<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita seks &#187; Seks sesama jenis</title>
	<atom:link href="http://jablayonline.info/category/seks-sesama-jenis/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jablayonline.info</link>
	<description>Kumpulan cerita dewasa</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 16:17:44 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.3</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Aku dan Chintya</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/10/07/aku-dan-chintya.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/10/07/aku-dan-chintya.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Oct 2007 06:46:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks sesama jenis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/10/07/aku-dan-chintya/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah percumbuanku dengan tante Layla dan tante Dewi, aku ingin melakukannya lagi. Aku berharap kedua tante tersebut datang lagi ke rumahku pada saat sepi. Harapanku tinggal harapan sampai pada pertengahan bulan Mei tahun 2000 lalu aku melakukannya lagi, meskipun bukan dengan tante Layla dan tante Dewi. Aku melakukannya lagi dengan temanku sendiri yang bernama Chintya.
Saat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah percumbuanku dengan tante Layla dan tante Dewi, aku ingin melakukannya lagi. Aku berharap kedua tante tersebut datang lagi ke rumahku pada saat sepi. Harapanku tinggal harapan sampai pada pertengahan bulan Mei tahun 2000 lalu aku melakukannya lagi, meskipun bukan dengan tante Layla dan tante Dewi. Aku melakukannya lagi dengan temanku sendiri yang bernama Chintya.</p>
<p>Saat itu aku, Chintya dan beberapa teman yang lain mengadakan kegiatan camping di sebuah lereng gunung. Setelah mendirikan tenda, aku dan Chintya mencari air sekalian mandi di sungai yang berada beberapa meter ke bawah dari tempat camping itu. Kami berdua sama-sama memakai celana jeans dan kaos oblong putih sambil berkalungkan handuk.</p>
<p>Waktu itu aku sudah lupa dengan kejadian yang kuceritakan di &#8220;AKU DAN TANTE-TANTE&#8221;. Aku ingat lagi ketika Chintya terjatuh masuk ke air. Pakaiannya basah sehingga bagian dalam tubuhnya kelihatan. Dia memakai BH hitam. Aku terangsang dengan keadaannya. Aku lalu menolongnya dan pura-pura terjatuh tepat di hadapannya. Dia lalu mencipratkan air ke tubuhku. Kuajak dia mandi sekalian dan diapun mau. Dia lalu naik ke atas batu dan melepas kaos dan celananya. Kemudian dia duduk bersimpuh dan mengambil sabun yang ada di saku celananya. Posisiku waktu itu berada di belakangnya. Aku semakin terangsang melihatnya hanya memakai pakaian dalam sedang menyabuni tubuhnya.</p>
<p>Aku cepat-cepat melepas pakaianku dan kusisakan CD-ku, kuhampiri dia dan dari belakang aku melepas BH-nya. Dia tidak menolak ketika tanganku mengambil sabun dari tangannya. Aku lalu menyabuni kedua payudaranya yang sama besar dengan punyaku dari belakang sambil meremasnya. Dia membalikkan tubuhnya. Aku jadi leluasa menyabuni tubuhnya. Rupanya dia merasa aku tidak adil. Ketika aku meremas payudara kirinya dia mengambil busa sabun yang ada di payudara kanannya kemudian diusapnya kedua payudaraku. Aku memotong sabun itu dan kuberikan potongannya ke Chintya. Sekarang kami saling menyabuni kedua payudara. Kuberanikan diri mencium bibirnya. Dia membalasnya dengan lembut.</p>
<p>Perlahan-lahan sambil kucium, dia kurebahkan di atas batu dan kuratakan sabunnya ke seluruh tubuhnya bagian atas sampai busanya hilang. Demikian juga dengan apa yang dilakukan pada tubuhku. Sekarang tubuh kami berdua sudah kering dari busa dan kutindih dia sehingga kedua payudara kami saling menempel. Kami terguling dan posisi Chintya sekarang di atasku. Dia lalu berdiri dan cepat-cepat aku dari belakang memeluknya. Aku mendesah ketika kedua payudaraku menempel di punggungnya. Tanganku meremas kedua payudaranya dan turun ke bawah masuk ke dalam CD-nya. Tetapi dia kurang suka dengan sikapku ini sehingga dia menarik tanganku kembali dan melepaskan diri dari pelukanku.</p>
<p>Dia kemudian turun ke air dan kuikuti dia. Kuajak dia melanjutkan permainan yang tertunda di dalam air. Dia tidak mau dan mendorongku. Aku tidak memaksanya. Ketika dia mandi aku juga mandi. Sendiri-sendiri. Malamnya, dia tidur berdua setenda denganku. Kebetulan malam itu dinginnya sampai ke tulang. Meskipun kami sudah memakai pakaian hangat plus berselimutan. Ketika itu kami tidur saling berhadapan.</p>
<p>Aku terbangun dan pikiran gilaku muncul lagi. Kusingkirkan selimut. Kemudian perlahan-lahan kuturunkan retsliting jaketnya. Aku kaget dia ternyata hanya memakai BH di dalamnya. Dia rupanya terbangun juga dan tidak menolak ketika kulepas jaketnya. Bahkan dia melepas jaketku sehingga kedua payudaraku yang tadi kututupi jaket sekarang sudah telanjang. Dia melentangkanku dan dihisapnya kedua payudaraku bergantian. Aku merasakan kehangatan. Mulutnya kemudian naik dan mencium bibirku sambil dia melepas BH-nya. Aku lalu meremas kedua payudaranya begitu juga dengannya. Kemudian di tidur di atasku dan berpelukan.</p>
<p>Kami bergulingan ke atas ke bawah sampai kami tidak merasakan kedinginan lagi bahkan berkeringat. Vaginaku mulai basah sehingga ketika dia di bawahku aku lalu duduk dan melepas retsliting celananya. Dia mendorong tubuhku sehingga aku terjatuh dan langsung dipeluknya sambil dia berkata bahwa dia tidak mau bertindak lebih jauh lagi. Aku memakluminya dan kami akhirnya tidur berpelukan sampai pagi dan tidak merasakan dingin lagi. Keesokan harinya rombongan kami pulang kembali ke kota.</p>
<p>Beberapa hari kemudian, aku yang tidak dapat menahan nafsu untuk bercumbu lagi datang ke tempat kostnya. Kulihat di balik kaos putih tipisnya dia tidak mengenakan BH. Kutanya kenapa dia tidak memakai BH. Dia menjawab bahwa BH-nya basah semua. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Aku duduk mendekatinya dan kuremas kedua payudaranya. Dia mendesah yang kusambut dengan ciuman di bibirnya. Dia mendorongku dan memintaku untuk tidak kurang ajar. Aku takut dia akan menjerit dan terdengar dari luar kamar kostnya. Tapi dia kelihatanya juga kasihan padaku. Sambil dia melepas kaosnya dia mengijinkanku mencumbunya untuk yang terakhir kalinya.</p>
<p>Dia lalu tidur dan aku mulai melepas seluruh pakaianku. Ketika aku ingin melepas CD, dia melarangnya. Aku turuti larangannya. Kemudian kucium bibirnya sambil kuremas kedua payudaranya. Dia juga meremas kedua payudaraku dan salah satu tangannya kemudian turun ke bawah ke pantatku dan diremasnya pantatku. Aku disuruhnya berdiri dan dia dari belakang memelukku dan tangan kirinya meremas kedua payudaraku bergantian sedangkan tangan kanannya masuk ke CD-ku. Jarinya masuk ke vaginaku yang sudah basah serta mengocok vaginaku perlahan-lahan.</p>
<p>Dia kemudian berlutut di hadapanku dan melepas CD-ku. Dijilatinya vaginaku yang sudah basah. Salah satu tanganku menekan kepalanya dan tanganku yang satunya lagi meremas kedua payudaraku sendiri bergantian. Aku mendesah berkali-kali ketika jarinya mengocok vaginaku sambil dijilatinya cairan yang keluar dari vaginaku. Mulutnya kemudian naik ke atas dan menghisap kedua payudaraku sedangkan kedua tangannya melepas CD-nya sendiri.</p>
<p>Setelah itu mulutnya naik ke atas lagi dan mencium bibirku yang juga kubalas dengan jilatan lidah. Sedangkan kedua vagina kami yang basah saling menempel. Tangannya menekan pantatku sehingga kami berpelukan sambil berciuman, berjilat-jilatan, kedua payudara dan vagina saling menempel ditambah dengan jarinya yang keluar masuk ke pantatku yang kubalas dengan jariku yang juga keluar masuk ke pantatnya. Aku tidak mengira Chintya akan sejauh ini. Aku menikmatinya sampai beberapa menit sampai kami terkulai lemas.</p>
<p>Demikian pengalamanku bercumbu dengan Chintya meskipun kemudian dia tidak mau lagi bercumbu denganku. Dia katanya mau hidup normal dan hanya menganggapku sebagai teman. Pengalamanku bercumbu dengan sesama wanita ini masih berlanjut di &#8220;AKU, AMBAR DAN ULLY&#8221;.</p>
<p>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/10/07/aku-dan-chintya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My True Love</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/10/07/my-true-love.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/10/07/my-true-love.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Oct 2007 06:44:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks sesama jenis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/10/07/my-true-love/</guid>
		<description><![CDATA[Hi! mungkin kalian masih ingat denganku, aku Bunga, aku adalah penulis cerita &#8220;TEMAN LESBI DARI CHATTING&#8221;. Sepeninggal Mbak Lina kembali ke Jakarta, karena masa cutinya sudah habis, aku mulai masa avonturirku sebagai seorang lesbian. Bukan berarti aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Mbak Lina, aku masih sering menelepon dia, bahkan liburan semester kemarin, aku main [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hi! mungkin kalian masih ingat denganku, aku Bunga, aku adalah penulis cerita &#8220;TEMAN LESBI DARI CHATTING&#8221;. Sepeninggal Mbak Lina kembali ke Jakarta, karena masa cutinya sudah habis, aku mulai masa avonturirku sebagai seorang lesbian. Bukan berarti aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Mbak Lina, aku masih sering menelepon dia, bahkan liburan semester kemarin, aku main ke tempatnya di bilangan Menteng.</p>
<p>Sejak itu aku berusaha mengenal komunitasku di Jogja, dan akhirnya aku menemukan apa yang aku cari, perkumpulan lesbian di Jogja. Aku tidak menyangka akan menemukannya dalam kondisi Jogja yang serba adem ayem, gemah ripah loh jinawi. Aku pun menemukannya secara tidak sengaja. Waktu itu malam Minggu, aku jalan-jalan menikmati indahnya Jogja, kemudian aku mampir di sebuah Kafe &#8220;J&#8221; yang lumayan jauh dari pusat keramaian. Yang membuatku tertarik tempat itu kelihatan ramai karena pengunjungnya banyak. Lalu aku pun segera memesan minuman ringan dan makanan, sambil menunggu pesanan mataku menyapu seluruh ruangan, hampir semua pengunjung kafe ini adalah perempuan dan menurut perkiraanku mereka rata-rata masih mahasiswa.</p>
<p>Tiba-tiba seorang gadis yang baru datang menyapaku,<br />
&#8220;Hi, boleh duduk semeja nggak?&#8221; sapanya lembut, aku terperangah, aku mengagumi kecantikannya sampai-sampai aku lupa menjawab sapaannya.<br />
&#8220;Eh.. oh.. boleh.. boleh koq,&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Mmm.. sendirian aja nih malem Minggu gini..&#8221;<br />
&#8220;Eh.. iya, nggak ada yang bisa di ajak sih,&#8221; jawabku sekenanya.<br />
&#8220;Yee.. garing donk, eh iya lupa, kenalkan.. aku Yanti,&#8221; katanya sembari mengulurkan tangannya, aku pun menyambut tangannya dengan ragu-ragu.<br />
&#8220;Bunga..&#8221;<br />
&#8220;Wow, what a pretty name..&#8221;<br />
&#8220;Thanks.. by the way kamu koq juga sendirian saja? Nggak bawa gandengannya?&#8221;<br />
&#8220;Yee.. kita khan masih single, masih nyari, abis nggak ada yang cocok seeh,&#8221;</p>
<p>Aku mulai tertarik kepada Yanti, orangnya enak diajak ngobrol dan juga dia cantik, postur tubuhnya hampir sama denganku, hanya saja dadanya lebih kecil dariku. Aku sempat memperhatikannya, dadanya berguncang-guncang ketika kami berdua tertawa, mungkin dia tidak pakai BH, pikirku. Yanti mengenakan paduan antara rok mini, t-shirt dan jaket tapi meski kelihatan sederhana kesannya tetap modis.</p>
<p>Setengah terkejut aku baru menyadari kalau dari tadi Yanti menggosok-gosokkan kakinya ke kakiku sambil melemparkan senyum nakalnya.<br />
&#8220;Eh Bunga, boleh nggak aku nanya?&#8221; aku hanya mengangguk saja.<br />
&#8220;Mmm.. kamu udah punya pacar belom sih.. malem Minggu kini masa sendirian aja.&#8221;<br />
&#8220;Belum tuh.. emang kamu ada kenalan yang cocok buat aku,&#8221; godaku.<br />
Eeh, dianya malah ketawa-ketiwi, jadi sebel aku.<br />
&#8220;Nah.. gimana kalo kamu saja yang jadi pacarku saja Yan.. kayaknya kita klop deh,&#8221; godaku lagi.<br />
&#8220;Yee.. siapa takut,&#8221; jawabnya sambil mencubit tanganku.</p>
<p>Yanti kemudian berdiri, kemudian segera menggandeng tanganku dan beranjak menuju toilet, lalu kami berdua masuk ke salah satu bilik toilet.<br />
&#8220;Yan.. mau ngapain sih?&#8221;<br />
&#8220;Sstt..&#8221; katanya sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibirku.<br />
Kemudian dia mendudukkanku di atas toilet, belum sempat aku berkata apa-apa langsung saja dia duduk di atas pangkuanku dan mendaratkan bibirnya yang lembut ke atas bibirku. Aku sempat terkejut, tapi aku kemudian mulai menikmatinya, aku pun membalas melumat bibirnya dengan penuh nafsu. Tanganku bergerak turun meremas pantatnya, Yanti memelukku dengan erat, lidah kami saling berpilin dan beradu. Tanganku mulai merambat naik dan mulai menyusup ke balik kaos ketatnya, dan benar dia tidak memakai BH rupanya, sehingga aku pun dengan mudah bisa memilin dan mempermainkan puting susunya yang terasa tegang. Beberapa lama kemudian nafasnya mulai memburu dan dia berusaha meremas-remas payudaraku. Yanti pun mulai mengeluarkan desahan-desahan yang cukup keras, &#8220;Ahh.. shh.. augghh..&#8221; desahnya. Dengan sigap aku membungkam mulutnya, &#8220;Yanti.. lebih baik jangan di sini, aku takut nanti..&#8221; belum sempat aku merampungkan kata-kataku, Yanti mengecup bibirku dengan lembut kemudian berdiri dari pangkuanku. Setelah kami membetulkan pakaian, kami pun beranjak pergi.</p>
<p>Kami pun keluar dari toilet, lalu melewati sekelompok cewek yang sedang bersendau gurau di ujung ruangan. Tiba-tiba ada yang ngomong, &#8220;Yanti..! ee Yanti sombong banget sekarang, mentang-mentang udah punya gandengan baru.. huu..&#8221; mereka menyoraki kami. Yanti pun berbalik sambil menunjukkan jari tengahnya ke arah mereka, sambil tertawa, &#8220;F*** (edited) you girls.. hi.. hi.. hi, emang nggak boleh apa!&#8221; jawabnya sambil berlalu bersamaku keluar dari kafe. Aku baru sadar kalau tadi aku masuk ke kafe yang sering dijadikan tempat kencan dan tempat ngumpul lesbian di Jogja.</p>
<p>Yanti pun terus menggandengku, menyusuri jalan di pusat keramaian Jogja. Sepanjang perjalanan Yanti tidak berhenti bicara, terkadang dia melontarkan &#8220;joke-joke&#8221;-nya yang agak porno, aku pun cuma tersenyum saja. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, kami kemudian naik becak yang kebetulan ada di dekat situ. &#8220;Gang **** (edited), Pak!&#8221; kata Yanti sambil menggandengku masuk menaiki becak. Selama perjalanan Yanti menyandarkan kepalanya ke pundakku, aku pun melingkarkan tanganku ke pinggangnya, kupeluk erat tubuhnya, aku merasakan tubuhnya memberiku kehangatan yang mampu mengurangi rasa dinginnya malam. &#8220;Kiri Pak!&#8221; kata Yanti sambil bergegas turun, tampaknya hujan agak sedikit reda. Ternyata kami turun di depan sebuah rumah yang cukup megah dan terkesan agak ramai, karena sesekali kudengar tawa seseorang di dalam. Dan kupikir ini adalah semacam kos-kosan putri atau rumah kontrakan.</p>
<p>&#8220;Yan.. kamu kos di sini?&#8221; tanyaku.<br />
Yanti cuma senyum-senyum, kami pun masuk ke dalam rumah.<br />
&#8220;Ayo masuk.. nggak usah malu-malu, anggap saja rumah sendiri.&#8221;<br />
Aku pun kemudian masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu, sementara Yanti masuk ke dalam, tak lama kemudian dia keluar lagi dengan membawa segelas minuman untukku.<br />
&#8220;Eh Bunga.. aku ganti baju dulu yah.. basah nih entar masuk angin lagi.&#8221;<br />
Aku cuma mengangguk. Dia pun segera berlalu dari hadapanku. Dan hujan pun tampaknya kembali turun dengan derasnya. Wah sudah malam nih, pikirku, mana hujan deras lagi. Tak lama kemudian Yanti pun keluar dan.. ya ampun dia hanya mengenakan celana dalam saja, mungkin dia sudah gila, pikirku, bagaimana kalau ada orang lain yang melihat, kataku dalam hati. Mataku tertumbuk pada sepasang gundukan kembar yang padat berisi dan seakan memanggilku untuk mengulum dan menghisapnya.</p>
