<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerita seks &#187; Seks Lain Lain</title>
	<atom:link href="http://jablayonline.info/category/seks-lain-lain/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jablayonline.info</link>
	<description>Kumpulan cerita dewasa</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Mar 2010 16:18:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.3</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Nini, Negosiator Ulung</title>
		<link>http://jablayonline.info/2009/08/11/nini-negosiator-ulung-4.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2009/08/11/nini-negosiator-ulung-4.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 17:36:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Lain Lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/?p=299</guid>
		<description><![CDATA[Pada awal tahun 2006, aku mendapat tugas kantor ke Singapura selama 4 hari untuk beberapa pekerjaan, aku tiba pada hari Senin sore dan pekerjaanku akan dimulai pada hari Selasa. Aku tinggal di Westin Plaza, hotel paling tinggi, kalau tidak salah berlantai 72, sekarang namanya Swiss Hotel, kebetulan kamar dengan King Bed Size yang aku pesan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada awal tahun 2006, aku mendapat tugas kantor ke Singapura selama 4 hari untuk beberapa pekerjaan, aku tiba pada hari Senin sore dan pekerjaanku akan dimulai pada hari Selasa. Aku tinggal di Westin Plaza, hotel paling tinggi, kalau tidak salah berlantai 72, sekarang namanya Swiss Hotel, kebetulan kamar dengan King Bed Size yang aku pesan sudah habis dan karena aku sering menginap di hotel tersebut, front office memberi free upgrade ke Junior Suite yang terdiri dari sebuah ruang tidur dan sebuah ruang pertemuan dengan satu set sofa dan meja makan yang terletak di lantai 66. Dari jendela kamar tersebut dapat terlihat pulau Batam. Terdapat pintu yang dapat dibuka dengan sebuah balkon di luarnya. Saat melihat ke bawah dari balkon tersebut, mobil-mobil di bawah tampak seperti layaknya mainan Matchbox.</p>
<p>Malam harinya setelah aku jalan jalan sebentar di pertokoan di bawah hotel, setelah makan seadanya di food court, aku kembali ke hotel untuk mempersiapkan pekerjaan besok harinya. Dalam kesendirian di kamar sebesar itu, pikiranku melayang, terlalu sayang kamar ini kubiarkan hanya untuk aku sendirian.</p>
<p>Esoknya, aku berangkat ke daerah Scott Road untuk memulai pekerjaanku. Aku naik MRT dari City Hall melewati 2 stasiun untuk turun di Stasiun Orchard. Sorenya waktu aku pulang ke hotel, saat pintu MRT menutup di Sommerset, aku melihat Nini baru turun dari eskalator menuju ke arah kereta yang aku tumpangi, tapi dia tidak sempat karena pintu kereta keburu menutup otomatis dan berjalan.</p>
<p>Hmm Nini ada di sini, dimana dia tinggal? Di stasiun berikut aku turun lalu kutunggu kereta berikutnya dan aku naik, aku telusuri untuk mencari Nini, tapi tidak kutemukan hingga di stasiun berikutnya aku sudah harus turun. Aku telepon ke rumahnya untuk memastikan. Penjaga rumahnya yang sudah mengenalku mengatakan bahwa Nini sedang ke luar negeri. Hhmm.. Benar, Nini ada di Singapura. Kutelepon HP-nya, kudengar nada sambung khas Singapura, tapi tidak diangkat. Saat itu belum jamannya SMS. Akhirnya aku lupakan saja.</p>
<p>Seperti biasa setiap kali aku ke Singapura, aku selalu mengunjungi bar yang berlokasi di basement Hyatt, Scott Road. Siangnya aku janjian dulu dengan Andre temanku asal Jakarta yang sudah pindah ke Singapura. Jam 8 aku tiba di sana, masih sepi, Andre sudah menunggu. Menjelang jam 10, bar itu sudah penuh, hampir seluruh kursi terisi dan banyak yang berdiri. Banyak wanita asal Indonesia dan Thai dengan dandanan seronok mencari mangsa di sana. Aku berdua dengan Andre tidak mempedulikan mereka karena aku tidak pernah tertarik pada wanita-wanita seperti mereka.</p>
<p>Di tengah keremangan, aku berjalan menuju toilet. Ketika sedang berdesakan mencari jalan, terasa penisku ada yang meraba, aku acuh saja, paling-paling salah satu wanita pencari mangsa itu. Saat aku ingin melanjutkan ke toilet, tiba tiba rabaan tadi berubah menjadi remasan, aku berpaling melihat si empunya tangan, begitu aku menolehkan kepalaku, sebuah bibir hinggap di pipiku, langsung aku mundur untuk melihat siapa dia..</p>
<p>&#8220;Deasy.. Ternyata lu toh.. Lagi di sini&#8221; ujarku surprise.</p>
<p>Deasy, 24 th, 165/50/34C, seorang pramugari adalah sepupu Nini yang sangat erat, hubungan mereka seperti 2 orang sahabat yang saling berbagi apa pun termasuk aku. Hanya sekali aku bercinta dengan Deasy di kamar Nini, ketika itu aku sedang berkunjung ke rumah Nini, Deasy sedang berada di sana, Nini memperkenalkan aku pada Deasy, beberapa saat kemudian Nini harus pergi, jadi aku berdua dengan Deasy di rumahnya yang besar itu. Sebelum pergi Nini berbisik..</p>
<p>&#8220;Kalau kamu tertarik, silakan pakai kamarku, she is an easy going girl&#8221;.</p>
<p>Singkat cerita akhirnya aku bercinta dengan Deasy di kamar Nini, di atas ranjangnya. Belakangan baru aku tahu, ternyata kejadian itu adalah rencana Nini. Karena Deasy ingin merasakan bercinta dengan aku setelah mendengar cerita Nini.</p>
<p>Sebagai seorang pramugari sebuah penerbangan nasional yang memiliki jalur ke luar negeri, Hyatt memang dipilih untuk tempat tinggal crew bila harus menginap di Singapura. Deasy bersama beberapa kawannya sesama pramugari sedang bersantai di tempat itu. Pikiranku langsung pada kamarku yang besar itu.</p>
<p>&#8220;Jam berapa lu take off lagi besok?&#8221; tanyaku to the point.<br />
&#8220;Malam ke Amsterdam, lu sendiri ngapain di sini? Lama kita nggak ketemu ya&#8221; katanya.<br />
&#8220;Agak sibuk, gua ada kerjaan di sini. Eh.. Masih suka ketemu Nini?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Sering dong, gua denger dia ke Singapore kemarin, sama lu nggak?&#8221; tanyanya lagi. Hhmm, berarti benar Nini ada di Singapore, tapi dimana dia?<br />
&#8220;Nggak tuh, rasanya gua liat dia tadi pagi di Stasiun MRT, tapi kereta gua keburu berangkat. Sama siapa dia pergi?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Cemburu nih, gua nggak tau sama siapa, dia nggak pernah bilang sama siapanya kalau pergi&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Sekarang lu sama siapa, bawa cewe nggak? Tinggal dimana&#8221; tanyanya lagi.<br />
