikan putri dari langit. Lalu kapan lagi. Hehe&#8230;<br/><br/>*****<br/><br/>Itulah waktu pertama kali ketika debut kami dimulai. Sopir yang memiliki tugas rangkap menembak nyonya majikan. Dengan dimulai kesenggol lalu menjadi saling meraba pangkal paha di mobil yang muterin Jakarta berkali-kali. <br/><br/>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2008/08/16/sopir-plus-plus-2-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sopir Plus Plus 1</title>
		<link>http://jablayonline.info/2008/08/16/sopir-plus-plus-1.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2008/08/16/sopir-plus-plus-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 14:59:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/2008/08/16/sopir-plus-plus-1/</guid>
		<description><![CDATA[Kadang aku bingung memahami kehidupan ini. Dulu waktu di desa sebagai bujang ngejar-ngejar wanita desa aja banyak yang menolak. Eh giliran sekarang jadi sopir pribadi malah dapat rejeki nomplok. Bisa numpaki dan ngeloni nyonya majikanku yang cuantiik buanget biar usianya sudah 35. Badan masih bagus, singset, kulit kuning mulus. Hidung mancung dan di bibirnya suka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kadang aku bingung memahami kehidupan ini. Dulu waktu di desa sebagai bujang ngejar-ngejar wanita desa aja banyak yang menolak. Eh giliran sekarang jadi sopir pribadi malah dapat rejeki nomplok. Bisa numpaki dan ngeloni nyonya majikanku yang cuantiik buanget biar usianya sudah 35. Badan masih bagus, singset, kulit kuning mulus. Hidung mancung dan di bibirnya suka muncul bintik-bintik kayak keringat. Syeddapp. Dulu sebelum numpaki nyonya aku sering curi-curi pandang<br/><br/>Demi melihat hidung dan bibirnya itu. Dia tahu, tapi cuek. Pura-pura kali ya. Wanitakan suka ditatap penuh nafsu oleh laki-laki. Meskipun oleh sopirnya kayak aku ini. Memang sih suka menampakkan tampang tidak suka kayaknya sebal gitu lho, duluu kala, tapi aku nggak percaya kalau dia sama sekali nggak senang dan tersanjung. Naluri wanitakan sama. Mau babu, mau model iklan, kalau ada laki-laki yang memperhatikan berarti dirinya masih dinilai cantik. Wanita kalau nggak ada yang memperhatikan padahal sudah dandan habis-habisan bisa bete seharian deh. Merana. Mikirin dirinya yang sudah tidak menarik lagi (meskipun hanya sopir tapi saya pernah belajar psikologi wanita, dari buku yang kubaca di tukang loak ketika sambil menunggu tuan belanja waktu itu. He&#8230; he&#8230;<br/><br/>Nyonyaku katanya eks primadona kampus. Tapi namanya manusia, biar mantan primadona atau mantan pramuniaga kalau sudah digigit kesepian yang amat sangat sekali dan sudah tak tertahankan ya harus mencari solusinya. Boleh jadi orang disekitarnya bisa digoda pula. Ingat kasus nyonya muda Pondok Indah yang beradu syahwat sama pembantunya yang sudah tua? Awalnya suka membentak-bentak memarahi sang bapak pembantu rumah tangga itu eh lama-lama malah suka dan ketagihan dihentak-hentak oleh si bapak itu dalam gairah asmara yang ganjil.<br/><br/>Itulah dunia erotis, susah dicerna tetapi sebenarnya mudah diterima dengan suatu sudut pandang yang polos. Jadi teorinya sederhana saja sesungguhnya, bahwa yang namanya syahwat itu adalah suatu naluri dasar. Naluri yang dibawa manusia sejak lahir ke dunia ini. Dia belum mengenal adat, tata krama, hukum, dsb. Benar-benar murni. Setelah mulai menjadi dewasa maka manusia menjadi milik lingkungannya. Harus peduli sama lingkungan sosialnya. Padahalkan awalnya nafsu itu nggak ada kaitannya dengan ideologi, sosial, ekonomi, politik, budaya dan hankam segala deh (inget pelajaran SMP).<br/><br/>Nah lebih-lebih bila nafsunya itu ternyata memberi pengalaman kenikmatan yang tiada tara yang tidak didapatkan dari pasangan resminya. Wah tambah ketagihan deh. Lha yang awalnya diperkosa aja ada yang akhirnya bisa menikmati, apalagi bagi yang didasari sama-sama butuh. Para pelaku yang sudah pengalaman merasakan nikmatnya bersenggama pasti pusing deh kalau lama nggak digauli lawan jenisnya.<br/><br/>Emang sumpah nggak kepikir di benakku kalau aku orang yang jelek dan kampungan ini ternyata kebagian juga mendapat anugerah dalam bentuk wanita cantik. Yaitu bisa menikmati seluruh lekuk tubuh dan khususnya memek sang eks primadona yang wangi itu. Hehehe. Enak gila. Sudah gratis eh malah dihadiahin lagi. Nggak usah maksa. Nggak usah merayu. Nggak usah mikirin kasih makan. Nggak usah rebutan segala. Kebayang dulu ketika beliau masih mahasiswi, wah pasti seru ajang kompetisinya. Kayak AFI kali. Yang ngrebutin pastilah ada anak orang kaya, yang ganteng, yang bonafid, yang playboy, yang aktivis, yang jagoan olah raga, dan seterusnya. Tereliminasi semua bleh. Rugi mereka. Mending jadi sopir kayak aku ini nggak usah modal kuliah segala. Hihihi.<br/><br/>Sebenarnya aku kadang suka melamun (melamun adalah satu-satunya harta kekayaanku) mencari pemahaman mengenai keadaan ini. Siapa yang salah ya? Tuanku yang terlalu sibuk cari duit demi menyenangkan hati nyonya, atau nyonya yang nggak punya kesibukan (emang dari dulu dilarang tuan kerja karena bisnis tuan masih berjalan dengan baik bahkan cenderung meningkat pesat).<br/><br/>Sempet juga aku juga merasa kasihan sama tuanku kalau dia hanya mikirin bisnisnya melulu. Cari duit banyak-banyak maunya demi kebahagiaan istri eh malah istri jarang dinikmati alias banyak dianggurin aja. Tahu deh kalau di luar suka jajan atau nyimpen WIL. Tetapi kalau sampai nyimpen WIL segala apa ya maksimal pemakaiannya. Paling dipakainya pas lagi refreshing, itupun kalau sempet. Bisnismen itu pasti lebih banyak sibuk ke bisnisnya ketimbang ngurusin lain-lainnya. Gitu kali. Tapi yang penting prinsipku: urusan atas adalah kewajiban tuanku (mulut yang dikasih makan), urusan bawah (vegy yang dikasih semprotan) adalah jatahku.<br/><br/>Adilkan? Menurut kaca mataku sih orang-orang sibuk kayak tuanku itu mending memperistri babu. Kalau capek pasti dengan suka rela mau mijitin. Nggak banyak protes. Siap mendengar keluh kesah setiap saat tanpa berani menyela. Menurutku lhoo. Nah yang cantik-cantik kayak nyonya dan mudah kesepian itu jodohnya ya laki-laki yang punya banyak waktu luang untuk memperhatikan dan siap sedia setiap saat kalau dibutuhkan. Misalnya sopir kayak aku ini. Huahahaha. Tapi masuk akalkan? Gimana nggak masuk akal.<br/><br/>Orang seelite tuan pasti sudah biasa ketemu wanita kelas tinggi yang cantik-cantik. Karena sudah biasa maka ya jadi biasa. Lha orang kayak aku ini kan selalu melotot dan melongo melihat wanita-wanita sekelas nyonya. Pasti bawaannya kagum dan kagum melulu. Melamun sepanjang hari gimana bisa ngentot dengan wanita-wanita kelas ini. Sama halnya dengan nyonya, bergaul sama laki-laki berkelas pasti sudah biasalah. Yang jarang adalah bergaul dengan laki-laki kasar.