<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita seks &#187; Seks Perkosaan</title>
	<atom:link href="http://jablayonline.info/category/seks-perkosaan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jablayonline.info</link>
	<description>Kumpulan cerita dewasa</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Mar 2010 16:18:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.3</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Akibat Berenang Bugil</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/10/25/akibat-berenang-bugil.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/10/25/akibat-berenang-bugil.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2007 14:09:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/10/25/akibat-berenang-bugil/</guid>
		<description><![CDATA[
Hari itu, sekitar jam 12 siang, aku  baru saja tiba di vilaku di puncak. Pak Joko, penjaga vilaku membukakan pintu  garasi agar aku bisa memarkirkan mobilku. Pheew.. akhirnya aku bisa melepaskan  kepenatan setelah seminggu lebih menempuh UAS. Aku ingin mengambil saat tenang  sejenak, tanpa ditemani siapapun, aku ingin menikmatinya sendirian di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p id="article">
<p align="justify"><font class="tiny_font">Hari itu, sekitar jam 12 siang, aku  baru saja tiba di vilaku di puncak. Pak Joko, penjaga vilaku membukakan pintu  garasi agar aku bisa memarkirkan mobilku. Pheew.. akhirnya aku bisa melepaskan  kepenatan setelah seminggu lebih menempuh UAS. Aku ingin mengambil saat tenang  sejenak, tanpa ditemani siapapun, aku ingin menikmatinya sendirian di tempat  yang jauh dari hiruk pikuk ibukota. Agar aku lebih menikmati privacy-ku maka  kusuruh Pak Joko pulang ke rumahnya yang memang di desa sekitar sini. Pak Joko  sudah bekerja di tempat ini sejak papaku membeli vila ini sekitar 7 tahun yang  lalu, dengan keberadaannya, vila kami terawat baik dan belum pernah kemalingan.  Usianya hampir seperti ayahku, 50-an lebih, tubuhnya tinggi kurus dengan kulit  hitam terbakar matahari. Aku daridulu sebenarnya berniat mengerjainya, tapi  mengingat dia cukup loyal pada ayahku dan terlalu jujur, maka kuurungkan niatku.  </font></p>
<p><font class="tiny_font">&#8220;Punten Neng,  kalau misalnya ada perlu, Bapak pasti ada di rumah kok, tinggal dateng aja&#8221;  pamitnya. </font><br />
<font class="tiny_font">Setelah Pak Joko meninggalkanku, aku  membereskan semua bawaanku. Kulempar tubuhku ke atas kasur sambil menarik nafas  panjang, lega sekali rasanya lepas dari buku-buku kuliah itu. Cuaca hari itu  sangat cerah, matahari bersinar dengan diiringi embusan angin sepoi-sepoi  sehingga membuat suasana rileks ini lebih terasa. Aku jadi ingin berenang  rasanya, apalagi setelah kulihat kolam renang di belakang airnya bersih sekali,  Pak Joko memang telaten merawat vila ini. Segera kuambil perlengkapan renangku  dan menuju ke kolam. </font></p>
<p><font class="tiny_font">Sesampainya disana kurasakan suasanya enak sekali, begitu  tenang, yang terdengar hanya kicauan burung dan desiran air ditiup angin.  Tiba-tiba muncul kegilaanku, mumpung sepi-sepi begini, bagimana kalau aku  berenang tanpa busana saja, toh tidak ada siapa-siapa lagi disini selain aku  lagipula aku senang orang mengagumi keindahan tubuhku. Maka tanpa pikir panjang  lagi, aku pun melepas satu-persatu semua yang menempel di tubuhku termasuk  arloji dan segala perhiasan sampai benar-benar bugil seperti waktu baru  dilahirkan. Setelah melepas anting yang terakhir menempel di tubuhku, aku  langsung terjun ke kolam. Aahh.. enak sekali rasanya berenang bugil seperti ini,  tubuh serasa lebih ringan. Beberapa kali aku bolak-balik dengan beberapa gaya  kecuali gaya kupu-kupu (karena aku tidak bisa, hehe..) </font></p>
<p><font class="tiny_font">20 menit lamanya aku berada di  kolam, akupun merasa haus dan ingin istirahat sebentar dengan berjemur di  pinggir kolam. Aku lalu naik dan mengeringkan tubuhku dengan handuk, setelah  kuambil sekaleng coca-cola dari kulkas, aku kembali lagi ke kolam. Kurebahkan  tubuhku pada kursi santai disana dan kupakai kacamata hitamku sambil menikmati  minumku. Agar kulitku yang putih mulus ini tidak terbakar matahari, kuambil  suntan oilku dan kuoleskan di sekujur tubuhku hingga nampak berkilauan. Saking  enaknya cuaca di sini membuatku mengantuk, hingga tak terasa aku pun pelan-pelan  tertidur. Di tepi kolam itu aku berbaring tanpa sesuatu apapun yang melekat di  tubuhku, kecuali sebuah kacamata hitam. Kalau saja saat itu ada maling masuk dan  melihat keadaanku seperti itu, tentu aku sudah diperkosanya habis-habisan.  </font></p>
<p><font class="tiny_font">Ditengah  tidurku aku merasakan ada sesuatu yang meraba-raba tubuhku, tangan itu mengelus  pahaku lalu merambat ke dadaku. Ketika tangan itu menyentuh bibir kemaluanku  tiba-tiba mataku terbuka dan aku langsung terkejut karena yang kurasakan barusan  ternyata bukan sekedar mimpi. Aku melihat seseorang sedang menggerayangi tubuhku  dan begitu aku bangun orang itu dengan sigapnya mencengkram bahuku dan membekap  mulutku dengan tangannya, mencegah agar aku tidak menjerit. Aku mulai dapat  mengenali orang itu, dia adalah Taryo, si penjaga vila tetangga, usianya sekitar  30-an, wajahnya jelek sekali dengan gigi agak tonggos, pipinya yang cekung dan  matanya yang lebar itu tepat di depan wajahku. </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Sstt.. mendingan Neng nurut aja, di sini udah ga ada  siapa-siapa lagi, jadi jangan macam-macam!&#8221; ancamnya </font><br />
<font class="tiny_font">Aku mengangguk saja walau masih agak terkejut, lalu dia  pelan-pelan melepaskan bekapannya pada mulutku </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Hehehe.. udah lama saya pengen ngerasain ngentot sama Neng!&#8221;  katanya sambil matanya menatapi dadaku </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Ngentot  ya ngentot, tapi yang sopan dong mintanya, gak usah kaya maling gitu!&#8221; kataku  sewot. </font></p>
<p><font class="tiny_font">Ternyata tanpa kusadari sejak berenang dia sudah memperhatikanku  dari loteng vila majikannya dan itu sering dia lakukan daridulu kalau ada wanita  berenang di sini. Mengetahui Pak Joko sedang tidak di sini dan aku tertidur, dia  nekad memanjat tembok untuk masuk ke sini. Sebenarnya aku sedang tidak mood  untuk ngeseks karena masih ingin istirahat, namun elusannya pada daerah  sensitifku membuatku BT (birahi tinggi). </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Heh,  katanya mau merkosa gua, kok belum buka baju juga, dari tadi pegang-pegang doang  beraninya!&#8221; tantangku. </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Hehe, iya Neng abis  tetek Neng ini loh, montok banget sampe lupa deh&#8221; jawabnya seraya melepas baju  lusuhnya. </font><br />
<font class="tiny_font">Badannya lumayan jadi juga, walaupun  agak kurus dan dekil, penisnya yang sudah tegang cukup besar, seukuran sama  punyanya si Wahyu, tukang air yang pernah main denganku (baca Tukang Air,  Listrik, dan Bangunan). </font></p>
<p><font class="tiny_font">Dia duduk di pinggir kursi santai dan mulai menyedot payudaraku  yang paling dikaguminya, sementara aku meraih penisnya dengan tanganku serta  kukocok hingga kurasakan penis itu makin mengeras. Aku mendesis nikmat waktu  tangannya membelai vaginaku dan menggosok-gosok bibirnya. </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Eenghh.. terus Tar.. oohh!&#8221; desahku sambil meremasi rambut  Taryo yang sedang mengisap payudaraku. </font><br />
<font class="tiny_font">Kepalanya lalu pelan-pelan merambat ke bawah dan berhenti di  kemaluanku. Aku mendesah makin tidak karuan ketika lidahnya bermain-main di sana  ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak keluar masuk. Aku sampai  meremas-remas payudara dan menggigit jariku sendiri karena tidak kuat menahan  rasanya yang geli-geli enak itu hingga akhirnya tubuhku mengejang dan vaginaku  mengeluarkan cairan hangat. Dengan merem melek aku menjambak rambut si Taryo  yang sedang menyeruput vaginaku. Perasaan itu berlangsung terus sampai kurasakan  cairanku tidak keluar lagi, barulah Taryo melepaskan kepalanya dari situ, nampak  mulutnya basah oleh cairan cintaku. </font></p>
<p><font class="tiny_font">Belum beres aku mengatur  nafasku yang memburu, mulutku sudah dilumatnya dengan ganas. Kurasakan aroma  cairan cintaku sendiri pada mulutnya yang belepotan cairan itu. Aku agak  kewalahan dengan lidahnya yang bermain di rongga mulutku, masalahnya nafasnya  agak bau, entah bau rokok atau jengkol. Setelah beberapa menit baru aku bisa  beradapatasi, kubalas permainan lidahnya hingga lidah kami saling membelit dan  mengisap. Cukup lama juga kami berpagutan, dia juga menjilati wajahku yang halus  tanpa jerawat sampai wajahku basah oleh liurnya. </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Gua ga tahan lagi Tar, sini gua emut yang punya lu&#8221; kataku.  </font><br />
<font class="tiny_font">Si Taryo langsung bangkit dan berdiri di  sampingku menyodorkan penisnya. Masih dalam posisi berbaring di kursi santai,  kugenggam benda itu, kukocok dan kujilati sejenak sebelum kumasukkan ke mulut.  </font></p>
<p><font class="tiny_font">Mulutku terisi  penuh oleh penisnya, itu pun tidak menampung seluruhnya paling cuma masuk 3/4nya  saja. Aku memainkan lidahku mengitari kepala penisnya yang mirip helm itu,  terkadang juga aku menjilati lubang kencingnya sehingga tubuh pemiliknya  bergetar dan mendesah-desah keenakan. Satu tangannya memegangi kepalaku dan  dimaju-mundurkannya pinggulnya sehingga aku gelagapan. </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Eemmpp.. emmphh.. nngg..!&#8221; aku mendesah tertahan karena nyaris  kehabisan nafas, namun tidak dipedulikannya. Kepala penis itu berkali-kali  menyentuh dinding kerongkonganku. Kemudian kurasakan ada cairan memenuhi  mulutku. Aku berusaha menelan cairan itu, tapi karena banyaknya cairan itu  meleleh di sekitar bibirku. Belum habis semburannya, dia menarik keluar  penisnya, sehingga semburan berikut mendarat disekujur wajahku, kacamata hitamku  juga basah kecipratan maninya. </font></p>
<p><font class="tiny_font">Kulepaskan kacamata hitam itu, lalu kuseka wajahku dengan  tanganku. Sisa-sisa sperma yang menempel di jariku kujilati sampai habis. Saat  itu mendadak pintu terbuka dan Pak Joko muncul dari sana, dia melongo melihat  kami berdua yang sedang bugil. Aku sendiri sempat kaget dengan kehadirannya, aku  takut dia membocorkan semua ini pada ortuku. </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Eehh.. maaf Neng, Bapak cuma mau ngambil uang Bapak di kamar,  ga tau kalo Neng lagi gituan&#8221; katanya terbata-bata. </font><br />
<font class="tiny_font">Karena sudah tanggung, akupun nekad menawarkan diriku dan  berjalan ke arahnya. </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Ah.. ga apa-apa Pak,  mending Bapak ikutan aja yuk!&#8221; godaku. </font><br />
<font class="tiny_font">Jakunnya  turun naik melihat kepolosan tubuhku, meskipun agak gugup matanya terus tertuju  ke payudaraku. Aku mengelus-elus batangnya dari luar membuatnya terangsang.  </font></p>
<p><font class="tiny_font">Akhirnya dia  mulai berani memegang payudaraku, bahkan meremasnya. Aku sendiri membantu  melepas kancing bajunya dan meraba-raba dadanya. </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Neng, tetek Neng gede juga yah.. enak yah diginiin sama Bapak?&#8221;  Sambil tangannya terus meremasi payudaraku. </font><br />
<font class="tiny_font">Dalam posisi memeluk itupun aku perlahan membuka celana  panjangnya, setelah itu saya turunkan juga celana kolornya. Nampaklah  kemaluannya yang hitam menggantung, jari-jariku pun mulai menggenggamnya. Dalam  genggamanku kurasakan benda itu bergetar dan mengeras. Pelan-pelan tubuhku mulai  menurun hingga berjongkok di hadapannya, tanpa basa-basi lagi kumasukkan batang  di genggamanku itu ke mulut, kujilati dan kuemut-emut hingga pemiliknya  mengerang keenakan </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Wah, Pak Joko sama majikan  sendiri aja malu-malu!&#8221; seru si Taryo yang memperhatikan Pak Joko agak grogi  menikmati oral seks-ku. </font></p>
<p><font class="tiny_font">Taryo lalu mendekati kami dan meraih tanganku untuk mengocok  kemaluannya. Secara bergantian mulut dan tanganku melayani kedua penis yang  sudah menegang itu. Tidak puas hanya menikmati tanganku, sesaat kemudian Taryo  pindah ke belakangku, tubuhku dibuatnya bertumpu pada lutut dan kedua tanganku.  Aku mulai merasakan ada benda yang menyeruak masuk ke dalam vaginaku. Seperti  biasa, mulutku menganga mengeluarkan desahan meresapi inci demi inci penisnya  memasuki vaginaku. Aku disetubuhinya dari belakang, sambil menyodok, kepalanya  merayap ke balik ketiak hingga mulutnya hinggap pada payudaraku. Aku  menggelinjang tak karuan waktu puting kananku digigitnya dengan gemas, kocokanku  pada penis Pak Joko makin bersemangat. </font></p>
<p><font class="tiny_font">Rupanya aku telah membuat Pak  Joko ketagihan, dia jadi begitu bernafsu memperkosa mulutku dengan  memaju-mundurkan pinggulnya seolah sedang bersetubuh. Kepalaku pun dipeganginya  dengan erat sampai kesempatan untuk menghirup udara segar pun aku tidak ada.  Akhirnya aku hanya bisa pasrah saja disenggamai dari dua arah oleh mereka,  sodokan dari salah satunya menyebabkan penis yang lain makin menghujam ke  tubuhku. Perasaan ini sungguh sulit dilukiskan, ketika penis si Taryo menyentuh  bagian terdalam dari rahimku dan ketika penis Pak Joko menyentuh kerongkonganku,  belum lagi mereka terkadang memainkan payudara atau meremasi pantatku. Aku  serasa terbang melayang-layang dibuatnya hingga akhirnya tubuhku mengejang dan  mataku membelakak, mau menjerit tapi teredam oleh penis Pak Joko. Bersamaan  dengan itu pula genjotan si Taryo terasa makin bertenaga. Kami pun mencapai  orgasme bersamaan, aku dapat merasakan spermanya yang menyembur deras di  dalamku, dari selangkanganku meleleh cairan hasil persenggamaan.  </font></p>