&#8220;Westin, sendiri, sekarang lagi sama Andre temanku, dia tinggal di sini, yuk aku kenalin, orangnya OK kok, kaya gua&#8221; ajakku.<br />
&#8220;Apanya yang kaya lu&#8221; Deasy berbisik di telingaku penuh arti.<br />
&#8220;Yang pasti bukan kontolnya, soalnya gua belum pernah pake dia, ntar kalo lu udah pake dia, tolong kasi tahu sama gua ya, siapa punya yang lebih enak&#8221; godaku sambil tertawa.</p>
<p>Deasy pamit pada temannya lalu kugandeng dia bertemu Andre. Mereka berkenalan dan kami mengobrol kesana kemari sambil minum.</p>
<p>&#8220;Lu tidur sama siapa malam ini, sama captain nggak?&#8221; tanyaku menggoda.<br />
&#8220;Weei, enak aja, tuh sama yang tadi di sebelahku, teman seangkatan&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Jadi bisa tolong tidurin gua dong malam ini, kamar gua terlalu besar buat sendirian&#8221; ujarku sambil tanganku mengelus pahanya di bawah meja.<br />
&#8220;He he he, untung lu ngajak duluan, kalau nggak, gua yang maksa ikut lu, udah lama nih nggak ngerasain lu punya, ntar ya gua bilang teman-teman dulu&#8221; katanya sambil meraba penisku sebelum pergi menemui teman temannya.</p>
<p>&#8220;Teman teman bilang &#8217;silakan&#8217;, kalo enak bilang-bilang, mereka juga mau. Gua bilang &#8216;jaminan mutu&#8217;&#8221; katanya saat kembali.<br />
&#8220;Kalau teman lu lagi butuh cowo, nih ada yang nganggur&#8221; aku menunjuk Andre.</p>
<p>Deasy memanggil teman-temannya dan diperkenalkan pada Andre. Aku dan Deasy meninggalkan tempat itu lalu dengan taxi menuju Westin pada jam 12 malam. Setiba di lift, aku tekan 66. Kami hanya berdua. Melihat itu, Deasy langsung menyodorkan bibirnya minta kucium. Kami berciuman saling melepaskan kerinduan karena lama tak bertemu. Lidahnya memasuki mulutku mencari lidahku, menyapu bagian atas dan bawah rongga mulutku sambil tangannya meremas-remas penisku.</p>
<p>Setiba di kamar, Deasy langsung mendorongku ke balik pintu dan menyerangku dengan ganasnya, bibir dan lidahnya menari-nari dan menjilati seluruh leherku, tangannya membuka kausku lewat atas lalu putingku habis diciuminya sementara tangannya tergesa-gesa membuka celana panjangku hingga tinggal CD yang melekat di tubuhku. Sambil bibir dan lidahnya terus bergerilya di tubuhku, tangannya menarik CD-ku turun dan langsung menggenggam dan mengocok penisku.</p>
<p>&#8220;Hhmm.. Kontol kaya gini yang bikin ketagihan tau&#8221;, katanya sambil berjongkok.</p>
<p>Langsung tanpa basa basi, dimasukannya penisku ke dalam mulutnya dan dikocoknya keras-keras sambil ujung lidahnya bermain di kepala penisku. Lalu diangkatnya kakiku dan diletakkan di pundaknya. Lidahnya menjalar di selangkanganku sampai anusku tidak ketinggalan dijilatinya juga. Penisku kembali berada di dalam mulutnya dan jarinya ditusukkan ke dalam anusku. Aku hanya bisa mendesah keenakan.</p>
<p>Mendengar desahan itu, Deasy semakin bersemangat hingga mempererat jepitan bibirnya dan mendorong kepala sedalam-dalamnya sampai hampir seluruh penisku masuk ke dalam mulutnya dan memaju mundurkan kepalanya. Sekitar 10 menit kemudian, aku merasa ada dorongan sperma yang keluar dari penisku, menyemprot di dalam mulut Deasy sekitar 5-6 kedutan. Deasy menelan semuanya lalu menjilati penisku sampai bersih dan lalu berdiri menciumku.</p>
<p>&#8220;Gila lu Des, nggak sampe 10 menit, laper banget ya, udah berapa lama mulut lu nggak kena kontol&#8221; aku berkata vulgar.<br />
&#8220;Kalau kontol yang kaya lu punya sih.., ya udah lama&#8221; katanya.<br />
&#8220;Jadi kena kontol lain sering dong&#8221; kataku menggoda.<br />
&#8220;Yaah, biasalah, namanya kebutuhan he he he.., sekarang gua pengen coba lidah lu ya&#8221; kata Deasy sambil membuka pakaiannya sampai telanjang bulat.</p>
<p>Tiba tiba aku ada ide. Aku matikan semua lampu di kamar, aku buka seluruh gorden ke arah luar, lalu aku buka pintu keluar ke balkon. Kuajak Deasy dalam keadaan telanjang bulat seperti aku menuju balkon. Pemandangan lampu-lampu sekitar Singapura sedemikian indahnya. Deasy memegang pinggiran balkon dan aku peluk dari belakang di perutnya, perlahan tanganku naik menuju buah dadanya yang berukuran 34C, kuremas remas dan kupermainkan putingnya, kujilat belakang lehernya lalu punggungnya. Deasy menolehkan kepalanya, kusambar bibirnya dan kami berciuman. Dengan tidak adanya gedung lain di sekeliling kami yang berdekatan membuat suasana lebih menggairahkan.</p>
<p>Perlahan aku berjongkok, kujilati dari pinggang melewati garis pantatnya, sedikit mengenai vaginanya lalu lidahku kuturunkan menuju paha dan betisnya. Aku balik lagi mendaki menuju selangkangannya dan mulai mencari vaginanya. Deasy semakin menungging dan membuka kakinya lebar-lebar memberi jalan pada lidahku untuk mencapai liangnya. Kujulurkan lidahku ke dalam liang vaginanya, dengan posisi itu otomatis hidungku tepat menempel di anusnya, tapi aku teruskan mengorek-ngorek vaginanya dengan lidahku.</p>
<p>&#8220;Aac.. Yeess.. Ennaannkk Viirr, teeruus Viirr&#8221; Deasy berteriak di alam terbuka sekencang kencangnya. Tidak akan ada yang mendengar atau melihat kecuali pakai teropong tentunya.</p>
<p>Bentuk badan Deasy sudah menekuk 90 derajat hingga buah dadanya menempel pada reiling balkon, kedua tangannya sekarang menjulur ke belakang dan membuka belahan pantatnya. Hhmm.. Tak akan pernah kutolak apa yang disodorkan oleh Deasy, aku tahu apa yang harus aku lakukan, karena ini memang kegemaranku.</p>
<p>Kujulurkan lidahku mencari anusnya, lalu kumasukkan 2 jariku ke dalam vaginanya. Deasy membuka belahan pantatnya semakin lebar sehingga memudahkan lidahku untuk bergerilya di anusnya. Kocolok-colok, kumasukkan ujung lidahku dan kuputar di dalam lubang anusnya beberapa kali. Terasa kontraksi vagina Deasy di tanganku dan Deasy berteriak..</p>
<p>&#8220;Viir.. Gua.. Keluar viirr..&#8221; teriaknya. Terasa kontraksi vagina Deasy di jariku yang tertanam di situ dan Deasy menggelengkan kepalanya berkali-kali sampai akhirnya lunglai tubuhnya lemas terduduk menimpaku di balkon tersebut.<br />
&#8220;Gila lu ya, makin jago aja lidah lu, padahal baru beberapa bulan nggak ketemu, pantesan Nini nempel terus sama lu&#8221; katanya.</p>