<p>&#8220;Bunga.. santai saja, ini rumahku kok! Anak-anak kos itu tinggalnya di belakang, mereka nggak jadi satu denganku, masuknya juga nggak lewat pintu utama, tapi lewat pintu sebelah rumah.. Mmm di rumah juga nggak ada orang, soalnya aku yang mengelola rumah kos ini. Papa sama mama tetap tinggal di Jakarta, dan juga pembantu rumah tangga cuma datang dari pagi sampe sore aja, abis itu pulang!&#8221; katanya sambil melemparkan senyum nakalnya.<br />
&#8220;Bunga.. hujan deras gini.. kamu nggak usah pulang yah! Kamu nginep aja di sini, lagian udah malam, nggak baik cewek pulang malam-malam,&#8221; katanya dengan genit.<br />
Yanti kemudian duduk di sebelahku, dengan manjanya dia melingkarkan tangan kanannya ke pinggangku, sedang kepalanya ia sandarkan ke bahuku.<br />
&#8220;Bunga.. aku udah ngantuk nih, bobok yuk!&#8221; katanya manja, aku hanya diam saja.<br />
Dia beranjak pergi sambil menggandeng tanganku menuju kamarnya. Aku hanya menurut saja karena aku memang sebenarnya juga sudah ngantuk. Aku pun mengikutinya masuk ke dalam kamarnya yang cukup luas dengan ranjang yang rasanya terlalu lebar untuk dipakai seorang diri. Tanpa canggung kulepas pakaianku sehingga aku pun hanya memakai celana dalam saja, dan aku melihat noda basah di celana dalamku, rupanya tadi aku cukup terangsang sampai-sampai celanaku basah.</p>
<p>Yanti terpaku menatap tubuhku, matanya tertuju pada kedua payudaraku yang cukup padat dan kencang. &#8220;Yan.. lho.. kamu kok malah bengong, katanya ngajakin bobok, udah gih sono bobok, aku juga udah ngantuk,&#8221; kataku. Kurebahkan tubuhku di samping tubuhnya sambil membelakanginya, tiba-tiba kedua tangannya mendekap tubuhku dari belakang. Yanti mulai menciumi punggung dan tengkukku, membuatku geli. Sementara kedua tangannya tak henti-hentinya memilin kedua puting susuku sampai tegang. Tanpa sadar aku pun mulai mengeluarkan lenguhan-lenguhan panjang karena keenakan.<br />
&#8220;Aaahh.. sstt.. oouughh..&#8221; lenguhku.<br />
&#8220;Yantii.. uuh.. kamu jahat banget.. ouch.. awas kamu..&#8221;<br />
Aku pun membalikkan tubuhku. Belum sempat aku bicara, bibir Yanti yang padat membungkam mulutku, dia memelukku dengan erat, dia terus menciumiku dengan penuh nafsu, sampai-sampai aku sulit bernafas. Karena Yanti tak juga mengendurkan pelukan serta ciumannya. Aku tak tahan lagi, langsung saja kucubit dengan keras kedua puting susunya yang tampak sangat tegang dan mengeras.<br />
&#8220;Ouch.. ih jahat banget.. kok maen kasar sih,&#8221; protes Yanti.<br />
&#8220;Yee.. kamu duluan tuh yang kasar, aku kan belum siap,&#8221; kilahku.<br />
&#8220;Tapi kan.. punyaku jadi sakit.. jahat!&#8221; kata Yanti dengan marah.<br />
Dia membalikkan tubuhnya membelakangi tubuhku. Tampaknya dia marah, aku pun mendekatinya, kupeluk tubuhnya dari belakang.</p>
<p>Yanti hanya diam saja, dia tidak memberikan perlawanan, mungkin dia benar-benar marah, pikirku. Kucium tengkuknya dengan penuh kelembutan, dan dia masih tidak bergeming sedikitpun. Tanganku mulai merambat naik ke dadanya, kubelai kedua puting susunya dengan lembut. &#8220;Yanti.. masih sakit ya.. Emm.. maafin aku ya.. aku khan tadi cuma becanda.. please.. jangan marah gitu donk.&#8221; Yanti tidak juga menjawab, yang kudengar hanyalah nafasnya yang mulai memburu. Tanpa ba bi Bu langsung saja kubalikkan tubuhnya sehingga terlentang, kemudian kutindih tubuhnya dengan tubuhku. Yanti memejamkan matanya ketika hembusan hangat nafasku menyapu wajahnya, dia tampak pasrah padaku. Kedua dada kami saling berimpit, aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak tidak karuan, nafasnya mulai tersenggal-senggal, kulumat bibirnya yang indah dengan bibirku tanpa memberinya kesempatan sedikitpun untuk membalas perbuatanku. Yanti tidak tahan lagi, dia pun melingkarkan kedua tangannya ke leherku, lidah kami saling bertemu dan berpilin. Sejenak mulai tercium olehku aroma khas kewanitaan yang mulai menyebar di udara, dan tampaknya Yanti pun sudah begitu terangsang, pinggulnya mulai bergoyang-goyang, dan juga ia berusaha menggesek-gesekkan selangkangannya ke tubuhku. Aku pun merasakan hal yang sama dan aku sudah tidak tahan lagi, maka aku pun melepaskan diri dari pelukannya. Segera saja kulepas celana dalamnya, juga celana dalamku yang tampak basah. Begitu kulepas celana dalamnya, jelas tercium olehku aroma khas kewanitaan menusuk hidungku, ini semakin membangkitkan gairahku.</p>
<p>Yanti menjerit tertahan ketika aku menjilat serta mengulum klitorisnya, kemaluannya terasa asin, manis serta gurih di lidahku. Kedua tangan Yanti menahan kepalaku agar aku tetap menjilati kemaluannya. &#8220;Oouughh.. aakh.. Bunga.. geli banget.. sshh.. terus.. enak koq.. aahh..&#8221; Yanti meracau tidak karuan. Tiba-tiba dia berhenti meracau, pinggulnya terangkat, dan aku sempat melihat mimik wajahnya yang seakan menahan kenikmatan yang tiada tara, dan akhirnya pinggulnya mengejang serta aku merasakan kemaluannya semakin basah dan basah. Setelah mengejang beberapa kali akhirnya ia pun terkulai lemas di ranjang sambil mulai mengatur nafasnya yang tidak menentu. Kuambil tisyu untuk membersihkan kemaluannya yang basah. Yanti masih tidak berani menatapku, dia balikkan tubuhnya membelakangiku. Tampaknya dia lelah, pikirku, atau mungkin dia masih marah padaku. Kududuk di samping tubuhnya yang tergolek lemas, kubelai rambutnya yang indah tergerai. &#8220;Yanti.. mm.. kamu masih marah nggak sama aku?&#8221; Yanti tidak menjawab, dia hanya menggeleng pelan. Akhirnya aku pun bisa bernafas lega, akhirnya dia tidak marah lagi padaku. Kumatikan lampu, kemudian kubaringkan tubuhku di samping tubuhnya, aku pun merasa lelah. Tiba-tiba Yanti membalikkan tubuhnya dan memelukku dengan manja. &#8220;Bunga.. I love you,&#8221; katanya sambil mengecup bibirku. Yanti pun tertidur dalam pelukanku.</p>
<p>Semenjak itu kami menjadi sepasang kekasih, dalam hatiku aku percaya bahwa dia adalah cinta sejatiku. Niat kami untuk hidup bersama sebagai sepasang kekasih akhirnya tercium juga oleh kedua orangtuanya. Begitu mengetahuinya, mereka langsung ke Jogja dan menemui kami berdua. Mereka berpikir bahwa niat kami tersebut terlalu mengada-ada, apa kata masyarakat sekitar nanti, kata mereka. Mereka menanyakan kesungguhanku untuk hidup bersama anak gadis mereka. Aku tahu mereka tidak ingin anak gadis mereka disia-siakan hidupnya olehku. Mereka tergolong orang yang moderat, sehingga ketika mereka tahu benar akan kesungguhanku, mereka merestui hubungan kami berdua dengan berbagai syarat yang aku sendiri merasa kewalahan untuk memenuhinya. Tapi bagiku itu tidak mengapa, selama aku bisa bersama dengan Yanti, kekasih yang kucintai. Persetan dengan petualangan cintaku, pikirku. Yanti adalah seorang gadis yang manja, meski usianya tiga tahun lebih tua dariku. Ia baru saja lulus dari sebuah perguruan tinggi swasta di Jogja, tapi ia masih menganggur, katanya ia masih ingin menikmati masa mudanya.</p>
<p>Aku bukan cewek butch (tomboy), aku lebih cenderung bersifat femme, tapi Yanti justru menyukai cewek yang menonjolkan sisi feminisnya. Baginya, cewek &#8220;butch&#8221; sama kasarnya dengan cowok, terus kalau begitu apa bedanya &#8220;butch&#8221; sama cowok, kata dia.</p>
<p>Kini kami adalah sepasang kekasih yang memadu cinta. Selama aku hidup bersamanya dia tidak pernah mengekang keinginanku, bahkan dia tidak melarangku untuk bercumbu dengan wanita lain, asalkan aku hanya memberikan cintaku untuknya. Betapa luhur hatinya, dan aku berjanji tidak akan mengecewakannya.</p>
<p>Kisah ini kutulis atas persetujuan Yanti, sekedar untuk dijadikan bahan kajian, bahwasanya kami, di antara sesama kaum wanita juga bisa tumbuh cinta yang sejati, bukan hanya cinta yang berdasar atas nafsu dan emosi.</p>
<p>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/10/07/my-true-love.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gairah Di Tengah Badai</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/10/07/gairah-di-tengah-badai.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/10/07/gairah-di-tengah-badai.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Oct 2007 12:55:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks sesama jenis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/10/07/gairah-di-tengah-badai/</guid>
		<description><![CDATA[Hai, masih ingat aku kan? Aku Dinda yang ada di &#8220;Darah Keperawanan Ayu&#8221;. Aku masih tetap kuliah dan masih satu kos sama Ayu yang sesekali masih &#8220;main wortel&#8221; bersamaku. Kabar Ayu baik, bahkan sekarang dia semakin mahir melumat puting susuku. Tapi kali ini aku tidak bercerita tentang Ayu, tapi pengalamanku yang lain.
Namanya Apriliani, atau lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hai, masih ingat aku kan? Aku Dinda yang ada di &#8220;Darah Keperawanan Ayu&#8221;. Aku masih tetap kuliah dan masih satu kos sama Ayu yang sesekali masih &#8220;main wortel&#8221; bersamaku. Kabar Ayu baik, bahkan sekarang dia semakin mahir melumat puting susuku. Tapi kali ini aku tidak bercerita tentang Ayu, tapi pengalamanku yang lain.</p>
<p>Namanya Apriliani, atau lebih akrabnya Pri. Dia satu kos-kosan denganku. Kepribadiannya mirip cowok demikianpun postur tubuhnya. Badannya tegap dan cara berjalannya gagah. Wajahnya tidak cantik, tapi lebih terkesan tampan. Hidungnya mancung dengan mata setajam elang dan bibir yang sedikit tebal. Rambutnya keriting sebatas bahu yang sering dikuncirnya ketika kegerahan. Sebenarnya Pri ingin memangkas rambutnya seperti potongan cowok, tapi selalu dilarang oleh kami.<br />
&#8220;Kamu lebih pantes begini Pri, kayak Nicolas Saputra.&#8221; kata Heny, salah teman kosku juga waktu Pri mengutarakan ingin memangkas rambutnya.<br />
Ya.. sekilas memang mirip Nicolas Saputra, terlebih lagi kulitnya putih bersih. Pri itu orangnya pendiam dan sesekali mudah marah, dan paling sering disuruh ngerjain pekerjaan-pekerjaan cowok di kos-kosan itu. Pokoknya kecuali dadanya yang membusung, kelamin dan suaranya mungkin Pri sudah dalam kategori laki-laki.</p>
<p>Yang paling aneh, teman-teman kosku justru yang nggak lesbian (berarti kecuali Ayu yang waktu itu ngesex bareng aku) naksir pada Pri. Walaupun mereka sadar benar lahir batin kalau Pri itu asli cewek. Kemana saja Pri dikuntit dan ada saja yang cari perhatian Pri. Akupun sebenarnya suka sih.. tapi sekedar melirik-lirik wajah gantengnya itu (sebab aku kan bukan lesbian sejati, waktu sama Ayu itu kan kebetulan he.. he..). Pokonya aku masih doyan cowok.</p>
<p>Hari itu aku hanya tinggal berdua dengan Pri di kos-kosan. Sejak kemarin, teman-teman kosku pada mudik (termasuk Ayu) karena mulai kemaren liburan semester sudah dimulai. Rencananya Pri akan pulang besok, sedang aku seminggu lagi sebab ada urusan di BEM (aku termasuk aktivis BEM). Sebelumnya kami bersikap wajar-wajar saja. Pri tidur di kamarnya, aku di kamarku sendiri. Tak ada keinginan untuk tidur sekamar, karena aku kurang suka dengan sikap Pri yang mudah marah.</p>
<p>Mendung yang menggantung sejak siang tadi tiba-tiba berubah menjadi hujan yang lebat disertai angin. Waktu itu kira-kira pukul sembilan malam, waktu aku sudah akan tidur. Sialnya atap kamarku bocor cukup besar sehingga membasahi kasurku.<br />
&#8220;Aduh sial! Gimana nih? Prii.. tolong kesini dong..&#8221; teriakku.<br />
&#8220;Ada apa sih?&#8221; tanya Pri menuju kamarku.<br />
&#8220;Bocor nih, gimana dong?&#8221;<br />
&#8220;Kamarku sendiri juga bocor. Dasar rumah tua! Rumah beginian disewain!&#8221; umpat Pri.<br />
&#8220;Sudah deh, jangan marah-marah. Biasanya juga nggak gini, mungkin karena hujan angin kali. Kalau begitu bantuin aku memindahkan barang-barang ini, nanti kamu aku bantuin juga.&#8221; ujarku.</p>
<p>Akhirnya Pri membantuku memindahkan barang-barang ke tempat yang kering. Lalu akupun turut membantunya. Setelah selesai kamipun segera berkumpul di ruang tengah dengan maksud tidur disitu, sebab kamar lainnya terkunci dari luar. Kebetulan ada TV disitu, daripada jenuh karena nggak jadi ngantuk aku menstel TV itu. Pri menghampiriku.<br />
&#8220;Din, hujan-hujan begini enaknya ngapain?&#8221; tanya Pri.<br />
&#8220;Enaknya tidur, tapi aku nggak jadi ngantuk nih.&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Enaknya makan mie goreng yang masih panas sambil nonton film. Kayaknya Inka punya film bagus deh.&#8221; ujar Pri.<br />
&#8220;Trus?&#8221;<br />
&#8220;Yaa.. kamu kan terkenal pandai bikin mie goreng, aku belum pernah loh ngerasain mie gorengmu.&#8221; kata Pri sedikit merayu.<br />
&#8220;Iya deh, aku buatin.&#8221;</p>
<p>Lalu aku pergi ke dapur untuk membuat mie goreng. Aku kembali teringat pergumulanku dengan Ayu yang awalnya karena mie goreng. Teringat itu aku tersenyum sendiri. Setelah selesai aku bawa dua porsi mie goreng ke ruang tengah. Tapi aku sempat terkejut melihat Pri yang meremas-remas dadanya dengan nafas terengah-engah sambil memandangi layar kaca. Ternyata film yang ditontonnya itu BF. Dadaku bergetar saat memandangi wajah Pri yang telah berubah kulit menjadi merah merona. Apalagi gerakan tangannya yang meremas-remas payudaranya yang tak sebegitu besar hingga kaos yang dikenakannya tertarik-tarik keatas.<br />
&#8220;Auhh.. ehh.. ehh..&#8221; desau Pri sembari memejamkan mata rapat-rapat.<br />
Spontan birahiku bangkit memandang gerakan Pri yang bagai haus cinta. Segera aku letakkan dua piring mie di atas meja lalu aku menghampiri Pri dan memeluknya dari belakang.</p>
<p>&#8220;Eh.. Din, apa-apaan kamu ini?&#8221; tanya Pri kaget.<br />
&#8220;Aku hanya ingin membantumu saja, Pri.&#8221; jawabku sambil meremas-remas buah dadanya.<br />
&#8220;Aahh.. Diin.. sudah aduuh.. ennaak.. gilaa..&#8221;<br />
Tangan Pri mencoba mengusir jemariku. Tapi jemariku sudah mencengkeram kedua buah dadanya dan meremasnya dengan penuh perasaan. Tinggalah Pri merasakan kenikmatan itu dengan desisan-desisan halus. Aku pelintir kedua puting susunya kemudian aku koyak-koyak ke kanan dan ke kiri. Pri menjambak rambutku dengan desahan yang panjang.<br />
&#8220;Aaahh.. achh.. Diinn eennaakk.. sshh..&#8221;<br />
&#8220;Lepasin kaosnya Prii..&#8221; pintaku kemudian.</p>
<p>Pri melepas kaosnya, juga celana pendeknya (kebetulan nih). Akupun segera melepas semua pakaianku kecuali CD. Kemudian aku peluk Pri yang masih di bawah kendaliku itu. Aku remas kembali buah dadanya yang masih terbungkus bra. Aku matikan layar TV karena kupikir Pri sudah dalam kendaliku sepenuhnya. Lalu tanganku bergerak ke punggung Pri dan berusaha membuka pengait bra itu. Sesudah berhasil melepas pengait branya tanganku kian bebas membelai dan meremas buah dadanya yang mengeras. Sementara tanganku bergerilya di kedua bukit bengkaknya, bibirku pun menciumi leher Pri. Pri mendesah tak tahan mendapat perlakuanku itu.<br />
&#8220;Haahh.. kenyotin payudaraku kayak di film tadi Diinn.. please..&#8221;</p>
<p>Aku lepas branya lalu aku tarik tubuh Pri agar menindihku. Dalam posisi menungging Pri menjejalkan susunya ke dalam mulutku. Aku jilati saja ujung putingnya membuat Pri bergelinjangan geli. Lidahku menari-nari mempermainkan puting susu Pri yang bergelantungan tepat di depan wajahku.<br />
&#8220;Ddiinn.. dikenyot dong.. jangan siksa akuu hoohh..&#8221; desahnya ketika puting kanannya aku himpit dengan kedua bibirku.<br />
&#8220;Uuhh.. Diinn gelii.. ouuhh..&#8221;<br />
Pri menyodokkan payudaranya ke dalam mulutku lalu aku kenyot-kenyot payudaranya dengan hisapan-hisapan yang kuat. Pri melenguh-lenguh keenakan, demikianpun aku yang merasakan remasan jemari Pri di payudaraku. Aku balik tubuhnya hingga kini posisiku berada di atasnya. Aku kenyot terus payudara Pri yang sudah membengkak dengan hiasan putingnya yang keras coklat kemerah-merahan dan sangat menggemaskan.<br />
&#8220;Aduuhh.. Diinn.. kayaknya aku kebelet kencing nih..&#8221; rintihnya.<br />
&#8220;Keluarin aja Prii.. kamu horny banget sayy..&#8221; jawabku disela-sela penthilnya.<br />
&#8220;Auhg.. aku nggak tahan.. eeghh.. hohh.. Din aku keluar betulan.. hoohh.. uuhh.. aach..!!&#8221;</p>
<p>Viagra Pri menyembur dari lubang kenikmatannya dalam jumlah banyak. Aku segera melepaskan CDnya lalu menjilati viagra Pri yang membludak di kemaluannya. Pri menjerit-jerit tertahan ketika vaginanya aku hisap kuat-kuat. Rambut kemaluan Pri yang sama keritingnya dengan rambut kepalanya terbungkus aroma khas yang menambah nikmat hisapanku.<br />