<p><font class="tiny_font">Setelah  mencapai orgasme yang cukup panjang, tubuhku berkeringat, mereka agaknya  mengerti keadaanku dan menghentikan kegiatannya. </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Neng, boleh ga Bapak masukin anu Bapak ke itunya Neng?&#8221; tanya  Pak Joko lembut. </font><br />
<font class="tiny_font">Saya cuma mengangguk, lalu dia  bilang lagi, &#8220;Tapi Neng istirahat aja dulu, kayanya Neng masih cape sih&#8221;.  </font><br />
<font class="tiny_font">Aku turun ke kolam, dan duduk berselonjor di  daerah dangkal untuk menyegarkan diriku. Mereka berdua juga ikut turun ke kolam,  Taryo duduk di sebelah kiriku dan Pak Joko di kananku. Kami mengobrol sambil  memulihkan tenaga, selama itu tangan jahil mereka selalu saja meremas atau  mengelus dada, paha, dan bagian sensitif lainnya. Yang satu ditepis yang lain  hinggap di bagian lainnya, lama-lama ya aku biarkan saja, lagipula aku  menikmatinya kok. </font></p>
<p><font class="tiny_font">&#8220;Neng, Bapak masukin sekarang aja yah, udah ga tahan daritadi  belum rasain itunya Neng&#8221; kata Pak Joko mengambil posisi berlutut di depanku.  </font><br />
<font class="tiny_font">Dia kemudian membuka pahaku setelah kuanggukan  kepala merestuinya, dia arahkan penisnya yang panjang dan keras itu ke vaginaku,  tapi dia tidak langsung menusuknya tapi menggesekannya pada bibir kemaluanku  sehingga aku berkelejotan kegelian dan meremas penis Taryo yang sedang menjilati  leher di bawah telingaku. </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Aahh.. Pak cepet  masukin dong, udah kebelet nih!&#8221; desahku tak tertahankan. </font><br />
<font class="tiny_font">Aku meringis saat dia mulai menekan masuk penisnya. Kini  vaginaku telah terisi oleh benda hitam panjang itu dan benda itu mulai bergerak  keluar masuk memberi sensasi nikmat ke seluruh tubuh. </font></p>
<p><font class="tiny_font">&#8220;Wah.. seret banget memeknya  Neng, kalo tau gini udah dari dulu Bapak entotin&#8221; ceracaunya. </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Brengsek juga lu, udah bercucu juga masih piktor, gua kira lu  alim&#8221; kataku dalam hati. </font><br />
<font class="tiny_font">Setelah 15 menit dia  genjot aku dalam posisi itu, dia melepas penisnya lalu duduk berselonjor dan  manaikkan tubuhku ke penisnya. Dengan refleks akupun menggenggam penis itu  sambil menurunkan tubuhku hingga benda itu amblas ke dalamku. Dia memegangi  kedua bongkahan pantatku yang padat berisi itu, secara bersamaan kami mulai  menggoyangkan tubuh kami. Desahan kami bercampur baur dengan bunyi kecipak air  kolam, tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku kugelengkan  kesana-kemari, kedua payudaraku yang terguncang-guncang tidak luput dari tangan  dan mulut mereka. Pak Joko memperhatikan penisnya sedang keluar masuk di vagina  seorang gadis 21 tahun, anak majikannya sendiri, sepertinya dia tak habis pikir  betapa untungnya berkesempatan mencicipi tubuh seorang gadis muda yang pasti  sudah lama tidak dirasakannya. </font></p>
<p><font class="tiny_font">Goyangan kami terhenti sejenak ketika Taryo tiba-tiba mendorong  punggungku sehingga pantatku semakin menungging dan payudaraku makin tertekan ke  wajah Pak Joko. Taryo membuka pantatku dan mengarahkan penisnya ke sana  </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Aduuh.. pelan-pelan Tar, sakit tau.. aww!&#8221;  rintihku waktu dia mendorong masuk penisnya. </font><br />
<font class="tiny_font">Bagian bawahku rasanya sesak sekali karena dijejali dua batang  penis besar. Kami kembali bergoyang, sakit yang tadi kurasakan perlahan-lahan  berubah menjadi rasa nikmat yang menjalari tubuhku. Aku menjerit sejadi-jadinya  ketika Taryo menyodok pantatku dengan kasar, kuomeli dia agar lebih lembut  dikit. Bukannya mendengar, Taryo malah makin buas menggenjotku. Pak Joko melumat  bibirku dan memainkan lidahnya di dalam mulutku agar aku tidak terlalu ribut.  </font></p>
<p><font class="tiny_font">Hal itu  berlangsung sekitar 20 menit lamanya sampai aku merasakan tubuhku seperti mau  meledak, yang dapat kulakukan hanya menjerit panjang dan memeluk Pak Joko  erat-erat sampai kukuku mencakar punggungnya. Selama beberapa detik tubuhku  menegang sampai akhirnya melemas kembali dalam dekapan Pak Joko. Namun mereka  masih saja memompaku tanpa peduli padaku yang sudah lemas ini. Erangan yang  keluar dari mulutku pun terdengar makin tak bertenaga. Tiba-tiba pelukan mereka  terasa makin erat sampai membuatku sulit bernafas, serangan mereka juga makin  dahsyat, putingku disedot kuat-kuat oleh Pak Joko, dan Taryo menjambak rambutku.  Aku lalu merasakan cairan hangat menyembur di dalam vagina dan anusku, di air  nampak sedikit cairan putih susu itu melayang-layang. Mereka berdua pun terkulai  lemas diantara tubuhku dengan penis masih tertancap. </font></p>
<p><font class="tiny_font">Setelah sisa-sisa kenikmatan  tadi mereda, akupun mengajak mereka naik ke atas. Sambil mengelap tubuhku yang  basah kuyup, aku berjalan menuju kamar mandi. Eh.. ternyata mereka mengikutiku  dan memaksa ikut mandi bersama. Akhirnya kuiyakan saja deh supaya mereka senang.  Disana aku cuma duduk, merekalah yang menyiram, menggosok, dan menyabuniku  tentunya sambil menggerayangi. Bagian kemaluan dan payudaraku paling lama mereka  sabuni sampai aku menyindir </font><br />
<font class="tiny_font">&#8220;Lho.. kok yang  disabun disitu-situ aja sih, mandinya ga beres-beres dong, dingin nih&#8221; disambut  gelak tawa kami. </font><br />
<font class="tiny_font">Setelah itu, giliran akulah  yang memandikan mereka, saat itulah nafsu mereka bangkit lagi, akupun kembali  digarap di kamar mandi. </font></p>
<p><font class="tiny_font">Hari itu aku dikerjai terus-menerus oleh mereka sampai mereka  menginap dan tidur denganku di ranjang spring bed-ku. Sejak itu kalau ada sex  party di vila ini, mereka berdua selalu diajak dengan syarat jangan sampai  rahasia ini bocor. Aku senang karena ada alat pemuas hasratku, mereka pun senang  karena bisa merasakan tubuhku dan teman-teman kuliahku yang masih muda dan  cantik. Jadi ada variasi dalam kehidupan seks kami, tidak selalu main sama  teman-teman cowok di kampus. Lain hari aku akan menceritakan bagaimana jahilnya  aku mengerjai teman-teman kuliahku sehingga mereka jatuh ke tangan Pak Joko dan  Taryo dan juga pengalaman-pengalamanku lainnya, harap sabar yah, soalnya kan aku  juga sibuk, tidak bisa terus-terusan menulis di detikhots.com. </font></p>
<p><font class="tiny_font"><strong>E N  D</strong></font></p>
<p><br style="clear: both" /><br />
<br style="clear: both" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/10/25/akibat-berenang-bugil.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ine pembantu kecilku</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/10/08/ine-pembantu-kecilku.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/10/08/ine-pembantu-kecilku.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Oct 2007 12:44:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/10/08/ine-pembantu-kecilku/</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Andi, aku mahasiswa di salah satu PTN top di Bandung. Sekarang umurku 20 tahun. Jujur saja, aku kenal seks baru sejak SMP. Aku senang sekali ada situs khusus buat bagi-bagi pengalaman seperti ini, sehingga apa yang pernah kita lakukan bisa dibagi-bagi.
Awal aku mengenal seks yaitu saat secara tidak sengaja aku buka-buka lemari di rumah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Namaku Andi, aku mahasiswa di salah satu PTN top di Bandung. Sekarang umurku 20 tahun. Jujur saja, aku kenal seks baru sejak SMP. Aku senang sekali ada situs khusus buat bagi-bagi pengalaman seperti ini, sehingga apa yang pernah kita lakukan bisa dibagi-bagi.</p>
<p>Awal aku mengenal seks yaitu saat secara tidak sengaja aku buka-buka lemari di rumah teman SMP-ku dan menemukan setumpukan Video VHS tanpa gambar di dalam sebuah kotak. Karena penasaran film apa itu, kuambil satu dan langsung kucoba di video temanku di kamar itu yang kebetulan sepi, karena temanku sedang les.</p>
<p>Kusetel film yang berjudul.. apa ya? aku lupa, ternyata itu film dewasa (waktu itu aku belum banyak tahu). Aku cuma pernah dengar teman-temanku pernah nonton film begituan, tapi aku tidak begitu penasaran. Nah, saat itu aku baru tahu itu loh yang namanya BF. Kebetulan itu film seks tentang anak kecil yang masih mungil bercinta dengan bapaknya, oomnya, temannya dan lain-lain.</p>
<p>Dan aku ingin cerita nih pengalaman pertamaku. Kejadian ini terjadi ketika aku masih SMA, di rumahku ternyata ada pembantu baru. Orangnya masih lumayan kecil sekitar 12 tahun lah, tapi itu dia yang membuatku suka. Aku itu suka sama wanitae imut-imut yang masih agak kecil mungkin gara-gara video waktu itu (aku suka begitu melihat situs-situs tentang Lolita, soalnya cewek-cewek di situs-situs itu masih imut-imut). Dan yang paling membuatku terangsang adalah payudaranya yang masih baru tumbuh, masih agak runcing (tapi tidak rata).</p>
<p>Setiap hari itu dia kerjaannya, biasalah kerjaan pembantu rumah tangga, ya ngepel, ya mencuci dan lain-lain. Kalau aku sarapan, kadang suka melihat dia yang sedang ngepel and roknya agak terbuka sedikit, jadi tidak konsentrasi deh sarapannya karena berusaha melihat celana dalamnya, tapi sayang susah. Untuk awal-awal aku hanya bisa minta dibuatkan teh atau susu.</p>
<p>Lambat laun karena aku sudah ingin begitu melihat tubuhnya itu, kuintip saja dia kalau sedang mandi. Tapi sayang karena lubang yang tersedia kurang memadai, yang terlihat hanya pantatnya saja, soalnya terlihat dari belakang. Kadang-kadang terlihat depannya hanya tidak jelas, payah deh. Nah pada suatu hari aku nekat. Kupanggil dia untuk pijati aku, oh iya nama dia Ine.<br />
&#8220;Ine.. pijitin saya dong, saya pegel banget nih abis maen bola tadi&#8221;, kataku.</p>
<p>&#8220;Iya Mas, sebentar lagi ya. Lagi masak air nih, tanggung&#8221;, jawabnya.<br />
&#8220;Iya, tapi cepet ya. Saya tunggu di kamar saya.&#8221;<br />
Cihuy, dalam hati aku bersorak. Nanti mau tidak dia ya aku ajak begituan. Lalu kubuka bajuku sambil menuggu dia. Lalu pintuku diketok,<br />
&#8220;Permisi Mas&#8221;, ketoknya.<br />
&#8220;Masuk aja Ne, nggak dikunci kok&#8221;, lalu dia masuk sambil bawa minyak buat mijit.<br />
Mulailah dia memijatku. Mula-mula dia memijat punggungku dan sambil kuajak ngobrol.<br />
&#8220;Kamu sekolah sampai kelas berapa Ne?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Cuma sampai kelas tiga aja Mas, soalnya nggak ada biaya&#8221;, jawab dia.<br />
&#8220;Sekarang kamu umur berapa?&#8221; tanyaku lagi.<br />
Dia menjawab, &#8220;Umur saya baru mau masuk 12 Mas.&#8221;<br />
&#8220;Udah gede dong ya&#8221;, kataku sambil tersenyum.</p>
<p>Lalu aku membalikkan badan, &#8220;Pijitin bagian dadaku ya..&#8221; pintaku sambil menatap memohon. &#8220;Iya mas&#8221;, katanya. Dia memijati dadaku sambil agak menunduk, jadi baju yang dia pakai agak kelihatan longgar jadi aku bisa melihat bra yang dia kenakan yang menutupi dua buah payudara yang masih baru tumbuh. Wah, kemaluanku jadi tidak karuan lagi rasanya. Dan aku juga menikmati wajahnya yang masih polos itu. Begitu dia selesai memijati dadaku, aku langsung bilang, &#8220;Pijitan kamu enak&#8221;, terus aku nekat langsung meraba payudara dia yang imut itu, tapi ternyata dia kaget dan langsung menepis tanganku dan langsung lari dari kamarku. Aku kaget dan jadi takut kalau dia minta berhenti dan bicara dengsn ibuku. Gimana nich? aku langsung dihantui rasa bersalah. Ya sudah ah, besok aku minta maaf saja dengan dia dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.</p>
<p>Benar saja, besok itu dia ternyata agak takut kalau lewat depanku. Aku langsung bicara saja dengan dia.<br />
&#8220;Ne.. yang kemaren itu maaf ya.. Saya ternyata khilaf, jangan bilang sama Ibu ya.&#8221;<br />
&#8220;Iya deh Mas, tapi janji nggak kayak gitu lagi khan, abis Ine kaget dan takut&#8221;, kata dia.<br />
&#8220;Iya saya janji&#8221;, jawabku.</p>
<p>Sebulan setelah peristiwa itu memang aku tidak ada kepikiran untuk menggituin dia lagi. Dan dia juga sudah mulai biasa lagi. Tapi pada suatu hari pas aku sedang mencari celanaku di belakang, mungkin celanaku sedang dicuci. Soalnya itu celana ada duitku di dalamnya. Yah basah deh duitku. Eh, pas aku lewat kamar si Ine, kelihatan lewat jendela ternyata dia lagi tidur. Rok yang dia pakai tersibak sampai ke paha. Yah, timbul lagi deh ide setan untuk ngerjain dia. Tapi aku bingung bagaimana caranya. Akhirnya aku menemukan ide, besok saja aku masukkan obat tidur di minumannya. Dan aku menyusun rencana, bagaimana caranya untuk memberi dia obat tidur.</p>
<p>Besok pas sedang makan dan kebetulan rumah sedang sepi, aku minta dibuatkan teh. Setelah selesai dia buat dan diberikan ke aku. Kumasukkan saja obat tidur ke teh itu. Terus manggil dia,<br />
&#8220;Ne.. kok tehnya rasanya aneh sih?&#8221;<br />
&#8220;Masa sih Mas?&#8221; kata dia.<br />
&#8220;Cobain saja sendiri&#8221;, dia langsung minum sedikit.<br />
&#8220;Biasa saja kok Mas..&#8221; katanya.<br />
&#8220;Coba lagi deh yang banyak&#8221;, kataku.<br />
Dia minum setengah, terus aku bilang,<br />
&#8220;Ya udah yang itu kamu abisin saja, tapi buatin yang baru.&#8221;<br />