<br/><br/>Pasti menimbulkan khayalan erotis untuk bersenggama dengan para lelaki kasar, yang berotot, ngomong sembarangan, berpeluh kalau bekerja, hidupnya cuma untuk hari ini, dan bla-bla. Pastilah menimbulkan empati campur sensasi begitu. Hahaha.<br/><br/>Nah gara-gara sering diminta melayani nyonyaku yang hobi kesepian itu aku dimanjain dengan hadiah-hadiah mahal. Kadang-kadang sih. Misal dibeliin baju, sepatu, minyak wangi dan sebagainya yang bermerk. Sekarang aku kenal baju merk Arrow, kata orang sih harganya ratusan ribu. Tapi aku nggak berani pakai kalau lagi ada tuan, nanti ditanya kok bisa beli baju mahal. Masak mau nggak makan setengah bulan demi beli baju semahal itu. Kan bisa ketahuan, kasihan nyonya. Aku sih paling dipecat. Lha kalau nyonya dicerai? Apa ya mau ikut aku jadi istri keduaku. Pasti enggak mau. Memang lucu juga ya. Urusan perut sama bawah perut bisa demikian jauhnya. Tapi nggak apa-apa. Mendingan begini.<br/><br/>Jauh lebih menguntungkan bagiku. Dikasih tapi nggak dituntut. Kayak bintang sinetron yang dituduh memperkosa seorang cewek, disebarluaskan di media massa. Coba kalau yang memperkosa cuma tukang ojek, preman, kuli, atau sopir nggak bakalan diberita-beritain besar-besaran sama korban. Nggak usah dituntut kawin cukup laporin polisi aja (atau malah dipetieskan aja kasusnya). Lha, apa malah nggak enak. Kalau mau dipenjara ya nggak masalah. Nggak punya apa-apa ini kecuali kolor. Dibiarkan bebas ya lebih asyik bisa cari yang lebih ranum lagi. Enak juga sebenarnya yah kaum &#8216;nothing to lose&#8217; alias kaum yang cuma bermodal nafas ini. Hehe.<br/><br/>Tiba-tiba lamunanku dibubarkan secara sepihak oleh nyonya.<br/><br/>&#8220;Rusmiin.. Hayo sore-sore gini sudah bejo (bengong jorok) ya. Kebeneran, sini masuk kamar, Dear&#8221;<br/><br/>Tugas sampingan sudah memanggil-manggil. Syeddaapp. Kebetulan kami dua hari ini lagi nginep di villa keluarga di daerah puncak. Tuan seperti biasa lagi urusan ke luar kota. Anak-anak nyonya pada mau ujian jadi mereka harus belajar di rumah. Ibunya beralasan mau menengok villa-nya dan kebun buah-buahannya. Berdua saja kami ini. Makanya nyonya berani teriak-teriak semaunya ketika mau ngajak ML. Kulihat nyonya sudah pakai daster tipis putih dan sedang duduk di pinggir ranjang. Kaki kanan diangkat di bibir ranjang sementara yang kiri menyentuh lantai. Waduh seksi sekali Yayangku ini.<br/><br/>&#8220;Wah sudah nggak sabaran yah Yang?&#8221;<br/>&#8220;Iya tahu, mau cepetan dirudal ama penismu yang nggak kira-kira gedenya itu. Ayyoo cepetan sinnii. Jangan sok maless gitu aah..&#8221;<br/><br/>Aku emang kadang suka menggodanya dengan berlagak malas melayaninya. Kalau u<br />
dah gitu kemanjaan nyonya suka muncul.<br/><br/>&#8220;Iya deh, mau apa dulu nih Say?&#8221;<br/>&#8220;Jilatin seluruh tubuhku tanpa tersisa. Ini perintah..!&#8221;<br/><br/>Lalu dasternya telah merosot ke bawah secara kilat. Seperti biasa kalau sudah siap tempur nyonyaku nggak pakai CD dan Bra. Sudah polos total. Dia tengkurap. Aku mendekat. Kumulai jilatan dari ujung jari kaki.<br/><br/>&#8220;Ehm&#8221;<br/><br/>Belum apa-apa. Pelan-pelan sekali kujilat dan kuhisap jari-jarinya satu per satu. Telapak kakinya. Betisnya yang berbulu agak jarang dan panjang-panjang. Bikin naik darah.<br/><br/>&#8220;Emh..&#8221; Mulai ada reaksi. Pindah ke kaki satunya.<br/>&#8220;Emh..&#8221; Lagi ketika tiba di betis.<br/><br/>Kuteruskan ke arah paha belakang. Permainan semacam ini memang perlu kesabaran tersendiri. Di samping itu juga membantuku untuk tidak cepat naik selain membantunya untuk mulai warming up duluan. Oh ya perlu kuberitahu, sejak aku didayagunakan begini jadi rajin minum jamu kuat kalau enggak wah bisa remuklah aku. Kuat banget dan tahan lama sih nyonya mainnya.<br/><br/>&#8220;Ahh.. Hemhh..&#8221;<br/><br/>Begitu bunyi mulutnya ketika lidahku mulai mengusap pangkal pantatnya (Mau enggak ya tuan disuruh begini ama nyonya? Mungkin inilah kelebihanku mau apa aja. Biarin, gratis dan ueennakk ini. Hehehe.) Kubikin lama dalam melulurin area x, kubikinnya libidonya memuncak lebih cepat. Kupercepat sapuanku. Kuselingi dengan sodokan-sodokan memasuki celahnya.<br/><br/>&#8220;Aauuhh.. Auuhh.. Auuhh.. Ruuss..&#8221;<br/><br/>Mulai kepanasan dia. Basah. Kuremas-kuremas pantatnya yang montok putih mulus. Lalu kujulurkan tangan kananku menuju punggung. Kuusap sejenak terus menukik melesak ke bawah, teteknyalah sekarang sasaran sentuhanku.<br/><br/>&#8220;Buussyyeet.. Ruuss.. Pentil.. Ooh.. Ya.. Yaa.. Pentilku diusap.. Ussaaph.. Ahh &#8220;<br/><br/>Aku merambat naik dan kukangkangi dengan sedikit merapat. Tidak kontak ketat. Gesekan-gesekan burungku yang masih dalam sangkar celana sengaja kuarahkan ke pantatnya. Kujilati pinggang, punggung, pundak, leher, belakang telinga.<br/><br/>Dan, &#8220;aahh balikk..&#8221; Nyonya membalikkan badannya.<br/><br/>Sebenarnya aku sudah enggak tahan mengulum bibirnya. Penisku sudah demikian kencangnya. Tapi ya sabar dah. Belum ada perintah selain menjilat sih. Kumulai menjilati leher depan, turun ke ketiak yang licin, ke lengan, telapak tangan, jari, ke dada. Di sekitar itu aku berlama-lama. Kuputari gunung kembarnya bergantian. Kiri-kanan. Kiri-kanan. Diselingi mengisep pentilnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2008/08/16/sopir-plus-plus-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gadis Bule 2</title>
		<link>http://jablayonline.info/2008/07/30/gadis-bule-2.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2008/07/30/gadis-bule-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 03:17:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/2008/07/30/gadis-bule-2/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah aku menghabiskan 4 kali permainan seks yang mengasyikkan malam itu. Pagi harinya aku menyiapkan sarapan pagi dan menghabiskan waktu pagi hari itu dengan mengobrol dan bercengkerama. Kami sama-sama tau bahwa walaupun kami sudah pernah berhubungan seks dengan orang lain tapi aku tetap menjaga kesehatan begitu pula dengan Hildy. Bahkan sempat dia menanyakan apakah aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah aku menghabiskan 4 kali permainan seks yang mengasyikkan malam itu. Pagi harinya aku menyiapkan sarapan pagi dan menghabiskan waktu pagi hari itu dengan mengobrol dan bercengkerama. Kami sama-sama tau bahwa walaupun kami sudah pernah berhubungan seks dengan orang lain tapi aku tetap menjaga kesehatan begitu pula dengan Hildy. Bahkan sempat dia menanyakan apakah aku pernah berhubungan seks dengan PSK (Pekerja Seks Komersil) aku bilang belum pernah. Mungkin dia takut kalau-kalau aku punya penyakit kelamin. Begitupun dengan dia, aku tanyakan juga pengalaman seksnya, karena aku takut terkena penyakit. Hildy bilang bahwa dia juga berusaha menjaga kesehatan.