&#8220;Hhmm.. rasanya legit banget aacchh..&#8221;<br />
&#8220;Ogghh.. terus sayang.. nikmat sayang.. oogghh.. oogghh.. yeeaahh.. nikmat sayang.. terus sayangg..&#8221;<br />
Erangan demi erangan kami mengalahkan hujan badai malam itu. Tak lagi peduli dengan atap yang bocor ataupun kilat yang menggelegar-gelegar. Yang ada hanya kenikm</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/10/07/gairah-di-tengah-badai.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenapa Aku Jadi Begini</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/10/07/kenapa-aku-jadi-begini.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/10/07/kenapa-aku-jadi-begini.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Oct 2007 11:20:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks sesama jenis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/10/07/kenapa-aku-jadi-begini/</guid>
		<description><![CDATA[Di salah satu sudut Jakarta Utara, di pojokan jalan sekitar Pasar Ular, di satu rumah yang agak lumayan besar, Reni sedang asyik tiduran di kursi sambil membaca majalah. Ibu rumah tangga tanpa anak ini sengaja memakai pakaian minim untuk mengurangi gerahnya Tanjung Priuk saat itu. Perempuan 34 tahun itu hanya mengenakan BH dan celana hawaii [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di salah satu sudut Jakarta Utara, di pojokan jalan sekitar Pasar Ular, di satu rumah yang agak lumayan besar, Reni sedang asyik tiduran di kursi sambil membaca majalah. Ibu rumah tangga tanpa anak ini sengaja memakai pakaian minim untuk mengurangi gerahnya Tanjung Priuk saat itu. Perempuan 34 tahun itu hanya mengenakan BH dan celana hawaii saja sebagai pembungkus tubuh sintal putih mulusnya.</p>
<p>&#8220;Yanti! Bawakan minuman dingin kesini!&#8221; teriak Reni kepada pembantu rumah tangganya.<br />
&#8220;Iya, nyonya!&#8221; terdengar jawaban Yanti.</p>
<p>Tak lama Yanti datang dengan membawa minuman dingin di atas baki.</p>
<p>&#8220;Ini, nyonya,&#8221; katanya sambil meletakkan minuman tersebut di atas meja sambil berjongkok di lantai.<br />
&#8220;Ya, terima kasih,&#8221; ujar Reni sambil melirik Yanti.</p>
<p>Pembantu rumah tangga berusia 41 tahun itu berpenampilan biasa saja. Dengan status janda, wajahnya bisa dibilang standar wajah orang kebanyakan, tidak jelek tidak cantik. Hanya saja tubuhnya yang berperawakan sedang dihiasi oleh sepasang buah dada yang sedang mekar ranum, serta pantat yang bulat padat.</p>
<p>&#8220;Ada yang lainnya lagi, nyonya?&#8221; tanya Yanti sambil matanya melirik pada tubuh mulus majikannya.<br />
&#8220;Tidak ada..&#8221; jawab Reni pendek.<br />
&#8220;Mungkin nyonya pegal-pegal.. Bisa saya pijitin,&#8221; kata Yanti menawarkan jasanya.<br />
&#8220;Apa pekerjaan dapur sudah kamu selesaikan?&#8221; tanya Reni sambil menatap Yanti.<br />
&#8220;Sudah dari tadi, nyonya..&#8221; jawab Yanti.<br />
&#8220;Ya baiklah.. Pijitin aku deh,&#8221; kata Reni.<br />
&#8220;Di tengah rumah saja deh, sambil lihat TV..&#8221; kata Reni sambil bangkit lalu menuju tengah rumah.</p>
<p>Lalu Reni berbaring di atas karpet di depan TV.</p>
<p>&#8220;Saya bawakan bantal dan hand body dulu, nyonya,&#8221; kata Yanti.</p>
<p>Tak lama Yanti sudah datang membawa bantal dan hand body.</p>
<p>&#8220;Pakai bantal, nyonya.. Biar nyaman..&#8221; kata Yanti sambil menyerahkan bantal kepada reni.<br />
&#8220;Boleh saya buka tali BH-nya, nyonya?&#8221; tanya Yanti.<br />
&#8220;Ya bukalah kalau mengganggu,&#8221; kata Reni sambil tengkurap dan memejamkan matanya.</p>
<p>Dengan segera Yanti melepas pengait BH Reni. Setelah diolesi hand body, tangan Yanti mulai memijat dan menelusuri punggung mulus Reni.</p>
<p>&#8220;Mm.. Enak sekali.. Pinter juga mijat ya?&#8221; kata Reni sambil terpejam.<br />
&#8220;Tidak juga, nyonya..&#8221; kata Yanti.<br />
&#8220;Boleh saya naik ke atas tubuh nyonya? Biar saya gampang mijitnya..&#8221; tanya Yanti.<br />
&#8220;Terserah kamulah..&#8221; kata Reni ringan.</p>
<p>Yanti segera menaiki tubuh Reni. Selangkangannya tepat agak menduduki pantat Reni yang bulat padat. Sementara tangannya memijat punggung Reni, Yanti dengan hati-hati sering menyentuh dan mendesakkan selangkangannya ke pantat Reni. Ada kenikmatan tersendiri yang dirasakan Yanti saat itu. Dengan sengaja, sambil memijat, jari-jari tangan Yanti disentuhkan dan diusapkan ke buah dada Reni dari samping badannya. Yanti semakin bergairah karenanya. Apalagi Reni diam saja diperlakukan demikian karena Reni pikir itu adalah bagian dari cara pemijatan.</p>
<p>&#8220;Maaf nyonya..&#8221; kata Yanti sambil turun dari pantat Reni.<br />
&#8220;Apa..?&#8221; kata Reni sambil tetap memejamkan matanya.<br />
&#8220;Apakah nyonya ingin dipijat seluruh badan atau hanya punggung dan kaki saja?&#8221; tanya Yanti sambil menatap sebagian buah dada Reni yang menyembul dari samping badannya.<br />
&#8220;Kalau kamu tidak merasa capek, ya seluruh badanlah..&#8221; kata Reni sambil membuka matanya dan melirik ke Yanti.<br />
&#8220;Kalau begitu, maaf nyonya..&#8221; kata Yanti seperti ragu.<br />
&#8220;Sebaiknya nyonya melepas celana pendeknya agar saya mudah memijat seluruh badan nyonya..&#8221; lanjut Yanti.<br />
&#8220;Maaf nyonya..&#8221; kata Yanti lagi.<br />
&#8220;Ya terserah apa kata kamu deh.. Lagian kita sama-sama wanita, kenapa harus malu..&#8221; kata Reni sambil bangkit lalu melepas celana hawaiinya.</p>
<p>Saat itulah darah Yanti berdesir hebat ketika melihat buah dada Reni yang padat menantang. Apalagi ketika reni sudah melepas celana hawaiinya, celana dalama mini yang dipakai Reni tidak bisa menutupi semua bulu kemaluan yang agak lebat. Jantung Yanti berdebar disertai gairah sex yang makin meninggi. Reni lalu tengkurap lagi tanpa berpikir macam-macam.. Tangan Yanti mulai menyusuri dan memijat betis Reni. Lama-lama naik ke paha. Yanti sangat menikmati rabaan dan pijatannya pada kaki Reni tersebut. Nafasnya menjadi agak memburu dan berat karena desakan gairahnya melihat tubuh mulus majikannya terbaring hanya memakai celana dalam mini saja. Mendekati pangkal paha, tangan Yanti dengan pura-pura tidak disengaja disentuhkan ke selangkangan dan memek Reni yang agak menggembung.</p>
<p>&#8220;Geli, ihh..&#8221; kata Reni sambil menggerakkan pantatnya.</p>
<p>Yanti tersenyum. Melihat Reni tidak marah, tangannya mulai memijat pantat Reni. Sebetulnya tidak cocok kalau disebut memijat, labih pantas kalau disebut meremas. Melihat Reni masih diam, secara perlahan tangannya disusupkan ke celana dalam Reni, lalu dengan perlahan diremasnya pantat Reni. Reni sebenarnya tahu kalau tangan Yanti masuk ke celana dalam dan meremas pantatnya. Tapi rasa berdesirnya nikmat yang dirasakan ketika tangan Yanti meremas pantatnya membuat Reni diam menikmatinya.</p>
<p>&#8220;Mmhh.. Geli.. Mmhh,&#8221; kata Reni dengan mata tetap terpejam sambil menggoyangkan pantatnya ketika jari tangan Yanti mengusap belahan pantatnya berulang kali. Melihat Reni tetap tidak bereaksi, Yanti makin berani. Jarinya dengan sengaja turun agak di tekan sedikit ke lubang pantat Reni lalu turun ke lubang memek Reni bergantian.</p>
<p>&#8220;Mmhh.. Kamu ngapain? Mmhh..&#8221; kata Reni sambil membuka matanya lalu melirik ke Yanti.<br />
&#8220;Setelah dipijat, paling enak dibeginikan, nyonya..&#8221; kata Yanti dengan nafas memburu sambil jarinya sekarang mulai menggosok-gosok belahan memek Reni yang mulai basah.<br />
&#8220;Mmhh..&#8221; hanya itu suara yang keluar dari mulut Reni sambil merasakan sensasi kenikmatan yang luar biasa.</p>
<p>Tampak Reni agak menggoyangkan pantatnya seiring rasa nikmat yang dirasakannya.</p>
<p>&#8220;Kamu ngapainnhh.. Mmhh..&#8221; desah Reni sambil membalikkan badannya.</p>
<p>Ada rasa berontak di dalam hati Reni, tapi rasa nikmat dan gairah aneh telah menguasai badannya. Yanti yang melihat Reni membalikkan badannya dengan segera mengelus dan meremas buah dada Reni, sementara lidahnya segera menjilati puting susunya yang satu.</p>
<p>&#8220;Mmhh.. Mmhh..&#8221; desah Reni sambil mengusap punggung Yanti yang berada diatas tubuhnya.</p>
<p>Setelah beberapa lama lidah dan tangannya memainkan buah dada Reni, Yanti berhenti sesaat. Diperosotkannya celana dalam mini Reni. Reni dengan diam saja diperlakukan demikian oleh pembantunya itu. Yanti bangkit lalu melepas semua pakaiannya. Sementara Reni menatap Yanti dengan mata penuh nafsu.</p>
<p>&#8220;Sudah lama saya memimpikan hal seperti ini, nyonya,&#8221; bisik Yanti sambil melumat bibir Reni.<br />
&#8220;Mmhh..&#8221; desah Reni menikamti lumatan bibir Yanti, sementara tangan Yanti mengusap-ngusap bulu kemaluan Reni yang lebat lalu dengan segera jarinya keluar masuk lubang memek Reni yang sudah sangat licin.</p>
<p>&#8220;Mmhh..&#8221; desah Reni.</p>
<p>Ciuman Yanti lalu turun ke pipi kemudian ke leher Reni. Ciuman dan jilatan lidah Yanti benar-benar membuat Reni merasakan darahnya berdesir disertai rasa nikmat karena jari Yanti keluar masuk memeknya.</p>
<p>&#8220;Ohh.. Yantiihh.. Enakk..&#8221; bisik Reni sambil terpejam, sementara pinggulnya bergoyang karena nikmat. Tak lama lidah Yanti turun ke buah dada. Kembali lidah Yanti dengan ganas melalap habis buah dada dan puting susu Reni.</p>
<p>&#8220;Yantiihh..&#8221; desah Reni sambil terpejam.</p>
<p>Lidah Yanti makin turun ke perut lalu turun lagi ke bulu-bulu kemaluan Reni. Sementara jari tangannya tetap keluar masuk memek Reni, lidah Yanti mulai merayapi selangkangan Reni. Reni makin menggeliat tubuhnya karena sensasi kenikmatan yang tiada tara.</p>
<p>&#8220;Oww.. Ohh.. Ohh..&#8221; jerit lirih Reni sambil meremas rambut Yanti ketika lidah Yanti menjilati klitorisnya.</p>
<p>Tubuh Reni mengeliat-geliat disertai desahan-desahan kenikmatan.. Sementara Yanti terus menijlati memek Reni sambil tangan yang satunya mengusap-ngusap memeknya sendiri sambil sesekali jarinya keluar masuk lubangnya.</p>
<p>&#8220;Yantiihh!! Ohh!!&#8221; jerit tertahan Reni agak keras keluar dari mulut Reni ketika ada semburan hangat terasa di dalam memeknya seiring dengan rasa nikmat luar biasa yang mengiringinya. Serr.. Serr.. Kembali memek Reni menyemburkan air mani ketika dengan ganas Yanti menjilati memeknya. Tubuh Reni menggeliat dan melengkung merasakan nikmat.. Yanti menghentikan jilatannya setelah tubuh Reni lemas. Dinaiki tubuh majikannya lalu mulut yang masih basah oleh cairan memek mengecup bibir Reni. Reni membalas kecupan Yanti.</p>
<p>&#8220;Bagaimana rasanya, nyonya?&#8221; tanya Yanti sambil meraih tangan Reni dan menyentuhkan ke buah dadanya.<br />
&#8220;Mm.. Belum pernah aku merasakan seperti ini..&#8221; kata Reni tersenyum sambil mengelus buah dada Yanti.<br />
&#8220;Kenapa kamu melakukan ini?&#8221; tanya Reni.</p>
<p>Tangannya mulai meremas buah dada Yanti sambil jarinya memainkan puting susunya.</p>
<p>&#8220;Karena saya suka nyonya.. Mmhh,&#8221; kata Yanti sambil mendesah.</p>
<p>Yanti menggesek-gesekan memeknya ke paha Reni.</p>
<p>&#8220;Sudah lama saya ingin bisa seperti ini, tapi selalu takut..&#8221; kata Yanti sambil meraih tangan Reni yang sedang meremas buah dadanya lalu mengarahkan memeknya.</p>
<p>Reni yang sudah mulai mengerti dan menyukai hal ini langsung menggosok memek Yanti. Belahan memek Yanti ditelusuri dengan jarinya.</p>
<p>&#8220;Ohh..&#8221; desah Yanti sambil terpejam.<br />
&#8220;Saya mau, nyonya..&#8221; bisik Yanti meremas tangan Reni yang sedang memainkan memeknya.<br />
&#8220;Mau diapain?&#8221; tanya Reni sambil menatap Yanti.</p>
<p>Yanti tidak menjawab. Yanti segera bangkit dari atas tubuh Reni, lalu dikangkanginya wajah Reni. Didekatkan memeknya ke mulut Reni. Reni yang belum terbisa menjilat sesama memek wanita kelihatan agak rikuh. Tercium oleh Reni aroma khas memek. Bau asem merangsang.. Dengan ragu Reni menjulurkan lidahnya menyentuh belahan memek Yanti. Mata Yanti terpejam. Lama kelamaan setelah beberapa jilatan, Reni mulai merasakan ada semacam perasaan tersendiri ketika menjilati memek Yanti. Apalagi ketika terdengar desahan i disertai gerakan memek Yanti ketika lidah Reni menjilati kelentitnya.</p>
<p>&#8220;Ohh.. Mmhh,&#8221; desah Yanti sambil agak mendesakkan memeknya ke mulut Reni.<br />
&#8220;Enakk.. Nyonyaa..&#8221; desah Yanti sambil jarinya mengusap lubang anusnya berkali-kali.</p>
<p>Setelah menjilat jarinya, sambil memknya dijilat Reni, Yanti mengusap lubang anusnya agak tekan sampai ujung jarinya sebatas kuku masuk ke anus. Sambil menggoyang memeknya, Yanti semakin menekan jarinya dalam-dalam ke anusnya.</p>
<p>&#8220;Nikmaatt,&#8221; jerit lirih Yanti sambil menusuk-nusukan jari ke anusnya sementara pinggulnya terus bergoyang.</p>
<p>Sampai akhirnya Yanti menghentikan gerakan pinggulnya. Didesakan memeknya agak lebih keras ke mulut Reni.. Serr.. Serr.. Yanti orgasme sambil jarinya tetap menusuk-nusuk anusnya.</p>
<p>&#8220;Ohh.. Ohh,&#8221; jerit lirih Yanti. Kemudian tubuhnya lemas berbaring disamping Reni.<br />
&#8220;Enak sekali nyonya..&#8221; bisik Yanti sambil tersenyum menatap reni.<br />
&#8220;Aku baru tahu kalau bercinta sesama wanita ternyata sangat nikmat,&#8221; kata Reni sambil memakai pakaiannya.</p>
<p>Yanti juga demikian.</p>
<p>&#8220;Nyonya marah tidak?&#8221; tanya Yanti sambil menatap Reni.<br />
&#8220;Aku tidak marah kok. Malah aku jadi suka..&#8221; kata Reni sambil tersenyum.<br />
&#8220;Aku mau tahu sejak kapan kamu begini?&#8221; kata Reni sambil duduk di karpet.</p>
<p>Tangannya menggenggam tangan Yanti mesra.</p>
<p>&#8220;Sejak saya bercerai dengan suami saya, nyonya..&#8221; jawab Yanti sambil menatap mata Reni.<br />
&#8220;Pertama kali saya diperlakukan sama seperti sekarang oleh majikan perempuan saya dulu, nyonya..&#8221; kata Yanti lagi.<br />
&#8220;Saya terus berhubungan dengan majikan saya sampai saya pindah ke sini karena majikan laki-laki mulai curiga, nyonya..&#8221; kata Yanti sambil tertunduk.<br />
&#8220;Sejak itulah saya menahan hasrat saya,&#8221; kata Yanti lagi.<br />
&#8220;Mulai sekarang ada aku..&#8221; kata Reni sambil tersenyum lalu mengecup bibir Yanti.</p>
<p>Sejak itulah selama beberapa bulan sampai sekarang Reni dan Yanti, majikan dan pembantu, melakukan hubungan sesama jenis tanpa diketahui suaminya. Pada suatu hari Reni dengan niat tertentu mencoba menghubungi salah satu sahabat baik yang sangat dipercayainya.</p>
<p>&#8220;Hallo,&#8221; kata Reni setelah tersambung dengan telepon sahabatnya itu.<br />
&#8220;Ya, hallo.. Dengan siapa ya?&#8221; tanya suara di telepon.<br />
&#8220;Aku Reni, Roy..&#8221; kata Reni.<br />
&#8220;Oh, kamu.. Ada apa nih telepon aku di kantor gini hari? Tumben..&#8221; kata Roy Takeshi, sahabatnya.<br />
&#8220;Iya nih, Roy.. Aku tak sabar ingin menceritakan sesuatu tentang aku,&#8221; kata Reni sambil tersenyum.<br />
&#8220;Apa? &#8220;Tanya Roy Takeshi.<br />
&#8220;Begini Roy..&#8221; kata Reni sambil menceritakan kisah hubungan sesama jenisnya agak panjang lebar kepada sahabatnya itu.<br />
&#8220;Aku heran.. Kenapa aku jadi begini, Roy?&#8221; ujar Reni.<br />
&#8220;Aku minta kamu buat cerita tentang aku, Roy..&#8221; kata Reni.<br />
&#8220;Baru cerita begini saja aku sudah horny, nih.. Apalagi kalau sudah jadi cerita,&#8221; kata Reni sambil tertawa.</p>
<p>Roy Takeshipun ikut tertawa.</p>
<p>&#8220;Ya sudah, kamu email aku saja tentang cerita kamu garis besarnya,&#8221; kata Roy.<br />
&#8220;Nanti aku buat jadi cerita,&#8221; sambung Roy Takeshi lagi.<br />
&#8220;Baiklah.. Sampai nanti ya, Roy. Bye..&#8221; kata Reni sambil menutup telepon.</p>
<p>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/10/07/kenapa-aku-jadi-begini.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Pramugariku</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/10/07/sang-pramugariku-2.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/10/07/sang-pramugariku-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Oct 2007 07:50:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks sesama jenis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/10/07/sang-pramugariku-2/</guid>
		<description><![CDATA[Aku adalah mahasiswi disebuah universitas swasta di kota &#8220;S&#8221;, nama initialku Rus, dan aku pernah mengirimkan cerita &#8220;Rahasiaku&#8221; kepada situs ini.