<p>Aku tarik Deasy menuju ranjang, lalu kami tiduran beristirahat sambil menonton TV. Perlahan kukecup kening Deasy dan tangan Deasy merayap ke arah penisku yang masih lemas. Deasy meletakkan kepalanya di perutku menghadap ke arah TV. Otomatis penisku ada di depan matanya. Sambil menonton dijilat-jilatnya ujung sampai lingkaran kepala penisku. Dengan cara menjilat dan menghisap diselingi dengan gigitan kecil, perlahan-lahan penisku membesar dan mengeras di dalam mulutnya.</p>
<p>&#8220;Viir..,.. Masukin ya.. Gua pengen ngerasain kontol lu di vagina gua&#8221; bisiknya.<br />
&#8220;Lu mau di atas atau di bawah?&#8221; jawabku.<br />
&#8220;Gua di atas dulu&#8221; jawabnya sambil langsung naik ke atas tubuhku.</p>
<p>Diarahkannya penisku ke lubang vaginanya. Setelah menempel, Deasy menggoyang pantatnya agar kepala penisku membelah vaginanya, lalu perlahan penisku masuk ke dalam vaginanya semakin dalam.</p>
<p>&#8220;Ooch..,.. Viirr.. Ennaak.. Penuh amat rasanya..&#8221; desahnya.</p>
<p>Deasy menekan vaginanya pada penisku sedalam-dalamnya hingga terasa ujung penisku mentok di dalam vaginanya dan kuberi kedutan. Deasy mengerang lalu memutar pinggulnya pelan makin lama makin cepat. Aku pun menaik turunkan pinggulku seirama dengan putaran pinggulnya. Tak lama Deasy berteriak histeris dan terasa vaginanya semakin licin, pertanda bahwa orgasmenya telah tiba.</p>
<p>Kulepaskan penisku lalu kubalikkan badannya. Deasy mengerti maksudnya, dengan bertumpu di atas lututnya, kepalanya diletakkan di atas bantal dan tangannya menjulur ke belakang membuka belahan pantatnya seperti yang dilakukannya tadi di balkon</p>
<p>&#8220;Viir.. Lagi dong, gua pengen ngerasain lidah lu lagi..&#8221; erangnya.</p>
<p>Kembali Deasy memberi hidangan kegemaranku. Aku berlutut di belakangnya, kupegang pantatnya menggantikan tangannya, lalu mulai kujilat anusnya, kukorek keras dan kutusukkan lidahku dalam-dalam. Deasy menjerit-jerit keenakan, jarinya dimasukkan ke vaginanya dan dikocoknya dengan cepat.</p>
<p>&#8220;Aach Viir.. Viir.. Cepat masukin kontol lu Viirr..&#8221; pintanya.</p>
<p>Tanpa basa basi, aku berlutut dan menusukkan penisku ke dalam vaginanya, aku hentakkan dengan keras dan langsung kugenjot dengan cepat. Deasy meraung-raung di kamar itu. Kuletakkan bantal di perutnya dan kutekan pantatnya sampai Deasy tertelungkup dan pantatnya terganjal bantal, kuluruskan kakinya rapat sehingga penisku terjepit di antara pahanya dan keluar</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2009/08/11/nini-negosiator-ulung-4.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nini, Negosiator Ulung 2</title>
		<link>http://jablayonline.info/2009/08/11/nini-negosiator-ulung-2-2.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2009/08/11/nini-negosiator-ulung-2-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 17:36:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Lain Lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[Makin lama gerakanku makin cepat hingga maksimal. Deasy kembali berteriak keenakan sambil tangannya meremas apa saja yang dapat dipengangnya. Gerakanku makin cepat, kudorong sedalam-dalamnya hingga keringat bercucuran di punggung Deasy. Akhirnya kucapai orgasmeku di vaginanya. Kutekan penisku sedalam-dalamnya dan kudiamkan sambil kusemburkan spermaku beberapa kali, setiap kali menyembur, penisku makin keras dan membesar, sehingga Deasy [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Makin lama gerakanku makin cepat hingga maksimal. Deasy kembali berteriak keenakan sambil tangannya meremas apa saja yang dapat dipengangnya. Gerakanku makin cepat, kudorong sedalam-dalamnya hingga keringat bercucuran di punggung Deasy. Akhirnya kucapai orgasmeku di vaginanya. Kutekan penisku sedalam-dalamnya dan kudiamkan sambil kusemburkan spermaku beberapa kali, setiap kali menyembur, penisku makin keras dan membesar, sehingga Deasy pun merintih..</p>
<p>&#8220;Gila viir.. Oocchh.. Viirr.. Aacchh.. Gua keluar lagi nichh..&#8221;</p>
<p>Jam 4 pagi kami tertidur dalam keadaan telanjang bulat. Saat terbangun jam 10 pagi, sekali lagi kami menumpahkan nafsu birahi di kamar itu sebelum Deasy kembali ke Hyatt dan aku beristirahat untuk pertemuan sorenya.</p>
<p>Sorenya saat aku harus menghadiri pertemuan dalam rangka negosiasi harga untuk barang telekomunikasi yang akan dibeli oleh perusahaanku dari salah satu supplier dari Amerika. Pertemuan diadakan di ruang meeting di hotel Mandarin dan dihadiri oleh suatu perusahaan Indonesia sebagai distributornya. Aku tiba pukul 16:55, masih 5 menit lebih awal bersama manager perencanaan yang baru datang siangnya dari Jakarta.</p>
<p>Saat aku masuk, di dalam ruangan sudah ada VP Sales dari perusahaan Amerika itu dengan Sales Managernya, Anthony, Direktur perusahaan distributor mereka di Indonesia beserta Account Managernya. Aku telah mengenal mereka semua. Aku mengambil tempat duduk menghadap ke pintu bersebelahan dengan managerku. Setelah berjabatan tangan dan mengobrol basa basi, negosiasi segera dimulai.</p>
<p>Pada saat aku sedang membacakan dokumen, pintu terbuka, aku mengangkat wajahku. Di depan pintu berdiri seorang wanita yang kalau tidak dalam suasana formal dapat membuatku meloncat dari kursi yang aku duduki. Nini berdiri di sana juga dengan wajah kaget melihatku, tapi segera situasi dapat kami kuasai.</p>
<p>Dengan cepat Nini memasang telunjuknya di depan bibirnya, aku mengerti. Nini menghampiri sang direktur sambil memberikan sebundel dokumen. Lalu Nini diperkenalkan sebagai PR di perusahaan distributor itu. Tempat duduk di meja berbentuk bundar itu tinggal satu yang kosong dan Nini duduk di sana, di sebelah kiriku. Penampilannya sangat menarik dengan blazer warna cerah dengan kemeja warna gelap di dalamnya dan rok ketat di atas lutut sedikit.</p>
<p>Dimulai dengan penjelasanku mengenai final design dari system yang dibutuhkan, lalu pihak Amerika menerangkan kelebihan kelebihan produknya. Lalu si distributor mulai membahas aspek komersial, tampak Nini mengambil bagian pembicaraan dalam aspek ini. Selama mendengarkan, aku mencatat di kertas notes kecil yang aku bawa dari kamar hotel, tercetak hotel Westin Plaza di kertas itu. Tak terasa sudah jam 7, kami break untuk dinner dan dilanjutkan jam 8:30 malam di tempat yang sama, bersama-sama kami pergi ke sebuah restoran chineese food dekat dengan Mandarin lalu kembali ke ruang meeting.</p>