&#8220;Iya deh Mas, maaf ya Mas kalo tadi tehnya nggak enak&#8221;, jawabnya.<br />
&#8220;Nggak apa-apa kok&#8221;, jawabku lagi.</p>
<p>Aku tinggal tunggu obat tidur itu bekerja. Ternyata begitu dia mau buat teh baru, eh dia sudah ambruk di dapur. Langsung saja kuangkat ke kamarku. Begitu sampai di kamarku, kutiduri di kasurku. Berhasil juga aku bisa membawa dia ke kamarku, pikirku dalam hati. Lalu aku mulai membukan bajunya, gile.. aku deg-degan, soalnya pertama kali nich! Kelihatan deh branya, dan di dalam bra itu ada benda imut berupa gundukan kecil yang bisa membuatku terangsang berat. Lalu kubuka roknya, kelitan CD-nya yang berwarna krem. Tubuhnya yang tinggal memakai bra dan CD membuat kemaluanku semakin tidak tahan. Tubuhnya lumayan putih. Dalam keadaan setengah telanjang itu, posisi dia kuubah menjadi posisi duduk, lalu kuciumi bibirnya, sambil meremas-remas payudaranya yang masih agak kecil itu. Dan tanganku yang satu lagi mengusap CD-nya di bagian bibir kemaluannya. Kumasukkan lidahku ke mulutnya dan aku juga berusaha menghisap dan menjilati lidahnya. Sekitar 10 menitan kulakukan hal itu. Setelah itu kubuka branya dan CD-nya. Wow, pertama kalinya aku melihat seorang gadis dengan keadaan telanjang secara langsung. Payudaranya terlihat begitu indah dengan puting yang kecoklatan baru akan tumbuh. Bagian kemaluannya belum ditumbuhi rambut-rambut dan terlihat begitu rapat.</p>
<p>Langsung kujilati dan kuhisapi payudaranya. Dan payudara yang satu lagi kuremas dan kuusap-usap serta kupilin-pilin putingnya. Putingnya tampak agak mengeras dan agak memerah. Setelah aku mainkan bagian payudaranya, kujilati dari dada turun ke arah perut dan terus ke arah bagian kemaluannya. Bagian itu kelihatan masih sangat polos, dan terlihat memang seperti punya anak kecil. Kubuka kedua pahanya dan belahan kemaluannya, begitu kudekati ingin menjilati. Tercium bau yang tidak kusuka, ah kupikir peduli amat, aku sudah nafsu sekali. Kutahan nafas saja. Kubuka belahan kemaluannya dan aku melihat apa yang di namakan klitoris, yang biasanya aku melihat di situs-situs X, akhirnya kulihat secara langsung. Lalu kujilati bagian klitorisnya itu. Tiba-tiba dia mengerang dan mendesah, &#8220;Sshh..&#8221; begitu. Aku kaget hampir kabur. Ternyata dia hanya mendesah saja dan tetap terus tidur. Ketika aku jilati itu, ternyata ada cairan yang meleleh keluar dari kemaluannya, kujilati saja. Rasanya asin plus kecut.</p>
<p>Nah sekarang aku dalam keadaan yang amat terangsang, tapi begitu kuperhatikan wajahnya dan ke seluruh tubuhnya aku jadi tidak tega untuk merebut keperawanannya. Aku kasihan tapi aku sudah dalam keadaan yang amat terangsang. Akhirnya kuputuskan untuk masturbasi saja. Soalnya aku tidak tega. Aku pakaikan dia baju lagi dan menidurkan di kamarnya. Yah, aku melepaskan pengalaman pertamaku untuk bercinta dengan seorang gadis mungil berumur 12 tahun! Tidak tahu deh aku menyesal atau tidak.</p>
<p>Setelah melepas kesempatan untuk bercinta dengan Ine. Aku jadi kepikiran terus. Setiap aku apa-ngapain, selalu ingat sama payudara mungilnya Ine dan daerah kemaluannya yang masih polos itu. Untungnya si Ine tidak pernah merasa pernah di apa-apain sama aku. Dia selalu bersikap biasa di depanku tapi akunya tidak biasa kala melihat dia. Soalnya pikiranku kotor melulu.</p>
<p>Pelampiasannya paling aku masturbasi sambil melihat gambar-gambar XX yang aku dapatkan dari situs-situs lolita. Tapi aku bosan juga dan hasrat ingin nge-gituin si Ine semakin besar saja. Sepertinya aku sudah tidak tahan.</p>
<p>Akhirnya pada suatu waktu, aku mendapat kabar yang amat sangat bagus, ternyata orangtuaku mau pindah ke luar negeri, karena bapakku ditugasi ke luar negeri selama 2 tahun. Jadi, aku tidak perlu takut dia mengadu sama ibuku, paling aku ancam sedikit dan aku kasih duit dia diam. Setelah kepergian orangtuaku ke luar negeri, aku langsung punya banyak planning untuk ngerjain dia. Yang pasti aku sudah malas membius-bius segala. Soalnya dia diam saja, tidak seru! Ya sudah aku merencanakan untuk memaksa dia saja (eh, kalau ini termasuk pemerkosaan tidak sih?).</p>
<p>Pada suatu hari, ketika Ine sedang mandi. Kuintip dia. Biasalah, cuma kelihatan belakangnya saja, tapi aku jadi bisa mengantisipasi kalau dia sudah selesai mandi langsung aku sergap saja. Untungnya setelah dia selesai mandi, keluar kamar mandi menuju kamarnya hanya memakai handuk saja tidak pakai apa-apa lagi. Begitu keluar kamar mandi langsung kututup mulutnya dan kupeluk dari belakang, dia-nya meronta-ronta. Cuma tenagaku sama tenaga anak umur 12 tahun menang mana sih. Kubawa masuk ke kamar dia saja. Soalnya kalau ke kamar aku jauh. Nanti kalau dia meronta-ronta malah lepas lagi. Pas masuk kamar dia kujatuhkan dia ke kasur sambil menarik handuknya. Dia kelihatan ketakutan sekali dengan tubuh tidak mengenakan apa-apa.<br />
&#8220;Mas Andi, jangan Mas&#8221; mohonnya.<br />
&#8220;Tidak apa-apa lagi Ne.. Paling sakitnya sedikit entar kamu pasti akan ngerasain enaknya&#8221;, kataku.<br />
Dia kelihatan seperti mau teriak, langsung saja kututup mulutnya.<br />
&#8220;Jangan coba-coba teriak ya!&#8221; hardikku.<br />
Dia mulai menangis. Aku jadi sedikit kasihan, tapi setan sudah menguasai tubuhku.<br />
&#8220;Cobain enaknya deh..&#8221; kataku.<br />
Sambil tetap menutup mulutnya kuraba dan kuelus payudaranya itu.<br />
&#8220;Santai aja, jangan nangis. Nikmati enaknya kalo payudara kamu di elus-elus&#8221;, kataku.</p>
<p>Setelah kulepas tanganku dari mulut dia, langsung kucium bibirnya. Ternyata dia lumayan menikmati ciuman sambil payudaranya tetap kuremas-remas. &#8220;Enak kan?&#8221; kataku. Dia diam saja. Terus kubuka CD-ku. Kukeluarkan batang kemaluanku. Dia kaget dan takut.<br />
&#8220;Tolong pegangin anuku donk.. dipijitin ya..&#8221; pintaku.<br />
Pertama-tama dia takut-takut untuk memegang anuku, tapi setelah lama dipegang sama dia, dia mulai memijiti. Wah, rasanya enak sekali anuku dipijiti sama dia. Setelah itu dia kusuruh tiduran,<br />
&#8220;Mas mau ngapain?&#8221; tanyanya.<br />
&#8220;Aku mau ngasih sesuatu hal yang paling enak, kamu nikmatin aja&#8221; jawabku.<br />
Kubuka belahan pahanya, pertama dia tidak mau buka, tapi setelah kubujuk dia akhirnya membuka pahanya dan kujilati kemaluannya sampai ke klitorisnya. Dia mendesah-desah keenakan. &#8220;Tuh kan enak&#8221;, kataku. Kujilati sampai keluar cairannya.</p>
<p>Aku merasa pemanasan sudah cukup, begitu kusiapkan batang kemaluanku ke depan liang kemaluannya dia menangis lagi dan berbicara,<br />
&#8220;Jangan Mas, saya masih perawan.&#8221;<br />
&#8220;Saya juga tau kok kamu masih perawan&#8221;, jawabku.<br />
Aku tetap bersikeras untuk menyetubuhinya. Pas aku mau mendorong kemaluanku masuk ke dalam liang kemaluannya, eh dia meronta dan mau lari. Dengan cepat kutangkap. Wah, susah nih pikirku. Kebetulan di kamar dia kulihat ada tali untuk jemuran, kuambil dan kuikat saja tangan dan kakinya ke tempat tidur.<br />
&#8220;Aku tahu kamu masih perawan, abis gimana lagi aku udah amat terangsang&#8221;, kataku.<br />
Dia memandangku dengan tatapan memohon dan sambil dengan keluar air mata.<br />
&#8220;Atau kamu lebih suka lewat pantat, biar perawan tetap terjaga?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Iya deh Mas, lewat pantat aja ya.. tapi tidak apa-apa kan Mas? Nanti bisa rusak tidak pantat saya?&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Tidak apa-apa kok&#8221;, jawabku.<br />
Ya, sudah kulepaskan talinya. Aku tanya sama dia, dia punya lotion atau tidak, soalnya kalau lewat pantat harus ada pelicinnya. Terus dia bilang punya. Kuambil dan kuolesi ke pantatnya dan kuolesin juga ke kemaluanku.</p>
<p>Langsung saja aku ambil posisi dan si Ine posisinya menungging dan pantatnya terlihat jelas. Aku mulai masukkan ke pantatnya. Pertama agak susah, tapi karena sudah diolesi lotion jadi agak lancar.<br />
&#8220;Sslleb.. ahh.. enak sekali&#8221;, jepitan pantatnya sangat kuat.<br />
&#8220;Aduh.. Mas, sakit Mas..&#8221; rintihnya.<br />
&#8220;Tahan sedikit ya Ne..&#8221; kataku.<br />
Langsung saja kugenjot. &#8220;Gile banget, enaknya minta ampun..&#8221; Terus aku berfikir kalau lewat kemaluannya lebih enak apa tidak ya? masih perawan lagi. Ah, lewat kemaluannya saja dech, peduli amat dia mau apa tidak. Kulepaskan batang kemaluanku dari pantatnya. Aku membalikkan badannya terus kuciumi lagi bibirnya sambil meremas payudaranya.<br />
&#8220;Udahan ya Mas, saya sudah cape..&#8221; pintanya.<br />
&#8220;Bentar lagi kok&#8221;, jawabku.<br />
Setelah itu langsung kutindih saja badannya.<br />
&#8220;Lho Mas mau ngapain lagi?&#8221; tanyanya sambil panik tapi tak bisa ngapa-ngapain karena sudah kutindih.<br />
&#8220;Tahan dikit ya Ne..&#8221; kataku.<br />
Langsung kututup mulutnya pakai tanganku dan batang kemaluanku kuarahkan ke liang kemaluannya. Dia terus meronta-ronta. Ine menangis lagi sambil berusaha teriak tapi apa daya mulutnya sudah kututup. Akhirnya batang kemaluanku sudah sampai tepat di depan lubang kemaluannya.</p>
<p>Aku mau masukkan ke lubangnya susahnya minta ampun, karena masih rapat barangkali ya? Tapi akhirnya kepala kemaluanku bisa masuk dan begitu kudorong semua untuk masuk, mata Ine terlihat mendelik dan agak teriak tapi mulutnya masih kututup dan terasa olehku seperti menabrak sesuatu oleh kemaluanku di dalam liang kemaluannya. Selaput dara mungkin, kuteruskan ngegituin dia walaupun dia sudah kelihatan sangat kesakitan dan berurai air mata. Kucoba lepas tanganku dari mulutnya. Dia menangis sambil mendesah, aku makin terangsang mendengarnya. Kugenjot terus sambil kupilin-pilin putingnya. Pada akhirnya aku keluar juga. Kukeluarkan di dalam luabang kemaluannya. Pas kucabut kemaluanku ternyata ada darah yang mengalir dari liang kemaluannya. Wah, aku merenggut keperawanan seorang anak gadis.<br />
&#8220;Ine.. sorry ya.. tapi enak kan. Besok-besok mau lagi kan..&#8221; tanyaku.<br />
Dia masih sesenggukan, dia bilang kalo kemaluannya terasa sakit sekali. Aku bilang paling sakitnya cuma sehari setelah itu enak.</p>
<p>Besok-besok dia aku kasih obat anti hamil dan aku bisa berhubungan dengan dia dengan bebas. Ternyata setelah setahunan aku bisa bebas berhubungan dengan dia, dia minta pulang ke kampung katanya dia dijodohi sama orangtuanya. Kuberikan uang yang lumayan banyak. Soalnya dia tidak balik lagi.<br />
&#8220;Inget ya Ne.. kalo kamu lagi pingin begituan dateng aja ke sini lagi ya..&#8221;</p>
<p>Begitulah kisahku dan aku tetap suka sama cewek yang imut-imut. Kenapa ya? apa aku fedofil? Tapi sepertinya tidak deh, Soalnya yang kusuka itu harus punya payudara walaupun kecil. Jadi sepertinya aku bukan pedofil, Ok.</p>
<p>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/10/08/ine-pembantu-kecilku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Piala Bergilir</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/09/28/piala-bergilir.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/09/28/piala-bergilir.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Sep 2007 00:34:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/09/28/piala-bergilir/</guid>
		<description><![CDATA[
Pada suatu hari, aku pulang sekolah agak malam yaitu sekitar pukul 8, soalnya banyak tugas club yang harus dikerjakan dan besoknya harus dikumpulkan. Akhirnya malam itu aku bersama teman-temanku selesai mengerjakan tugas membuat web site club sepak bola di sekolahku. Ooo.. iya aku lupa berkenalan. Aku orang Bandung, dan aku sekarang kelas 1 SMU. Namaku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[</p>
<p>Pada suatu hari, aku pulang sekolah agak malam yaitu sekitar pukul 8, soalnya banyak tugas club yang harus dikerjakan dan besoknya harus dikumpulkan. Akhirnya malam itu aku bersama teman-temanku selesai mengerjakan tugas membuat web site club sepak bola di sekolahku. Ooo.. iya aku lupa berkenalan. Aku orang Bandung, dan aku sekarang kelas 1 SMU. Namaku Vicka. Lalu aku menyerahkan disket itu kepada temenku (ketua kelompok) untuk diserahkan kepada guruku besoknya.<br />Lalu setelah pulang, aku dan temenku berpencar, karena rumahku dekat, maka aku memilih untuk mengambil jalan pintas sebab aku jalan kaki. Pada saat aku melewati gang yang gelap, maka aku sepertinya dibius oleh seseorang. Setelah aku sadar, aku sudah berada di tempat tidur dan aku tidak tahu dimana aku sekarang. Yang kutahu sekarang aku berada dengan 3 orang laki-laki. Laki-laki itu membawa kamera dan handycam. Pada saat itu aku nggak tahu aku mau diapakan, dan kepalaku masih sangat pusing dan tubuhku lemas sekali.<br />Lalu salah satu laki-laki itu mendatangiku dan melepas bajunya sampai telanjang bulat. Saat itu pula aku sadar kalau aku mau diperkosa. Lalu laki-laki itu ganti melucuti pakaianku satu persatu, sampe pada saat mau melepas BH dan CD-ku aku berusaha untuk melawan tetapi aku tidak bisa karena kepalaku masih sangat pusing dan tubuhku masih lemas. Lalu akhirnya pria itu berhasil melepas semua pakaian yang ada di tubuhku, dan akhirnya aku telanjang bulat. Dia lalu mulai meraba-raba seluruh lekuk tubuhku, aku melihat penisnya yang mulai membesar dan menegang, lalu penisnya digesek-gesekkan ke kaki, perut dan payudaraku.<br />Entah kenapa tubuhku merasa geli dan payudaraku merasa mengeras. Setelah puas meraba-raba tubuhku yang telanjang bulat, lalu dia mulai memasang semacam alat. Dia berkata kepada temannya, &#8220;Ambilkan aku alat kondom&#8221;. Dan ternyata aku baru sadar bahwa tujuannya berikutnya adalah di vaginaku. Dan aku baru sadar pula bahwa sejak tadi aku telah direkam oleh HandyCam dan oleh kamera foto. Lalu orang itu memasang alat kontrasepsi tersebut ke penisnya yang tegang. Dan seketika itu juga vaginaku dimasuki oleh penisnya bagaikan pesawat roket yang meluncur ke lubang kecil.