<br/><br/>Kami masih terus bercerita tentang masa kecilku dan masa kecilnya, pembicaraan terus berlanjut kepada masalah keluarga. Dengan cerita kami tersebut kami jadi tahu masing-masing kebiasaan dan seperti apa keluarga kami. Kami bercerita masih di atas ranjang bahkan Hildy hanya menggunakan celana dalam dan BHnya saja sedangkan aku celana pendek dan kaos oblong.<br/><br/>Menjelang siang hari, obrolan kami sudah ngelantur kesana kemari dan masih dengan celana dalam dan BHnya Hildy tiduran di ranjang, melihat itu akupun tidak tahan melihat kemulusan tubuhnya yang bule. Kudekati dia dan kucium bibirnya. Hildy membalas ciumanku, kami saling memainkan lidah di mulut kami sambil tak lupa aku meremas-remas payudaranya yang montok. Kemudian ciumanku berpindah dari mulut ke kuping dan kusedot-sedot kuping Hildy hingga membuatnya menggelinjang menahan birahi dan gairah di sekitar telinganya yang memang memberikan rangsangan sangat hebat. Kemudian ciumanku turun ke leher dan akhirnya di dua gundukan bukitnya. Dengan menyungkil kaitan BH di belakangnya terbukalah dua bukit yang aduhai. Kini kedua bukit itu makin jelas karena sinar di siang hari memberikan cahaya yang lebih terang.<br/><br/>Kuperhatikan dua bukit itu dengan seksama dan terlihat jelas sekali ada perbedaan warna antara badan dan di sekitar dua bukit itu. Karena HIldy sering berjemur ria di pantai maka terlihat bekas BH di kedua payudaranya memberikan warna yang sangat putih pucat dengan puting yang berwarna coklat muda. Tapi aku justru menyukai kulit payudaranya yang putih itu. Tanpa pikir panjang kusedot putingnya sambil tanganku yang satunya memainkan puting yang lainnya.<br/><br/>Lama aku memainkan putingnya hingga akhirnya tanganku yang satu turun ke bawah dan menyelusup ke balik celana dalam berwarna hitam. Kurasakan gundukan rambut halus di vagina Hildy, dan aku elus-elus rambut-rambut halus tersebut. Kemudian jari tengahku menyentuh klitorisnya dan ketika ku tarik elusan jari tanganku dari bawah ke atas (dari lubang vaginanya hingga ke klitoris) kurasakan vaginanya sudah basah dan ketika jari tanganku sampai di klitorisnya, Hildy menarik nafas panjang sambil mengeluarkan suara lenguhan.<br/><br/>Jari-jemariku semakin basah oleh cairan dari vagina Hildy dan mulutku masih memainkan putingnya. Aku mendengar suara lenguhan Hildy yang semakin keras dan akupun mempercepat memainkan klitorisnya setelah itu jari tengahku turun dan kumasukkan jari tengahku ke dalam lubang surganya. Nafas Hildy semakin memburu dan lenguhannya semakin keras, apalagi saat jariku menyentuh dinding atas vaginanya di mana G-spot berada kata para pakar. Hildy semakin tidak dapat menahan rangsangan yang aku berikan walaupun hanya dengan jariku rangsangan yang dia terima begitu dasyat apalagi ketika kumasuk dan keluarkan jariku dari lubang vaginanya.<br/><br/>Hildy tidak dapat menahan dirinya lagi, dengan lenguhan yang semakin keras dan nafas yang memburu serta tidak beraturan Hildy menjerit merasakan orgasmenya yang pertama.<br/><br/>&#8220;..Oohh Har.. yess.. i am cumming&#8221; ternyata Hildy sudah mencapai orgasme yang pertamanya. Dalam hatiku aku bergumana ingin sekali tahu berapa kali Hildy memperoleh orgasmenya, akan kuhitung kali ini.<br/><br/>Aku tidak puas dengan jari-jari tanganku di vaginanya lalu aku beranjak dan melepaskan hisapanku dari payudaranya kemudian aku membuka celana dalam Hildy. Ketika celana dalamnya sudah merosot sekali lagi aku melihat tato indahnya yang persis di atas vagina di selangkangan. Lalu kucium lagi tato itu dan turun ke daerah lubang kewanitaannya. Karena siang hari sinarnya lebih terang kini aku dapat melihat dengan jelas bentuk dan warna vaginanya yang merah dan menantang. Aku membayangkan warna vaginanya mirip sekali dengan yang ada di film-film blue. Saat itu aku senang sekali karena dapat merasakan vagina bule yang selama ini aku impikan.<br/><br/>Kubuka belahan bibir vaginanya dan sebelum lidahku menjulur mencapai klitorisnya masih sempat aku melihat ke bagian dalam vaginanya yang begitu indah dan menggairahkan. Kucium aroma vaginanya dan kurasakan aroma itu begitu wangi dengan aroma yang lain daripada yang lain. Kubayangkan ternyata wanita yang suka merawat vaginanya memiliki aroma yang sangat wangi dan sangat menggairahkan sehingga tidak bosan-bosannya kucium aroma itu. Lalu aku cium dan kuhisap klitorisnya sambil kutarik-tarik dengan mulutku. Hildy semakin mengerang bukan lagi melenguh karena tarikan klitorisnya oleh mulutku membuatnya geli tak tertahankan. Lidahkupun turun ke bawah dan kumasukkan lidahku ke dalam lubang surganya. Lidahku bermain di dalam lubang itu dengan sekali-kali ujung lidahku kuarahkan ke bagian atas vaginanya dimana daerah sensitif itu berada.<br/><br/>Lama aku melakukan ciuman-ciuman dan jilatan di daerah kewanitaannya, hingga pada akhirnya aku merasakan kaki Hildy mulai menegang. Aku melirik ke arah wajah Hildy yang semakin memerah dan menegang raut mukanya. Aku tahu bahwa sebentar lagi orgasme keduanya akan datang, maka aku percepat jilatanku di dalam lubang dan klitorisnya. Tiba saatnya dia mengerang keras sambil pantat dan badannya terangkat dengan ditopang kedua tangannya.<br/><br/>&#8220;Oohh God.. I&#8217;m cumming Harr.. oohh yess.. bastard..&#8221;<br/><br/>Tercapailah orgasme keduanya aku senang sekali bisa membuatnya orgasme dua kali hanya diwaktu pemanasan. Kini aku membuka celana dan bajuku kemudian aku tiduran dan menyuruhnya untuk mengambil posisi di atas tubuhnya yang kecil ini. Sambil duduk di atas tubuhku Hildy memasukkan penisku ke dalam vaginanya dan dia mulai menggoyang-goyangkan pantatnya maju mundur. Sambil matanya yang merem melek Hildy terus mengikuti irama pantatnya maju mundur, kudengar erangannya yang lembut. Untuk membuat sensasi baru tanganku memainkan klitorisnya sementara Hildy tetap melakukan irama goyangan maju mundur sambil duduk. Jari-jariku terus memainkan klitorisnya hingga kulihat Hildy mempercepat tempo gerakannya. Semakin cepat gerakan Hildy maka kupercepat pula jariku memainkan klitorisnya.<br/><br/>&#8220;Oohh.. yess..&#8221; pertahanan Hildy jebol untuk yang ketiga kalinya. Setiap kali dia orgasme aku menghitungnya di depan dia sehingga membuatnya tertawa dan sedikit malu-malu.