<p>Saat makan, Nini mengajakku mengobrol santai dan dengan anggunnya bersikap sangat profesional dan dapat menyembunyikan bahwa dia telah mengenal aku luar dalam. Tak ada tanda-tanda dan kode-kode bahwa Nini ingin bertemu berdua atau rindu atau yang lainnya seperti halnya Deasy kemarin. Padahal aku sudah membayangkan bahwa Nini akan menemani aku malam ini di kamar yang besar itu</p>
<p>Setelah aku dapat memperlihatkan bahwa produk mereka bukan yang terbaik karena ada produk saingan yang lebih baik dari segi feature, walaupun feature tersebut tidak aku butuhkan, tapi sebagai kartu truf negosiasi kusampaikan hal itu. Lalu kusampaikan pula perkiraan harga yang dapat aku terima yang masih jauh dengan harga penawaran mereka, berbeda sekitar 20%. Aku kembali ke hotel jam 22:30, sangat lelah dan langsung mandi serta tiduran sambil menonton TV.</p>
<p>Tiba tiba telepon berdering..</p>
<p>&#8220;Good Evening Mr. Mahendra, I have a lady in front of me, her name is Nini, would like to met you&#8221; seorang resepsionis wanita berkata di telepon. Haah, aku kegirangan, tapi tak kuperlihatkan.<br />
&#8220;Ok, thank you, can you ask her if she willing to come up or should I go down&#8221; kataku di telepon. Terdengar si resepsionis berbicara denan Nini.<br />
&#8220;She said, if you don&#8217;t mind, she prefer to met you there&#8221; katanya lagi.<br />
&#8220;OK, can you ask somebody to escort her to my room&#8221;<br />
&#8220;Definitely sir&#8221; katanya. Terdengar dia memanggil seseorang lalu terdengar dia berkata pada Nini..<br />
&#8220;You may follow him, madame&#8221; sesaat kemudian dia berkata lagi..<br />
&#8220;She is on her way. By the way, she is very pretty sir, good night and thank you&#8221; katanya.</p>
<p>Dua menit kemudian terdengar pintu diketuk, terlihat Nini diantar oleh petugas concierge. Setelah pintu kututup, Nini hanya mengecup pipiku lalu berjalan dengan anggunnya menuju sofa dan duduk di sana lalu menyalakan Marlboro putihnya, pakaiannya sudah berganti, celana panjang dan kaus ditutupi jacket kulit.</p>
<p>&#8220;Bagaimana kamu tahu aku tinggal di sini?&#8221; tanyaku.<br />
&#8220;Tadi kamu pakai kertas catatan dari Westin, aku coba tanya ke front office, lalu aku datang ke sini&#8221; jawabnya.<br />
&#8220;Bagaimana kamu yakin bahwa aku ada di kamar?&#8221; tanyaku kembali.<br />
&#8220;Aku tidak yakin, tapi aku coba, ternyata kamu ada&#8221; jawabnya lagi.<br />
&#8220;Aku sangat kaget melihatmu di ruang meeting tadi, tak kusangka bahwa negosiasi itu dengan kamu Vir.., kalau aku tahu bahwa kamu yang akan aku temui, aku pasti tolak tawaran mereka&#8221; Nini membuka topik.<br />
&#8220;Aku mewakili perusahaan, harusnya aku yang lebih kaget kamu ada di sana tadi, jadi tolong ceritakan yang sebenarnya&#8221; sahutku.<br />
&#8220;Pak Anthony minta bantuan aku untuk menggolkan proyek ini, aku dapat 3%, terserah caranya bagaimana&#8221; kata Nini menjelaskan padaku. Hhmm, 3% cukup besar juga, nilai proyek puluhan juta dollar, maklum proyek infrastruktur telekomunikasi yang sedang in di Indonesia. Otakku berputar, tidak terpikir rasanya untuk bercinta dengan Nini.<br />
&#8220;Kita turun yuk, minum kopi sambil berpikir dan ngobrol sebentar, selintas aku ada rencana lain&#8221; kataku, aku ganti pakaian.</p>
<p>Nini tahu bahwa kalau aku sudah serius begitu, aku tidak dapat diganggu maupun dirayu untuk bercinta. Malahan Nini selalu berusaha membantu aku bertukar pikiran untuk memecahkan masalah bersama-sama. Kami turun ke coffee shop dan memesan 2 cangkir kopi.</p>
<p>&#8220;Apakah mereka tahu kamu menemui aku sekarang ini?&#8221; selidikku.<br />
&#8220;Tidak, menurut rencana, besok pagi meeting diundur ke sore dan aku disuruh menemani kamu privately sampai siang, dan menyampaikan bahwa ada 2 persen untuk kamu&#8221; kata Nini.<br />
&#8220;Seberapa dekat hubungan kamu dengan Anthony?&#8221; aku bertanya.<br />
&#8220;Tidak dekat, aku dikenalkan oleh sepupuku Deasy, katanya ada boss yang perlu PR untuk menggolkan proyek besar&#8221; jawabnya. Wah, Deasy baru meninggalkan kamar ini tadi siang, pikirku.<br />
&#8220;Hmm.. Sebenarnya aku tahu harga mereka bisa turun sekitar 14 persen lagi, tapi Anthony mau untung terlalu besar, padahal untuk proyek besar begini, 5 persen cukuplah, toh dia juga nggak kerja, cuma ngurus admin saja, banyakan aku yang kerja nantinya. Mustinya kita dapat 10 persen Ni.., aku juga kan musti setor ke atas..&#8221; kataku.<br />
&#8220;Dapet 3% aja lebih dari cukup Viir.. Aku bisa berhenti dari sebagian pekerjaanku yang sekarang sementara cari lagi yang lebih bernilai..&#8221; kata Nini perlahan.<br />
&#8220;OK, besok aku atur dan kamu akan dapat poin bahwa kamu yang berhasil menggolkan proyek ini, sekarang balik yuk, kamu mau pulang atau tidur di atas? Tidur di atas aja deh, temenin aku ya&#8221; ajakku.</p>
<p>Nini dan aku tidur tanpa pakaian saling berpelukan di dalam selimut, tanpa ada yang mencoba untuk menggoda dan merangsang satu sama lain walaupun kulit kami saling bersentuhan dan buah dada Nini terasa menekan lengan dan dadaku. Agak penat juga aku berpikir, lalu aku tertidur. Saat aku bangun, sebagaimana normalnya laki-laki, saat bangun pagi terkadang penis sudah dalam keadaan berdiri keras. Pagi saat itu, di luar masih gelap, kurasakan penisku sudah berdiri dan keras sekali seperti batang kayu ditambah kehangatan terasa mengalir dari tubuh telanjang Nini yang menempel di tubuhku. Kurasakan Nini masih tidur, kukecup keningnya mesra, matanya terbuka dan tersenyum, kepalanya menengadah mengecup pipiku mesra sekali.</p>
<p>&#8220;Good morning darling, sleep well?&#8221; dia bertanya.</p>
<p>Aku tak menjawab, tapi kudorong sedikit tubuhnya sampai telentang, lalu aku berlutut merebahkan kepalaku di dadanya sambil memeluknya. Nini melingkarkan satu tangannya di leherku. Mesra sekali kami berdua. Perlahan aku kecup keningnya, matanya, hidung, pipi lalu bibirnya. Saat bibir kami bertemu, rupanya dorongan birahi yang telah terpendam sejak kemarin terasa mau meledak, seketika itu pula Nini menyambar bibirku dam menciumku dengan permainan bibir, lidah dan mulut yang luar biasa nikmatnya. Nini memang seorang ahli dalam bercinta. Tangannya yang lain meraba penisku yang sangat keras lalu dikocoknya perlahan.</p>
<p>&#8220;Hmm.. Penis kamu sangat keras Vir. Lebih keras daripada biasanya, cepat masukin Viirr, aku ingin merasakan kerasnya di dalam vaginaku&#8221; desahnya.<br />