<br />Pada saat pertama kalinya penisnya masuk ke vaginaku, vaginaku terasa sakit, tetapi setelah beberapa menit berlalu vaginaku terasa nikmat dan geli, orang itu memompa terus penisnya ke vaginaku, dan akhirnya vaginaku mengeluarkan cairan putih kental, dan sedikit darah, aku tahu mungkin vaginaku sudah berlobang karena dimasuki oleh roket yang ditembakkannya padaku. Seketika itu juga badanku terasa lebih lemas, dan baru pertama kalinya dalam hidupku ada perasaan yang bercampur aduk semacam ini.<br />Aku semakin meronta dan mendesah, &#8220;Ahh.. ahh.. ahh&#8221;, tetapi dia belum puas dan terus menciumiku dan meraba-raba payudaraku yang mengeras. Setelah beberapa menit berlalu aku sampai tidak bisa apa-apa karena tubuhku sudah tidak bisa digerakkan karena terlalu lemasnya. Setelah sekitar satu jam dia meniduriku, dia kelihatannya sudah puas dan memberi aku waktu untuk bernafas. Dia memberiku istirahat selama kurang lebih dua jam, setelah sadar aku melihat pria yang satunya lagi membuka bajunya sampai telanjang bulat. Aku takut sekali jangan-jangan mereka bertiga akan memperkosaku bergantian.<br />Tetapi ketakutanku ini menjadi kenyataan, pria yang kedua itu kembali meniduriku dan meraba-raba tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia juga membawa bulu sulak, dan mengesek-gesekkan bulu itu ke kakiku dan setelah itu ke payudaraku dan setelah itu baru ke vaginaku. Aku merasa geli luar biasa di dalam hidupku. Setelah puas bermain-main dengan tubuhku, maka ia mulai memasukkan roketnya ke dalam vaginaku, dan ini roket dari jenis yang ke 2 yang masuk ke dalam vaginaku. Setelah itu dia memompa dengan sekuat tenaga sampai keluar cairan lagi dan tubuhku kembali lemas, dia meniduriku selama kurang lebih satu jam dengan posisi tubuh tengkurap.<br />Setelah itu aku diberi waktu istirahat kembali kurang lebih 1 jam. Setelah ini aku berfikir bahwa orang ketiga ini akan memperkosaku seperti yang lainnya, dan aku akan pasrah. Dan benar, dia kemudian memompa penis yang sudah dilengkapi dengan alat kontrasepsi. Tetapi orang ini liar sekali. Dia ini lain dari kedua temannya yang membuat aku nikmat. Dia ini memompa penisnya dengan liar dan dengan sekuat tenaga, dia mengabaikan rontaanku dan desahanku yang semakin keras suaranya. Dia menikmati tubuhku selama kurang lebih 2 jam. Dan entah rasanya ini apa, tetapi aku sangat mengantuk atau aku sedang pingsan aku tidak tahu.<br />Setelah aku bangun, kamar ini dalam keadaan kosong, dan aku melihat tubuhku sendiri yang masih dalam keadaan telanjang bulat dan dengan penuh cairan-cairan kental. Lalu aku berniat bangun dari tempat tidur itu, tetapi aku mengalami kesulitan karena tubuhku masih lemas karena telah diperkosa oleh 3 orang secara bergantian. Tetapi aku berusaha kembali dengan sekuat tenagaku untuk bangun, dan aku mencari pakaian seragamku yang kupakai tadi malam. Tetapi seragam itu sudah tidak ada.<br />Lalu aku berjalan ke pintu keluar, dan aku terkejut karena rumah ini begitu besar. Dengan tubuh yang telanjang maka aku menuju ke suatu ruangan, mungkin ini adalah ruang tamu, dan aku mendengar seseorang telah menelepon seseorang. Katanya, &#8220;Ya, aku telah menikmati tubuh gadis itu, kalau kamu tidak percaya aku dapat memperlihatkan rekaman kejadian yang nikmat semalam kepada kamu, dia lumayan cantik dan rasanya nikmat sekali, tubuhnya putih sekali, lebih putih di luar dugaanku kalau kamu mau mencoba, kamu boleh datang ke rumahku. Apa? Minggu depan? Tidak usah kuatir itu bisa diatur. Sekarang kamu kalah dan aku beri waktu sampai nanti sore untuk memberikan uangnya kepadaku&#8221;.<br />Aku baru sadar bahwa aku adalah barang taruhan, dan jika dia berhasil menikmati tubuhku maka di menang. Lalu aku memberanikan diri untuk mengintip ruangan itu dan aku melihat pakaianku di dekatnya. Maka aku menemuinya dan memintanya, tetapi dia berkata, &#8220;Baik ini ambil pakaianmu, tetapi CD, kaos dalam, dan BH mu aku bawa untuk kenang kenangan. Jangan mencoba untuk melaporkan kejadian ini ke polisi, kalau kamu tidak ingin tahu semua temanmu tahu akan hal ini. Kalau kamu kusuruh datang ke sini, maka kamu harusa datang, jika kamu menolak, maka aku akan menyebarkan rekaman dan foto-foto itu kepada seluruh teman-temanmu. Aku sudah membuat surat palsu bahwa kamu tidak masuk ke sekolah hari ini karena sedang sakit. Setiap jam istirahat pertama kamu harus menemui aku di kelasku, di 3 IPA 2, dan kamu setiap sekolah jangan memakai CD dan BH, terutama pada saat olahraga. Kalau kamu tidak menaati peraturan ini, kamu akan kukimkan ke tempat pelacuran selama semalam&#8221;.<br />Aku menyetujuinya, dan setelah itu dia memberikan pakaianku. Aku merasa deg-degan dan payudaraku kembali mengeras karena aku telanjang bulat di depan seorang laki-laki. Lalu aku memakai pakaian OSIS, dan rasanya aneh sekali, rasanya seperti tidak memakai pakaian sebab payudaraku masih agak terlihat transparan, dan aku tidak memakai CD.<br />Setelah itu aku pulang dengan taksi, dan aku berusaha menutupi payudaraku yang besar dengan lengan tanganku supaya tidak dilihat oleh supir taksi itu. Tetapi payudaraku masih terasa keras dan tegang sehingga putingnya masih dapat terlihat walaupun transparan.<br />Aku sampai di rumah sekitar jam 10-an, dan aku tahu bahwa ayah dan ibuku sedang kerja dan tidak ada di rumah. Lalu pembantuku membukakan pintu, tetapi aku masih berusaha menutupi payudaraku agar tidak terlihat. Setelah masuk ke dalam rumah, maka aku langsung ke kamar, lalu mandi dan ganti baju. Aku berusaha mencari alasan jika ditanya oleh ayahku mengapa aku kemarin tidak pulang. Akhirnya aku mendapatkan alasan yang tepat. Aku khan sering pergi ke rumah saudaraku di dekat sekolahku dan kadan-kadang tanpa izin terlebih dulu.<br />Lalu aku tidur sampai sore, dan ayahku pulang, lalu aku bilang kepada ayahku bahwa aku kemarin tidak pulang ke rumah karena sudah terlalu malam dan aku menginap ke rumah saudara. Setelah besoknya aku sekolah maka sesuai persetujuan, aku tidak memakai BH dan CD untuk ke sekolah, dan aku hanya memakai kaos<br />
dalam dan seragam pramuka. Sesampai di sekolah aku merasa asing dan malu jangan-jangan ada yang tahu kalau aku diperkosa. Tetapi aku berusaha PD, dan tidak memikirkan kejadian itu, tetapi aku tidak bisa, bahkan di dalam pelajaran pun aku tetap memikirkan kejadian semalam.<br />Setelah istirahat pertama, maka aku mencari kelas 3 IPA 2, dan aku tahu bahwa mereka bertiga adalah teman sekelas. Lalu mereka pura-pura baik padaku, dan akhirnya aku tahu nama-nama mereka satu per-satu. Yang memperkosaku pertama kali bernama Andi, yang kedua bernama Erick, yang ketiga bernama Deni. Lalu Andi memperkenalkan aku kepada teman-teman sekelasnya seolah-olah aku ini adalah pacarnya. Mereka lalu mengatakan bahwa mereka mengincar aku sejak lama, dan sejak aku bertugas sebagai pengibar bendera, maka mereka melihat ada murid baru yang cantik dan bodynya bangkok, dengan payudara yang besar pula untuk gadis seumuranku. Lalu setelah ia tahu bahwa aku akan pulang malam pada saat itu, maka mereka merencanakan niat itu.<br />Lalu aku dipaksa duduk di sebelahnya dan memasukkan tangannya ke dalam rokku untuk memastikan bahwa aku tidak memakai CD. Ternyata tidak cuma itu saja dia terus-terusan meraba-raba Vaginaku sehingga terasa geli dan akhirnya Payudaraku mengeras lagi. Lalu Andi membuat jadual aku harus disuruh ke rumahnya hari selasa, kamis, dan sabtu.<br />Kalau selasa untuk Erik, kalau Kamis untuk Deni, dan kalau sabtu untuk Andi. Dan Andi bilang kalau besok sabtu aku akan dijemput, pacaran dulu baru buka-bukaan.<br />Aku tahu bahwa mereka itu cuma ingin menikmati tubuhku dan nggak akan membuat telanjang. Pada saat berhubungan bersama Andi aku terkejut mengapa Andi nggak pake kondom? Lalu aku sangat takut klo aku bakal hamil, dan ternyata Andi memompa penisnya di bawah payudaraku, di atasnya perut, dan tubuhku penuh dengan cairan lengket. Lalu Andi mengambil kondomnya dan memasangnya, lalu memompanya di dalam Vaginaku sampai Pagi.<br />Aku juga merasa hubungan itu hubungan yang nikmat dan enak, membuat tubuh terasa geli. Dan aku sekarang tahu banyak dari pengalaman sex bersama mereka. Dan aku diajari bermacam-macam gaya, seperti gaya 69. Setelah nanti keluar cairan pasti tubuh ini akan lemas sedikit, tetapi akan merasa nikmat. Pernah juga aku diolok-olok sama teman sekelas gara-gara aku nggak pake BH saat olahraga. Pada saat itu olahraga sedang latihan lari, dan temanku melihat dan memperhatikan bahwa payudaraku terlihat bergoyang kencang sekali dan terlihat besar. Maka mereka bertanya kepadaku, &#8220;Vic, kamu nggak pake BH ya?&#8221;. Aku berbohong dan menjawab, &#8220;Pake koq&#8221;. Karena teman-temanku banyak yang nakal, setelah gurunya pergi lalu mereka bersama-sama memegangi tubuhku dan lainnya membuka bajuku untuk membuktikan bahwa aku nggak pake BH.<br />Lalu kaos olahragaku dibuka dan mereka melihat bahwa aku benar-benar tidak pake BH. Lalu teman-teman pada mengejekku dan menertawakanku. Lalu aku cepat-cepat menutupi payudaraku dan dalam pikiranku adalah menunggu mereka pergi dulu baru memakai kaos lagi. Tetapi si Susan tidak puas dan dia menghasut teman-teman begini katanya, &#8220;Jangan-jangan dia juga nggak pake CD, kita lepas celananya aja yuk.&#8221; Lalu mereka kembali memegangi tubuhku dan melempar kaos yang sedang kupegang ke lapangan, dan si Susan langsung melepas celanaku dan melempar celanaku ke tengah lapangan.<br />Pada saat itu aku merasa malu yang luar biasa selama hidupku. Aku pada saat itu telanjang bulat di hadapan teman-teman sekelasku. Dan mereka pada tertawa, mereka malah menggodaku dengan membawa lari kaos dan celanaku. Dan aku mengejar mereka dengan tubuh tanpa busana di lapangan basket sekolahku. Lalu rasanya aku hampir menangis. Dan setelah puas menggoda aku, maka si Dewi mengembalikan baju dan celana kepadaku. Ini pengalaman pertamaku lari bugil di lapangan dan dilihat banyak orang. Aku malu sekali, karena vaginaku sudah berbulu dan payudaraku menjadi besar karena telanjang di hadapan orang banyak.<br />Lalu teman-temanku mengejekku bahwa payudaraku besar sekali untuk gadis yang baru berusia 16 tahun. Yang menjadi beban mentalku yang lain adalah aku seringkali digoda oleh teman-temanku dan menyuruh aku menari telanjang di depan kelas jika guru tidak ada atau pada saat pelajaran kosong. Dan kalau aku tidak mau maka mereka menjadi liar, mereka mengunci pintu keluar kelas, dan menyuruh satu orang untuk mengawasi jika ada guru yang datang, lalu mereka menggendongku, melepas semua pakaianku sampai telanjang bulat, dan mengikatku di atas meja, dan bukan cuma laki-laki yang mengerumuniku tetapi juga banyak juga yang perempuan, mereka semuanya mempermainkan tubuhku, menggerayangi semua tubuhku dari ujung rambut sampai telapak kaki.<br />Mereka mencubiti aku bagaikan barang dagangan. Ada pula yang mempermainkan payudaraku bagaikan susu sapi. Bahkan ada yang membawa gunting untuk menggunting bulu-bulu vaginaku. Tubuhku terasa geli sekali dan merasa bahwa aku ini hanyalah seperti barang dagangan yang dipertontonkan orang banyak
<p>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/09/28/piala-bergilir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tragedi Villa Puncak</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/09/24/tragedi-villa-puncak.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/09/24/tragedi-villa-puncak.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2007 18:10:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/09/24/tragedi-villa-puncak/</guid>
		<description><![CDATA[Namaku Marie, usiaku 26 tahun  dan bekerja di salah satu bank swasta di Bekasi. Ketika bencana itu terjadi,  usiaku baru 24 tahun. Saat itu aku sedang menghabiskan weekend di sebuah villa  di kawasan Puncak. Aku memang hanya sendiri. Tiada tujuan lain selain  menghilangkan kepenatan di segarnya udara Puncak tanpa gangguan siapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="font_10" id="cerita_size"><span class="justify"><span class="family_1" id="cerita_font">Namaku Marie, usiaku 26 tahun  dan bekerja di salah satu bank swasta di Bekasi. Ketika bencana itu terjadi,  usiaku baru 24 tahun. Saat itu aku sedang menghabiskan weekend di sebuah villa  di kawasan Puncak. Aku memang hanya sendiri. Tiada tujuan lain selain  menghilangkan kepenatan di segarnya udara Puncak tanpa gangguan siapa pun.  Tragisnya kesendirianku itu justru menghilangkan satu-satunya harta yang paling  berharga bagiku, kegadisanku.</p>
<p>Ceritanya sore itu aku berendam di air  hangat. Kira-kira jarum jam menunjukkan pukul tujuh lima belas menit petang  hari. Udara dingin Puncak yang sejak tadi siang diguyur gerimis membuatku enggan  bangun dari bathub. Kubersihkan tubuhku dengan sabun cair sampai pada kemaluanku  yang masih bisa kubanggakan karena aku belum sekalipun melakukan hubungan badan.  Karena air bath tub sudah agak dingin kuputuskan untuk mengakhiri acara  mandiku.</p>
<p>Aku berdiri di depan cermin kamar mandi sambil menghanduki  rambutku yang basah. Kupandangi tubuh telanjangku di cermin besar yang dapat  memuat bayangan tubuhku secara penuh itu. aku tersenyum sendiri memandang wajah  indoku yang bersih dari jerawat. Omaku memang asli Belanda. Lalu aku alihkan  pandanganku pada dua buah payudaraku yang bulat dan gempal. Ukurannya 36, dengan  tinggi badan yang 173 cm dan berat 54 kg. Aku usap-usap kedua payudaraku yang  tegang kedinginan. Pandanganku kemudian beralih pada satu-satunya bagian  terpeka, kemaluanku yang ditumbuhi bulu-bulu yang tak lebat. Jelas telihat  bagian gemuk itu terbelah di tengahnya. Ah.. inilah hartaku yang termahal,  pikirku sambil membelainya.</p>