<br/><br/>Keringat mengucur di tubuhku dan tubuh Hildy, aku melihat Hildy sudah begitu lemas dan sepertinya tidak dapat melakukan gerakan lagi di atas tubuhku. Sedangkan aku masih belum apa-apa, maka akupun mengambil alih posisi dengan menyuruhnya melakukan posisi nungging aku ingin melakukan doggy style. Dari belakang aku dapatmelihat belahan vaginanya kemudian kubuka kakinya lebar-lebar. Kucoba memasukkan penisku sendiri tapi ternyata sulit dan tanpa diperintah tangan Hildy membimbing penisku untuk memasuki vaginanya dan amblaslah penisku di dalam. Gerakkan maju mundur pantatku kulakukan dengan tempo yang tidak terlalu cepat. Aku merubah posisiku seperti nungging pula dan tanganku yang lainnya memainkan klitorinya sambil kugerakkan pantatku maju mundur dan sambil kusodok-sodok vaginanya. Hildy sudah tidak dapat menahan lagi untuk menerima orgasme yang keempat dan dengan cepat sekali Hildy sudah memperoleh orgasmenya yang keempat.<br/><br/>Aku sudah puas dengan posisi doggy style kemudian kusuruh Hildy untuk tiduran dan dia langsung membuka kakinya lebar-lebar. Karena penisku sudah menegang sekali maka tanpa kuarahkan dengan tanganku dengan mudahnya penisku dapat amblas di lubang vagina Hildy. Aku semakin beringas membuat gerakan maju mundur dan terkadang kuputar-putar pantatku s<br />
ehingga penisku yang berada di dalam vaginanya menyentuh sekeliling dinding vaginanya. Semakin kuputar pantatku erangan Hildy semakin keras dan orgasmepun datang lagi. Aku merasa bangga dengan diriku karena bisa memuaskan seorang gadis bule yang besar. Aku masih menghitung setiap kali dia orgasme.<br/><br/>&#8220;You know, You&#8217;ve got 5 times orgasme and I want to give you 8 times orgasm..&#8221;<br/><br/>&#8220;Oohh.. Har you are too strong for me and I think I cannot stand it anymore&#8221;.<br/><br/>&#8220;I won&#8217;t stop it before you get more than 6 or 8 times&#8221;. Sambil irama gerakkannya tidak berubah aku sempat mengobrol dengannya.<br/><br/>Lama sudah kami bersetubuh dengan keringat yang terus mengucur hingga Hildy sudah mencapai orgasmenya yang ketujuh. Kini akupun tidak dapat menahan pertahananku, kurasakan akan jebol juga orgasmeku. Kupercepat gerakkanku dengan memutar-mutar pantatku.<br/><br/>&#8220;Hildy.. are you cumming? ..please cumm with me.. ooh.. i am cumming&#8221;.<br/><br/>&#8220;Yes.. let&#8217;s cum together.. oohh i am cumming.. oohh I crazy for you Har&#8221;<br/><br/>Kami sama-sama sudah tidak dapat menahan lagi orgasme kami yang kutunggu-tunggu itu. Aku sudah dapat menahan lagi orgasmeku, begitu pula dengan Hildy, dia semakin menjerit, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, maka akupun mengeluarkan kata-kata jorok untuk membuatnya lebih terangsang sehingga proses orgasmenya akan lebih cepat lagi. Ketika puncakku akan datang kutarik penisku dari dalam vaginanya dan kutumpahkan spermaku di atas perutnya sambil tanganku masih sempat memainkan klitorinya dan mulutku menciumnya dengan buas agar proses orgasme kami berbarengan. Kami sama-sama mengeluarkan erangan yang keras. Kemudian kamipun sama-sama lemas dan aku terkulai lemas di sampingnya.<br/><br/>&#8220;Har, I&#8217;ve never got cumm 8 times, this is the first time I got it.. ohh you are so strong..&#8221;<br/><br/>&#8220;Thanks Hildy.., but you see this is proof that even Indonesian is small but strong.. he he.. do you agree with that?&#8221;.<br/><br/>&#8220;Yes I agree with you he he..&#8221;<br/><br/>&#8220;So don&#8217;t look that I am small man but I can make you satisfy many times.., and you know the next door my friend when she fucked with a tall guy and big one and western guy but she never satisfy.. so I am better then him.. he he.. sorry am just teasing you&#8221;.<br/><br/>&#8220;I know you just teasing me but anyway that is true Har.. cause most of them do not care about our satifaction&#8221;.<br/><br/>Kami mengobrol tentang sex dan aku selalu memberikan komentar tentang diriku dan keperkasaan orang Indonesia, aku berbuat seperti itu karena selain badanku kecil dan kebanyakan orang Indonesia seukuran denganku (mayoritas) tapi keperkasaannya terkadang lebih jantan daripada orang bule yang berbadan besar. Kini Hildy dapat menyadari bahwa walaupun orang Indonesia kecil tapi mereka perkasa dan dia kini beranggapan bahwa tidak semua orang besar dengan penis besar dapat memuaskan perempuan.<br/><br/>Hingga siang hari lewat kami lupa untuk makan siang karena keasyikan ngobrol, kemudian akupun mengantarnya pulang ke rumahnya. Di rumahnya kami ngobrol lagi dan teman-temannya melihat kami akrab kemudian mereka memberikan senyuman yang menurutku penuh dengan arti. Hildy melirik kepada mereka dan kemudian dia menghampiri mereka dan tertawa. Aku sangat ingin sekali apa yang mereka bicarakan dan aku dapat jawabannya ketika kawannya yang bernama Natalie datang menghampiriku.<br/><br/>&#8220;Hildy said that you are so strong.. he he.. how big is your cock Har&#8221;<br/><br/>Aku tidak menjawabnya hanya dengan senyuman karena malunya yang gak ketulungan. Setelah mengobrol dengan topik yang lain kemudian Natalie pamitan.<br/><br/>&#8220;Ok strongman, see you in a bit&#8221;<br/><br/>&#8220;See you, bye&#8221;<br/><br/>Tak lama Natalie pergi Hildy menghampiriku lagi dan dia sudah bersiap-siap untuk mandi. Hildy mengajakku mandi bareng, tentu saja aku senang sekali dengan ajakannya. Kamipun pergi ke kamar mandi sama-sama dan mandi bareng dengan saling mengguyur badan kami dan Hildy menyabuniku dan memandikanku begitu pula aku menyirami badannya.<br/><br/>Kamipun sama-sama pergi ke tempat pertemuan kami untuk makan malam bersama. Itulah pengalamanku yang sangat mengasyikkan dan setelah kejadian itu aku tidak pernah mengalami pengalaman yang serupa lagi di tahun-tahun berikutnya. Hanya sebatas ciuman dan remasan saja aku mengalami dengan bule tidak sampai berhubungan seks. Bahkan ketika aku punya pacar lagi orang bule kami hanya sebatas ciuman dan remasan di daerah sensitifnya, kami tidak melakukan seks karena pacarku itu bilang bahwa dia masih perawan dan aku percaya karena umurnya masih sangat muda walaupun sudah tamat dari Universitas.<br/><br/>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2008/07/30/gadis-bule-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gadis Bule   1</title>