&#8220;Hmm.. Nggak mau &#8216;appetizer&#8217; dulu?&#8221; bisikku.<br />
&#8220;Aku pengen sekarang viir.. Nanti aja &#8216;dessert&#8217;&#8221; desahnya lagi.</p>
<p>Aku naik ke tubuhnya, pahanya dibuka lebar, kutempelkan penisku ke vaginanya, kugoyang kiri kanan perlahan agar kepala penisku dapat membuka bibir lipatan vaginanya. Agak sulit. Terasa bibir vaginanya terbuka sedikit, kudorong perlahan lalu terasa kehangatan dari dalam vaginanya menyelimuti ujung kepala penisku, kudorong terus dengan mantap sambil tetap kugoyang pantatku. Nini mulai memutarkan pantatnya searah jarum jam beberapa kali, lalu putarannya dibalik menjadi berlawanan arah jarum jam. Putarannya perlahan-lahan seirama dengan goyanganku. Dengan begitu aku dapat merasakan pegangan kuat mencengkeram dari vagina Nini di penisku dan Nini pun merasakan sesak dan penuhnya lubang vaginanya saat diisi oleh penisku. Tidak ada rangsangan untuk mencapai orgasme.</p>
<p>Nini menghentikan putaran pantatnya, aku pun berhenti tapi kudorong penisku sedalam-dalamnya di vagina Nini sampai ujung kepala penisku terkena sesuatu. Nini mulai menggerakkan vaginanya seakan memijit seluruh batang penisku. Sungguh kuat otot bawah perut Nini meremas penisku. Setiap kali Nini melepas pijitan vaginanya, kukedut otot keggelku perlahan hingga terasa penisku makin mengeras di dalam vagina Nini.</p>
<p>&#8220;Oohh.. Viirr.., ini yang aku cari.. Enaak sekali Viirr..&#8221; Nini menggelengkan kepalanya.<br />
&#8220;Vagina kamu juga tiada duanya Ni.. Oocch pijitan vagi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2009/08/11/nini-negosiator-ulung-2-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mitra Bisnisku   1</title>
		<link>http://jablayonline.info/2008/09/04/mitra-bisnisku-1.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2008/09/04/mitra-bisnisku-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 14:38:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Lain Lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/2008/09/04/mitra-bisnisku-1/</guid>
		<description><![CDATA[Saya baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan melilitkan sehelai handuk seperti biasanya. Karena kamar mandi berada di dalam kamar utama, saya tidak terlalu menghiraukan penampilan saya dari kamar mandi, bahkan biasanya keluar dari kamar mandi tanpa memakai apa-apa. Dan saya langsung menuju meja rias untuk berias karena pagi ini saya harus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya baru saja selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan melilitkan sehelai handuk seperti biasanya. Karena kamar mandi berada di dalam kamar utama, saya tidak terlalu menghiraukan penampilan saya dari kamar mandi, bahkan biasanya keluar dari kamar mandi tanpa memakai apa-apa. Dan saya langsung menuju meja rias untuk berias karena pagi ini saya harus menghadiri rapat perusahaan untuk mengadakan kontrak kerja dengan mitra bisnis saya.<br/><br/>Saya sebagai salah satu direktur dari perusahaan suami, saya harus hadir dan seharusnya suami pun yang menjabat sebagai Direktur Utama harus hadir, tapi karena suami baru pulang dari dinas di luar negeri selama sebulan untuk mengadakan negosiasi dengan mitra bisinisnya yang di luar negeri dan masih terlalu capai katanya dan memang kontrak akan ditandatangani oleh saya saja.<br/><br/>Ternyata dia sudah bangun sementara saya sedang mandi tadi, dan sekarang masih di tempat tidur sambil memainkan remote control TV untuk melihat berita hari ini. Seperti biasanya, di depan meja rias saya mulai berias. Saya melepas handuk yang melilit di badan saya dan mulai memberi body lotion ke seluruh badan. Mulai dari kaki dan terus ke paha dan sampai selangkangan, terus ke atas.<br/><br/>Di bagian dada sedikit agak lama memberikan lotion-nya terutama di bagian payudara saya yang berukuran 36B ini. Sedikit saya tekan dengan kedua tangan saya. Saya sedikit merasa suatu kenikmatan dan memang terlihat dengan mulai mengerasnya puting saya. Mungkin memang sedang masa subur dan lagi sudah lama saya tidak berhubungan dengan suami karena di tinggal dinas. Dari kaca saya mengintip, sepertinya suami sedang memperhatikan saya berias. Suami memberi oleh-oleh untuk saya tadi malam begitu sampai. BH buatan salah satu product dari Inggris yang lucu dan seksi. BH yang hanya menyanggah payudara dari bawah ini hampir tidak memiliki cup atau lebih dikenal dengan sebutan quarter bra, sudah jelas puting saya tidak tertutup oleh BH-nya tapi tetap menjaga bentuk payudara. Saya mulai memakai stocking terlebih dahulu, yang hanya menutupi kaki saya sampai ke pangkal paha, dan terus dilanjutkan dengan melilitkan garter ke pinggang saya dan tidak lupa menjepit stocking saya ke tali garter. Karena suami sudah bangun saya memanggilnya, &#8220;Mas tolong dong ke sini ikatkan tali BH ini.&#8221; Suami yang tidur dengan mengenakan T-shirt dan celana dalamnya saja bangun dari tempat tidur dan menuju ke meja rias untuk membantu saya.&#8221;Mas bagus ini BH-nya, nikmat dipakai sepertinya, seksi lagi.&#8221; Sambil tersenyum dia membantu memasangkannya dari belakang. Sambil tetap menghadap kaca saya menanyakannya, &#8220;Pinter juga milihnya Mas, gimana pas tidak kelihatannya.&#8221;<br/><br/>Dari belakang saya, suami mengulurkan tangannya dan memegang bagian depan BH yang dia berikan itu. Sambil memeriksa bagian depan BH, dengan nakalnya tangannya menyentuh dan menekan payudara saya yang tidak tertutup oleh BH ini. Saya sedikit mendesah, &#8220;Ah, Mas nakal nih tangannya&#8221;, sambil tetap meremas kedua payudara saya dia menjawab, &#8220;Kenapa memangnya tangan saya?&#8221; dia mulai menjepit ke dua puting saya dengan jari telunjuk dan jari manisnya, sambil sedikit menariknya dengan perlahan.<br/>&#8220;Enak ya rasanya, sudah lama kan tidak saya pijit.&#8221;<br/>&#8220;Ah Mas menggoda saja orang mau kerja&#8221;. Kedua putingnya dengan cepat mengeras, terasa sakit bercampur nikmat.<br/>&#8220;Ah.. ah.. nikmat sekali rasanya&#8221;, saya segera ingin berbalik menghadap dia rasanya, tapi dia menahannya, tangan kanan saya mulai melilitkan ke tengkuknya dari depan dan mengelus rambutnya yang berombak. Sementara itu tangannya tetap meremas payudara saya. Oh begitu nikmatnya, saya betul-betul terangsang. Sementara itu tangan kanannya mulai bergerak menuju bawah dengan perlahan dan sampai ke bawah puser. Saya belum mengenakan celana dalam. Dia mulai mengelus rambut bawah saya yang tidak banyak ini.