*****
Awal mula aku mengalami Making Love dengan seorang wanita yang mengubah orientasi seksualku menjadi seorang biseksual, aku mengalami percintaan sesama jenis ketika usiaku 20 tahun dengan seorang wanita berusia 45 tahun, entah mengapa semuanya terjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku adalah mahasiswi disebuah universitas swasta di kota &#8220;S&#8221;, nama initialku Rus, dan aku pernah mengirimkan cerita &#8220;Rahasiaku&#8221; kepada situs ini.</p>
<p>*****</p>
<p>Awal mula aku mengalami Making Love dengan seorang wanita yang mengubah orientasi seksualku menjadi seorang biseksual, aku mengalami percintaan sesama jenis ketika usiaku 20 tahun dengan seorang wanita berusia 45 tahun, entah mengapa semuanya terjadi begitu saja terjadi mungkin ada dorongan libidoku yang ikut menunjang semua itu dan semua ini telah kuceritakan dalam &#8220;Rahasiaku.&#8221;</p>
<p>Wanita itu adalah Ibu Kos-ku, ia bernama Tante Maria, suaminya seorang pedagang yang sering keluar kota. Dan akibat dari pengalaman bercinta dengannya aku mendapat pelayanan istimewa dari Ibu Kos-ku, tetapi aku tak ingin menjadi lesbian sejati, sehingga aku sering menolak bila diajak bercinta dengannya, walaupun Tante Maria sering merayuku tetapi aku dapat menolaknya dengan cara yang halus, dengan alasan ada laporan yang harus kukumpulkan besok, atau ada test esok hari sehingga aku harus konsentrasi belajar, semula aku ada niat untuk pindah kos tetapi Tante Maria memohon agar aku tidak pindah kos dengan syarat aku tidak diganggu lagi olehnya, dan ia pun setuju. Sehingga walaupun aku pernah bercinta dengannya seperti seorang suami istri tetapi aku tak ingin jatuh cinta kepadanya, kadang aku kasihan kepadanya bila ia sangat memerlukanku tetapi aku harus seolah tidak memperdulikannya. Kadang aku heran juga dengan sikapnya ketika suaminya pulang kerumah mereka seakan tidak akur, sehingga mereka berada pada kamar yang terpisah.</p>
<p>Hingga suatu hari ketika aku pulang malam hari setelah menonton bioskop dengan teman priaku, waktu itu jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, karena aku mempunyai kunci sendiri maka aku membuka pintu depan, suasana amat sepi lampu depan sudah padam, kulihat lampu menyala dari balik pintu kamar kos pramugari itu,<br />
&#8220;Hmm.. ia sudah datang,&#8221; gumamku, aku langsung menuju kamarku yang letaknya bersebelahan dengan kamar pramugari itu. aku bersihkan wajahku dan berganti pakaian dengan baju piyamaku, lalu aku menuju ke pembaringan, tiba-tiba terdengar rintihan-rintihan yang aneh dari kamar sebelah. Aku jadi penasaran karena suara itu sempat membuatku takut, kucoba memberanikan diri untuk mengintip kamar sebelah karena kebetulan ada celah udara antara kamarku dengan kamar pramugari itu, walaupun ditutup triplek aku mencoba untuk melobanginya, kuambil meja agar aku dapat menjangkau lubang udara yang tertutup triplek itu.</p>
<p>Lalu pelan pelan kutusukan gunting tajam agar triplek itu berlobang, betapa terkejutnya aku ketika kulihat pemandangan di kamar sebelahku. Aku melihat Tante Maria menindih seorang wanita yang kelihatan lebih tinggi, berkulit putih, dan berambut panjang, mereka berdua dalam keadaan bugil, lampu kamarnya tidak dipadamkan sehingga aku dapat melihat jelas Tante Maria sedang berciuman bibir dengan wanita itu yang mungkin pramugari itu. Ketika Tante Maria menciumi lehernya, aku dapat melihat wajah pramugari itu, dan ia sangat cantik wajahnya bersih dan mempunyai ciri khas seorang keturunan ningrat. Ternyata pramugari itu juga terkena rayuan Tante Maria, ia memang sangat mahir membuat wanita takluk kepadanya, dengan sangat hati-hati Tante Maria menjilati leher dan turun terus ke bawah. Bibir pramugari itu menganga dan mengeluarkan desahan-desahan birahi yang khas, wajahnya memerah dan matanya tertutup sayu menikmati kebuasan Tante Maria menikmati tubuhnya itu. Tangan Tante Maria mulai memilin puting payudara pramugari itu, sementara bibirnya menggigit kecil puting payudara sebelahnya. Jantungku berdetak sangat kencang sekali menikmati adegan itu, belum pernah aku melihat adegan lesbianisme secara langsung, walaupun aku pernah merasakannya. Dan ini membuat libidiku naik tinggi sekali, aku tak tahan berdiri lama, kakiku gemetaran, lalu aku turun dari meja tempat aku berpijak, walau aku masih ingin menyaksikan adegan mereka berdua.</p>
<p>Dadaku masih bergemuru. Entah mengapa aku juga ingin mengalami seperti yang mereka lakukan. Kupegangi liang vaginaku, dan kuraba klitorisku, seiring erangan-erangan dari kamar sebelah aku bermasturbasi sendiri. Tangan kananku menjentik-jentikan klitorisku dan tangan kiriku memilin-milin payudaraku sendiri, kubayangkan Tante Maria mencumbuiku dan aku membayangkan juga wajah cantik pramugari itu menciumiku, dan tak terasa cairan membasahi tanganku, walaupun aku belum orgasme tapi tiba-tiba semua gelap dan ketika kubuka mataku, matahari pagi sudah bersinar sangat terang.</p>
<p>Aku mandi membersihkan diriku, karena tadi malam aku tidak sempat membersihkan diriku. Aku keluar kamar dan kulihat mereka berdua sedang bercanda di sofa. Ketika aku datang mereka berdua diam seolah kaget dengan kehadiranku. Tante Maria memperkenalkan pramugari itu kepadaku,<br />
&#8220;Rus, kenalkan ini pramugari kamar sebelahmu.&#8221;<br />
Kusorongkan tangan kepadanya untuk berjabat tangan dan ia membalasnya,<br />
&#8220;Hai, cantik namaku Vera, namamu aku sudah tahu dari Ibu Kos, semoga kita dapat menjadi teman yang baik.&#8221;<br />
Kulihat sinar matanya sangat agresif kepadaku, wajahnya memang sangat cantik, membuatku terpesona sekaligus iri kepadanya, ia memang sempurna. Aku menjawab dengan antusias juga,<br />
&#8220;Hai, Kak, kamu juga cantik sekali, baru pulang tadi malam.&#8221;<br />
Dan ia mengangguk kepala saja, aku tak tahu apa lagi yang diceritakan Tante Maria kepadanya tentang diriku, tapi aku tak peduli kami beranjak ke meja makan. Di meja makan sudah tersedia semua masakan yang dihidangkan oleh Tante Maria, kami bertiga makan bersama. Kurasakan ia sering melirikku walaupun aku juga sesekali meliriknya, entah mengapa dadaku bergetar ketika tatapanku beradu dengan tatapannya.</p>
<p>Tiba-tiba Tante Maria memecahkan kesunyian,<br />
&#8220;Hari ini Tante harus menjenguk saudara Tante yang sakit, dan bila ada telpon untuk Tante atau dari suami Tante, tolong katakan Tante ke rumah Tante Diana.&#8221;<br />
Kami berdua mengangguk tanda mengerti, dan selang beberapa menit kemudian Tante Maria pergi menuju rumah saudaranya. Dan tinggallah aku dan Vera sang pramugari itu, untuk memulai pembicaraan aku mengajukan pertanyaan kepadanya,<br />
&#8220;Kak Vera, rupanya sudah kos lama disini.&#8221;<br />
Dan Vera pun menjawab, &#8220;Yah, belum terlalu lama, baru setahun, tapi aku sering bepergian, asalku sendiri dari kota &#8220;Y&#8221;, aku kos disini hanya untuk beristirahat bila perusahaan mengharuskan aku untuk menunggu shift disini.&#8221;<br />
Aku mengamati gaya bicaranya yang lemah lembut menunjukan ciri khas daerahnya, tubuhnya tinggi semampai. Dari percakapan kami, kutahu ia baru berumur 26 tahun. Tiba-tiba ia menanyakan hubunganku dengan Tante Maria. Aku sempat kaget tetapi kucoba menenangkan diriku bahwa Tante Maria sangat baik kepadaku. Tetapi rasa kagetku tidak berhenti disitu saja, karena Vera mengakui hubungannya dengan Tante Maria sudah merupakan hubungan percintaan.</p>
<p>Aku pura-pura kaget,<br />
&#8220;Bagaimana mungkin kakak bercinta dengannya, apakah kakak seorang lesbian,&#8221; kataku.<br />
Vera menjawab, &#8220;Entahlah, aku tak pernah berhasil dengan beberapa pria, aku sering dikhianati pria, untung aku berusaha kuat, dan ketika kos disini aku dapat merasakan kenyamanan dengan Tante Maria, walaupun Tante Maria bukan yang pertama bagiku, karena aku pertama kali bercinta dengan wanita yaitu dengan seniorku.&#8221;<br />
Kini aku baru mengerti rahasianya, tetapi mengapa ia mau membocorkan rahasianya kepadaku aku masih belum mengerti, sehingga aku mencoba bertanya kepadanya,<br />
&#8220;Mengapa kakak membocorkan rahasia kakak kepadaku.&#8221;<br />
Dan Vera menjawab, &#8220;Karena aku mempercayaimu, aku ingin kau lebih dari seorang sahabat.&#8221;<br />
Aku sedikit kaget walaupun aku tahu isyarat itu, aku tahu ia ingin tidur denganku, tetapi dengan Vera sangat berbeda karena aku juga ingin tidur dengannya. Aku tertunduk dan berpikir untuk menjawabnya, tetapi tiba-tiba tangan kanannya sudah menyentuh daguku.</p>
<p>Ia tersenyum sangat manis sekali, aku membalas senyumannya. Lalu bibirnya mendekat ke bibirku dan aku menunggu saat bibirnya menyentuhku, begitu bibirnya menyentuh bibirku aku rasakan hangat dan basah, aku membalasnya. Lidahnya menyapu bibirku yang sedkit kering, sementara bibirku juga merasakan hangatnya bibirnya. Lidahnya memasuki rongga mulutku dan kami seperti saling memakan satu sama lain. Sementara aku fokus kepada pagutan bibirku, kurasakan tangannya membuka paksa baju kaosku, bahkan ia merobek baju kaosku. Walau terkejut tapi kubiarkan ia melakukan semuanya, dan aku membalasnya kubuka baju dasternya. Ciuman bibir kami tertahan sebentar karena dasternya yang kubuka harus dibuka melewati wajahnya.</p>
<p>Kulihat Bra hitamnya menopang payudaranya yang lumayan besar, hampir seukuran denganku tetapi payudaranya lebih besar. Ketika ia mendongakkan kepalanya tanpa menunggu, aku cium leher jenjangnya yang sexy, sementara tanggannya melepas bra-ku seraya meremas-remas payudaraku. Aku sangat bernafsu saat itu aku ingin juga merasakan kedua puting payudaranya. Kulucuti Bra hitamnya dan tersembul putingnya merah muda tampak menegang, dengan cepat kukulum putingnya yang segar itu. Kudengar ia melenguh kencang seperti seekor sapi, tapi lenguhan itu sangat indah kudengar. Kunikmati lekuk-lekuk tubuhnya, baru kurasakan saat ini seperti seorang pria, dan aku mulai tak dapat menahan diriku lalu kurebahkan Vera di sofa itu. Kujilati semua bagian tubuhnya, kulepas celana dalamnya dan lidahku mulai memainkan perannya seperti yang diajarkan Tante Maria kepadaku. Entah karena nafsuku yang menggebu sehingga aku tidak jijik untuk menjilati semua bagian analnya. Sementara tubuh Vera menegang dan Vera menjambak rambutku, ia seperti menahan kekuatan dasyat yang melingkupinya.</p>
<p>Ketika sedang asyik kurasakan tubuh Vera, tiba-tiba pintu depan berderit terbuka. Spontan kami berdua mengalihkan pandangan ke kamar tamu, dan Tante Maria sudah berdiri di depan pintu. Aku agak kaget tetapi matanya terbelalak melihat kami berdua berbugil. Dijatuhkannya barang bawaannya dan tanpa basa-basi ia membuka semua baju yang dikenakannya, lalu menghampiri Vera yang terbaring disofa. Diciuminya bibirnya, lalu dijilatinya leher Vera secara membabi buta, dan tanggannya yang satu mencoba meraihku. Aku tahu maksud Tante Maria, kudekatkan wajahku kepadanya, tiba-tiba wajahnya beralih ke wajahku dan bibirnya menciumi bibirku. aku membalasnya, dan Vera mencoba berdiri kurasakan payudaraku dikulum oleh lidah Vera. Aku benar-benar merasakan sensasi yang luar biasa kami bercinta bertiga. Untung waktu itu hujan mulai datang sehingga lingkungan mulai berubah menjadi dingin, dan keadaan mulai temaram. Vera kini melampiaskan nafsunya menjarah dan menikmati tubuhku, sementara aku berciuman dengan Tante Maria. Vera menghisap klitorisku, aku tak tahu perasaan apa pada saat itu. Setelah mulut Tante Maria meluncur ke leherku aku berteriak keras seakan tak peduli ada yang mendengar suaraku. Aku sangat tergetar secara jiwa dan raga oleh kenikmatan sensasi saat itu.</p>
<p>Kini giliranku yang dibaringkan di sofa, dan Vera masih meng-oral klitorisku, sementara Tante Maria memutar-mutarkan lidahnya di payudaraku. Akupun menjilati payudara Tante Maria yang sedikit kusut di makan usia, kurasakan lidah-lidah mereka mulai menuruni tubuhku. Lidah Vera menjelejah pahaku dan lidah Tante Maria mulai menjelajah bagian sensitifku. Pahaku dibuka lebar oleh Vera, sementara Tante Maria mengulangi apa yang telah dilakukan Vera tadi, dan kini Vera berdiri dan kulihat ia menikmati tubuh Tante Maria. Dijilatinya punggung Tante Maria yang menindihku dengan posisi 69, dan Vera menelusuri tubuh Tante Maria. Tetapi kemudian ia menatapku dan dalam keadaan setengah terbuai oleh kenikmatan lidah Tante Maria. Vera menciumi bibirku dan aku membalasnya juga, hingga tak terasa kami berjatuhan dilantai yang dingin. Aku sangat lelah sekali dikeroyok oleh mereka berdua, sehingga aku mulai pasif. Tetapi mereka masih sangat agresif sekali, seperti tidak kehabisan akal Vera mengangkatku dan mendudukan tubuhku di kedua pahanya, aku hanya pasrah. Sementara dari belakang Tante Maria menciumi leherku yang berkeringat, dan Vera dalam posisi berhadapan denganku, ia menikmatiku, menjilati leherku, dan mengulum payudaraku. Sementara tangan mereka berdua menggerayangi seluruh tubuhku, sedangkan tanganku kulingkarkan kebelakang untuk menjangkau rambut Tante Maria yang menciumi tengkuk dan seluruh punggungku.</p>
<p>Entah berapa banyak rintihan dan erangan yang keluar dari mulutku, tetapi seakan mereka makin buas melahap diriku. Akhirnya aku menyerah kalah aku tak kuat lagi menahan segalanya aku jatuh tertidur, tetapi sebelum aku jatuh tertidur kudengar lirih mereka masih saling menghamburkan gairahnya. Saat aku terbangun adalah ketika kudengar dentang bel jam berbunyi dua kali, ternyata sudah jam dua malam hari. Masih kurasakan dinginnya lantai dan hangatnya kedua tubuh wanita yang tertidur disampingku. Aku mencoba untuk duduk, kulihat sekelilingku sangat gelap karena tidak ada yang menyalakan lampu, dan kucoba berdiri untuk menyalakan semua lampu. Kulihat baju berserakan dimana-mana, dan tubuh telanjang dua wanita masih terbuai lemas dan tak berdaya. Kuambilkan selimut untuk mereka berdua dan aku sendiri melanjutkan tidurku di lantai bersama mereka. Kulihat wajah cantik Vera, dan wajah anggun Tante Maria, dan aku peluk mereka berdua hingga sinar matahari datang menyelinap di kamar itu.</p>