		<link>http://jablayonline.info/2008/07/30/gadis-bule-1.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2008/07/30/gadis-bule-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 03:15:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/2008/07/30/gadis-bule-1/</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Har, aku berumur 34 tahun, statusku sudah punya isteri dengan anak tiga laki-laki semua. Kata teman-teman kuliahku aku memang jantan di ranjang hal ini terbukti bahwa anakku laki-laki semua. Menurut teman-temanku untuk mempunyai anak laki-laki suami harus jantan di ranjang karena sperma calon anak laki-laki akan bertahan hidup bila kemaluan wanita sudah basa atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Har, aku berumur 34 tahun, statusku sudah punya isteri dengan anak tiga laki-laki semua. Kata teman-teman kuliahku aku memang jantan di ranjang hal ini terbukti bahwa anakku laki-laki semua. Menurut teman-temanku untuk mempunyai anak laki-laki suami harus jantan di ranjang karena sperma calon anak laki-laki akan bertahan hidup bila kemaluan wanita sudah basa atau istilah kasarnya becek dan untuk membuat vagina tersebut basa membutuhkan pemanasan dan permainan sex yang lama kalau tidak anaknya akan menjadi perempuan.<br/><br/>Maka dari itulah teman-temanku bilang bahwa aku jantan walaupun badanku tidak besar dan tinggi. Aku bekerja di salah satu perusahaan ekspedisi tour and travel. Kebetulan setiap summer season banyak bule yang ikut ke program perusahaanku dan banyak sekali. Rata-rata mereka masih mahasiswa yang muda dan cantik yang mayoritas datang dari Inggris dan Amerika.<br/><br/>Pengalamanku ini terjadi ketika tahun 2001 di mana pada musim summer perusahaanku mulai membuka program tour and travelnya. Pada musim itu banyak sekali turis mahasiswa yang datang dari mancanegara yang datang ke lokasi program kami. Lokasi program kami berada di luar pulau Jawa di pulau terpencil yang memang khusus untuk turis tersebut. Pada saat program sedang berjalan akupun berangkat ke lokasi tersebut untuk menjalankan program perusahaanku.<br/><br/>Setelah beberapa minggu aku melaksanakan kegiatan bersama-sama turis tersebut yang kebanyakan wanita muda, cantik dan seksi aku berkenalan dengan salah seorang turis yang sangat cantik dan seksi dengan tubuh besar (sesuai dengan tinggi dan postur tubuhnya) dan tinggi yang bernama Hildy. Sejak perkenalan itu kami sering bercengkerama dan mengobrol dengan akrabnya. Bahkan bila kita bertemu sehari salah satu dari kami akan mencari yang lainnya dan seringkali bila tidak bertemu sehari dia selalu &#8220;I miss you&#8221;.<br/><br/>Hingga pada malam minggu ketika kami sedang berpesta aku dan Hildy mengobrol sambil dia menenggak minuman keras dan bir. Aku sudah lama berhenti minum minuman keras hanya sekali-sekali saja dan malam itu aku hanya minum seteguk dua teguk saja. Ketika malam semakin larut aku berpisah dengan Hildy dan dia bersama lelaki lain yang temanku juga. Sebetulnya aku sangat menginginkan sekali menghabiskan malam itu dengannya dan aku ingin sekali bermain seks dengannya tapi aku masih takut kalau-kalau akan di tolak jadi aku biarkan dia bersama temanku yang memang bule juga.<br/><br/>Karena suasananya begitu ramai dan semua orang sedang bermabuk ria aku melihat Hildypun mabuk berat dan aku perhatikan dia mulai berbuat tak senonoh dengan membuka baju di pantai bersama lelaki tersebut. Tentu saja aku kaget dan langsung menghampiri sambil menegurnya.<br/><br/>&#8220;What are you doing with him? you drunk Hildy&#8221; aku menegurnya dengan nada agak tinggi.<br/><br/>&#8220;What&#8217;s wrong with me Har? we are just having fun don&#8217;t worry&#8221; Hildy menjawab dengan sedikit kekecewaannya karena aku telah mengganggu kesenangannya.<br/><br/>&#8220;No, you cann&#8217;t do that Hildy that is not good for us and for local community.. so please put on your dress now&#8221; aku sedikit memerintah dengan nada yang agak tinggi.<br/><br/>&#8220;No Har, we are having fun now and you know, you are annoying me Har&#8221;<br/><br/>&#8220;I don&#8217;t care about that, I just want you to put on your dress now and go home if you still do that and please tell him too&#8221;<br/><br/>&#8220;No!&#8221; dia menjawab agak keras dan itu membuatku semakin marah sekali karena dia tidak mau mengikuti saranku. Akhirnya dengan nada yang lebih keras dan kasar aku lontarkan kepada dia dan lelaki tersebut.<br/><br/>&#8220;If you wanna fuck with him please! But not in here take him your hut and fuck in there&#8221;..<br/><br/>&#8220;Why are you so rude Har? I don&#8217;t like you.. and why are you doing this?&#8221; dia mulai marah dan menangis.<br/><br/>Aku tetap bersikeras menyuruhnya berhenti dengan mengancam akan melaporkan kepada ketua kami biar mereka dapat sangsi. Akhirnya lelaki yang bersamanya takut dan pergi, kemudian Hildy mengenakan kembali pakaiannya sambil duduk di tanah dengan masih hanya menggunakan celana dalam. Kemudian aku menasihatinya dan akhirnya dia dapat memahami kenapa aku berbuat seperti itu.<br/><br/>&#8220;Tell me Har, why are you doing this to me?&#8221; dia masih bertanya dengan pertanyaan yang sama dengan matanya agak sembab karena menangis.<br/><br/>&#8220;Because you are my friend and I don&#8217;t want something happen to you&#8221;<br/><br/>&#8220;But why?&#8221;<br/><br/>&#8220;Because I like you&#8221; aku spontan menjawa pertanyaannya karena di desak terus.<br/><br/>&#8220;I like you too Har&#8221; aku senang dengan jawabannya dan tanpa diduga Hildy langsung mencium bibirku.<br/><br/>Aku agak gelagapan karena tidak menyangka akan dicium tapi naluri lelakiku langsung muncul dan akupun membalas ciumannya. Ciuman kami semakin liar dan bernafsu, aku semakin tidak dapat menahan gejolak yang ada dalam diriku. Karena tidak tahan lagi, tanganku langsung bergerilya ke buah dadanya dan kemudian turun ke sela-sela selangkangannya. Aku mainkan lubang kemaluannya dari luar celana dalamnya dan dia membuka kakinya lebar-lebar. Kami masih tetap berciuman dan tanganku masih bermain di daerah selangkangannya. Kurasakan celana dalamnya semakin basah oleh cairan yang terus keluar dari dalam vaginanya, kugesek-gesek terus selangkangannya dan dia semakin mengerang sambil menciumku dengan penuh nafsu.<br/><br/>Birahiku sudah memuncak dan penisku sudah berdiri tegak di balik celanaku. Karena kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan karena saat itu kami berciuman di pinggir pantai maka kamipun menghentikan permainan seks kami takut kalau ada orang yang akan melihat perbuatan kami walaupun kita sama-sama sedang berada di puncak birahi tapi kita tahan. Setelah mengobrol beberapa saat kamipun berpisah ke rumah masing-masing dan dia berjanji akan menemuiku besok untuk membicarakan tentang kelakuannya.