<p>Tiba-tiba seseorang membuka pintu dari depan.  Aku tersentak kaget karena seharusnya tak ada orang lain di villa ini. Seorang  pemuda berbadan tegap segera menerobos masuk. Lalu ia segera menyeretku keluar  kamar mandi. Aku berusaha berontak tapi tenagaku tak cukup untuk melawan tenaga  pria itu.</p>
<p>&#8220;Hallo Nona manis, boleh kami mampir sebentar?&#8221;, sapa pemuda  lain yang telah menunggu di kamar tidur.<br />
&#8220;S.. siapa kalian? Pergi! Pergi dari  sini!&#8221;, rontaku.<br />
Pemuda yang menyeretku tadi telah memasung kedua tanganku di  kedua tiang penyangga atap. Posisiku terpasung tapi kakiku masih bebas tak  terikat.<br />
&#8220;Tenang, Nona manis. Namaku adalah Leo&#8221;, kata pemuda yang  mengikatku.<br />
Wajahnya bersih dan tampan, nampak seperti anak orang  kaya.<br />
&#8220;Dan aku Syam. Kami hanya mampir untuk bersenang-senang Nona&#8221;, lanjut  pemuda jangkung yang tadi menyeretku.<br />
Tubuhnya lebih kurus daripada Leo tapi  wajahnya juga sedap dipandang, walaupun terkesan agak beringas.<br />
&#8220;Ma.. mau apa  kalian? Tidak sopan!&#8221;, bentakku.<br />
&#8220;Ha.. galak juga, Leo. Heh perawan! Siapa  namamu?&#8221;, bentak Syam mencengkeram rahangku hingga terasa sakit.<br />
&#8220;Sabar Syam,  tanya baik-baik. Nona manis, siapa nama dari tubuh aduhai ini?&#8221;, kata Leo  mengelus-elus pinggangku.<br />
Syam melepaskan cengkeramannya. Rahangku terasa  sangat ngilu.<br />
&#8220;M.. Marie. Tolong kalian segera keluar dari villa ini, aku  mohon&#8221;, rengekku.<br />
&#8220;Enak saja! Kami sudah masuk, mana mungkin keluar tanpa  membawa hasil&#8221;, jawab Syam yang lebih cepat marah.<br />
Leo menepuk bahu Syam.  Syam mundur beberapa langkah.<br />
&#8220;Marie.. kami mampir khusus untuk menikmati  kecantikanmu. Lihatlah, kau memiliki tubuh yang sangat sensual. Juga wajah yang  cantik, sayang kalau tidak dinikmati. Syam! Lihatlah bibir nona Marie ini,  bukankah sangat sexy?&#8221;, kata si Leo sambil segera menyerang bibirku.</p>
<p>Syam  hanya tersenyum membiarkan Leo memagut bibirku dengan rakus. Tercium bau alkohol  dari mulutnya. Aku ingin meronta tapi mulutku telah dijejali dengan lidah Leo.  Kakiku menendang-nendang tapi tenaga Leo lebih kuat. Tangan kanannya  mencengkeram leherku mencegahku menghindar dari pagutannya. Sedang telapak  tangan kirinya digosok-gosokkan ke permukaan kemaluanku dengan kasar. Lidahnya  terus menjilat-jilat menghisap-hisap lidahku dengan rakusnya. Darahku serasa  naik antara rasa sakit dan nikmat. Tapi aku masih waras, kutekuk kakiku sehingga  mengenai kejantanannya yang mulai tegang. Leo mengaduh kesakitan. Ia nampak  misuh-misuh dan ingin memukulku tapi Syam mencegahnya. Leo menunduk sambil  memegangi kejantanannya. Syam mendekatiku sambil membuka kaos yang pakainya.  Nampak dada bidangnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.</p>
<p>&#8220;Sabarlah sayang,  akan terasa indah bila kau mau menikmatinya&#8221;, kata Syam.<br />
Lalu lelaki jangkung  itu mencium bibirku dengan lembut menggigit bibir bawahku perlahan-lahan lalu  menyodokkan lidahnya menyusuri benda-benda yang bisa dijangkaunya. Ternyata Syam  tidak sekasar yang kukira. Kelembutannya mencumbu bibirku membuatku bagai  diperlakukan seperti seorang kekasih. Darahku mendesir-desir. Lidahku pun  menyambut lidah Syam yang meminta-minta. Tangan Syam menggerayangi punggungku  dan terus turun ke bawah lalu berlabuh di bokongku. Diremas-remasnya mengikuti  desah nafas Syam yang sudah mulai naik turun. Jemari tangan itu mengitari  bokongku. Jemarinya bermain di bibir vaginaku dengan lembut. Jiwaku rasanya mau  terbang. Aku mengharapkan sentuhan itu lebih lama. Tapi tidak, Syam segera  mengalihkan jemarinya kembali ke bokongku. Tanpa kusadari Syam menyuntikkan  sesuatu, aku tak tahu itu apa. Hanya belum sampai hitungan kesepuluh kepalaku  terasa berat. Mataku berkunang-kunang.</p>
<p>Terdengar tawa kedua pemuda itu  sayup-sayup. Rupaya mereka telah menyuntikkan semacam obat perangsang ke dalam  tubuhku. Tubuhku terasa kejang. Darahku naik ke ubun-ubun. Hawa dingin terasa  menjadi panas. Aku menggeliat-geliat menahan birahiku yang melaju tanpa rem.  Bibirku mendehem-dehem. Kemaluanku terasa hangat, payudaraku nampak bengkak  dengan sendirinya. Gelora birahiku melonjak-lonjak. Seperti ada kekuatan yang  mendorongku untuk segera bercinta dengan mereka, ingin agar mereka segera  menggerayangiku, mencumbuku, ohh.. Bajingan! Mereka hanya tertawa-tawa melihatku  bersimbah keringat, berkelojotan menahan birahiku. Apa mereka tak tahu aku ingin  segera mereka sentuh..<br />
&#8220;Syamm.. Leo.. kenapa kalian hanya diam saja..  kemarilah.. aku.. ingin..&#8221;<br />
Tawa mereka semakin lebar.<br />
&#8220;Syam, tadi dia  menolak sekarang?! Ha..ha..&#8221;<br />
&#8220;Ayo Leo, bidadari kita ini sudah tak sabar  rupanya&#8221;</p>
<p>Samar-samar kulihat keduanya membuka semua pakaian yang melekat  di tubuh masing-masing. Nampak penis-penis yang besar menegang menantang.  Kemudian keduanya mengundi siapa dulu yang menggarapku. Ternyata Syam. Ia  mendekatiku dan kembali mencumbu bibirku, tubuhnya menempel erat di tubuhku.  Sehingga dadanya yang bidang menempel dengan kedua payudaraku yang telah  menegang. Tangannya meremas-remas bokongku yang montok lalu membelai-belai  selakangku yang telah tersendal-sendal oleh penisnya yang mengacung-acung. Ohh..  bagai terbang ke awan. Kemudian iapun menurun dan mendapati kedua payudaraku.  Matanya berbinar-binar. Diciuminya dadaku hingga terasa hangat nafasnya lalu  dimasukkannya nipples-ku ke dalam mulutnya. Aku mendesah-desah ketika nipples-ku  dijilat-jilat lalu dihisap kuat-kuat oleh lidah lincahnya.<br />
&#8220;Oah.. auh..  Syamm..&#8221;</p>
<p>Leo yamg mulai tak sabar segera melepaskan kedua ikatan  tanganku. Lalu ia ikut bergabung dengan melumat bibirku dari arah samping.  Tanganku menjambak-jambak rambut Syam sambil meladeni Leo. Kini gerakannya lebih  lembut walau tak selembut Syam. Sepuluh menit kemudian mereka melepaskan  mulutnya dari tubuhku. Aku terkulai di lantai memandangi kedua payudaraku yang  terasa sangat berat membengkak, nampak beberapa bekas gigitan  Syam.</p>
<p>Samar-samar terlihat Leo berdiri diatas tubuhku. Ia  mengacung-acungkan penisnya yang besar menegang dan memintaku untuk mengulumnya.  Aku bangkit dari tidurku dan tak berapa lama penis berkulit kecoklatan itu telah  masuk ke dalam mulutku. Leo mengelus-elus rambutku sambil terus menyodokkan  penisnya ke dalam mulutku. Aku mengulumnya, lidahku menyapu semua bagian benda  panjang itu. Leo mengocok-ngocoknya berirama hinga ujungnya menyemburkan cairan  sperma.<br />
&#8220;Syam! Aku keluar Syam! Keluar.., aarrghh..&#8221;, teriak Leo.</p>
<p>Aku  ingin memuntahkannya tapi Leo mencegahnyanya dengan terus menyodokkan  penisnya.<br />
&#8220;Telan sayang, telan..&#8221;, terdengar suara Syam yang telah  meremas-remas kemaluanku yang terasa lengket dari belakang.<br />
Perlahan-lahan  Syam menuntunku untuk menungging. Kakiku bertumpu pada lutut sedang tanganku  berpegangan pada kedua paha Leo. Aku tak tahu apa yang diperbuat Syam. Yang  kurasakan hanya nikmatnya penis Leo. Tak kuduga tiba-tiba terasa ada benda asing  yang masuk ke dalam lubang vaginaku.<br />
&#8220;Aaah..&#8221;, teriakku  tertahan.</p>
<p>Gigiku menggigit penis Leo nenahan rasa nyeri di lubang  kewanitaanku itu. Leo berjingkat-jingkat menahan rasa sakit sambil misuh-misuh.  Tapi Syam bagai tak peduli terus berusaha menerobos tirai-tirai kewanitaanku.  Hingga akhirnya jebol, darah mengucur sampai pada pahaku. Aku menangis  tersendat-sendat tapi Syam semakin asyik memainkan penisnya di memekku.  Memasukkannya beberapa senti lalu mengeluarkannya, belum sampai keluar sudah  disodokkannya lagi. Sperma muncrat ke dalam lubang vaginaku. Dalam tangis jiwaku  seakan melayang. Sejujurnya aku sangat menikmatinya saat itu. Terasa sangat  indah ketika Syam menggoyang-goyangkan penisnya di dalam lubang  vaginaku.</p>
<p>Sekitar pukul sepuluh malam. Keringatku mengucur deras. Aku  telentang di lantai. Di sampingku nampak Syam yang juga terengah-engah. Tapi Leo  ternyata belum puas. Dicumbunya kelaminku dengan lidahnya. Licah menyusuri  dinding-dinding vaginaku menghisap-hisap klitorisku dengan gemas. Mataku  berkejap-kejap menahan nikmat yang tercipta. Selakangku mengatup mencengkeram  kepala Leo agar tak pergi dari kemaluanku. Sepuluh menit kemudian Leo memasukkan  jari tengahnya dengan mudah ke dalam lubang memekku. Untuk kedua kalinya  pertahananku jebol. Cairan kewanitaanku muncrat membasahi telunjuk Leo.  Ditariknya jari tengah Leo yang bersarung di memekku. Tanpa rasa jijik  dijilatnya jari tengah yang berlumuran cairan kewanitaanku itu dengan senyum  kepuasan.</p>
<p>Terdengar suara orang ronda diluar melintas di depan villa.  Maka dengan tergesa-gesa Syam dan Leo mengenakan pakaiannya lalu melompat dari  jendela kamarku meninggalkanku dalam keadaan sangat lemah. Aku berusaha menjerit  memanggil-manggil penjaga ronda keliling itu. Tapi suaraku bagai tersumbat.  Belum sampai sepuluh hitungan pandanganku telah gelap gulita. Tamat</span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/09/24/tragedi-villa-puncak.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wawancara Tragis</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/09/24/wawancara-tragis.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/09/24/wawancara-tragis.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2007 18:09:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/09/24/wawancara-tragis/</guid>
		<description><![CDATA[Kita semua mengetahui di  daerah Papua sekarang sedang terjadi suatu kegitan yang ingin memisahkan diri  dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuk itulah maka sebuah stasiun  televisi swasta mengirim seorang presenternya untuk meliput dari dekat kegiatan  dari organisasi Papua Merdeka yang dipimpin oleh seorang Papua yang bernama  Weweko. Untuk itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="font_10" id="cerita_size"><span class="justify"><span class="family_1" id="cerita_font">Kita semua mengetahui di  daerah Papua sekarang sedang terjadi suatu kegitan yang ingin memisahkan diri  dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Untuk itulah maka sebuah stasiun  televisi swasta mengirim seorang presenternya untuk meliput dari dekat kegiatan  dari organisasi Papua Merdeka yang dipimpin oleh seorang Papua yang bernama  Weweko. Untuk itu sebagai reporter ditunjuk Ariana Herawati yang dikenal bagus  dalam wawancara ditambah telah berpengalaman. Karena ditugaskan oleh Dewan  Redakturnya maka Ariana yang saat itu sedang menikmati bulan madunya yang baru 1  bulan tidak dapat mengelak, sedang suaminya memang agak keberatan karena Arie  harus bertugas di pedalaman Papua selama 1 minggu. Ia khawatir akan keselamatan  istrinya yang baru 1 bulan dinikahinya, namun karena tidak ingin menghambat  karir istrinya dengan terpaksa Dono mengijinkannya.</p>
<p>Setibanya di bandara  Timika Papua, Ari dijemput oleh rekan krunya. Dari bandara mereka langsung  menuju hotel dan mempersiapkan peralatan yang akan mereka bawa. Dari hotel,  keesokan harinya rekan Ariana dijemput dengan sebuah mobil dan langsung  berangkat ke tempat yang telah mereka rencanakan. Rombongan tersebut terdiri  dari 1 orang kru kantor, dan satu orang lagi penunjuk jalan ditambah dengan  Ariana sendiri.</p>
<p>Setibanya di tempat tujuan, kru tersebut harus  menyeberangi sungai yang amat deras dan dalam mempergunakan sebuah perahu.  Ketika sampai di seberang sungai mereka harus berjalan kaki lagi selama 5 jam  dari tempat itu, perjalanan itu melewati hutan pedalaman yang amat besar. Di  tempat yang telah disepakati dengan OPM tersebut mereka menunggu dengan sangat  khawatir sebab mereka telah terlebih dahulu tiba. Kurang lebih 1 jam menunggu,  para OPM tersebut datang dengan pasukannya lengkap. Di dalam gubuk yang telah  disediakan, Ariana diperkenalkan dengan Weweko yang memimpin pasukan pemberontak  tersebut, namun mereka terlebih dahulu digeledah peralatannya tidak terkecuali  pakaian Ariana mereka geledah. Ini adalah tahap pertama Ariana mengalami  pelecehan sexual dengan nakal. Para tentara OPM menggerayangi pakaian dan  anggota tubuhnya dengan kasar. Hal ini membuat Ariana agak sedikit takut dan  menyalahkan dirinya sendiri yang ia akui hanya ia sendiri yang wanita dalam  rombonggan itu. Ariana agak bergidik ketakutan jika melihat sorot mata Weweko,  sebab saat bersalaman tadi mata Weweko tidak jauh dari memandang daerah sensitif  tubuhnya, ditambah para pengawal yang sangat sadis kelihatannya.</p>
<p>setelah  wawancara dilalukan selama 1 jam, teman-teman Ariana disuruh pulang ke tempat  semula dengan mata ditutup tidak terkecuali Ariana. Sambil senjata ditodongkan  ke arahnya para teman Ariana bergerak keluar daerah pertemuan. Ariana dibawa ke  dalam hutan tanpa sepengetahuannya karena matanya ditutup. Di dalam hutan  belantara itu Weweko menggiring Ariana sampai di tendanya yang dikawal ratusan  pasukan OPM. Sebagai pimpinan ia amat berkuasa dan ditakuti anak buahnya.  Setibanya di tenda, Weweko memerintahkan anak buahnya untuk membuka penutup mata  Ariana. Dengan kaget bercampur takut Ariana bertanya mengenai teman-temannya  namun dengan santai Weweko mengatakan bahwa Ariana akan mereka tawan sebagai  sandera, Ariana sadar bahwa ia telah masuk ke dalam jebakan Weweko dengan  terpisahnya ia dari temannya.</p>
<p>&#8220;Mau diapakan saya!&#8221; tanya Ariana galak.  Ariana berteriak keras.<br />