<p>Pagi datang dan aku harus kembali pergi kuliah, tetapi ketika mandi seseorang mengetuk pintu kamar mandi dan ketika kubuka ternyata Vera dan Tante Maria. Mereka masuk dan di dalam kamar mandi kami melakukan lagi pesta seks ala lesbi. Kini Vera yang dijadikan pusat eksplotasi, seperti biasanya Tante Maria menggarap dari belakang dan aku menggarap Vera dari depan. Semua dilakukan dalam posisi berdiri. Tubuh Vera yang tinggi semampai membuat aku tak lama-lama untuk berciuman dengannya aku lebih memfokuskan untuk melahap buah dadanya yang besar itu. Sementara tangan Tante Maria membelai-belai daerah sensitif Vera. Dan tanganku menikmati lekuk tubuh Vera yang memang sangat aduhai. Percintaan kami dikamar mandi dilanjutkan di ranjang suami Tante Maria yang memang berukuran besar, sehingga kami bertiga bebas untuk berguling, dan melakukan semua kepuasan yang ingin kami rengkuh. Hingga pada hari itu aku benar-benar membolos masuk kuliah.</p>
<p>Hari-hari berlalu dan kami bertiga melakukan secara berganti-ganti. Ketika Vera belum bertugas aku lebih banyak bercinta dengan Vera, tetapi setelah seminggu Vera kembali bertugas ada ketakutan kehilangan akan dia. Mungkin aku sudah jatuh cinta dengan Vera, dan ia pun merasa begitu. Malam sebelum Vera bertugas aku dan Vera menyewa kamar hotel berbintang dan kami melampiaskan perasaan kami dan benar-benar tanpa nafsu. Aku dan Vera telah menjadi kekasih sesama jenis. Malam itu seperti malam pertama bagiku dan bagi Vera, tanpa ada gangguan dari Tante Maria. Kami bercinta seperti perkelahian macan yang lapar akan kasih sayang, dan setelah malam itu Vera bertugas di perusahaan maskapai penerbangannya ke bangkok.</p>
<p>Entah mengapa kepergiannya ke bandara sempat membuatku menitikan air mata, dan mungkin aku telah menjadi lesbian. Karena Vera membuat hatiku dipenuhi kerinduan akan dirinya, dan aku masih menunggu Vera di kos Tante Maria. Walaupun aku selalu menolak untuk bercinta dengan Tante Maria, tetapi saat pembayaran kos, Tante Maria tak ingin dibayar dengan uang tetapi dengan kehangatan tubuhku di ranjang. Sehingga setiap satu bulan sekali aku melayaninya dengan senang hati walaupun kini aku mulai melirik wanita lainnya, dan untuk pengalamanku selanjutnya kuceritakan dalam kesempatan yang lain.</p>
<p>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/10/07/sang-pramugariku-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teman Lesbi dari Chatting</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/10/07/teman-lesbi-dari-chatting-2.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/10/07/teman-lesbi-dari-chatting-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Oct 2007 07:36:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks sesama jenis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/10/07/teman-lesbi-dari-chatting-2/</guid>
		<description><![CDATA[Hai, namaku Bunga (samaran), umur 21 tahun, aku masih kuliah di salah satu PTN terkenal di Jogja. Terus terang saja aku adalah seorang gadis yang menyukai sesama jenis dan aku menyadarinya semenjak SMP kelas 3. Dan aku mulai bereksperimen dengan dunia lesbianku semenjak kelas 1 SMA. Ini adalah sepenggal kisah pengalaman pribadiku yang benar-benar terjadi. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hai, namaku Bunga (samaran), umur 21 tahun, aku masih kuliah di salah satu PTN terkenal di Jogja. Terus terang saja aku adalah seorang gadis yang menyukai sesama jenis dan aku menyadarinya semenjak SMP kelas 3. Dan aku mulai bereksperimen dengan dunia lesbianku semenjak kelas 1 SMA. Ini adalah sepenggal kisah pengalaman pribadiku yang benar-benar terjadi. Semua nama orang dan tempat dalam cerita ini sengaja disamarkan untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan.</p>
<p>Kisah ini diawali dengan kegemaranku akan chatting pakai IRC dari dua tahun lalu. Dengan nick name **** (edited), aku iseng menjelajahi dunia cyber. Akhirnya kutemukan chat room/channel yang cocok denganku yaitu #lesbi, #lesbian, #lesbians, #lezbo, dan masih banyak lagi, bahkan aku sempat menjadi salah satu OP di sebuah channel lesbian. Aku pun mulai berkenalan dengan beberapa orang yang kebanyakan dari luar negeri dan yang dari negeri sendiri. Bisa di katakan 50% orang yang online di channel tersebut adalah laki-laki, hal itu yang membuatku menjadi agak jengkel, mereka semua penipu. Sampai akhirnya aku berkenalan dengan seorang wanita.</p>
<p>(***-devil) Hii.. boleh kenal nggak yah?<br />
(****_girl) Boleh.. boleh.. asl-nya donk.<br />
(***-devil) Aku 30 f jkt.. kamu?<br />
(****_girl) Gue 20 f Jogja city.. hi hi hi, eh udah agak tua hihihihi.<br />
(***-devil) Yee.. emang nggak boleh, eh real name dong biar enak manggilnya.<br />
(****_girl) Gue Bunga.<br />
(***-devil) Met kenal Bunga.. kenalkan aku.. Lina.</p>
<p>Obrolan kami pun terus berlangsung, mulai dari hal-hal yang ringan hingga hal-hal yang berbau seks. Hampir setiap hari kami bertemu di channel, kami pun mulai bertukar alamat, nomor telepon, dan foto beserta biodata melalui e-mail maupun langsung saat online di channel. Mbak Lina adalah wanita karier yang termasuk dalam golongan yuppies (young urban profesional), dia belum berkeluarga dan hidup sendiri di tengah kerasnya kehidupan ibukota. Hingga pada suatu hari telepon di kosku berdering.</p>
<p>&#8220;Halo.. bisa bicara dengan Dik Bunga?&#8221;<br />
Aku pun menjawab, &#8220;Ya, saya sendiri.. mm ini dari siapa yah?&#8221;<br />
&#8220;Ini aku Dik.. Mbak Lina!&#8221;<br />
Aku tersentak, ya ampun suaranya begitu halus dan lembut, suaranya mampu menggetarkan hatiku.<br />
&#8220;Ya ampun Mbak Lina.. bikin kaget saja, gimana kabarnya Mbak?&#8221;<br />
&#8220;Baik-baik aja, eh Mbak bisa minta tolong nggak?&#8221;<br />
&#8220;Ada apa Mbak?&#8221;<br />
&#8220;Mbak sekarang ada di Jogja nih.. bisa nggak kamu jemput Mbak di stasiun, sekalian nyari hotel buat Mbak bisa nggak?&#8221;<br />
&#8220;Oh my god.. kenapa nggak bilang-bilang kalau mau ke Jogja Mbak, iya deh Mbak aku jemput sekarang, Mbak tunggu saja di sana ok?&#8221;<br />
&#8220;OK.. makasih yah.&#8221;</p>
<p>Dengan segera sore itu juga aku menjemputnya di stasiun, tak lupa kubawa fotonya agar aku lebih mudah mengenali dirinya. Sesampainya di stasiun, aku langsung bisa mengenalinya, wanita anggun dengan setelan blazer khas wanita karier. Aku pun menyapanya, &#8220;Mbak Lina..!&#8221; Dia pun berpaling kepadaku, dan tampaknya dia terperanjat, &#8220;Ya ampun.. Bunga.. kamu nampak jauh lebih cantik dibandingkan photomu.&#8221; katanya, sembari tanpa malu-malu mengecup pipiku. Aku pun membalasnya dengan agak canggung. &#8220;Udah Mbak.. ngobrolnya sambil jalan aja, udah sore nih, entar kemaleman lagi.. yuk!&#8221; kataku sambil kugandeng tangannya. Selama perjalanan Mbak Lina bercerita bahwa dia ambil cuti seminggu untuk liburan, dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke Jogja, dia ingin mengunjungi Borobudur, Prambanan, pantai Parang Tritis serta daerah wisata lain di sekitar Jogja. Aku mencarikannya hotel yang dekat dengan kosku di sekitar kampus.</p>
<p>Kami pun tiba di hotel T, setelah check in kami berdua segera menuju kamar, tampaknya Mbak Lina sangat lelah akibat perjalanannya.<br />
&#8220;Mbak.. kalau Mbak lelah, jalan-jalan ke Malioboronya besok aja Mbak, mendingan Mbak istirahat aja sekarang, OK?&#8221; kataku sembari beranjak keluar ruangan.<br />
&#8220;Lho Bunga! kamu mau kemana?&#8221; tanya dia.<br />
&#8220;Mmm.. anu Mbak, Bunga pulang ke kos dulu.. mau mandi, kan udah sore.&#8221;<br />
&#8220;Kamu ini gimana, mandi di sini kan bisa, habis mandi nanti kita keluar.. anterin Mbak jalan-jalan, gimana mau khan? please!&#8221; katanya sambil memohon kepadaku, aku pun mengangguk.</p>
<p>Mbak Lina mulai melepas bajunya satu demi satu hingga tinggal BH dan celana dalamnya saja. &#8220;Bunga.. kamu ini gimana, katanya mau mandi, ayo buka bajunya!&#8221; katanya sembari melucuti pakaianku, aku hanya bisa pasrah saja dengan tingkah lakunya, dia pun juga menyisakan BH dan celana dalamku saja, meski tubuhku (175 cm) lebih besar dibanding dia (kurang lebih 165 cm) aku tidak banyak berkutik. Aku bisa melihat lekuk tubuhnya yang indah dengan jelas, dadanya seukuran denganku 36B, dan ia memiliki belahan pantat yang sangat indah. &#8220;Hei.. disuruh mandi kok malah bengong, ayo..!&#8221; dia membimbingku ke kamar mandi, kemudian segera menutup pintu kamar mandi begitu kami berdua berada di dalam. &#8220;Mmm.. mandinya bareng aja yah, biar lebih cepet, &#8220;katanya sambil tersenyum, sekarang dia mulai melepas BH dan celana dalamnya dan tanpa canggung melepas punyaku juga. Terpampang jelas di depanku wanita cantik dan seksi dengan payudara yang padat dan menjulang ke atas, aku bisa membaui aroma kewanitaanya dari kemaluannya, membuat kemaluanku semakin basah. Tanpa pikir panjang aku langsung menubruk dan memeluk tubuhnya, aku memepet tubuhnya ke dinding sehingga dia tidak dapat berkutik lagi, aku bisa merasakan sensasi yang menakjubkan ketika payudaranya bergesekan dengan payudaraku, aku bisa merasakan nafasnya mulai tidak beraturan. Mbak Lina memejamkan matanya, tampaknya dia pasrah dalam pelukanku.</p>
<p>Tanganku pun mulai bergerilya, menyusuri tubuh indahnya, kulumat bibir indahnya dengan bibirku, dia membalas pagutan demi pagutan, dia merangkulkan tangannya ke leherku, napasnya semakin memburu dan aroma khas kewanitaannya semakin keras menusuk hidungku. Aku pun merasa kemaluanku semakin basah, payudaraku pun semakin menegang. Pelan-pelan tanganku mulai merambat menuju kemaluannya dan.. ya ampun.. kemaluannya sudah sangat basah, kuraba selangkangannya dengan lembut, dan ia sempat tersentak ketika jari-jariku meraba klitorisnya, ketika jariku ingin kumasukkan ke dalam liang kemaluannya dia mencegahku dengan wajah memelas, dia menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin aku melakukannya, mungkin dia masih perawan pikirku. Dia pun berkata, &#8220;Sayang.. dielus-elus saja yah.. please,&#8221; katanya sambil memelas. Aku pun hanya mengangguk. Kulumat lagi bibir indahnya sambil mengusap-usap kemaluannya, dia pun juga mulai mengusap kemaluanku. Beberapa saat kemudian aku merasakan sensasi enak yang menjalari tubuhku, hangat dan mulai memusat ke arah kemaluanku.</p>
<p>&#8220;Mbak.. ahh.. ah.. oughh.. terus.. jangan berhentii.. uuhh.. udah mau keluar nih.&#8221;<br />
&#8220;Bunggaa.. aah.. Mbak juga udah mau keluar nih.. ouughh..&#8221;<br />
Sesaat kemudian tubuhku mengejang-ngejang dan aku merasakan cairan hangat mengalir deras dari kemaluanku, begitu juga dengan Mbak Lina dia memelukku dengan erat ketika dia mencapai orgasme, dia melumat bibirku agar tidak berteriak, setelah agak mereda, dia mulai melepaskan pelukannya tapi kemudian ambruk dalam pelukanku, tampaknya dia sangat lelah kemudian aku pun memandikannya dengan lembut dan dia pun juga melakukan sebaliknya kepadaku. Dia tampak pasrah sekali kepadaku, sampai-sampai dia tidak mau melepaskan pelukannya dariku. Kukeringkan badannya dengan handuk sambil sesekali mengelus payudara ataupun kemaluannya dan dia tidak memberikan perlawanan yang berarti sama sekali.</p>
<p>Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, kemudian kuciumi sekujur tubuhnya yang masih bau sabun, kulitnya putih, mulus , halus, lembut, tanpa cacat dan aku suka itu. Mbak Lina sudah tampak pasrah sekali dan dia tidak bisa melakukan perlawanan sama sekali, dan kupikir ini merupakan suatu kesempatan bagiku. Kuikatkan kedua tangannya ke ranjang dengan scarf miliknya, dan dia masih tidak melawan, aku tidak habis pikir, pasti dia menikmatinya, gumamku dalam hati. Kutindih tubuhnya dengan tubuhku, kuciumi bibirnya dengan penuh nafsu. Kembali sensasi menakjubkan itu kurasakan saat tubuhku menghimpit tubuhnya, nafasku menjadi semakin tidak karuan, kedua kemaluan kami saling bergesekan. Oh, aku sudah tidak tahan lagi, langsung saja kuremas kedua payudaranya sambil sesekali kuhisap, berkali-kali ia menjerit lirih. &#8220;Ohh.. mm.. uuouugh.. Bunga.. uuhh..&#8221;jeritnya tertahan. Desahannya itu semakin membuatku kehilangan akal, tanpa pikir panjang kumasukkan kedua jariku ke dalam liang kemaluannya, dan.. &#8220;Bles..&#8221; meskipun liang kemaluannya masih rapat, aku tahu kalau dia sudah tidak perawan, sempat terlintas di pikiranku kenapa dia melarangku melakukannya tadi. Sesaat dia ingin mengatakan sesuatu tapi dengan cepat aku langsung membungkam mulutnya dengan tanganku yang lain, dia pun mulai meronta.</p>
<p>Kembali kutindih tubuhnya agar dia tidak bisa berkutik, sembari jariku masih mengobok-obok kemaluannya. Kedua jariku berusaha mencari titik G-spotnya, sampai akhirnya aku menemukannya, kemudian aku tekan kedua jariku. Beberapa saat kemudian Mbak Lina mulai menggeliat-geliat, kedua kakinya dilingkarkannya ke pinggangku, tubuhnya mulai mengejang, bahkan pantatnya sampai terangkat, mulutnya masih kubungkam dengan tanganku. Tubuh Mbak Lina mengejang dengan hebat sampai-sampai Mbak Lina memejamkan matanya. Setelah agak mereda, aku segera lepaskan tanganku dari mulutnya. Saat itu aku baru menyadari kalau Mbak Lina menangis, aku pun melepaskan ikatan tangannya dan.. &#8220;Plakk.. plakk..&#8221; Mbak Lina langsung menampar wajahku dua kali. Karena aku merasa tidak melakukan suatu kesalahan, aku pun mulai menangis. Belum pernah aku ditampar oleh seorang pun seumur hidupku.</p>
<p>&#8220;Hiks.. hiks.. Bunga.. kamu jahat sekali&#8221; katanya sambil sesenggukan.<br />
&#8220;Mbak.. apa salahku..&#8221; kataku sembari berusaha menghapus air mataku yang bertambah deras.<br />
&#8220;Kamu.. kamu kan harusnya sudah tahu itu, Mbak kan sudah bilang.. jangan kamu lakukan itu tapi tetap saja kamu lakukan itu. Kamu tuh nggak ngerti perasaan Mbak.. hiks,&#8221; katanya sambil menahan tangis.<br />
&#8220;Mbak.. Bunga minta maaf, waktu itu Bunga kalap.. jadi Bunga kehilangan kontrol.. maafkan aku ya Mbak!&#8221; aku mengiba kepadanya.</p>