<br/><br/>Keesokan harinya kamipun bertemu dan aku ajak dia ke rumahku karena aku harus mempersiapkan keperluanku untuk pergi ke pulau lain guna membantu temanku melaksanakan progamku. Di rumahku kami sempat berciuman tapi tidak sampai bermain seks. Aku dan dia berpisah untuk satu hari dan aku merasakan betapa rindunya tidak bertemu dengannya satu hari. Di lokasi baruku aku mencari sesuatu yang menarik untuk dijadikan hadiah dan aku temukan cinderamata yang indah sekali. Setelah satu hari berpisah kamipun bertemu lagi dan aku kaget sekali karena tidak biasanya sikap Hildy berubah. Aku terus berfikir apa gerangan yang terjadi sehingga sikapnya berubah seperti itu. Ternyata aku baru tahu bahwa ada seseorang telah membocorkan statusku kepadanya dan aku tidak dapat mengelak lagi ketika dia menanyakan itu. Karena takut kehilangannya akupun berbohong bahwa aku dan isteriku sedang pisah tapi belum bercerai dan dia agak lega walaupun sedikit kecewa karena aku tidak bilang sebelumnya.<br/><br/>Setelah keadaan tenang akhirnya aku sampaikan bahwa aku memiliki sebuah hadiah untuknya dan dia boleh mengambilnya kapan saja di rumahku. Ketika malam tiba, Hildy menghampiriku dan bilang kalau dia ingin mengambil hadiahnya malam itu. Kemudian kami pulang sama-sama ke rumahku.<br/><br/>Hildy sangat senang sekali dengan hadiah yang aku berikan dan dia memberikan kecupan dan ciuman. Tentu saja aku langsung menyambut ciumannya dan kamipun bergumul sambil berciuman di atas ranjangku. Nafasku dan nafasnya semakin memburu, dengan erangan-erangannya yang membuatku semakin bernafsu. Kumainkan lidahku di dalam mulutnya dan diapun memainkan lidahnya. Kami saling berpagut, tanganku tidak tinggal diam, tanganku merayap ke balik BHnya dan payudaranya yang putih mulus serta besar kuremas-remas sambil putingnya kupelintir-pelintir erangan Hildy semakin keras.<br/><br/>Aku buka bajuku dan Hildypun membuka bajunya hingga kami telanjang bulat. Aku cium lagi bibirnya, lalu ke bagian leher dan terus ke dua gundukan susunya yang aduhai. kuhisap pentilnya yang berwarna coklat muda aga kemerah-merahan, semakin kupercepat hisapan dan permainan lidahku di pentilnya erangan Hildy semakin keras. Sambil masih mengisap pentilnya tanganku bergerilya di sela-sela selangkangannya. Kurasakan rambut-rambut halus yang lebat di sekitar l<br />
ubang kewanitaanya membuatku semakin bernafsu. Kuelus-elus rambut di vaginanya lalu jari-jariku memainkan klitorisnya yang sudah basah sejak dari tadi. Mulutku masih terus bermain di kedua susunya saling bergantian dan jari tengah tangan kanan terus memainkan klitorisnya sambil sekali-kali masuk ke dalam liang kenikmatan tersebut. Aku semakin dalam memasukkan jari tengahku ke dalam lubang kenikmatan tersebut. Kulihat Hildy semakin liar dan kepalanya ke kanan dan ke kiri menahan nikmatnya sensasi yang aku berikan.<br/><br/>&#8220;Oohh Har.. yes.. oh God.. yes.. yes good.. keep going.. Har&#8221; erangannya semakin menjadi-jadi di sela-sela kenikmatan yang aku berikan.<br/><br/>Kulihat cairan di dalam vaginanya semakin banyak, lalu aku hentikan permainan jari dan mulutku di kedua susunya. Kemudian aku berpindah ke bawah kakinya dan berjongkok, tanpa aku perintah kakinya telah dibuka lebar-lebar sehingga belahan vaginanya dapat dengan jelas kulihat dengan bulu-bulunya yang agak pirang. Di bagian selangkangan sebelah kiri persis di atas vaginanya aku melihat sebuah tato bergambar burung dara yang berwarna.<br/><br/>Kuperhatikan tato tersebut dan aku akui dengan tato tersebut gairahku nafsuku bertambah dan tato itu menambah keseksian tubuhnya terutama bagian daerah kewanitaannya. Kukecup tato itu lalu aku turun dan kecium setiap jengkal di daerah sensitif tersebut, bulu-bulunya kugesek-gesekkan di mukaku. Lalu ciumanku turun ke bawah lagi dan kusingkapkan bulu-bulunya dan lidahku mulai menelusuri daerah kewanitaanya dari atas hingga lidahku berhenti di klitorisnya. Sambil kuperhatikan wajahnya yang cantik itu kujilati dan kusedot klitorisnya yang berwarna kemerah-merahan karena kulitnya yang bule.<br/><br/>Nafas Hildy semakin memburu dan sesekali menjerit karena tidak menahan nikmatnya ketika klitorisnya kusedot. Mata Hildy masih tertutup dengan mulut yang terbuka sambil mengeluarkan erangan. Kini lidahku turun lagi ke lubang vaginanya, lalu kubuka lubang surga tersebut dengan kedua tanganku, maka aku semakin dapat melihat dengan jelas isi dalam gua tersebut. Setelah kuperhatikan kumasukkan lidahku ke lubang tersebut dan jari tanganku yang lain memainkan klitorisnya. Kedua kaki Hildy menegang seakan-akan ingin merapatkan kakinya. Sambil kutahan dengan kedua tanganku agar kedua kakinya tidak merapat kuhisap dan kutusuk terus lubang vaginanya dengan lidahku.<br/><br/>&#8220;Oohh.. Har.. keep going.. oohh harder.. faster baby.. oohh.. keep going.. ohh yess.. i am cumming.. am cumming.. oohh yess..!&#8221;<br/><br/>Untuk pertama kalinya Hildy mengalami orgasme dengan kakinya yang menegang dan lidahku masih terus menjilati lubang surganya. Kurasakan cairan terus keluar dari vaginanya, aku menikmati harumnya cairan tersebut dan tak henti-hentinya kujilat terus cairan tersebut.<br/><br/>Senjata rudalku sudah sangat tegang dan kurasakan lubang vagina Hildy sudah basah sekali oleh cairan dan ludahku. Tiba-tiba Hildy menarik badanku untuk berada di atas tubuhnya, lalu akupun menuruti apa maunya Hildy. Aku beranjak ke posisi di atas tubuhnya kemudian aku cium lagi bibirnya dan dengan bernafsunya Hildy membalas ciumanku bahkan lidahnya yang mengambil alih kendali di dalam mulutku. Sambil masih berciuman kuarahkan rudalku yang sudah memakai sarung kondom dengan tanganku untuk memasuki lubang surganya. Tanpa mengalami kesulitan rudalku dengan mudahnya memasuki lubang vaginanya hal ini karena memang vagina Hildy sudah basah sekali.<br/><br/>Kurasakan tulang panggul di dalam vaginanya menjepit penisku dan serasa lubang vaginanya agak sempit. Lalu kugenjot pantatku dengan irama naik turun dan setiap kali kumasukkan rudalku ke dalam vaginanya kurasakan gesekan tulang panggul di dinding vaginanya yang membuat batang penisku semakin menegang dan mengeras dan sensasi yang kurasakanpun semakin dasyat. Nafas Hildy semakin memburu dengan erangan yang halus kuperhatikan wajahnya memberikan ekspresi yang sedang kenikmatan. Matanya terkadang ditutup dan dibuka dengan kepalanya yang bergoyang ke kiri dan ke kanan merasakan nikmatnya rudalku yang keluar masuk vaginanya.<br/><br/>Mata Hildy terbuka dan menatapku tajam sambil mulutnya mengeluarkan erangan kecil, &#8220;Ohh yess.. ohh you bastard.. you make me crazy, Har.. ohh yes keep going.. harder.. ohh..&#8221; Mata kami masih saling berpandangan dan tubuh Hildy menegang, dia merasakan orgasme yang kedua.<br/><br/>Aku masih terus menusuk vaginanya yang sudah basah sekali oleh cairannya. Rudalku masih terus melakukan irama keluar masuk lubang vaginanya. Lama kami bermain seks saat itu hingga Hildy merasakan orgasme 4 kali dan 1 kali sewaktu pemanasan. Hingga akhirnya jebol juga pertahananku di ronde ke 4. Kamipun berpelukan dan berciuman lagi sambil merasakan nikmatnya bersetubuh yang cukup lama dan memuaskan. Aku masih memeluk Hildy dengan keadaan kami masih telanjang dia berkata:<br/><br/>&#8220;You know Har, I&#8217;ve never met a guy as strong as you before..you are so strong and I really satisfied. It is crazy because I&#8217;ve never get 5 times orgams, it&#8217;s really really great&#8221;.