&#8221;Aduh kamu sudah banjir sepertinya..&#8221; memang saya merasa bagian bawah saya sudah mulai lembab, dan dia terus mengelus dengan lembutnya.Mendadak saya merintih agak keras &#8220;Ah.. ah..!&#8221; ketika dia memainkan bibir bawah saya, tidak kuat lagi saya berdiri tegak, dengan sedikit membungkuk, kedua tangan saya memegang pinggir meja rias untuk bertahan. Tangan kanannya bergerak lebih jauh lagi.<br/><br/>Saya merasakan cairan kental dan licin keluar membasahi bibir bawah. Seperti terpeleset, jari tengah tangan kanannya memasuki tubuh saya dan menggerak gerakannya di dalam vagina saya, &#8220;Ah.. ah.. aduh Mas.. ah.. saya tidak tahan.. nikmat sekali..&#8221;, Saya sudah tidak sabar lagi, tangan kiri saya menuju belakang dan memegang pinggulnya dan menariknya supaya lebih mendekat dengan saya, dan segera menyelinap ke dalam celana dalamnya, saya mulai memegang penisnya yang sudah membesar dan keras itu, dan dengan berirama saya gerakkan. &#8220;Ah.. ah..&#8221; dia mulai merintih kecil.<br/><br/>Sementara itu dia menambah jari telunjuknya untuk dimasukkan ke milik saya,<br/>&#8220;Gimana.. nikmat.. rasanya&#8221;, katanya.<br/>&#8220;Ah.. Mas nikmat sekali.. terus gerakkan Mas.. jangan berhenti.. satu lagi Mas.. ah..!&#8221; saya minta jari manisnya juga. Saya mulai menarik celana dalamnya ke bawah, dan dengan bantuan tangan kirinya celananya pun jatuh ke bawah. Saya membungkuk lebih dalam lagi dan dia mulai merapatkan pinggulnya ke pantat saya, dan saya merasakan penisnya yang hangat itu menempel di bibir bawah saya. Jari tangan kanannya yang sudah basah dia keluarkan dari dalam saya dan kembali meremas-remas payudara kanan saya sambil memainkan puting saya. Semetara itu tangan kirinya memegang pinggul saya untuk lebih mantap. Pinggulnya mulai dia gerakkan berirama. Saya hanya bisa lihat dia dari kaca saja. Sesekali ujung penisnya menyentuh mulut vagina saya, seakan mau memasukinya, dia sengaja tidak memasukkannya dulu. Membuat saya gregetan untuk bertahan, saya sudah terangsang sekali.<br/>&#8220;Ayo Mas.. saya sudah tidak tahan lagi.. ah.. ah..!&#8221; saya memintanya.<br/>&#8220;Mau apa kamu.. bilang dong&#8221;, dengan nada menggoda.<br/>Saya pegang ujung penisnya yang sedang menempel di mulut vagina, &#8220;Ini, mau ini cepat.. ah.. ah.. jangan buat penasaran, ah..!&#8221; dan lebih membungkuk lagi saya, posisi saya sudah siap untuk dimasukinya.<br/><br/>Pelahan-lahan dia mulai memasukinya, dan saya merasakannya, sebuah benda yang hangat mulai masuk ke dalam saya, &#8220;Ah.. ah.. ayo terus Mas.. saya mau semuanya.. ah.&#8221; Dia hanya memasukkan setengah saja, membuat saya tambah penasaran, pinggulnya mulai bergerak ke depan dan ke belakang dengan berirama. &#8220;Ah.. terus.. terus Mas.. saya mau semuanya.. ah.. sampai mentok Mas.. ah.&#8221;<br/>&#8220;Aah emm nikmat tidak, mau semuanya ya..&#8221; dia bertanya, belum sampai saya jawab dia mulai mendorong penisnya jauh lebih ke dalam lagi, dan saya pun merintih dan merasakan sesuatu yang nikmat sekali. Pinggulnya terus bergerak berirama, dan mulai menambah cepat iramanya, tentu saja membuat saya tenggelam kenikmatan.<br/><br/>Tiba-tiba dia melepaskan penisnya dari dalam saya, dan menegakkan saya sambil memutarkan tubuh saya sehingga berhadapan dengan dia. Pinggang saya dia pegang dengan kedua tangannya dan mengangkat badan saya dan dia dudukan di meja rias, kemudian dia membentangkan kedua kaki saya. Dia kemudian mulai merapat dan memasukkan kembali penisnya ke dalam saya, &#8220;Ah.. ah..&#8221; saya pun merintih lebih keras karena nikmatnya. Dan dia mulai menggerakkan pinggulnya lagi. Kedua tangannya meremas-remas payudara saya dan juga memainkan puting saya dengan menjepit dengan jari telunjuk dan tengahnya.Dia mulai mencium saya, dan saya langsung menyambutnya dengan membuka mulut saya sedikit, dan lidah dia mulai memasuki mulut saya dan saya sambut dengan lidah saya. Kedua lidah saling bercengkrama dan membuat lebih nikmat. Irama gerakan pinggulnya semangkin cepat, dan saya tahu dia mulai mendekati klimas.<br/>&#8220;Tunggu Mas, saya mau sama-sama Mas, ah..!&#8221; saya ingin mencapai klimaks bersama-sama, dan saya lebih konsentrasi lagi sambil menjepit penisnya.<br/>&#8220;Ah.. Mas ayo Mas.. saya sudah mau keluar Mas.. ah.. sama-sama.. Mas!&#8221; Dan seperti pistol meledak, dari penisnya keluar cairan panas yang terasa begitu panas dan kencang dalam tubuh saya, dan saya pun beberapa detik kemudian mencapai klimaks.<br/><b<br />
r/>Irama gerakan pinggulnya mulai menurun perlahan-lahan, dan saya memeluk kepalanya dan saya ciumi kuping kirinya sambil berbisik &#8220;Ah.. nikmat sekali Mas, sudah lama kita tidak begini&#8221;, dan pinggulnya sudah berhenti bergerak, tapi penisnya masih tetap di dalam saya, dan dia mengecup bibir saya dengan mesranya. &#8220;Aah..&#8221; dia merintih sedikit karena penisnya yang masih di dalam saya jepit. Dia mulai mengeluarkan penisnya dari dalam saya, dan saya masih dalam posisi duduk di meja rias, saya merasakan cairan kental putih keluar dari dalam saya membasahi meja rias.<br/>&#8220;Mitra kita akan tertarik dengan kecantikan kamu nanti&#8221;, katanya dengan penuh arti.<br/><br/>Di luar mobil sudah menunggu saya, saya keluar dari rumah dan pamit.Saya memakai onepice merah panjang, potongan di dada sedikit rendah sehingga kelihatan sedikit belahan dada saya dan sedikit menonjol kedua puting saya dari balik gaun merah ini, BH saya hanya menyangga buah dada saya dan puting saya tidak tertutup oleh BH sehingga sepintas seperti tidak memakainya. Supir saya membukakan pintu belakang dan saya masuk, sebelum pintu ditutup saya menarik bagian rok saya yang masih sedikit menempel di bagian pintu karena kancing bagian rok saya yang ada di depan sengaja saya buka sampai pertengahan paha, supaya lebih mudah bergerak dan sedikit terlihat seksi dengan belahan di depan. Supir sepertinya sedikit melirik ke paha saya ketika itu, tapi seperti sudah biasa dia terus menutup pintu.&#8221;Jon tolong mampir ke Hotel Hyatt dulu untuk jemput tamu, dan baru kita ke kantor.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2008/09/04/mitra-bisnisku-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>One Night Service 2</title>