<p>Mbak Lina tidak memperdulikan ucapanku, dia membalikkan tubuhnya dan membenamkan wajahnya ke bantal sambil menangis tersedu-sedu. Aku menjadi serba salah. Aku pun segera berpakaian, kurasa Mbak Lina sekarang lagi ingin menyendiri, jadi pelan-pelan kutinggalkan kamarnya. Aku keluar dari hotel dengan berat hati karena merasa sangat bersalah. Dua jam kemudian aku kembali ke kamarnya, ternyata dia tak mengunci pintu kamarnya, aku pun masuk dengan mengendap-endap, aku takut dia masih marah kepadaku. Aku melihatnya masih teronggok di atas ranjang, tampaknya dia kelelahan sampai tertidur, kasihan aku melihatnya. Aku pun mendekat dan berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut. Tapi kemudian ia terbangun, mungkin ia terbangun olehku. Dia membetulkan selimutnya sambil menatapku dalam-dalam, aku tak berani menatapnya, aku hanya bisa tertunduk malu.<br />
&#8220;Bunga sekarang jam berapa?&#8221; katanya kepadaku.<br />
&#8220;Jam sembilan Mbak,&#8221; jawabku takut-takut, sambil terus menunduk.<br />
&#8220;Ya ampun.. Mbak belum makan malam nih.. temenin Mbak makan yuk!&#8221; kata dia.<br />
Aku tidak menjawab, aku hanya mengangguk pelan. Dia pun segera berdandan dan berganti pakaian. Lalu dia menggandeng tanganku keluar kamar, dia menggenggam tanganku dengan erat, entah apa yang dipikirkannya.</p>
<p>Kami pun akhirnya makan di sebuah rumah makan dekat hotel yang kebetulan buka sampai malam. Selama makan pun kami saling berdiam diri, tidak mengucapkan sepatah katapun. Sepulang dari rumah makan itu, Mbak Lina kembali menggandeng tanganku dengan erat, seolah tidak ingin melepaskanku. Kami kembali menuju hotel dan segera menuju kamar. Begitu kami masuk kamar, Mbak Lina langsung mendudukkanku di bibir ranjang, aku sudah siap jika ia ingin memarahiku lagi, aku menundukkan kepalaku, tidak berani menatap wajahnya. Tapi kemudian tangannya yang halus dan lembut mendongakkan kepalaku, dia menatapku dalam-dalam. Karena merasa takut, tanpa sadar air mataku mulai mengalir.</p>
<p>&#8220;Lho Bunga.. kenapa kamu menangis?&#8221; tanya dia sambil menghapus air mataku.<br />
&#8220;Mbak.. Bunga minta maaf, Bunga ngaku salah, maafin aku ya Mbak..!&#8221; kataku terisak.<br />
Mbak Lina bersimpuh di hadapanku, diambilnya tanganku, dia genggam erat tanganku.<br />
&#8220;Bunga.. harusnya Mbak yang minta maaf sama kamu, Mbak udah ngasarin kamu.. udah sekarang kamu jangan nangis lagi yah.. sayang,&#8221; kata dia sambil mengecup keningku.<br />
&#8220;Harusnya Mbak memberitahu kamu sejak awal tentang ini.. mm.. begini. Sebenarnya Mbak punya komitmen akan sesuatu..&#8221; katanya memecah suasana.<br />
Dia berkata, &#8220;Mbak pernah berjanji pada diri sendiri, barang siapa yang pertama kali melakukan seperti apa yang kamu lakukan tadi pada Mbak, maka Mbak akan setia bersama dia sebagai seorang kekasih.&#8221;<br />
&#8220;Tapi.. tapi Mbak kan sudah nggak perawan lagi..&#8221; kataku.<br />
&#8220;Iya betul.. tapi aku kehilangan kegadisanku oleh tanganku sendiri, perlu kamu ketahui kamulah orang pertama yang melakukan itu padaku, meski dulu aku punya pacar tapi tidak ada yang seberani kamu dan senekat kamu sehingga mereka tidak pernah berani macam-macam sama Mbak.. kamu mengerti sekarang sayang,&#8221; kata dia.</p>
<p>Dia kembali berkata, &#8220;Bunga.. maukah kamu menjadi kekasihku?&#8221; dia memohon sambil berlutut di hadapanku. Sekali lagi aku tidak ingin membuat kesalahan, aku tidak ingin mengecewakannya lagi, aku pun mengangguk pelan. Mbak Lina pun bangkit, kemudian dia duduk di pangkuanku, lalu dia melepas t-shirt yang dikenakannya, terpampanglah dua gundukan indah di hadapanku, terbalut BH putih berenda. Kami berpandangan, Mbak Lina tersenyum manja, kemudian dia mengecup bibirku, aku pun tersenyum. Kupeluk tubuh indahnya kemudian kubaringkan dia, kemudian.. &#8220;Bunga! Jangan ditindih ya.. please.. habis kamu berat sih,&#8221; katanya manja. Aku pun cuma mengangguk, aku lalu berbaring di sampingnya, kubelai rambutnya dengan lembut, kukecup keningnya, bibirnya, kemudian lidahku mulai menelusuri tubuhnya, kucium dadanya, pagutan demi pagutan membuatnya tampak kegelian. Kulepaskan BH-nya yang dari tadi masih menutupi gunung kembarnya, puting susunya tegak berdiri, tampaknya dia sudah sangat terangsang. Kujilati puting susunya satu persatu. &#8220;Oooh..!&#8221; Mbak Lina mendesah kegelian, aku pun mulai menghisap puting susunya yang sebelah kanan sedang yang kiri kupilin-pilin putingnya dengan kedua jariku. Kali ini Mbak Lina mengeluarkan desahan-desahan yang menggairahkanku, dia memejamkan mata sambil menggigit bibirnya, berusaha menahan gairah yang begitu menggelora.</p>
<p>Setelah cukup puas, kubuka t-shirt beserta BH-ku, kupeluk tubuhnya kemudian kubalikkan tubuhnya sehingga kini ia menindihku. Dia duduk di atas tubuhku. Kini tangannya mulai usil memilin-milin kedua puting susuku sambil tersenyum manja, kulingkarkan tanganku ke pinggangnya sehingga tubuhnya semakin dekat denganku. Kuraih punggungnya sehingga ia kembali menindihku, kedua kaki kami saling membelit, tangannya masih meremas-remas kedua payudaraku, dia menatapku dalam-dalam, aku tahu apa maksudnya. Bibir kami pun bertemu, saling melumat, lidah kami saling berpilin, dada kami saling bergesekan, aku pun mulai merasakan kehangatan bunga-bunga cinta di antara kami.</p>
<p>Mbak Lina sudah tidak sabar lagi, ia mulai melepas celana jeans beserta celana dalam yang dikenakannya, dia juga melepas pakaian yang masih menempel di tubuhku. Kini kami berdua sama-sama telanjang bulat, kami mulai bergumul di atas ranjang, berguling-guling ke sana kemari. Aroma kewanitaan dari kemaluan kami mulai terasa keras menusuk hidung. Kemaluan kami berdua benar-benar basah, terbukti ketika kami saling menggosokkan kemaluan kami sampai terdengar bunyi berdecak-decak pertanda kemaluan kami sangat becek. Bibirku terus melumat bibirnya, nafasnya mulai tidak teratur, kumasukkan kedua jariku ke kemaluannya, dia pun tak mau kalah dia juga memasukkan kedua jarinya ke dalam liang kemaluanku, aku mulai mengobok-obok kemaluannya sambil terus memeluknya dengan erat. Tidak.. sekarang tidak hanya kedua jariku, kini kumasukkan tiga jari ke dalam kemaluannya dan dia pun semakin menggila, tangannya yang satu lagi meremas pantatku dengan kuat, tubuhnya semakin mengejang-ngejang.<br />
&#8220;Ooohh.. oughh.. aahh.. Bungaa.. mau keluar nihh.. oohh..&#8221; dia mendesah dengan keras.</p>
<p>Dan aku pun bisa merasakan cairan hangat keluar dari kemaluannya, aroma kewanitaan pun semakin terasa, membuatku semakin menggila. Tak lama kemudian aku pun mencapai orgasme, tubuhku mengejang dengan hebat, seolah-olah ada yang meledak dalam tubuhku. Kami berdua terkulai lemas dalam pelukan, aku masih sempat melihat dia tersenyum kepadaku, kemudian dia memejamkan matanya dan tidur dalam pelukanku. Keesokan harinya aku terbangun, aku mendapati dirinya masih meringkuk dalam pelukanku, aku sibakkan rambut yang menutupi wajahnya, wajahnya tampak berseri-seri, aku tidak tega membangunkannya, dia begitu cantik dan anggun. Aku pun terus membelainya sampai kemudian ia terbangun. Kukecup bibirnya dengan lembut. &#8220;Selamat pagi..&#8221; kataku lirih.</p>
<p>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/10/07/teman-lesbi-dari-chatting-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masih Sebatas Khayalan</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/10/02/masih-sebatas-khayalan.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/10/02/masih-sebatas-khayalan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Oct 2007 15:20:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks sesama jenis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/10/02/masih-sebatas-khayalan/</guid>
		<description><![CDATA[ Sebut saja aku sebagai Lia.  Aku masih duduk di sebuah SMU di Yogya kelas 2. Tinggiku sekitar 165 cm dengan  berat sekitar 49 kg.
Aku sendiri sebetulnya bukan seorang lesbian. Hanya  kenapa, ketika melihat video klip Nafa Urbach yang berjudul &#8216;Lebih Baik Putus&#8217;,  mataku langsung tertuju ke kedua payudaranya yang indah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="text2"> <span class="font_10" id="cerita_size"><span class="justify"><span class="family_1" id="cerita_font">Sebut saja aku sebagai Lia.  Aku masih duduk di sebuah SMU di Yogya kelas 2. Tinggiku sekitar 165 cm dengan  berat sekitar 49 kg.</p>
<p>Aku sendiri sebetulnya bukan seorang lesbian. Hanya  kenapa, ketika melihat video klip Nafa Urbach yang berjudul &#8216;Lebih Baik Putus&#8217;,  mataku langsung tertuju ke kedua payudaranya yang indah. Yang sangat aduhai. Aku  merasakan perasaan lain ketika melihatnya. Sejak saat itu sering sekali kulihat  video klipnya dan kuperhatikan kedua payudaranya itu.</p>
<p>Tidak itu saja.  Pada acara-acara televisi lainnya, yang kuperhatikan pasti kedua payudara  pengisi acara cewek. Indah atau tidak. Terutama yang memakai pakaian ketat.  Beberapa artis yang kusukai adalah Kris Dayanti, Dian Nitami, Denada, Shanti, AB  Three dan beberapa artis lain. Artis dari luar negeri ada Britney Spears,  Christina Aguilera, Jennifer Lopez, Alicia Keys, Anastasia, Pamela Lee (yang  kedua payudaranya very big) dan beberapa artis lain.</p>
<p>Waktu aku pergi  keluar pun, aku juga diam-diam memperhatikan kedua payudara cewek-cewek yang  kutemui terutama yang berpakaian ketat. Malamnya sebelum tidur pasti aku  masturbasi sampai orgasme sambil membayangkan tubuhku yang telanjang sedang  dipermainkan oleh sesama cewek. Sering sekali kubayangkan seorang cewek dari  belakang meremas kedua payudaraku yang berukuran 36. Sementara di depanku juga  ada cewek lain yang menjilati vaginaku.</p>
<p>Waktu pergi ke warung internet  pertama kali sejak video klip Nafa yang menggairahkan, kukopi ke disket semua  ceritaÂ  pada bagian sesama wanita. Padahal sebelum itu aku hanya suka  membaca bagian konvensional. Itu saja tidak kukopi ke disket. Hanya kubaca di  warung internet. Sampai dirumah dari disket kukopi ke komputerku.</p>
<p>Aku  punya komputer sendiri di kamarku. Kubaca satu persatu sambil membayangkan aku  adalah pelaku dalam cerita tersebut. Aku sudah merasa basah ketika baru membaca  satu cerita. Sehingga aku mengunci pintu kamarku dan melepas semua pakaianku.  Kulanjutkan membaca sambil sesekali kuremas kedua payudaraku bergantian. Jari  telunjukku juga masuk ke vaginaku. Kukeluarmasukkan. Aku mencapai orgasme ketika  baru kubaca cerita yang ketiga. Aku hentikan kegiatanku itu. Dan kulanjutkan  pada malam harinya sebelum tidur.</p>
<p>Disamping membuka situs ini, aku  juga membuka situs-situs yang menyediakan rangkaian gambar lesbian gratis.  Situs-situs itu kutemukan dengan bantuan seorang chatter yang juga lesbian.  Sayangnya aku dikira cowok iseng yang memakai nick cewek dengan masuk ke channel  lesbi (yang sengaja kuketik ketika pertama masuk IRC). Padahal aku berharap dari  dia supaya sudi menjadi girl friend pertamaku. Sejak saat itu aku juga curiga  dengan cewek-cewek yang menjadi teman chattingku. Jangan-jangan mereka adalah  cowok iseng. Sehingga aku tidak berani kasih data sebenarnya aku. Paling cuma  e-mailku saja yang kuberi.</p>
<p>Pernah ada salah satu &#8216;cewek&#8217; yang mengajak  jumpa darat setelah beberapa kali berkirim e-mail. Kebetulan dia juga dari  Yogya. Sebelumnya aku sudah waspada. Kuberikan identitas palsu. Pada waktunya di  bawah sebuah pohon di lembah UGM yang kujanjikan untuk bertemu ternyata tidak  muncul seorang cewek sesuai dengan ciri-cirinya yang diberikan padaku. Yang ada  hanya seorang cowok. Aku yang mengawasi dari jauh menunggu sebentar. Aku  berpikiran bahwa dia belum datang atau sudah datang.</p>
<p>Tetapi karena bawah  pohon yang kujanjikan dipakai orang lain, dia menunggu di tempat lain. Kulihat  di sekitarku ternyata dia tidak ada. Kulihat bawah pohon itu lagi. Cowok itu  tidak ada lagi. Beberapa hari kemudian muncul e-mail darinya yang mengatakan  kalau aku tidak datang. Kubalas dengan mengatakan kalau aku sudah tahu bahwa dia  cowok lengkap dengan ciri-cirinya. Aku juga bilang kalau aku marah sekali  dibohongi. Dia membalas lagi dengan kejujurannya bahwa dia cowok dan minta aku  tidak marah serta mau menjadi temannya. Itu e-mail terakhir yang tidak kubalas.  Aku sudah terlanjur marah.</p>
<p>Kembali ke situs-situs yang kusebut diatas.  Rangkaian gambar-gambar itu sebagian yang menarik kukopi juga ke disket untuk  kemudian kukopi ke komputerku dirumah. Tiap malam sebelum tidur kulihat  gambar-gambar itu sambil bermasturbasi.</p>
<p>Sebetulnya aku mempunyai seorang  teman cewek satu kelas yang menarik perhatianku. Lebih besar dari perhatianku  pada cewek-cewek lain yang kukenal. Sayangnya dia bukan lesbian dan tidak  mungkin jadi lesbian. Dia punya pacar seorang cowok. Dia sering memperlihatkan  pahanya yang putih dihiasi bulu-bulu halus ketika duduk di dalam kelas atau di  halaman sekolah meskipun rok seragam sekolah yang dipakainya tidak terlalu  mini.</p>
<p>Kadang dia tidak memakai kaos dalam ketika memakai baju seragam  sekolah. Sering kelihatan dia memakai bra berwarna hitam. Kadang sempat kulirik  belahan payudaranya yang meskipun tidak besar tapi indah dari sela-sela kancing  baju. Lengan bajunya yang agak ketat juga selalu dinaikkan ke atas  memperlihatkan lengannya yang putih yang juga dihiasi bulu-bulu  halus.</p>
<p>Ingin sekali aku membelai pahanya dan meremas kedua payudaranya.  Sering kukhayalkan dia berhubungan seks denganku. Aku sendiri dalam memakai  pakaian seragam sekolah kuusahakan rapi. Rok seragam sekolah yang kupakai  meskipun diatas lutut, tetapi tidak termasuk mini. Hanya dalam hal pakaian dalam  saja aku agak kelainan sejak melihat video klip Nafa yang sensual. Aku hanya  memakai kaos dalam ketat warna biru tanpa memakai bra. Tetapi tonjolan kedua  payudaraku tidak kentara karena baju seragam sekolahku termasuk  longgar.</p>