<br/><br/>Aku merasa bangga dan tersanjung dengan pujiannya itu. Ternyata walaupun badanku tidak tinggi besar dan dengan penisku yang standar orang Indonesia bisa memuaskan gadis bule yang badannya jauh lebih besar.<br/><br/>&#8220;Really..? I am glad to hear that Hildy.. I like to have a sex with as well.. it is so fucking great&#8221;.<br/><br/>&#8220;Western man never give me cumm as many as you did Har.. mostly, they are selfish and they don&#8217;t care about us whether we satisfy or not. They just think their satisfaction, but with you I feel new sensation cause you are not selfish and you can make me satisfy with many cums.. he he.&#8221;<br/><br/>&#8220;Thanks Hildy.., I satisfied as well and you have a great pussy and I like your boobs as well.. but the most I like you is you are so pretty and you know your tatoo it is great it makes me passion everytime I look it he he..&#8221;<br/><br/>Dengan bangga akupun memberinya pujian. Kami sama-sama kecapaian dan masih saling berpelukan dan terkadang berciuman kamipun tidur dengan tubuh masih telanjang bulat. Hingga akhirnya pada tengah malam dan pagi harinya kami melakukannya lagi berulang-ulang. Malam itu aku bermain sex 4 kali dengannya dan ronde yang kita lewati sampai 5-6 ronde.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2008/07/30/gadis-bule-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pacarku Penari Striptease  2</title>
		<link>http://jablayonline.info/2008/07/23/pacarku-penari-striptease-2.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2008/07/23/pacarku-penari-striptease-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 14:10:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/2008/07/23/pacarku-penari-striptease-2/</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang tanganku mulai bergerak kebawah, kubuka kancing celana jeans pendeknya, resluitingnya dan kumasukkan tanganku ke dalam celananya. Terasa di tanganku bulu-bulu lebat keriting dan kasar itu. Kutempelkan jari tengahku ke lipatan empuk yang hangat itu. Yah itu memeknya. Belum pernah aku meraba memeknya, dan baru kali ini aku menyentuhnya, bahkan aku ingin lebih dari itu. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekarang tanganku mulai bergerak kebawah, kubuka kancing celana jeans pendeknya, resluitingnya dan kumasukkan tanganku ke dalam celananya. Terasa di tanganku bulu-bulu lebat keriting dan kasar itu. Kutempelkan jari tengahku ke lipatan empuk yang hangat itu. Yah itu memeknya. Belum pernah aku meraba memeknya, dan baru kali ini aku menyentuhnya, bahkan aku ingin lebih dari itu. Kugerakkan ujung jariku sehingga sedikit terselip ke dalam belahan itu. Basah dan hangat.<br/><br/>&#8220;Jangan Jim..&#8221;, desahnya sambil menahan tanganku dengan tangannya.<br/>Aku tahu dia masih cukup sadar untuik mempertahankan dirinya. Entah kenapa aku tidak marah ataupun kesal lagi padanya, namun perasaan itu berganti jadi rasa ingin menyetubuhinya saat itu juga di dalam mobil Ndut teman kuliahku.<br/><br/>Kutarik tanganku ke atas lagi, aku tidak berhenti melainkan mengubah taktik. Kini aku menarik kepalanya ke dekatku, dan menciuminya lagi. Kali ini lebih brutal, aku menggigit bibirnya dengan lembut dan menjilati lidahnya. Dia tampaknya mulai terangsang lagi, dia membalas ciumanku dengan memburu pula. Kutindih tubuhnya, kudesak tubuhnya sampai dia tak dapat bergerak, hanya bisa menggelinjang terangsang. Tanganku terus memainkan puting susunya, kuelus pinggangnya, kuremas dan naik lagi ke dadanya. Kini aku merasa tubuhnya sudah benar-benar lemas dan pasrah.<br/><br/>Kembali aku mengincar memeknya yang baru tersentuh sedikit olehku tadi. Kini aku menarik turun celananya, dia diam saja, hanya mendesah. Entah karena ciumanku atau karena terangsang karena merasa mulai ditelanjangi olehku. Sekarang celana dalamnya pun keturunkan dan dia diam saja, sambil terus menutup matanya. Sungguh cantik sekali ekspresi wajahnya saat itu, di pelipisnya terlihat butiran keringat, rambutnya awut-awutan, bibirnya terbuka sedikit sehingga terlihat giginya yang putih dan mungil. Dadanya naik turun karena terengah-engah oleh ciumanku.<br/><br/>Kini ciumanku mulai turun lagi, kukecup sedikit demi sedikit ke bawah, sampai akhirnya aku sampai ke pusarnya. Perutnya tampak begitu langsing dan sedikit terkekang, seolah sedang menahan beban berat. Kuremas payudaranya dengan tanganku, dia benar-benar sudah hilang kesadaran saat ini, pikirku. Posisiku sekarang berjongkok di bawah dashboard mobil dan berhadapan dengan selangkangannya. Kuregangkan pahanya hingga remang-remang dapat kulihat bulunya yang benar-benar lebat namun rapi itu. Aku merasa batang penisku langsung mengeras keras saat itu juga. Ingin rasanya aku memasukkan penisku ke dalam memeknya, tapi aku belum puas, aku ingin dia meraung dan menikmati permainan lidahku.<br/><br/>Dia diam saja saat aku mendekatkan mukaku ke selangkangannya, tangannya hanya memegang tangan dan rambutku, seolah berjaga-jaga. Namun dia diam saja saat hidungku mulai menyentuh dinding memeknya. Dia juga tidak mengeluarkan suara apa-apa, yang terdengar cuma desah nafasnya yang ngos-ngosan. Tercium sedikit bau pesing di hidungku, namun aku tidak peduli, malahan makin menambah gelora nafsuku. Kukecup permukaan memeknya, terasa tubuhnya agak terdorong ke depan seolah menahan nikmat dan geli. Kubuka lubang memeknya dengan kedua jari tanganku. Gelap, namun aku tahu kemana aku harus mengarahkan mulutku.<br/>&#8220;Hegg.., hh.., ehh.., Jimm..&#8221;, desahnya panjang saat kukulum dan kujilat memeknya dengan lidah panjangku.<br/>Kedua tangannya menjambak rambutku dan ditekannya kepalaku ke arah memeknya. Uffhh, aku menjadi sulit bernafas oleh ulahnya ini. Belum sampai 10 detik aku menggelitik memeknya, tiba-tiba dia sudah &#8220;keluar&#8221;, ser.., ser.., ser.., terasa ada cairan mengalir dari dalam memeknya, menebar bau yang begitu menggoda. Cairan itu mengalir ke arah mulutku, begitu deras, aku sudah biasa menghadapi keadaan seperti ini, namun harus kuakui kali ini cairan yang menyemburku benar-benar deras. Kuhisap dan kusedot cairan dari memeknya itu sambil menggelitik dinding memeknya dengan lidahku.<br/>&#8220;Aduhh.., uuhh.., uhh.., hegghh, ehh..&#8221;, desahnya panjang.<br/>Tubuhnya terasa langsung lemas dan begitu menikmati permainan lidahku.