		<link>http://jablayonline.info/2008/08/22/one-night-service-2.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2008/08/22/one-night-service-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 03:10:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Lain Lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/2008/08/22/one-night-service-2/</guid>
		<description><![CDATA[Pagi hari aku bangun cukup pagi, karena desakan air seni yang akan keluar, buru-buru aku ke kamar mandi. Saat aku mengeluarkan kemaluanku, kok pada lengket. Sambil kencing aku perhatikan celana dalamku. Ya amplop, aku mimpi basah. Aduh, pengaruh si bapak sebelah nih. Segera aku mandi dan istirahat lagi. Rutinitas kehidupan rumah sakit berjalan sepeti biasanya.Menjelang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi hari aku bangun cukup pagi, karena desakan air seni yang akan keluar, buru-buru aku ke kamar mandi. Saat aku mengeluarkan kemaluanku, kok pada lengket. Sambil kencing aku perhatikan celana dalamku. Ya amplop, aku mimpi basah. Aduh, pengaruh si bapak sebelah nih. Segera aku mandi dan istirahat lagi. Rutinitas kehidupan rumah sakit berjalan sepeti biasanya.<br/><br/>Menjelang sore hari, aku pikir tetangga pasien pada edan, kalau nggak ikut edan bisa nggak kebagian, nih. Aku iseng telepon papitra yang sudah lama nggak kukunjungi. Tempatnya nggak begitu bagus, tapi suasananya lumayan, dan nggak bisa macam-macam di situ, karena managernya selalu mondar-mandir memeriksa ruang, sambil memperhatikan kaki WP-nya. Kalau mau macam-macam bisa pesan setelah kerja dan bisa dibawa ke motel terdekat. Biasanya ke Pondok Wisata. Lokasi Papitra di belakang Polres Jakarta, lurus dari Kejaksaan Agung, dan nanti pasti belok kiri. Nah sekitar situlah tempatnya. Semua WP-nya menggunakan jarik dengan wiron (kain kebaya dengan ujung kain dilipat, dan lipatannya di letakkan tepat jatuh di bawah pusernya hingga jempol kaki).<br/><br/>Aku buka phone-book, nomor yang aku simpan untuk papitra. Aku acak menggunakan rot1, kalau teks pakai rot13. Setelah menuliskan di secarik kertas, semua angka aku tambahkan satu, nah keluarlah nomor teleponnya. 02172*****(edited).<br/><br/>&#8220;Sari Perempuan, selamat sore,&#8221; jawab di seberang telepon.<br/>&#8220;Sore Mbak, bisa bicara dengan Mbak Dewi?&#8221; kataku.<br/>&#8220;Sebentar saya carikan dahulu,&#8221; jawabnya.<br/>Tidak berapa lama, &#8220;Halo, siapa ini?&#8221; jawabnya.<br/>&#8220;Budi, Mbak,&#8221; kataku.<br/>&#8220;Budi yang mana? Banyak nama Budi soalnya!&#8221; tanyanya lagi.<br/>&#8220;Itu yang SETIA, SElingkuh TIada Akhir,&#8221; jawabku.<br/>&#8220;Oh, Eh, Mas Budi apa kabar, udah lama nggak ke sini,&#8221; katanya mulai nyambung.<br/>&#8220;Iya nih. Aku bisa minta tolong?&#8221; tanyaku.<br/>&#8220;Tolong apaan?&#8221; tanyanya.<br/>&#8220;Masih bisa ONS?&#8221; tanyaku lagi.<br/>&#8220;Apaan sih ONS?&#8221; tanyanya.<br/>&#8220;One Night Service,&#8221; kataku.<br/>&#8220;Oke deh. Di mana dan kapan?&#8221; nanyanya nafsu bener.<br/>&#8220;Aku ada di rumah sakit xx kamar 302, datangnya kalau kamu selesai tugas aja,&#8221; kataku. Setelah bercerita sedikit mengenai kondisiku, aku tutup pembicaraan di telepon.<br/><br/>Seperti biasa, Mas Manado sudah pergi jojing dan bapak sebelah juga sudah kelonan. Jam 22:00, Mbak Dewi datang dengan menggunakan pakaian tugasnya. Gila bener nih sih mbak, masak besuk sudah malam pakai kebaya lagi.<br/>&#8220;Nggak kesulitan ke sininya?&#8221; tanyaku.<br/>&#8220;Ke rumah sakitnya sih nggak masalah, tapi masuk ke ruangannya yang sulit. Aku bilang sama suster kalau aku saudara dari kampung, besok segera kembali. Akhirnya dia memaklumi, oleh sebab itu aku nggak ganti pakaian selain berhemat waktu juga sebagai alasan,&#8221; jelasnya. Pinter juga nih si Mbak cari alasan. Harusnya jadi lawyer aja.<br/>&#8220;Bawa perlengkapan?&#8221; tanyaku. Maksudku kondom, lotion, dan lain-lainnya.<br/>&#8220;Iya dong,&#8221; jawabnya.<br/>&#8220;Pakai CD, nggak?&#8221; kataku perlahan.<br/>&#8220;Mana sempat. Keburu telat,&#8221; katanya sambil mencubit hidungku, dan minta ijin untuk membersihkan badan di kamar mandi.<br/><br/>Setelah selesai membersihkan badannya,<br/>&#8220;Mau diapain?&#8221; tanyanya, sedikit berbisik di telingaku.<br/>&#8220;Dipijat dulu deh Mbak,&#8221; kataku sambil telungkup tanpa selembar benangpun. Nggak lama dia memijatku. Asyik juga lho pijat di rumah sakit. Habis kamarnya juga nggak beda jauh, ada tirainya, luasnya kamarnya mungkin nggak beda jauh.<br/><br/>Lagi asik mijat, tiba-tiba terdengar suara erangan dari sebelah. Kulihat wajah Mbak Dewi geleng-geleng, sambil meletakkan telunjuk secara horisontal di keningnya. Dia nanya setengah berbisik kearah telingaku, &#8220;Pakai krem nggak?&#8221;<br/>&#8220;Nggak ah, nggak pakai aja udah enak!&#8221; kataku.<br/><br/>Kemudian aku disuruh berbalik atau terlentang dengan posisi kemaluan sangat tegang. Saat mijat dengan posisi telungkup dia sudah mencoba membuatku &#8220;keras&#8221; dengan meraba-raba bijiku.Setelah terlentang dia memijat sekitar mata kaki menuju ke atas, betis, paha, dan pangkal paha biji kemaluanku tersengol, sementara kemaluanku sudah keras banget. Dia tak sedikitpun berusaha memegangnya. Cukup lama dia memijat kakiku, kemudian pindah dengan kaki yang satunya, dengan cara yang sama pula dia melakukannya.<br/><br/>&#8220;Perutnya nggak bisa Mas kalau nggak pakai krem,&#8221; katanya tanpa berbisik, soalnya di sebelah sudah agak keras lenguhannya. Mereka pikir kita berdua sudah tidur.<br/>&#8220;Kalau gitu di massage aja deh adikku,&#8221; kataku.<br/><br/>Kemudian dengan diraba bulu di bagian bijiku tanpa menyentuh daging, uh uh, tambah keras deh batangku. Kepalanya Mbak Dewi didekatkan ke kemaluanku, di jilatinya bijiku, mHP. Terus lidahnya berjalan di sepanjang batang kemaluanku hingga mencapai kepala kemaluanku. Dijilati ujung kemaluanku. Aduh makin mules aja perutku seperti mau ke belakang. Tidak berapa lama dia memasukkan bagian kepala kemaluan saja ke dalam mulutnya dan memberikan ludah cukup banyak, sehingga terasa lembut banget.<br/><br/>Diputar mulutnya seperti menghisap permen kojek (inget nggak sama si Teli savalas; aku nggak tahu ejaan; yang jelas bintang film jamannya aku masih muda), aku cengkram bed cover (sengaja dari tadi aku tidak menyentuhnya, bukan karena dia memakai kebaya, biar dia lebih intens merangsangku, harapan dia kalau aku sudah bener-bener konak pasti akan memegangnya).