<p>Kedua orangtuaku tidak atau belum mengetahui kelainanku ini.  Kalau bisa jangan sampai tahu. Kecuali kakakku yang cowok. Kebetulan dia sering  pakai komputerku untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Suatu kali aku sedang  membuka salah satu cerita 17tahun yang kusimpan di komputerku. Kebetulan  kutinggal ke kamar kecil. Aku sendiri kaget melihatnya sudah di depan  komputerku. Dia agak marah. Bukan marah karena aku membaca cerita seks. Marah  karena kenapa aku membaca cerita sesama wanita. Waktu itu aku tutup-tutupi.  Bahwa aku cuma iseng membaca itu. Tidak ada maksud apa-apa. Dan dia  percaya.</p>
<p>Lain hari ketika aku sekolah dia cek semua directory komputerku.  Waktu aku pulang aku disuruh jujur. Kalau tidak jujur kedua orangtuaku akan  diberitahu. Terpaksa aku jujur. Dia juga coba menasihati aku supaya sadar. Aku  berusaha untuk sadar dengan menghapus file-file yang berhubungan dengan lesbian  seperti yang telah kusebut diatas sesuai dengan yang disarankannya. Tetapi itu  tidak bisa. Waktu ke warung internet aku pasti membuka situs yang berhubungan  dengan lesbian. Itu yang tidak bisa kuhindari. Aku kopi lagi. Kakakku tidak tahu  lagi. Karena kulindungi file-file khusus ini dengan program proteksi yang  kuambil dari internet.</p>
<p>Aku juga punya kakak cewek. Dia kuliah di salah  satu universitas negeri di Bandung. Tiap dua pekan sekali atau sedang liburan  dia pasti pulang. Gilanya. Kadang aku juga mengkhayalkan berhubungan seks  dengannya. Kebetulan kedua payudaranya juga besar. Mungkin ukurannya sama  denganku atau lebih besar. Tapi dia tidak pernah tahu tentang kelainanku. Aku  sendiri berharap kakakku ini juga lesbian. Sehingga dapat mengajariku bagaimana  berhubungan seks dengan sesama wanita.<br />
Dibawah ini aku akan menceritakan  salah satu khayalanku berhubungan seks dengan sesama wanita.</p>
<p>Begini  ceritanya. Suatu hari aku duduk di kursi sofa sedang menonton televisi. Aku  hanya memakai bra dan celana dalam saja. Dari dalam kamar keluarlah seorang  cewek. Sebut saja Astrid. Dia juga hanya memakai bra dan celana dalam saja. Dia  lalu duduk disampingku. Dia belai pahaku. Aku tahu maksudnya. Kumatikan televisi  dengan remote control. Aku menggeser posisi dudukku dengan menyamping. Kugeser  juga tubuh Astrid dengan memegang pundaknya. Kulepas kaitan bra yang dipakainya  dari belakang. Pelan-pelan kuturunkan tali branya yang menggantung di pundaknya.  Kedua payudaranya yang berukuran 36 (sama dengan punyaku) kini sudah telanjang.  Lalu kubelai lengannya dengan lembut.</p>
<p>Astrid menolehkan kepalanya dan  menjulurkan lidahnya. Kusambut lidahnya dengan lidahku. Kami berdua saling  menjilat lidah sambil tanganku tetap membelai pundaknya. Kami berhenti saling  menjilat. Kemudian dari belakang kuremas kedua payudaranya. Astrid dengan  setengah terpejam mengeluarkan desahannya. Lalu kudorong Astrid ke depan. Aku  melepas bra yang kupakai. Aku lalu telentang di sofa dan kutarik pundak Astrid  supaya telentang di atasku. Kini posisi pantatnya berada di selangkanganku  sementara kakiku sendiri mengangkang. Pipinya hinggap di payudara kananku dan  matanya melihat payudara kiriku. Kuremas lagi payudara kirinya dengan tangan  kiriku. Sementara tangan kananku membenarkan posisi kaki kananku yang kurasa  kurang enak.</p>
<p>Kuremas lagi kedua payudaranya. Sementara tangan kiri Astrid  membelai paha kiriku. Dan tangan kanannya membelai vaginanya yang masih ditutupi  celana dalam. Dibukanya sedikit celana dalam bagian bawahnya untuk dapat  membelai vaginanya. Kami berdua tersenyum. Kemudian dia duduk dan melepas celana  dalam yang kupakai. Kuangkat pantatku supaya mempermudah dia dalam melepas  celana dalamku. Setelah itu dia berdiri mau melepas celana dalamnya sendiri. Aku  cegah dia. Kupegang tangannya. Dia malah menarik aku untuk ikut berdiri.  Ditempelkannya kedua payudaranya ke kedua payudaraku. Digesek-gesekkan. Kami  berdua berpelukan sambil kedua tanganku meremas pantatnya yang  besar.</p>
<p>Agak lama kami berpelukan dan merasakan sensasi pada masing-masing  kedua payudara kami yang saling bergesekan. Kemudian aku didorongnya hingga aku  terjatuh dan dengan cepat melepaskan celana dalamnya. Lalu dia mendekatkan  wajahnya ke wajahku. Kembali kami saling menjilat lidah. Kupegang pinggangnya  dan kutumpangkan paha kananku ke pinggangnya. Sementara paha kiriku dijepit  kedua pahanya. Membuat apha kiriku menggesek vaginanya.</p>
<p>Lalu lidahnya  turun ke bawah. Dijilatinya puting payudara kananku sambil tangannya juga  meremas. Aku hanya bisa mendesah dan kedua tanganku meremas rambutnya. Kemudian  disodorkannya payudara kanannya ke mulutku. Tak kusia-siakan kesempatan itu.  Kukulum puting payudara kanannya. Aku sendiri juga meremas payudara kananku  sendiri. Sedangkan payudara kiriku diremas oleh Astrid.</p>
<p>Lalu kudorong  Astrid sehingga dia ganti di bawah tubuhku. Kuremas kedua payudaranya dengan  kedua tanganku. Sementara dia hanya kebagian remasan pada payudara kananku.  Payudara kiriku sendiri menempel di bawah belahan kedua payudara Astrid. Astrid  kembali mendesah sambil matanya setengah terpejam. Lalu aku menggeser tubuhku.  Kudekatkan wajahku ke vagina Astrid. Astrid tahu maksudku. Kedua tangannya  membuka vaginanya. Langsung saja kusedot vaginanya dengan lidahku sambil  membaringkan tubuhku dengan posisi miring. Paha kirinya yang berada di antara  kedua payudaraku diangkat ke atas pinggangku.</p>
<p>Posisi ini ternyata kurang  mengenakkan bagiku. Kusuruh Astrid minggir sebentar. Lalu aku tidur telentang.  Kusuruh Astrid mengangkangkan selangkangannya di depan mulutku dengan bertumpu  pada kedua lutut dan kedua tangannya. Kembali kubuka vagina Astrid dan kusedot  dengan lidahku. Astrid hanya bisa menjerit perlahan. Jeritan kenikmatan. Astrid  rupanya kelelahan. Aku sendiri juga sudah puas menyedot vaginanya. Dia  membaringkan tubuhnya sejenak disampingku. Hanya sebentar. Lalu dengan setengah  berbaring dia ganti menyedot vaginaku dengan lidahnya. Dibukanya vaginaku dengan  tangan kanannya. Ganti aku yang menjerit kenikmatan.</p>
<p>Kami berdua telah  puas. Kami dengan masih telanjang bulat beristirahat sambil saling membelai.  Kemudian datang lagi soerang cewek. Sebut saja Niken. Juga hanya dengan memakai  bra dan celana dalam. Kedua payudaranya yang berukuran 38 tampak ingin keluar  dari bra yang dipakainya. Aku dan Astrid kemudian berdiri menghampirinya. Niken  sedang melepas bra yang dipakainya. Payudaranya yang paling besar diantara kami  bertiga tampak sudah lega. Kami berdua lalu setengah berdiri disamping Niken  dengan bertumpu pada lutut. Aku disamping kaki kanan Niken sedangkan Astrid di  samping kaki kiri Niken. Kami berdua melepaskan celana dalam yang  dipakainya.</p>
<p>Kemudian aku berdiri dan dirangkul Niken. Sementara Astrid  jongkok di depan vagina Niken. Dia lalu menyedot vagina Niken dengan lidahnya  sambil tangan kirinya membelai paha kanan Niken. Tangan kananku juga membelai  paha kanannya dan tangan kiriku memeluk pinggangnya. Tangan kiri Niken sendiri  membuka vaginanya dengan tangan kanan tetap merangkul tubuhku. Niken hanya bisa  mendesah. Lalu kuajak Niken untuk duduk di lantai. Dia lalu duduk dengan kedua  tangannya bertumpu ke belakang. Aku ingin mencicipi vaginanya. Tetapi keduluan  oleh Astrid yang rupanya masih belum cukup merasakan vagina Niken. Kudengar  desahan Niken yang lalu kusumpal dengan ciumanku.</p>
<p>Rupanya Niken tidak  merasa enak dengan ciumanku. Dia membalas ciumanku hanya sebentar. Dia lalu  memegang payudara kananku dan diremasnya. Aku yang dari tadi ingin mencicipi  vagina Niken hanya bisa membantu membuka vaginanya sementara Astrid masih asyik  dengan sedotannya. Niken lalu menjilati puting payudara kananku dan tangan  kirinya meremas payudara kanannya sendiri. Juga payudara kirinya bergantian.  Astrid sudah puas dengan vagina Niken. Dia sedang menjilati jari-jari kaki kanan  Niken yang diangkatnya. Aku segera mendaratkan lidahku ke vagina Niken untuk  menyedotnya. Niken mendesah lagi. Dan seperti juga aku. Astrid lalu menciumnya.  Niken keenakan dengan ciuman Astrid. Lama sekali mereka beerciuman sehingga aku  bisa sepuasnya menyedot vagina Niken dengan lidahku. Kami bertiga akhirnya  mencapai orgasme pada waktu hampir bersamaan. Karena kelelahan kami juga  tertidur di lantai dengan keadaan telanjang.</p>
<p>Ketika aku bangun kulihat  Astrid sudah tidak ada. Dan kudengar suara gemericik air dari kamar mandi.  Kubangunkan Niken dan kami berdua menuju dikamar mandi. Di kamar mandi sudah ada  Astrid. Kami berdua bersama-sama mandi di bawah pancuran sambil sesekali saling  membelai. Kemudian Niken mematikan kran pancuran. Dia mengambil sabun. Karena  sabunnya ada dua, yang satu diserahkan ke aku. Kemudian dia dari depan menyabuni  tubuh Astrid. Sedang aku sendiri dari belakang juga menyabuni tubuh Astrid.  Astrid kemudian berbalik menghadap ke aku. Dia mengambil sabun dariku dan  menyabuni tubuhku. Sedangkan Niken menyabuni tubuhnya sendiri. Sambil sesekali  menyabuni pantat Astrid.</p>
<p>Kupeluk Niken sehingga otomatis tubuh Astrid  berada di antara tubuhku dan tubuh Niken. Tubuh kami yang penuh busa sabun  menempel. Kedua payudaraku dan kedua payudara Astrid menempel. Sedangkan kedua  payudara Niken menempel di punggung Astrid. Astrid lalu melepaskan diri dari  jepitan kedua tubuh yang penuh busa sabun. Dia lalu membersihkan tubuhnya dari  busa sabun dengan air dari ember sambil melihat aku yang sedang saling  menempelkan payudara dengan Niken. Tangan kananku memegang payudara kananku yang  kutempelkan ke payudara kiri Niken yang juga dipegang tangan kirinya. Setelah  menempel lalu tangan kirinya mengangkat paha kananku sehingga vaginaku menggesek  paha kirinya.</p>
<p>Kulihat Astrid sedang menghanduki tubuhnya sambil keluar  kamar mandi sementara kami berdua sedang asyik dengan kedua payudara penuh busa  sabun yang saling bergesekan. Aku lalu membuka kran pancuran kembali untuk  membersihkan busa sabun yang memenuhi tubuhku dan tubuh Niken. Niken ternyata  tidak setuju. Dimatikan lagi kran pancuran.</p>
<p>Lalu didorongnya dengan pelan  ketubuhku sehingga aku bersandar ke dinding kamar mandi. Diremas-remas lagi  kedua payudaraku yang juga kubantu dengan kedua tanganku yang memegang kedua  tangannya. Tubuhnya lalu turun ke bawah dan disiramnya bagian vaginaku dengan  air dari ember. Lalu tangannya membuka vaginaku. Disedotnya vaginaku dengan  lidahnya. Kedua tangannya naik ke atas meremas kedua payudaraku. Agak lama dia  melakukan itu. Dan ketika dia tidak meremas kedua payudaraku, aku meremas  sendiri kedua payudaraku sambil sesekali mendesah.</p>
<p>Setelah puas menyedot  vaginaku dengan lidahnya, dia membuka kran pancuran dan membersihkan tubuhnya  dari busa sabun dengan bantuanku dengan membersihkan tubuhnya dari belakang. Dia  berbalik sambil mematikan kran pancuran dan mengambil botol sabun cair. Dia  kelihatannya belum puas bermain sabun.</p>
<p>Dikucurkannya sabun dari botol itu  ke tangannya lalu diusapkan ke payudara kiriku. Tanganku minta bagian. Niken  mengucurkan sabun ke tanganku dan lalu aku mengusapnya ke payudara kirinya.  Kemudian Niken menjatuhkan botol sabun itu dan meratakan sabun ke kedua  payudaraku. Kulakukan hal yang sama. Kami berdua lalu saling menempelkan kedua  payudara. Dan digesek-gesekkan sampai dia puas.</p>
<p>Niken lalu membalikkan  badannya dan membuka kran air. Dia membersihkan kedua payudaranya dari busa  sabun. Aku dari belakang memegang bagian belakang kepalanya untuk menciumnya  dari belakang. Dibawah kucuran air pancuran aku meraba bagian depan tubuh Niken  dari belakang sambil lidahku menjilati lehernya. Kuremas juga kedua payudaranya.  Akhirnya kami selesai bermain di bawah pancuran. Kami berdua keluar setelah  menghanduki tubuh yang basah. Dilihatnya Astrid dengan masih telanjang sedang  merapikan rambutnya. Dia duduk di pinggir tempat tidur. Niken menghampirinya  sementara aku tetap berdiri untuk melihat apa yang akan dilakukan Niken terhadap  Astrid.</p>
<p>Dari samping dia menjilati puting payudara kanan Astrid. Tangan  Astrid memegang bagian belakang lehernya. Niken lalu duduk di paha kanan Astrid  dan mencium bibirnya. Mereka berdua berciuman sambil saling menjilat lidah. Lalu  Niken menelentangkan Astrid. Dengan setengah berjongkok dia menyodorkan  vaginanya ke mulut Astrid. Astrid lalu menyedot vagina Niken dengan  lidahnya.<br />
Niken lalu agak mundur ke belakang. Sambil setengah berdiri dengan  bertumpu pada kedua lututnya ditekannya kedua payudara Astrid yang kedua  tangannya juga menekan kedua payudaranya sendiri. Sehingga kedua payudara Astrid  yang ditekan dua pasang tangan saling menempel.<br />
Setelah itu Astrid  mendudukkan Niken kembali. Didudukkan di lantai pinggi tempat  tidur.</p>
<p>Astrid sendiri duduk di pinggir tempat tidur. Dari belakang  dijilatnya lidah Niken. Kedua tangannya dipegang kedua tangan Niken untuk  meremas kedua payudara Niken. Astrid lalu menyodorkan payudara kanannya ke mulut  Niken yang langsung menjilati puting payudara kanan Astrid. Tangan kirinya  meremas payudara kiri Niken. Lalu ganti Astrid menyodorkan payudara kirinya ke  mulut Niken yang juga langsung menjilati puting payudara kiri Astrid. Tangan  kanannya meremas payudara kanan Niken.</p>
<p>Aku yang melihat hal itu langsung  ikut bergabung. Kami bertiga bercumbu dengan lebih hebat lagi.<br />
Demikian  cerita khayalanku. Mungkin terlalu bagaimana. Terserah kalian yang menilai. Aku  terus terang saja bahwa cerita di atas merupakan terjemahan dari rangkaian  gambar-gambar yang kuambil dari internet.<br />
Bagi pembaca cewek yang ingin  berkenalan dan berbagi pengalaman denganku bisa menghubungi e-mail  putri_dahlia@plasa.com Tuliskan sedikit biodata (alamat, umur, berat badan,  tinggi, sekolah dan lainnya yang sekiranya perlu) dan sertakan juga foto (kalau  ada). Juga ceritakan pengalaman pertama ketika menjadi lesbian. Bikin aku  &#8216;basah&#8217; dengan ceritanya. Aku usahakan untuk membalas. Bagi pembaca cowok yang  mengirim e-mail, tolong diurungkan saja. Jangan harap mendapat balasan  dariku.</p>