<br/><br/>Aku sudah tidak sabar lagi sekarang, segera kubuka celanaku, dan penisku langsung menyembul keluar. Kontolku tidak bisa dikatakan terlalu besar, paling cuma 15-16 cm dengan diameter seukuran kepala botol bir, namun keras dan kuat. Paling tidak aku cukup bangga dengan penisku ini. Kutarik tangannya ke arah penisku.<br/>&#8220;Pegangin As..&#8221;, perintahku kepadanya.<br/>Dengan mata tertutup dan masih terengah-engah dia menggenggam penisku. Kutuntun tangannya untuk mengocok penisku, dia mengikutinya dengan pelan, entah karena lemas atau karena belum bisa. Sementara tangannya mengocok penisku, aku menciumi mulutnya kembali, ingin rasanya memuntahkan sedikit cairan dari memeknya tadi ke mulutnya juga agar dia bisa menikmati sedikit betapa nikmatnya cairan itu. Aku begitu bernafsu menciuminya dan meremas payudaranya.<br/><br/>Namun kocokannya pada penisku begitu lemah, dan kurang terasa, hanya geli-geli saja. Tapi penisku benar-benar sudah mengeras. Kulepas genggaman tangannya. Kini kupegang kontolku dan menempelkannya di bibir memeknya. Kugosok-gosok kepala kontolku ke permukaan bulu-bulu itu. Kedua tanganku mencoba lebarkan kangkangan pahanya, dan menahan lututnya dengan tanganku. Kutempel liang memeknya dengan kepala kontolku. Kupandangi sesaat mukanya yang terpejam pasrah itu. Dan akhirnya kuselipkan penisku ke dalam memeknya.<br/>&#8220;Argghh.., sakit Jim.. hegg..&#8221;, dia mengerang.<br/>Aku sedikit tersentak, aku sudah cukup berpengalaman dalam bercinta, khususnya dengan mantan-mantan pacarku. Dapat kuketahui bahwa Astrid masih perawan, atau paling tidak masih sangat jarang dientot, pikirku. Baru kepala kontolku atau hanya sekitar 5 cm penisku masuk, tapi aku merasa sudah tidak bisa menekan lebih dalam lagi. Dia juga sudah begitu gila erangannya.<br/><br/>Ah masa bodoh, pikirku. Paling sakit sedikit, kupaksakan kontolku masuk lebih dalam. Aduh sakit juga kontolku, apalagi dia tampak tersentak dan kesakitan sekali. Tapi dia tidak berteriak, hanya mengerang tertahan sambil menggigit bibirnya. Sudah 10 cm masuknya, kugoyang maju mundur kontolku. Terasa sangat nikmat, kepala kontolku seperti dipijat-pijat dan diurut-urut kuat sekali seperti dicekik. Sekarang raut wajahnya tidak terlihat begitu sakit lagi, dia hanya mendesah &#8220;Ahh.., ahh.., ahh..&#8221;, seiring gerakanku yang maju mundur, tampaknya dia sudah mulai menikmati permainan ini. Aku masih penasaran karena masih ada kurang lebih 6 cm lagi batang penisku yang belum masuk, kini kuhunjamkan seluruhnya ke dalam memeknya.<br/>&#8220;Arghh.., aahh.., aahh.., aahh..&#8221;<br/>Ahh.., dia masih perawan!, teriakku dalam hati. Dapat terdengar dari desahannya yang tampak alami dan benar-benar terhunjam oleh kontolku. Kontolku pun dapat merasakannya, sakit sekali rasanya, begitu sempit dan mencekik, seperti dijepit sampai hanya terasa sebesar jari telunjuk saja rasanya batang penisku yang keras ini.<br/><br/>Untuk beberapa saat aku tak bisa menggerakkan pantatku naik turun karena pinggul Astrid masih terus mengikuti gerakanku, sehingga gesekan kontolku dan memeknya tidak terasa. Hanya berputar dan naik turun pinggul saja. Akhirnya aku menahan pinggangnya, lalu kini kutarik kontolku sekitar 7 cm-an, dan kuhunjam masuk lagi, keluar masuk, keluar masuk, keluar masuk, aku tidak bisa bernafas menahan rasa nikmat ini. Begitu juga Astrid, dia tidak mengeluarkan kata-kata, desahan pun tidak, tampaknya dia hanya menahan nafas dan menikmati pergerakan yang kulakukan.<br/><br/>Beberapa saat kemudian, kami mulai bisa saling mengimbangi gerakan dan mengatur nafas.<br/>&#8220;Ahh.., hgg.., ahh.., hgg.., ahh..&#8221;, desah kami hampir bersamaan.<br/>Sekujur tubuhnya lemas, puting susunya melembut saat kucoba kuraihnya, aku tahu bahwa dia sudah lemas dan berkonsentrasi dengan kenikmatan di memeknya saja. Keringat mengucur dari tubuhku dan tubuhnya. Kugenjot terus memeknya sampai akhirnya dia meregang, menggeliat sambil mendorong tubuhku, namun kutahan dan terus kugenjot memeknya.<br/>&#8220;Jimm.., ah.., ah.., a.., ahh..&#8221;, panjang sekali desahannya kali ini.<br/><br/>Kurasakan cairan hangat kembali mengucur dari memeknya. Aku memperlambat gerakanku,<br />
 membiarkannya menikmati orgasmenya itu. Setelah dia tampak lunglai, aku mulai kembali menambah kecepatan, sekarang giliranku yang menikmatinya pikirku. Dia diam saja, hanya ngos-ngosan sambil sesekali membuka matanya melihat ke arahku dengan serius, seolah menahan rasa nikmat yang teramat sangat. Terus kugoyang dan kugoyang, sampai akhirnya aku merasa batang penisku pun mulai bergetar. Udah mau keluar, pikirku. Sesaat aku tersadar bahwa aku sedang menyetubuhi gadis cantik imut-imut dan lucu seperti cewek jepang ini di atas mobil. Ada sedikit rasa bingung dalam benakku, entah bingung akan mengeluarkan sperma di dalam memeknya, di mulutnya sebagaimana yang biasa kulakukan dengan mantan pacarku dulu ataupun dengan wanita penghibur, atau ingin kutumpahkan saja ke lantai mobil si Ndut.<br/><br/>Ahh, aku tidak bisa berpikir terlalu lama lagi. Kudekap erat tubuhnya, kutindih tubuhnya dan akhirnya, kusembur maniku di dalam memeknya. Di saat bersamaan kurasakan dorongan pinggulnya ke atas sambil tangannya mencakar lenganku, matanya terpejam dan lagi-lagi menggigiti bibirnya, sepertinya lagi-lagi dia orgasme hingga terasa denyut-denyutan di kontolku, terasa hisapan memeknya.<br/>&#8220;Oucchh.., ahh..&#8221;, desahku.<br/>Memek Astrid begitu peret dan seolah menghisap habis kontolku semakin dalam, aku lemas sekali, lututku terasa ngilu, perutku pun terasa sedikit sakit menahan mulas.<br/><br/>Kucium bibirnya, kukecup keningnya sambil menyisir keringat di keningnya. Nafasnya masih terengah-engah, baru saja kami menikmati indahnya persetubuhan. Rasanya aku sudah melupakan semua sakit hati dan kekesalan hatiku padanya beberapa saat yang lalu. Aku sepertinya percaya bahwa Astrid adalah gadis baik, yang hanya bekerja sebagai penari striptease. Akan tetapi tidak murahan. Aku baru saja membuktikannya. Ya, dia terbukti masih perawan, paling tidak untuk beberapa saat yang lalu. Kupeluk tubuhnya erat-erat, kulihat ada beberapa butir air mata mengalir dari matanya. Sungguh aku merasa sangat sayang kepadanya saat itu, entah apakah besok aku masih bisa sayang kepadanya seperti saat ini. Akankah dia seperti Linda, Merry atau Irene yang sebelum-sebelumnya juga berstatus sebagai kekasihku, pacarku. Ahh, masa bodoh, besok adalah besok, begitulah pikirku setiap kali selesai menyetubuhi wanita yang kusukai.<br/><br/>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2008/07/23/pacarku-penari-striptease-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