Dengan senyum menakutkan, Weweko berkata, &#8220;Sebaiknya  nona diam dan menuruti kemauan saya.. sekarang kamu adalah milik saya dan saya  berkuasa atas diri nona. Tidak seorangpun mampu membebaskan nona dari hutan  papua ini.&#8221;<br />
&#8220;Sudah lama saya tidak mencicipi tubuh wanita apalagi secantik  nona.. Apakah nona mau jadi istri saya?&#8221; kata Weweko kemudian.<br />
Ariana  bergidik ngeri. Ia tidak bisa membayangkan kebuasan pria Papua ini dalam  bercinta. Jika ia diperkosa sudah pasti ia tidak dapat melepaskan diri. Ia hanya  diam dan memandang sosok Weweko yang tinggi, hitam, bau dan menjijikan  nalurinya. Ia terbayang bagaimana buasnya Weweko menggagahinya jika itu terjadi.  Ia masih ingat pesan suaminya, namun nasi telah menjadi bubur, ia telah jatuh ke  tangan OPM. Ariana hanya diam duduk dalam keremangan malam yang dingin di dalam  tenda yang hanya beralaskan bulu hariamau. Sementara di luar tenda ia melihat  para pengawal Weweko dan Weweko sedang berpesta pora dengan menikmati daging  babi panggang dan meminum arak. Mereka bernyanyi sepuasnya. Berbeda dengan  Ariana, di dalam tenda ia hanya diam dan merasakan dinginnya malam di hutan  Papua yang terkenal ganas dan dingin itu. Sesaat kemudian datanglah Weweko  membawa makanan untuk Ariana juga minuman untuk menghangatkan badan, namun  Ariana hanya memakan sedikit daging ikan. Ia tidak menyukai daging babi, ia  tidak terbiasa makan babi, namun atas paksaan Weweko ia akhirnya memakannya  juga. Ia juga meminum arak sedikit supaya badannya hangat. Sedang ia dari tadi  merasakan dinginnya hutan Papua sampai ketulangnya dan membuat Ariana  menggigil.</p>
<p>Dengan mata berbinar, Weweko mendekati Ariana dan berusaha  memegang dagunya, namun dikibaskan oleh Ariana. Saat itu, Weweko hanya memakai  Koteka dan muka dicat seperti pakaian tradisional Papua, sedang di bagian  vitalnya yang panjang hanya ditutupi penutup seadanya, seakan ia akan mengadakan  hubungan sexual.<br />
&#8220;Jangan marah manis?&#8221; Weweko berujar.<br />
&#8220;Alangkah asyiknya  jika malam yang dingin ini kita berbagi kehangatan dan saling memberi  kemesraan.&#8221; katanya.<br />
&#8220;Cis!&#8221; Ariana meludah.<br />
&#8220;Tidak sudi aku bermesraan  dengan kamu, biadap!&#8221; katanya.<br />
Dengan senyum simpul sambil menjilat ludah  yang dibuang Ariana tadi, Weweko berusaha memeluk dan menaklukan Ariana. Bau  tubuh Weweko membuat Ariana ingin muntah, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa  untuk melawan.</p>
<p>Di dalam tenda itu hanya ada ia dan Weweko. Dengan paksa  Weweko membuka baju kemeja Ariana dengan robekan di dadanya sehingga tersembul  dada montok yang putih tertutup BH. Ini membuat Weweko semakin berusaha untuk  menaklukan Ariana. Dengan tangannya Ariana memalangkan tangannya pada dada yang  terbuka itu. Payudara yang montok itu tidak bisa ditutupi seluruhnya. Sambil  memegang tangan dan memeluknya, Ariana akhirnya menyerah dalam pelukan Weweko.  Tidak ada yang terucap dari bibirnya, ia hanya diam, pasrah menanti apa yang  akan terjadi. Dengan sekali sentak Ariana ditelentangkan di atas bulu alas tenda  itu. Kesempatan ini tidak disia-siakan Weweko ia terus menjelajahi dada dan  bibir Ariana dengan buas. Inchi demi inchi tidak luput dari perhatian Weweko ia  terus memburu setiap sudut di tubuh Ariana. Saat itu BH Ariana telah tanggal  dari tempatnya. Dengan tangannya, Weweko berusaha memilin dan menggigit ujung  dari susu Ariana, membuat Ariana hanya menutup matanya, ia tidak sanggup melihat  apa yang dikerjakan Weweko atas tubuhnya. Secara naluri seks, birahinya mulai  bangkit ditambah udara malam yang begitu dingin.</p>
<p>Sejurus kemudian, celana  jeans Ariana dibuka Weweko dan terpampanglah batang paha mulus yang di tengahnya  ditutupi segitiga pengaman berwarna merah. Langsung saja tangan Weweko menggusur  CD Ariana itu dan dengan jari-jarinya yang besar dan kasar, ia masukkan ke dalam  lubang kewanitaan Ariana. Sementara itu mulut Weweko tidak beranjak dari dada  Ariana. Dengan naluri binatangnya Weweko melebarkan kaki Ariana dan terkuaklah  belahan kewanitaan Ariana yang ditumbuhi bulu dengan daging kecil di belahan  itu. Goa itu mulai basah oleh tingkah laku jari tangan Weweko, dan tidak lama  kemudian dengan lidahnya Weweko mejilat daging kecil itu selama 15 menit. Secara  tiba-tiba mulut Weweko disemprot oleh air mani Ariana dan tertelan oleh Weweko.  Inilah saat bagi pria Papua yang ditunggu-tunggu. Apabila sampai menelan air  mani wanita maka ia akan menambah keperkasaannya. Dengan merubah posisi, Weweko  membuka penutup batang kemaluannya yang terbuat dari tumbuhan itu maka  terlihatlah kelaminnya yang panjang dan besar tersebut. Ia bersiap-siap untuk  memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Ariana, namun Ariana yang sudah  orgasme harus ia ransang dulu dengan memilin payudara dan mengorek-ngorek isi  lubang kemaluannya dulu.<br />
Tidak lama kemudian, Ariana telah teransang, barulah  Weweko memasukan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluan sempit  itu.<br />
&#8220;Nona harus mencoba punya saya, jangan coba curang, ya?&#8221; kata Weweko  dengan kasar.<br />
Ariana yang sudah tidak mengerti dengan keadaan dirinya hanya  menurut dan seluruh batang kemaluan Weweko telah masuk kedalam mulutnya dan  mencoca menjilatnya dengan gerakan maju mundur. Tidak kurang dari 14 menit,  barulah Weweko menyemprotkan maninya ke mulut Ariana. Ariana diharuskan  menelannya karena sesuai kepercayaan Papua, apabila seorang wanita telah menelan  mani prianya, maka wanita itu akan sulit melepaskan diri dari pria Papua yang  menyenggamainya. Beberapa saat setelah Weweko berusaha kembali merubah arah dan  posisi mereka, yang saat itu telah berhadap-hadapan dengan tubuh penuh keringat,  kedua insan dua ras tersebut berusaha menyudahi perjalanan kenikmatan ragawinya  pada tahap akhir.</p>
<p>Dengan terlebih dahulu Weweko memegang kendali, Weweko  memancing birahi Ariana. Ariana teransang dan penetrasi tahap akhir akan  dilakukan. Dengan menelentangkan tubuh Ariana di atas bulu itu, kedua paha  Ariana ia buka dan di pinggulnya Weweko meletakan buntalannya sehingga terlihat  isi kemaluan Ariana. Kedua kaki Ariana diangkat ke bahu Weweko yang bidang. Saat  itu batang kemaluan Weweko tegak menghadap ke lubang kemaluan Ariana yang dengan  supernya ingin mengaduk-aduk isi lubang kemaluan Ariana. Beberapa saat kemudian,  dengan sedikit paksa, batang kemaluan Weweko masuk sebagian ke dalam lubang  kemaluan itu. Beberapa saat kemudian, ia tembakkan langsung dengan ganas,  memaju-mundurkan batang kemaluannya di dalam lubang kemaluan itu. Ariana sempat  kesakitan dan air matanya keluar, namun mulutnya telah ditutupi oleh bibir  Weweko. Sementara itu tangan Weweko memegang pantat Ariana supaya selama ia  bergerak tidak terlepas. Ia khawatir Ariana akan mengeluarkan batang kemaluannya  dari lubang kemaluannya saat Ariana kesakitan. Ariana hanya dapat memegang  tangan dan bahu Weweko hingga berdarah tercakar sebab Ariana amat kesakitan  akibat gerakan dan gesekan batang kemaluan Weweko mengaduk-aduk lubang  kemaluannya. Akhirnya Ariana pingsan beberapa saat dan pada saat ia mulai sadar  kembali, Weweko melakukan aktifitasnya yang tertunda tadi, kurang lebih 20  menit, ia menggenjot batang kemaluannya keluar masuk lubang kemaluan sempit  itu.</p>
<p>Akhirnya ia melepaskan air maninya di dalam lubang kemaluan Ariana  sebanyak-banyaknya. Ia tidak memperdulikan kesakitan bagi Ariana. Yang ada pada  dirinya adalah agar kepuasanya terpenuhi karena ia sudah berbulan bulan tidak  merasakan tubuh wanita.</p>
<p>Sampai pada pagi harinya, Weweko terus berusaha  memuaskan nafsunya kepada tubuh Ariana yang tidak berdaya itu beberapa kali.  Sampai pada akhirnya, pada saat pelariannya, Weweko selalu mengikut-sertakan  Ariana di dalam hutan Papua itu, ia menganggap Ariana adalah istrinya dan Ariana  harus mau mengikuti kemauannya baik itu dalam hubungan seksual maupun dalam  masalah pelariannya. Tamat</span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/09/24/wawancara-tragis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wulan si Gadis Desa</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/09/24/wulan-si-gadis-desa.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/09/24/wulan-si-gadis-desa.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2007 18:08:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/09/24/wulan-si-gadis-desa/</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini adalah dramatisasi  dari kisah nyata, dan merupakan satu dari beberapa cerita lepas dengan tokoh  utama yang sama. Antara satu dan lainnya tidak harus dibaca  berurutan.
Sebut saja namaku Paul. Aku bekerja di sebuah instansi  pemerintahan di kota S, selain juga memiliki sebuah usaha wiraswasta. Cerita  berikut ini bukan pengalamanku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="font_10" id="cerita_size"><span class="justify"><span class="family_1" id="cerita_font">Cerita ini adalah dramatisasi  dari kisah nyata, dan merupakan satu dari beberapa cerita lepas dengan tokoh  utama yang sama. Antara satu dan lainnya tidak harus dibaca  berurutan.</p>
<p>Sebut saja namaku Paul. Aku bekerja di sebuah instansi  pemerintahan di kota S, selain juga memiliki sebuah usaha wiraswasta. Cerita  berikut ini bukan pengalamanku sendiri, melainkan pengalaman seorang rekanku,  sebut saja dia Ta. Kami memang punya &#8220;hobi&#8221; yang sama, namun Ta punya trik  tersendiri untuk menyalurkan hobinya. Kini selain terdaftar di kota asalnya, ia  juga resmi penduduk sebuah desa yang agak terpencil. Berikut adalah caranya  mendapatkan kembang desa, meski sudah beristri tiga orang.</p>
<p>Wulan  terbangun dengan kepala yang pusing. Namun entah mengapa kedua tangannya tidak  dapat digerakkan. Seluruh tubuhnya terasa hangat. Sambil mengerjapkan matanya,  gadis itu memandang sekelilingnya. Ternyata ia berada dalam sebuah kamar yang  belum pernah dilihatnya, terbaring di atas ranjang empuk dan besar yang berwarna  merah jambu. Dari jendela yang tertutup terbayang hari sudah gelap. Dalam kamar  itu sendiri hanya ada sebuah lampu kecil yang menyala remang-remang. Wulan hanya  ingat Sabtu sore tadi setelah bertanding bola volley melawan sekolah dari  kecamatan tetangga, ia harus berlari-lari dalam gerimis hujan menuju rumah  neneknya untuk menginap malam ini, karena rumahnya terlalu jauh dari lapangan  volley.</p>
<p>Seperti umumnya gadis desa lainnya, meskipun tidak terlalu  tinggi, namun Wulan memiliki tubuh yang montok dan padat. Buah dadanya yang  membusung kencang seolah tidak muat dalam bra bekas kakaknya yang kekecilan.  Ditunjang dengan kulitnya yang kuning langsat mulus dan rambut sebahu, wajahnya  yang manis sering membuat pemuda desa terpaku dan menelan ludah saat gadis itu  lewat dengan goyangan pinggulnya. Pantatnya yang montok selalu menonjol di balik  rok seragam sekolahnya, yang biarpun di bawah lutut, ketatnya memperlihatkan  garis celana dalam gadis itu.</p>
<p>Bukan hanya para pemuda, beberapa orang  yang telah beristri pun berangan-angan menjadikan gadis kelas 1 SMU itu istri  mudanya. Menurut katuranggan, gadis macam Wulan rasanya peret dan legit, pasti  akan memberikan kenikmatan sepanjang malam, membuat suaminya betah di rumah.  Tidak heran, tiap kali ada pertandingan volley, selalu banyak penontonnya, meski  kebanyakan hanya menonton paha Wulan yang bercelana pendek dan guncangan buah  dadanya saat gadis itu memukul bola.</p>
<p>&#8220;Ah, sudah bangun Nduk..?&#8221; sebuah  suara dan lampu yang menyala terang mengagetkan gadis itu.<br />
Tampak seorang  pria kekar memasuki ruangan. Wulan mengenalinya sebagai Ta, seorang terpandang  di desanya. Meski bukan penduduk desa itu, namun suka kawin-cerai dengan  gadis-gadis di sini. Dalam sebulan paling ia hanya di rumah satu-dua hari saja,  selebihnya &#8220;kerja di kota&#8221;. Sekarang ini istrinya di sini sudah ada tiga orang,  semuanya masih belasan tahun dan cantik-cantik, namun masih suka menggoda Wulan  tiap kali bertemu. Bahkan baru saja ia pernah berusaha melamar gadis itu namun  tidak berhasil.</p>
<p>Wulan berusaha bangun, namun tangan dan kakinya tetap  lemas tidak dapat bergerak.<br />
&#8220;Tenang saja Nduk, nggak usah banyak gerak. Malam  ini kamu di sini dulu.&#8221; kata Ta.<br />
Tidak sengaja Wulan melihat ke dinding  kamar, dan dari cermin besar yang terpasang di sana, ia menyadari kedua  tangannya terikat menjadi satu di atas kepalanya, demikian juga kedua kakinya  yang terentang ke sudut-sudut ranjang, seperti huruf Y terbalik. Seluruh  tubuhnya tertutup selimut, namun ujung selimut yang tersingkap memperlihatkan  sebagian paha gadis itu. Di sudut ranjang tampak terserak baju seragam dan rok  yang tadi dipakainya.</p>
<p>&#8220;Pak Ta, Wulan dimana? Kenapa Wulan begini?&#8221; tanya  gadis itu dengan panik.<br />
Ia mulai teringat saat berlari ke rumah neneknya tadi  seseorang menariknya dari belakang dan menempelkan sesuatu yang berbau menyengat  ke wajahnya, kemudian semuanya menjadi gelap, hingga akhirnya ia kemudian  tersadar di situ.<br />
&#8220;Tenang Wulan, kamu baik-baik saja. Malam ini kita akan  kawin. Minggu lalu saya sudah melamarmu pada bapakmu. Sekarang kita akan nikmati  malam pertama kita.&#8221; kata Ta sambil menyeringai.<br />
&#8220;Enggak! Enggak! Kemarin  Bapak bilang ditolak! Wulan nggak mau!&#8221; gadis itu berusaha meronta, namun ikatan  tangan dan kakinya terlalu kuat baginya.</p>