<p>Bagi pembaca cewek yang menghendaki bercyber sex denganku bisa  masuk ke #bluebaby setiap hari Senin atau setiap hari Sabtu pukul 16:30-20:30.  Dijamin pelayananku memuaskan dan membuat ketagihan. Bagi pembaca cowok. Jangan  masuk deh. Akan kutendang nanti. Terimakasih. Tamat</span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/10/02/masih-sebatas-khayalan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tante Rahayu dan Temannya</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/10/02/tante-rahayu-dan-temannya.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/10/02/tante-rahayu-dan-temannya.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Oct 2007 15:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks sesama jenis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/10/02/tante-rahayu-dan-temannya/</guid>
		<description><![CDATA[ Kepada para pembaca yang belum  kenal denganku, kuperkenalkan diriku dulu yach. Aku adalah penulis Gairah Sesama  Jenis dan Tante Rahayu. Berikut adalah kisahku yang lain yang juga berhubungan  dengan Tante Ayu. Setelah hubungan seksku dengan Tante Ayu, aku pernah juga  memulai dengan teman pria, namun entah, menurutku kok rasanya biasa-biasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="text2"> <span class="font_10" id="cerita_size"><span class="justify"><span class="family_1" id="cerita_font">Kepada para pembaca yang belum  kenal denganku, kuperkenalkan diriku dulu yach. Aku adalah penulis Gairah Sesama  Jenis dan Tante Rahayu. Berikut adalah kisahku yang lain yang juga berhubungan  dengan Tante Ayu. Setelah hubungan seksku dengan Tante Ayu, aku pernah juga  memulai dengan teman pria, namun entah, menurutku kok rasanya biasa-biasa  saja.</p>
<p>Saat itu hari Sabtu siang, ketika Tante Ayu sedang ada di Jakarta  dan ia meneleponku (mungkin no.HP-ku, ibuku yang memberikan), untuk datang ke  sebuah motel kecil di daerah Tebet, karena ada suatu hal yang penting katanya.  Aku saat itu tidak yakin Tante Ayu ingin mengajakku &#8216;bermain&#8217;, karena biasanya  Tante Ayu bilang terus terang (jika ia memang ada di Jakarta) hasratnya memang  butuh pelampiasan. Namun dari tempat pertemuannya aku yakin ia ingin &#8216;bermain&#8217;  karena motel tersebut adalah salah satu tempat orang sering  bercinta.</p>
<p>Setelah sampai di Motel R**** (edited), yakni di samping  Universitas Sahid Tebet, aku bertemu Tante Ayu di lobby (yang sangat kecil).  Ketika aku sampai di kamar tante Ayu, barulah aku tahu kenapa ia tidak berterus  terang karena di kamarnya ada tamu, seorang wanita, dan Tante Ayu pun  memperkenalkannya kepadaku, namanya Tante Santi.</p>
<p>Orangnya sangat cantik,  tipe wanita karier. Dengan hidungnya yang mancung, bibirnya yang sensual,  rambutnya yang sebahu, wajah Tante Santi boleh dibilang benar-benar mirip sekali  dengan salah seorang penyiar yang pernah kulihat di TVRI, kalau tidak salah yang  namanya Gina Sonia (mohon maaf.. ini hanya sekedar perbandingan saja). Selain  itu Tante Santi juga memiliki tubuh yang tinggi dan langsing, benar-benar  menambah kecantikannya, dan pada saat itulah fantasiku mulai merana, untuk  bermain bertiga yakni aku, Tante Ayu dan Tante Santi.</p>
<p>Singkat cerita,  kami bertiga ngobrol-ngobrol cukup lama, sampai akhirnya Tante Ayu  memperingatkan Tante Santi, &#8220;Oh iya San, katanya kamu bawa oleh-oleh buat  Sari..&#8221; katanya. &#8220;Oh iya, aku sampai lupa..&#8221; Rupanya Tante Santi memberikan  sebuah hadiah, yang katanya sich sebagai hadiah perkenalan. Setelah kubuka,  rupanya Tante Santi membelikan sebuah gaun pesta yang indah sekali dengan model  bagian atas bahu terbuka, yang hanya digantung dengan tali kecil. Menurutnya ia  membelikan ini atas saran dari Tante Ayu.</p>
<p>Setelah aku berterima kasih,  akhirnya aku pun disuruh mencobanya di depan mereka. Aku sih menurut saja. Aku  mulai membuka pakaianku, tapi Tante Ayu memaksaku untuk melepaskan bra-ku juga  karena nanti jadi tidak bagus jika memakai gaun itu karena akan kelihatan,  katanya. Sebenarnya aku agak risih juga karena di kamar ada Tante Santi, namun  karena Tante Ayu memaksa (dan memang keinginanku untuk ML dengan Tante Santi),  yah kuturuti saja. Aku membuka bra-ku sambil membelakangi mereka, namun kurasa  Tante Santi juga bisa melihat buah dadaku lewat cermin besar di depanku. Setelah  mencoba gaun itu beberapa saat, aku pun melepaskannya.</p>
<p>Namun alangkah  kagetnya aku begitu gaunku terbuka, Tante Ayu menarik tanganku dan memelukku  dari belakang sambil menciumi leherku, dan tangannya meremas-remas buah dadaku.  Edan!, masa Tante Ayu melakukan ini di depan temannya sich, aku benar-benar  heran. Sebenarnya aku malusekali dikerjai di depan Tante Santi (walau aku mau),  mau protes, tapi nggak bisa, tapi tampaknya Tante Santi tidak terkejut  sedikitpun.</p>
<p>Tak berapa lama Tante Ayu berkata, &#8220;Sar.. boleh kan kalau  Tante Santi ikut bergabung..?&#8221; Aku yang ketika itu, birahiku sudah naik karena  diperlakukan begitu, hanya mengangguk saja sambil malu-malu. Sambil tersenyum,  Tante Santi pun langsung mendekatiku sambil bilang, &#8220;Sar.. boleh kan Tante  ikutan..?&#8221; Sekali lagi aku hanya mengangguk malu-malu.</p>
<p>Tante Santi mulai  mengecup bibirku, lalu memainkan lidahnya, setelah itu dijilatinya leherku terus  ke bawah ke dadaku, dijilat dan diisap-isapnya puting susuku, aku  menggelinjang-gelinjang kegelian. Jilatan Tante Santi turun lagi, ke perutku.  CD-ku diloloskannya ke bawah, sementara Tante Ayu tetap memelukku sambil meremas  buah dadaku dari belakang. Tante Santi mengangkat kaki kananku, sehingga pahaku  menumpang di pundaknya, lalu ia mulai menjilat kemaluanku, &#8220;Aduh gelinya..&#8221;  Dengan semangat Tante Ayu menjilati klitorisku, dan kadang-kadang dimasukkan  lidahnya ke dalam liang senggamaku, menjilati semua yang ada di dalamnya.  &#8220;Aaahh..&#8221; aku menggelinjang-gelinjang kegelian dan keenakan, lututku lemas  sekali, aku sampai tak kuatberdiri, tubuhku serasa melayang, namun Tante Ayu  memelukku dari belakang hingga aku tidak merosot ke bawah. Aku bahkan sampai  tidak dapat merasakan kaki kiriku menyentuh tanah.</p>
<p>Beberapa menit aku  diperlakukan nikmat, namun agaknya Tante Ayu kasihan melihat keadaanku, lalu  digendongnya tubuhku, sambil ketawa-ketiwi mereka berdua membaringkan tubuhku  terlentang di atas ranjang. Aku tidak dapat mengungkapkan perasaanku, tapi yang  jelas karena permainan dihentikan sementara, aku jadi seperti kebingungan karena  birahiku sudah sangat tinggi, ingin segera dilanjutkan rasanya. Namun mereka  tampaknya malah menurunkan tempo permainan, menggantinya dengan yang lain. Tante  Ayu menjilatiku dari atas, dari wajahku terus sampai buah dadaku. Dan Tante  Santi menjilatiku dari ujung kaki, terus.. ke betisku.. ke pahaku.. dan akhirnya  sampai ke selangkanganku.</p>
<p>Aku rasanya jadi semakin gila diperlakukan  begini. Untunglah mereka tahu akan hal ini, Tante Ayu kembali meremas-remas,  sambil menjilati dan mengisap-isap puting buah dadaku. Dan Tante Santi kembali  menyerang liang senggamaku dengan buasnya. Dengan buasnya mereka berdua  menikmati tubuh mungilku ini. &#8220;Aaahh..&#8221; rasanya seperti melayang di awan. Entah  aku tak bisa berpikir apa saja yang dilakukan mereka kepadaku. Aku hanya bisa  merasakan kenikmatan yang amat sangat, kegelian yang luar biasa enak dari buah  dadaku yang dikerjain Tante Ayu, dan yang terutama dari klitorisku dan dari  dalam kemaluanku, yang dikerjain Tante Santi habis-habisan. Seluruh tubuhku  rasanya bergelinjang semua.</p>
<p>Akhirnya aku tak kuat lagi menahannya, rasa  seperti ingin pipis tiba-tiba menyerangku, aku ingin menahannya, tapi tak kuat  rasanya dan, &#8220;Aaahhgghh..&#8221; aku menjerit kuat. Keluarlah semua, nikmatnya  selangit, perasaanku seperti melayang-layang.. &#8220;Nikmaat sekali..&#8221; Tante Santi  dengan rakus tampaknya menyedot apa saja yang ada dalam kemaluanku, sampai  tubuhku lemas.</p>
<p>Kemudian aku diberinya istirahat beberapa menit, tapi  kemudian mereka kembali menjalankan aksinya. Tante Santi mengatakan kepadaku  bahwa ia bisa membangkitkan semangatku kembali. Lagi-lagi aku harus pasrah saja.  Sementara Tante Ayu mengusap-usap buah dadaku, Tante Santi mulai memijat telapak  kakiku, aku merasa enak dan nikmat, lalu tanpa segan-segan, Tante Santi dengan  nafsu menciumi dan menjilati telapak kakiku yang mulus, &#8220;Iiihh.. geli  rasanya..&#8221;</p>
<p>Setelah ia puas, aku disuruhnya telungkup. Tante Ayu memijat  punggungku, dan Tante Santi kembali memijat telapak kakiku, terus ke atas.. ke  betis.. dan ke buah pantatku. Tiba-tiba dengan nakalnya jari Tante Santi masuk  melalui celah pantatku mengoles bibir kemaluanku, &#8220;Aaahh..!&#8221; aku menjerit kaget,  dan mereka kembali ketawa-ketiwi lagi. Lalu melalui celah pantatku itu tangan  Tante Santi mulai membelai-belai kemaluanku dari belakang, &#8220;Aaah..  nikmatnya..&#8221;</p>
<p>Mungkin mereka tahu jika nafsuku sudah bangkit kembali,  mereka mulai melakukan permainannya kembali. Tante Santi bangkit dari tempat  tidur, dan mengambil sesuatu dari tasnya, Wah rupanya peralatan-peralatan  perang, rupanya itu adalah penis karet, lalu ada penis yang ada talinya, dan  semacam penis yang bisa bergetar yang kemudian baru kuketahui namanya  vibrator.</p>
<p>&#8220;Sar, apa kamu sudah pernah coba pakai yang seperti ini..?&#8221;  tanya Tante Santi.<br />
&#8220;Ng.. belum Tante,&#8221; sahutku.</p>
<p>Tanpa basa-basi lagi  mereka segera memulai permainan. Mereka berdua melepaskan seluruh pakaiannya  sehingga aku bisa melihat tubuh Tante Santi yang seksi dan mulus sekali. Kali  ini Tante Ayu berbaring di atas ranjang, namun aku juga disuruhnya berbaring  terlentang di atas tubuhnya, sehingga Tante Ayu bisa dengan leluasa  meremas-remas buah dadaku. Tante Santi mencium lalu melumat bibirku,  mengulumnya, dan memainkan lidahnya. Kemudian ia mulai melanjutkan ke bagian  bawah, ke kemaluanku. Dijilatinya klitoris dan kemaluanku sampai basah. Lalu  diambilnya penis karetnya, digosok-gosokannya dulu ke kemaluanku, setelah itu  baru perlahan-lahan ia mulai memasukannya. &#8220;Aaakhh..&#8221; susah juga masuknya,  karena walaupun telah basah, tapi memang masih sempit.</p>
<p>Setelah berhasil  masuk setengahnya, Tante Santi mulai mengocoknya perlahan, makin lama makin  cepat, sambil jarinya mengesek-gesek klitorisku, &#8220;Aaahh gila enaknya..&#8221;  Membuatku kembali orgasme. Namun itu tak menghentikan permainannya, kembali aku  dirangsangnya oleh mereka dengan jilatan-jilatan. Kali ini Tante Santi rupanya  ingin mencoba penis yang ada talinya, sehingga bisa diikat ke pinggang dan  selangkangannya. Aneh dan lucu memang, sepertinya Tante Santi memiliki penis  betulan. Kali ini dikangkangkannya kakiku dan Tante Santi mulai memasukan penis  karetnya ke kemaluanku, dan mulai memompanya. Kelihatan sepertinya Tante Santi  sedangmenyetubuhiku. Ia terus mengocok kemaluanku sambil menggoyang-goyangkan  pinggulnya dengan erotis, sampai akhirnya aku tidak tahan lagi dan kembali  orgasme.</p>
<p>Sebenarnya aku sudah lemas, namun mereka merayuku agar aku mau  mencoba alatnya yang terakhir. (Ah, aku jadi seperti kelinci percobaan, tapi  memang nikmat sich). Dengan rayuannya akhirnya aku mau saja mencoba yang  terakhir, katanya penis yang memakai vibrator. Kembali mereka membangkitkan  birahiku, memang luar biasa sekali pengalaman mereka tampaknya. Setelah  menjilatikemaluanku, Tante Santi mulai memasukkan penis itu, aku tak tahu apa  yang akan terjadi, kukira seperti tadi saja rasanya. Tapi begitu penis karet itu  sudah masuk semua ke dalam kemaluanku, Tante Santi mulai menyalakan vibratornya  (penggetarnya). &#8220;Aakkhh..!&#8221; Aku benar-benar tersentak kaget, rasanya geli  sekali, benar-benar dahsyat, apalagi ditambah dengan gesekan jari Tante Santi  pada klitorisku. &#8220;Ampuunn..&#8221; Aku menggelinjang-gelinjang, kelojotan kesana-sini  karena saking tidak tahannya aku, dan rupanya Tante Ayu yang mendekapku dari  bawah sudahmengaturnya, sambil memelukku erat, kedua kakinya, mengangkangkan  kedua kakiku, dan masing-masing kakinya mengapit masing-masing kakiku, sehingga  kakiku tetap terbuka mengangkang, dan aku tidak bisa mengapitkan kedua pahaku  walaupun sangking gelinya.</p>
<p>Penis itu bergetar di dalam kemaluanku, dan  bahkan bisa berlenggak-lenggok, meliuk-liuk di dalam. &#8220;Gilaa.. ini benar-benar  kenikmatan yang paling hebat yang pernah kualami. Aku menjerit-jerit bagai  kesurupan, &#8220;Aaakkhh.. Tantee..&#8221; Namun semakin lama Tante Santi malahan semakin  cepat mengocokkan penis vibrator tsb di dalam kemaluanku, dan juga mempercepat  gesekan jarinya di klitorisku. &#8220;Aaakkhh..! Gilaa.. Ampuunn..&#8221; aku benar-benar  tidak tahan, perasaan mau pipis yang kali ini muncul sangat dahsyat, hingga  akhirnya tubuhku yang kelojotan tiba-tiba mengejang dengan amat kuat, dan,  &#8220;Aaaggkkhh..&#8221; meledaklah kenikmatan yang amat dahsyat, amat luar biasa, puncak  kenikmatan yang tak dapat terlukiskan, dunia serasa berputar-putar, aku serasa  melayang-layang, tulang-tulangku terasa lolos hingga akhirnya lemas lunglai  seperti selembar kertas.</p>
<p>Masih sempat kulihat mereka berdua bercanda  sambil berebutan menjilati cairan kemaluanku baik yang masih tertinggal di dalam  kemaluanku yang dijilat sambil disedot-sedot, yang berlelehan keluar, bahkan  yang berlelehan di batang penis vibrator itu.</p>
<p>Akhirnya aku tidur dalam  pelukan Tante Ayu dan Tante Santi. Tante Ayu memelukku erat dari belakang, dan  Tante Santi memelukku erat dari depan, sesekali mereka dengan mesra dan gemas  menciumiku. Dengan tubuh yang sangat letih dan lemas, tidur dalam pelukan mereka  rasanya lembut, hangat dan luar biasa. Sungguh pengalaman yang tak akan pernah  kulupakan. Tamat</span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/10/02/tante-rahayu-dan-temannya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