<p>Sambil tertawa terkekeh, Ta  perlahan menarik selimut yang menutupi tubuh gadis itu, membuat Wulan terpekik  karena penutup tubuhnya perlahan terbuka, sedangkan ternyata di balik selimut  itu ia sudah telanjang bulat.<br />
&#8220;Jangan! Jangan! Aduh jangan! Pak Ta, jangan  Pak! Tolong..!&#8221;<br />
Dengan sigap Ta mengambil pakaian dalam Wulan yang terserak  di atas ranjang, lalu menyumpal mulut gadis itu dengan celana dalamnya sendiri,  dan mengikatnya ke belakang dengan bra gadis itu.<br />
&#8220;Pak? Kamu panggil aku Pak?  Aku ini suamimu, tahu! Panggil aku Kangmas!&#8221; seru Ta sambil menampar pipi Wulan  sampai gadis itu memekik kesakitan.</p>
<p>Ta semakin beringas melihat tubuh  Wulan yang montok telanjang bulat. Kedua paha gadis manis itu terentang lebar  mempertontonkan bibir kemaluannya yang jarang-jarang rambutnya.<br />
&#8220;Diam Sayang!  Ini malam kita bedah kelambu! Kalau bapakmu yang tolol itu tidak mau anaknya  dilamar baik-baik, kita lihat saja besok! Karena besok anak perawannya sudah  tidak perawan lagi!&#8221;<br />
Tanpa basa basi Ta segera membuka pakaiannya sendiri,  lalu melompat ke atas ranjang. Wulan dengan sia-sia meronta dan menjerit saat Ta  menindih tubuhnya yang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Gadis itu  bahkan tidak bisa untuk sekedar merapatkan pahanya yang terkangkang  lebar.</p>
<p>Pekikan Wulan tertahan sumpalan celana dalam saat Ta meremas buah  dada gadis itu dengan kerasnya. Rontaan dan pekikan gadis cantik itu sama sekali  tidak digubris. Ta kemudian menempatkan kejantanannya tepat di depan bibir  kemaluan Wulan.<br />
&#8220;Diam Sayang! Jangan takut, enak sekali kok! Nanti pasti kamu  ketagihan. Sekarang biar Kangmas ambil perawanmu..&#8221; sambil berkata begitu Ta  menghujamkan kejantanannya memasuki hangatnya keperawanan Wulan.<br />
Selaput dara  gadis itu terasa sedikit menghalangi, namun bukan tandingan bagi keperkasaan  kejantanan Ta yang terus menerobos masuk.</p>
<p>&#8220;Haanggkk..! Aahhkk..!&#8221; Napas  gadis itu terputus-putus dan matanya yang bulat indah terbeliak lebar saat Wulan  merasakan perih tiba-tiba menyengat selangkangannya.<br />
Tubuh montok gadis itu  tergeliat-geliat merangsang dengan napas tersengal-sengal sambil terpekik  tertahan-tahan ketika Ta dengan perkasa menggenjotkan kejantanannya menikmati  hangatnya kemaluan perawan Wulan yang terasa begitu peret.<br />
&#8220;Aahh.. enak  sekali tempikmu.. aahh.. Wulaanh.. enak kan Nduk..? Terus ya Nduk..?&#8221; Ta  mendesah merasakan nikmatnya mengambil kegadisan si kembang desa.</p>
<p>Wulan  sambil merintih tidak jelas menggelengkan kepala dan meronta berusaha menolak,  namun semua usahanya sia-sia, dan gadis itu kembali terpekik dan tersentak  karena Ta kini dengan kuat meremasi kedua payudaranya yang kencang menantang.  Memang benar kata orang, gadis seperti Wulan memang sangat memuaskan, wajahnya  yang cantik, buah dadanya yang tegak menantang bergerak naik turun seirama  napasnya yang tersengal-sengal, tubuhnya yang montok telanjang bersimbah  keringat, kedua pahanya yang mulus bagai pualam tersentak terkangkang-kangkang,  bibir kemaluannya tampak megap-megap dijejali kejantanan Ta yang begitu besar.  Sementara dinding kemaluannya terasa seperti mencucup-cucup tiap kali gadis itu  terpekik tertahan.</p>
<p>Wulan dengan airmata berlinang merintih memohon ampun,  namun tusukan demi tusukan terus menghajar selangkangannya yang semakin perih.  Payudaranya yang biasanya tersenggol pun terasa sakit kini diremas-remas tanpa  ampun. Belum lagi rasa malu diikat dan ditelanjangi di depan orang yang tidak  dikenalnya, lalu diperkosa tanpa dapat berkutik. Rasanya bagai bertahun-tahun  Wulan disetubuhi tanpa mampu melawan sedikitpun.</p>
<p>&#8220;Hhh..! Wulanh..!  Wulaann..! Sekarang Mas bikin kamu hamil, sayangghh..! Aah.. ambil Nduk! Nih!  Nih! Niih..!&#8221;<br />
Tanpa dapat ditahan lagi Ta menyemburkan spermanya dalam  hangatnya kemaluan Wulan sambil sekuat tenaga meremas kedua payudara gadis itu,  membuat Wulan tergeliat-geliat dan terpekik-pekik tertahan sumpalan celana dalam  di mulutnya. Kepala gadis itu terasa berputar menyadari ia akan hamil. Perlahan  pandangan gadis itu menjadi gelap.</p>
<p>Wulan kembali tersadar oleh dengusan  napas di depan wajahnya. Sebelum sadar sepenuhnya, sengatan perih di  selangkangannya membuat gadis itu terpekik dan meronta. Namun tangan dan kakinya  tidak mau bergerak, dan pekikan-pekikannya tidak dapat keluar. Dengan gemas Ta  kembali menggenjotkan kejantanannya menikmati keperawanan Wulan. Ta tidak tahan  lagi untuk tidak kembali menggagahi gadis itu, memandanginya tergolek telanjang  bugil tanpa daya di atas ranjang. Pahanya yang putih mulus terkangkang seolah  mengundang, bibir kemaluannya yang berambut jarang terlihat berbercak merah,  tanda Wulan memang betul-betul masih perawan, tadinya.</p>
<p>Kedua payudara  gadis itu berdiri tegak menjulang, dengan puting susu yang kemerahan  menggemaskan. Sementara wajahnya yang manis dan bau tubuhnya yang harum alami  sungguh membuat Ta lupa diri. Dengan istri muda seperti Wulan, ia tidak akan mau  tidur sekejap pun, tidak perduli gadis itu suka atau tidak.<br />
&#8220;Aah..! Ahk!  Angkung (ampun)..! Aguh (aduh).. hakik (sakit).. angkung (ampun)..!&#8221; Wulan  merintih-rintih tidak jelas dengan mulut tersumpal celana dalam di sela-sela  jeritan tertahan.</p>
<p>Tanpa mampu merapatkan pahanya yang terkangkang, gadis  itu merasakan kemaluannya semakin perih tiap kali Ta menggerakkan kejantanannya.  Tiap detik, tiap genjotan terasa begitu menyakitkan, Wulan berharap kembali  pingsan saja agar perkosaan ini segera berlalu. Namun gadis itu tanpa daya  merasakan bagian bawah tubuhnya terus ditusuk-tusuk benda yang begitu  besar.</p>
<p>Ta semakin giat menggenjotkan kejantanannya dalam hangatnya  kemaluan Wulan yang peret dan mencucup-cucup menggiurkan. Istri barunya ini  memang pintar memuaskan suami di atas ranjang. Apalagi kalau nanti diajak tidur  beramai-ramai bersama satu atau dua istrinya yang lain. Membayangkan meniduri  dua atau tiga gadis sekaligus membuat Ta semakin bersemangat menyodok kemaluan  Wulan, semakin cepat, semakin dalam.</p>
<p>Ta merasakan kejantanannya menyentuh  dasar kemaluan gadis itu bila disodokkan dalam-dalam. Wulan sendiri hanya  merintih tampak pasrah mempersembahkan kesuciannya pada Ta. Airmata gadis itu  tampak berlinang membasahi pipinya yang kemerahan. Tubuh montok gadis itu  tergelinjang-gelinjang kesakitan tiap kali kejantanan Ta menyodok masuk dalam  kemaluannya yang begitu sempit. Dengan menggeram seperti macan menerkam mangsa,  Ta dengan nikmat menyemburkan sperma dalam kehangatan tubuh Wulan yang terpekik  tertahan-tahan.</p>
<p>Semalam suntuk Ta dengan gagahnya memperkosa Wulan,  setidaknya lima kali gadis itu disetubuhi tanpa daya. Entah berapa kali Wulan  pingsan ketika Ta mencapai puncak, hanya untuk tersadar ketika tubuhnya kembali  dinikmati dengan buasnya. Selangkangan gadis itu terasa perih dan panas, seperti  ditusuk-tusuk besi yang merah membara. Payudaranya serasa lecet diremas  habis-habisan, terkena semilir angin pun perih. Punggung gadis itu perih  tergores kuku Ta.</p>
<p>Namun siksaan tanpa belas kasihan itu tidak kunjung  usai, bagai tidak mengenal lelah kejantanan Ta terus bertubi-tubi menusuk  dalam-dalam, kedua tangannya seperti capit kepiting terus mencengkeram buah dada  Wulan. Sementara gadis itu dengan tangan dan kaki terikat erat tidak mampu  berkutik, apalagi menghindar atau mencegah. Bahkan menjerit pun Wulan tidak  mampu, tenaganya sudah habis dan sumpalan celana dalamnya sendiri membuat  pekikannya hanya seperti erangan. Bagai berabad-abad Wulan dibuat bulan-bulanan  tanpa daya.</p>
<p>Dari sela-sela jendela yang tertutup, sinar matahari pagi  menerobos masuk. Dengan lemas Ta berbaring di sisi Wulan yang terisak-isak.  Sungguh luar biasa istri barunya ini, semalam suntuk gadis ini mampu melayani  suaminya. Dari jam tujuh malam sampai jam enam pagi, dalam sebelas jam gadis itu  mampu lima-enam kali memuaskan suaminya, meskipun harus sedikit dipaksa. Kalau  saja kemarin tidak minum obat kuat, mungkin saja pagi ini Ta tidak dapat bangun.  Sambil tersenyum lebar, Ta bangkit dan mengenakan pakaian.</p>
<p>Perlahan Ta  membuka sumpalan mulut Wulan. Gadis itu sendiri masih telanjang bulat dengan  tangan dan kaki terikat terentang lebar.<br />
&#8220;Nduk, kalau jadi istriku, kamu  minta apa saja pasti aku beri. Mau kalung? Gelang? Rumah? Sepeda motor? Jangan  takut, sebagai istri orang kaya, semua keinginanmu akan terkabul.&#8221;<br />
&#8220;Nggak  mau.. lepasin Wulan.. Wulan mau pulang..!&#8221; isak gadis itu menghiba.<br />
&#8220;Rumah  kita sekarang di sini Nduk, kamu sudah jadi istriku.&#8221; bujuk Ta.<br />
&#8220;Enggak..  enggak mau. Wulan mau pulang!&#8221; gadis itu berusaha meronta tanpa  hasil.<br />
&#8220;Jangan buat suamimu ini marah, Nduk! Kamu sudah jadi istriku, aku  bebas berbuat apa saja dengan kamu! Jangan keras kepala!&#8221; seru Ta  jengkel.<br />
Wulan sambil terisak terus menggelengkan kepala. Berulangkali  bujukan dan ancaman Ta tidak dihiraukan Wulan, membuat Ta naik  pitam.</p>
<p>&#8220;Baik, jadi kamu tidak ingin jadi istriku. Baik, kamu sendiri yang  minta, Nduk! Jangan salahkan aku kalau aku bertindak tegas!&#8221; kata Ta sambil  membuka ikatan kaki Wulan.<br />
Ta kemudian membuka ikatan tangan gadis itu dari  besi ranjang, namun kedua pergelangan tangannya tetap terikat erat. Lalu dengan  menarik ujung tali yang mengikat tangan Wulan, Ta menyeret gadis yang masih  telanjang bulat itu keluar kamar. Karena tubuhnya masih lemas, Wulan tidak kuasa  menolak dirinya yang masih bugil diseret sampai ke jalan desa yang terang  benderang.</p>
<p>&#8220;Hei, lihat! Lihat ini! Sungguh memalukan!&#8221; seru Ta sambil  menyeret gadis yang mati-matian berusaha menutupi ketelanjangannya.<br />
&#8220;Ada apa  Pak Ta? Apa yang terjadi?&#8221; tanya orang-orang desa yang segera saja mengerumuni  keduanya.<br />
&#8220;Lihat ini! Perempuan ini sudah membuat desa kita tercemar! Dia  berzinah dengan laki-laki! Saya pergoki mereka di rumah kosong di tepi desa!  Sayang laki-lakinya kabur, tapi saya tahu orangnya! Pasti nanti akan kita  tangkap!&#8221; seru Ta berapi-api.<br />
&#8220;Tidak! Tidak.. tolong..!&#8221; sia-sia Wulan  berusaha membantah, suaranya tertelan ramainya suasana.</p>
<p>&#8220;Lihat! Ini bukti  perempuan ini sudah berzinah!&#8221; Ta menunjuk ke arah selangkangan gadis itu yang  berbercak darah.<br />
Kerumunan orang bergumam dan mengangguk-anggukkan  kepala.<br />
&#8220;Tidak! Saya tidak ber..&#8221; perkataan Wulan terputus oleh teriakan  salah seorang.<br />
&#8220;Bawa ke balai desa! Biar dihukum adat di sana!&#8221;  serunya.<br />
Seseorang lain menarik tali yang mengikat tangan Wulan dan menyeret  gadis telanjang bulat itu menuju ke balai desa. Sepanjang jalan mereka  berteriak-teriak, membuat semakin banyak orang keluar rumah melihat Wulan yang  bugil diseret. Anak-anak kecil berlari-lari mengikuti sambil tertawa-tawa  mengejek.</p>
<p>Di balai desa, tepat di tengah pendopo, tali pengikat tangan  Wulan ditarik ke atas dan diikatkan dengan tiang di atasnya. Kini gadis  telanjang bulat itu berdiri tegak dengan tangan terikat ke atas. Wulan tahu  bahwa hukuman bagi orang yang berzinah biasanya keduanya ditelanjangi, kemudian  diikat seharian di balai desa. Seperti dirinya sekarang, namun ia hanya  sendirian dan ia sama sekali tidak berzinah. Gadis itu diperkosa berkali-kali,  lalu difitnah berzinah oleh pemerkosanya sendiri. Namun sia-sia gadis itu  berusaha membantah, suaranya yang kecil hilang ditelan ramainya orang di  sekitarnya. Dan kini ia berdiri telanjang bulat sendirian dikelilingi belasan  warga.</p>
<p>Isakan tangis Wulan semakin keras mendengar tawa orang-orang yang  mengelilinginya, berkomentar mencemooh tentang kemulusan tubuhnya, buah dadanya  yang ranum kemerah-merahan bekas diremas, pantatnya yang bulat, pahanya yang  mulus. Isakan gadis itu terhenti ketika sebuah truk berhenti di depan balai  desa. Beberapa ibu-ibu yang turun dari truk terheran-heran melihat ke arah  Wulan. Beberapa orang kemudian menurunkan barang-barang dari truk. Wulan  tersadar, hari ini hari pasar, dan ratusan orang akan berkumpul hanya beberapa  meter darinya. Ratusan orang akan melihat dirinya telanjang bulat tanpa tertutup  sehelai benang pun.</p>
<p>Kepala gadis itu terasa berputar, saat Ta berbisik di  telinganya, &#8220;Rasakan akibatnya kalau kamu tidak mau jadi istriku! Sekarang semua  orang tahu kamu sudah tidak perawan, dan semua orang juga sudah pernah melihat  kamu tanpa pakaian!&#8221;<br />
Perlahan gadis itu kembali terisak dan berpikir  seandainya saja ia menerima menjadi istri Ta. Tamat</span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/09/24/wulan-si-gadis-desa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkosaan pegawai jalan Sudirman</title>
		<link>http://jablayonline.info/2007/09/24/perkosaan-pegawai-jalan-sudirman.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2007/09/24/perkosaan-pegawai-jalan-sudirman.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Sep 2007 18:07:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Perkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/index.php/2007/09/24/perkosaan-pegawai-jalan-sudirman/</guid>
		<description><![CDATA[Saat itu waktu sudah  menunjukkan pukul 11.30 malam, Irma, seorang karyawati yang terlahir 23 tahun  yang lalu dan saat ini bekerja di perusahaan perkebunan terkemuka di kawasan  Sudirman, sedang melangkah agak tergesa2 menuju kost2annya di kawasan Bendungan  Hilir. Irma agak letih setelah seharian bekerja plus lembur sampai malam tiba  untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="font_10" id="cerita_size"><span class="justify"><span class="family_1" id="cerita_font">Saat itu waktu sudah  menunjukkan pukul 11.30 malam, Irma, seorang karyawati yang terlahir 23 tahun  yang lalu dan saat ini bekerja di perusahaan perkebunan terkemuka di kawasan  Sudirman, sedang melangkah agak tergesa2 menuju kost2annya di kawasan Bendungan  Hilir. Irma agak letih setelah seharian bekerja plus lembur sampai malam tiba  untuk memenuhi laporan penjualan CPO pada bulan itu. Karena letih, yang ia  pikirkan hanya bagaimana cepat2 sampai kost2nya, kemudian tidur melepas penatnya  setelah seharian bekerja. Sehingga tanpa ia sadari, 6 pasang mata sedang  melihatnya dari kejauhan. 6 pasang mata yang terlihat merah karena bir pletok  yang mereka beli hasil mengamen itu melihatnya dari atas ke bawah, lalu ke atas  lagi, lalu ke bawah lagi, sambil menahan air liur membayangkan kemolekan tubuh  Irma yang pada saat itu mengenakan rok selutut dan kemeja warna putih, yang  menerawangkan bra hitamnya. Tiba2 salah seorang dari mereka berkata &#8220;eh, ada  cewek lewat tuh&#8221;. &#8220;oke juga tuh tete&#8221; timpal yang lain. &#8220;kita isep yuk ha3x&#8221;  mereka tertawa bersama2. Setelah kurang lebih jarak antara mereka dengan Irma  100 meter, tiba2 salah satu dari mereka mengikuti langkah Irma, kemudian mereka  membekap mulut Irma, dan menyeretnya ke arah bedeng proyek yang ada di dekat  mereka. Bedeng tersebut kosong, karena ditinggal pekerja proyeknya selama  beberapa hari.</p>
<p>Mereka berenam kemudian menyekap Irma yang meronta-ronta  di dalam bedeng tersebut, sambil tertawa2 dengan mulut yang bau alkohol  menyengat. Salah seorang dari mereka memegangi tangan kanan Irma, yang lainnya  memegangi tangan kiri dan menyekap mulut Irma dengan tangannya yang kekar. Irma  meronta2 takut apa yang terjadi selanjutnya. Kemudian salah seorang dari mereka  berdiri tepat dihadapan Irma, sambil memandang Irma yang ketakutan dengan senyum  kemenangan.<br />
&#8220;Akhirnya malem ini gw bisa ngerasain badan lo&#8221;, katanya sambil  mengelus leher Irma yang mulai sesenggukan menahan tangis. Tangannya mengelus  leher Irma yang putih mulus dengan beberapa tahi lalat yang ada disana, sambil  kemudian tangannya bergerak menuju payudara kanan milik Irma. &#8220;ah..&#8221;, teriak  Irma tertahan ketika tangan tersebut meremas dengan kencang payudara  tersebut.<br />
&#8220;Gile man, kenceng juga nih tete&#8221; kata pria tersebut diiringi  sahutan tawa yang lainnya. Tak lama, pria tersebut sudah asik meremas2 kedua  payudara Irma yang memang berukuran besar apabila dibandingkan dengan tubuhnya.  Irma orangnya tidak terlalu tinggi. Dia orangnya sedang saja, berbody tidak  gemuk, namun memiliki payudara yang indah dengan perut yang rata. Kakinya pun  putih mulus, sehingga membuat orang2 di dalam bedeng itu menahan nafas ketika  menyaksikan Irma merintih2 karena payudaranya diremas2 oleh temannya.</p>
<p>Kemudian salah seorang diantara mereka lagi ikut mendekat, sehingga  keenamnya berada sangat dekat dengan Irma. Irma semakin ketakutan. Tetapi dia  terus berusaha berfikir positif bahwa tidak akan terjadi apa2 dengan dirinya.  Tiba2, masih dengan tangan yang terus dipegangi oleh 2 orang, dan mulut disumpal  dengan tangan, dia merasakan tangan2 nakal mulai menjelajahi betis dan pahanya.  Dia berusaha untuk berontak dengan menendang2kan kakinya. Namun usahanya sia2.  Terdengar suara tawa puas dari orang2 yang ada di bawah Irma, yang saat ini  sedang mengelus2 paha dan betis yang putih mulus milik Irma. Rok Irma tersingkap  ke atas, sementara pahanya sedang dielus2 oleh 2 orang. Sedangkan di bagian  atas, payudara Irma sedang diremas2 oleh 2 orang. hal ini membuat Irma semakin  sesenggukan menahan perasaan yang bercampur baur.<br />
&#8220;Udah man telanjangin  aja&#8221;, kata salah seorang diantara mereka, diiringi anggukan yang lainnya. Irma  semakin ketakutan. Dia membayangkan akan digilir oleh 6 orang tidak beradab ini.  Sedangkan selama ini dia hanya berhubungan badan dengan pacarnya. Maklum saja,  jarak yang memisahkan antara dia dan pacarnya ini, membuat pertemuan mereka yang  jarang itu menjadi sesuatu yang berharga untuk dihabiskan begitu saja. Maka  terjadilah gaya pacaran yang semakin lazim di jaman sekarang ini. Irma semakin  meronta2 ketika mereka membuka kancing atas kemejanya, dan orang2 di bawah  berusaha menelanjangi rok dan celana dalam Irma. Pria2 yang di bagian atas  melucuti kancing kemeja Irma satu persatu. Setelah itu menarik kemejanya ke  belakang, sehingga menampakkan payudara Irma yang dibungkus bra warna hitam yang  semakin terlihat menantang. Kemudian kemeja itu pun terlepas dan terjatuh di  lantai. Irma saat ini hanya menggunakan bra dan rok saja. Kemudian pria2 yang  ada di bagian bawah pun gak lama sudah melepas habis rok Irma sehingga terjatuh  pula ke lantai. Irma hanya menggunakan bra dan celana dalam yang senada berwarna  hitam. Pria2 tersebut pun tertawa puas sambil melecehkan seluruh tubuh Irma.  Irma semakin menangis menjadi2. Kemudian tidak lama, bra dan celana dalam Irma  pun terlepas oleh mereka.</p>
<p>Irma pun telanjang bulat dikelilingi oleh 6  pria yang tidak dikenalnya. hal ini membuat Irma semakin ketakutan dan menangis.<br />
&#8220;Jangan nangis, nanti juga keenakan, hahahaha&#8221;, kata salah seorang dari  mereka mengejek. Irma berdiri pasrah dipegangi oleh 2 orang dan dibekap  mulutnya. Pria2 tersebut sedang melumat habis tubuh Irma yang terlihat molek  tersebut. Payudaranya putih dengan beberapa hiasan tahi lalat, dan puting yang  tidak terlalu besar berwarna coklat. Kemudian bentuk pinggul yang tidak terlalu  besar serta kemaluan yang bulu2nya tercukur halus dan lembut. Paha sampai betis  berwarna putih bersih. Membuat semua pria yang melihatnya, walau pun memakai  rok, tidak berkedip. Di kantornya pun, Irma dikenal sebagai idola. Banyak pria  yang mendekatinya, namun ia tidak menanggapinya. Kalau pun menanggapi, itu pun  hanya sekedar untuk main2 saja sambil memenuhi hasratnya karena cowonya berada  jauh disana. hal itu dia lakukan karena ia lebih memilih cowoknya yang bekerja  di luar kota. Ia lebih memilih cowoknya karena ia telah terlanjur menyerahkan  segalanya kepada laki2 tersebut.</p>
<p>Kemudian 2 orang diantara mereka  menyiapkan ranjang darurat dari kardus yang biasa dibuat tidur oleh kuli2 proyek  pemilik sah bedeng tersebut. Irma pun diseret ke ranjang tersebut, dan tetap  dipegangi oleh 4 orang dari mereka. Masing2 memegangi 2 tangan dan 2 kaki dari  Irma, sekaligus membekap mulut Irma supaya tidak berisik. Sesekali Irma meronta2  minta dilepaskan. Tetapi siapa yang mau melepaskan tubuh mulus begitu saja?  Kemudian salah seorang dari mereka, mendekati Irma dari sela2 paha Irma,  kemudian meremas2 payudaranya dengan tangan kanan, sambil tangan kiri mengelus2  kemaluan Irma. Irma berusaha mengelak. Tetapi tangan kiri pria tersebut tetap  mengelus2 sambil sesekali telunjuknya masuk ke kemaluan Irma. Keadaan ini  membuat Irma semakin terdesak. Irma semakin menjadi2 mengeluarkan tangisnya.  Irma begitu takut akan disetubuhi oleh pria2 ini. Walau pun ia sudah tidak  perawan, tetapi ia hanya ingin berhubungan badan dengan pacarnya saja. Tidak  dengan berandalan semacam orang2 ini. Kemudian pria tersebut tampaknya sudah  tidak sabar lagi ingin mencicipi tubuh karyawati ini.<br />
Ia segera membuka baju  dan celananya. Tampaklah penisnya yang besar, yang membuat Irma seperti berhenti  bernafas. Irma sangat takut melihatnya. Milik cowoknya tidak sebesar itu. Irma  pun memejamkan mata dengan ketakutan. Tak lama, pria tersebut sudah meletakkan  penisnya di pintu masuk kemaluan Irma. Irma semakin ketakutan. Tak lama, pria  tersebut mendorongkan pantatnya dengan kasar sehingga penisnya bergerak menusuk  kemaluan Irma. &#8220;Ah&#8230;.&#8221; Irma pun menjerit tertahan. Pria tersebut malah  keenakan. Ia merasa seperti dipijit2 oleh kemaluan Irma.<br />
&#8220;Wah, kayanya udah  ga perawan nih doi. Tapi tetep peret kok hahaha&#8221;, kata pria tersebut.<br />
Tak  lama, seluruh bagian penis pria tersebut masuk ke dalam vagina Irma dengan  sukses. Kemudian, pria tersebut menggenjot Irma yang semakin kesakitan. Kepala  Irma menggeleng ke kanan dan ke kiri menahan sakit. Tubuhnya pun mengejang. Tapi  hal itu malah membuat payudaranya terlihat semakin menarik. Tangan2 jahil pun  meremas2 payudara tersebut. Sementara yang satu memperkosa Irma, yang lain  memegangi tangan dan kaki Irma, serta membekap mulut Irma. Pria yang sekarang  sedang berada di atas Irma semakin memperlaju genjotannya. Irma-pun terlihat  memejamkan matanya sambil terus menangis. Sementara pria2 yang lainnya meremas2  payudara Irma dan meraba2 bagian tubuh lainnya. Irma pun membayangkan dosa2 yang  pernah ia lakukan. Dosa kepada pacarnya karena sering berbohong, dan dosa kepada  orang2 yang dia permainkan perasaannya selama ini. Ia menyesal sekali telah  melakukan itu semua. Mungkin ini balasannya. Pria yang sedang berada di atasnya  tampaknya sudah mulai ingin orgasme. Pria tersebut mempercepat genjotannya,  dengan tangannya bertumpu pada payudara Irma sambil meremas2nya.<br />
Tak lama  kemudian, pria tersebut mengejan dengan menyemprotkan spermanya yg banyak ke  dalam vagina Irma. Irma ketakutan. Ia takut hamil. Kemudian ia pun menangis  sejadi-jadinya. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Pria yang lain maju  mendekatinya.<br />
&#8220;Tunggingin dong man&#8221;, katanya pada teman2nya yang sedang  memegangi Irma.<br />
Mereka pun membalik tubuh Irma menjadi tengkurap, lalu  memaksa Irma untuk menungging sambil tetap memegangi mereka. Posisi ini membuat  payudara Irma menjadi terlihat lebih besar dan menantang. hal ini membuat mereka  meremas2 kembali payudara Irma. Payudara Irma terlihat memerah karena remasan2  tersebut. Pacar Irma juga paling senang melakukan adegan remasan2 ini. akan  tetapi malam ini Irma harus rela diremas2 oleh orang2 yang ia sama sekali tidak  kenal. Dalam posisi menungging, orang kedua yang akan memperkosa Irma mendekati  Irma dari belakang, kemudian membuka celananya, dan menyelipkan penisnya ke  vagina Irma lewat belakang. Irma kembali meronta2 kecil, namun tak lama ia  melenguh panjang ketika orang tersebut memasukkan penisnya dan memompanya.  Kekuatan pompanya makin lama makin kuat. Ia memperkosa Irma sambil meremas2  payudara dan putingnya. yang lain ada yang mencium2i pipinya, dan termasuk  mencium2i bibirnya. Irma sangat tidak berdaya malam itu. Dalam posisi menungging  itu ia menangis dan berharap semuanya cepat selesai dan mereka membebaskannya.  Namun untuk orang2 itu, tidaklah segampang itu. Jarang2 mereka dapat mangsa  seperti ini. Tak lama kemudian, orang yang memperkosa Irma pun mengalami  ejakulasi. Dan seluruh spermanya dia masukkan ke vagina Irma. Irma kembali  sesenggukan. Sudah 2 orang menggilirnya. Tinggal 4 lagi. Pikirnya seperti itu.  Irma sudah pasrah diperlakukan apa saja oleh mereka. Terbukti ketika mereka  menelentanginya kembali, Irma hanya bisa pasrah. Ia rasakan kemaluannya sakit  sekali. Dan Irma merasakan keluar darah dari kemaluannya. Walau pun ia sudah  tidak perawan, hal ini mungkin disebabkan oleh gesekan2 yang terjadi sebelumnya  antar penis pria2 tersebut dan kemaluannya.</p>
<p>kemudian salah seorang dari  mereka, kembali maju untuk memperkosa Irma. Kali ini Irma dipaksa untuk  menghisap kemaluan si pria tersebut. Irma berontak. Ia hanya mau beroral sex  dengan pacarnya. Kali ini dia lakukan untuk orang lain. Irma mati2an menolak.  Akan tetapi, apalah daya dari seorang wanita. Irma pun pasrah menghisap kemaluan  orang tersebut. Irma hampir tersedak. Penis pria tersebut terlalu besar untuk  mulut mungilnya.<br />
Irma semakin menangis. Kepalanya maju mundur menghisap  kemaluan pria tersebut. Sampai tak lama kemudian, pria tersebut meringis dan  mengejan. Irma berusaha menarik kepalanya dari kemaluan pria tersebut. Tetapi  teman2 pria tersebut menahan kepalanya, sehingga seluruh spermanya pun tumpah di  kerongkongan Irma. Irma terbatuk2 tersedak. Sementara pria2 tersebut tertawa  puas. Kemudian Irma pun digilir oleh yang lainnya sampai pagi. Selain digilir,  Irma pun mengalami pelecehan seksual yang tidak akan pernah dilupakannya. Irma  dipangku oleh orang2 tersebut sambil diremas2 payudaranya secara bergiliran.  Kemudian ia disetubuhi sambil berdiri. Dan setiap2 orang disitu mendapat jatah  lebih dari 2 kali. Irma mengalami perlakuan yang sangat rendah oleh mereka.  Mereka mencumbu Irma semaunya. Meremas2, menghisap2 putingnya, menggigit2, dan  perlakuan2 lain yang diterima Irma sepanjang malam itu sampai pagi. Irma pun  lemas kecapekan. Sampai paginya Irma tersadar setelah pingsan di dalam bedeng  proyek tersebut. Irma merasa badannya sakit2 semua, terutama bagian  selangkangannya yang mengeluarkan darah. Walau pun itu bukan darah perawan, tapi  ia merasa sakit yang teramat sangat di selangkangannya. Tubuhnya pun penuh  cupang dimana2. Payudaranya pun demikian. Banyak terdapat bekas cupang dan bekas  cakaran. Irmapun memakai kembali bra, celana dalam dan pakaiannya yang sudah  lecek, kemudian berjalan tertatih2 menuju kost2annya.</p>
<p>Demikian peristiwa  yang terjadi dengan Irma. Dia tidak bisa melupakan hari itu. Tapi ia tidak akan  menceritakannya kepada siapa2, termasuk cowoknya. Biar lah hal itu menjadi  rahasia pribadinya. Dan ia pun tidak akan melewati jalan tersebut kembali.</span></span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2007/09/24/perkosaan-pegawai-jalan-sudirman.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