<br/><br/>Akhirnya hanya sekitar tiga menit muncrat di dalam mulutnya dan mantul di langit-langit mulutnya dan jatuh ke kemaluanku. Uh sedap.<br/><br/>&#8220;Kentel banget sih Mas?&#8221; katanya. Aku lihat, iya sih, seperti lem putih, maklum sudah lama nggak dikeluarin atau karena mutivitamin dosis tinggi yang aku minum. Kan yang kemarin ngimpi keluar sendiri.., kalau keluar sendiri artinya sudah penuh, nah kalau dikeluarin artinya dikosongin, tapi segera diisi oleh tubuh kita. Setelah selesai ejakulasi, dijilati kepala kemaluanku.<br/>&#8220;Udah mbak, ngilu,&#8221; kataku.<br/>Diambilnya tisu untuk membersihkan sperma yang tercecer di sekitar kemaluanku. Aku benar-benar lemas, namanya juga pasien.<br/>&#8220;Aku ke kamar mandi dulu yah?&#8221; katanya.<br/>Kujawab dengan mengangguk. Tidak berapa lama dia masuk ke kamarku.<br/>&#8220;Sekarang apa lagi?&#8221; katanya. Aku lihat jam sudah jam 12:00.<br/>&#8220;Istirahat aja deh, aku capek,&#8221; jawabku.<br/>&#8220;Terus aku tidur di mana?&#8221; tanyanya.<br/>&#8220;Di sini di sampingku!&#8221; kataku.<br/>&#8220;Muat apa?&#8221; jawabnya.<br/>&#8220;Dimuat-muatin!&#8221; kataku.<br/><br/>&#8220;Aku ganti pakaian dulu yah?&#8221; tanyanya.<br/>&#8220;Jangan, udah gitu aja,&#8221; kataku.<br/>&#8220;Susah naiknya,&#8221; katanya.<br/>&#8220;Pantatnya dulu dong yang dinaikkin, sedikit loncat, baru kakinya diangkat,&#8221; kataku sambil membantu mengangkatnya. Akhirnya kita tidur bersama-sama. Aku masih telanjang di bawah selimut. Dia juga ikut masuk ke dalam selimut, tapi masih memakai kebaya.<br/><br/>&#8220;Manja banget sih seperti anak kecil, tidur sendiri koq nggak berani,&#8221; katanya, sambil mengangkat kepalanya dan ditahan oleh tangan kanannya menghadap arahku, sementara tangan kirinya mengusap dadaku. Aku hanya tersenyum. Dia mengecup keningku, turun ke arah telingaku. Daun telingaku dijilati, uh uh, meregang lagi pembuluh darah di sekujur tubuhku. Turun ke leher, emh, geli-geli enak, lidahnya berjalan maju mundur ke arah putingku.<br/><br/>Kasihan juga aku melihatnya. Dia khan juga punya emosi dan nafsu. Masih seperti yang dulu, di balik lipatan kainnya (wiron) ada reitstleting. Aku tarik ke bawah hingga lutut. Dengan menarik kakinya ke atas maka lepaslah kainnya. Dia membantu melepas kebaya hijaunya dan melepas bra hitamnya.<br/><br/>Kucium payudaranya. Terasa semburan hawa panas dari lubang hidungnya. Setelah dapat melepaskan diri dari kain kebaya, dia merubah posisi ke atas badanku. Kemaluanku belum begitu keras, pasti belum bisa dimasukkan. Dia hanya mem&#8221;parkir&#8221;nya di sekitar labia minoranya. Selanjutnya dia menjilati putingku kembali dan naik ke atas, kebalikan dari rute yang tadi. Saat di telingaku, terdengar hembusan nafasnya, menambah sensasiku. Kemaluanku mulai mengeras, tetapi belum keras sekali, tetapi cukup untuk melakukan penetrasi.<br/><br/>Dia menggoyang naik turun, mengusahakan agar kemaluanku masuk ke vaginanya. Kepalanya berada di sebelah kepalaku, karena dia sedang menjilati leherku<br />
 bagian belakang, dari balik pundaknya aku melihat pinggulnya yang lebar sedang menggoyang. Ehm bulat bener, oups masuklah kemaluanku. Ya ampun basah banget.<br/><br/>&#8220;Mbak kamu terangsang banget yah?&#8221; kataku.<br/>&#8220;He em,&#8221; jawabnya sambil terus menjilati leherku dan kadang mengencup tanpa suara. Terus terang aku belum begitu konak, tapi dia melakukan gerakan naik turunnya sambil dicengkram dengan vaginanya. Gerakan pantatnya yang naik turun (tepatnya berputar berlawanan arah jarum jam kalau dilihat dari samping; saat klitorisnya menyentuh bulu kemaluan, pantatnya agak ke atas, kemudian dengan gerakan menjepit di vaginanya klitorisnya ditarik ke atas sehingga pantatnya agak ke bawah).<br/><br/>Gerakan tadi bukan lagi sekedar naik turun searah jarum jam, tapi ada gerakan menyamping, sehingga pantatnya yang naik turun satu persatu. Makin lama semakin enak dan vaginanya semakin longgar serta lendir yang dihasilkan goyangannya sudah cukup banyak; ini berarti tinggal beberapa saat lagi dia akan orgasme. Aku diam saja, tetapi gerakannya semakin cepat, cepat, dan cepat kemudian diam tanpa gerakan.<br/><br/>Kakinya menjepit kakiku, tangannya telah pindah ke belakang kepalaku melalui ketiakku, dan dengan jepitannya sangat kuat dan tidak ada deru nafasnya dalam beberapa detik dibarengi dengan kejutan vaginanya.<br/><br/>&#8220;Huh.&#8221; Semburan udara yang sempat parkir beberapa detik di paru-parunya terdorong keluar menerpa daun telingaku, hampir mirip suaranya Lara Croft saat keluar dari menyelam di Tomb Rider Chronicle.<br/>&#8220;Sampe?&#8221; tanyaku.<br/>&#8220;Bukan nyampe lagi,&#8221; katanya dengan nafas ngos-ngosan. Kepalanya masih di atas pundakku.<br/>&#8220;Belum keluar yah?&#8221; tanyanya.<br/>&#8220;Udah tahu nanya!&#8221; kataku.<br/>Kemudian dengan badan tidak bergerak hanya ada gerakan nafas yang cukup cepat saja, dia menggerakkan rongga vaginanya, tekan, lepas, tekan, lepas, dan seterusnya. Kemudian diikuti dengan gerakan pantatnya secara perlahan.<br/><br/>Siapa yang tahan dielus-elus dengan rongga vagina yang cukup licin. Karena gerakan dia hanya perlahan, aku yang nggak tahan terpaksa aku menggerakkan pantatku naik turun. Pinter banget dia memancingku agar aku bergerak. Uh sedap, kalau lagi olahraga disuruh begini pasti capek mungkin hanya dapet beberapa kali, tetapi kalau lagi hubungan sex begini capeknya nggak terasa, ibarat pepatah mengatakan sekali dayung dua pulau terlampaui, capeknya nggak hilang berhari-hari.<br/><br/>Dia bangun dari tidur sehingga posisinya berubah dengan menduduki kemaluanku. Dia tidak bergerak naik turun melainkan seperti orang naik kuda, maju mundur tetapi pelan, hanya di dalam vaginanya yang bekerja seperti meremas-remas kemaluanku, sementara tangannya memutar putingku. Jebol juga tanggul pertahananku. Uh lega rasanya. Sudah selesai ejakulasi, masih aja dipijat dengan rongga vaginanya sambil keluar masuk, layaknya memeras kemaluanku guna mengeluarkan semua spermaku yang masih tersisa di batang kemaluanku.<br/><br/>Aku biarkan saja, walau terasa agak geli-geli gimana gitu. Terasa spermaku mengalir melalui celah-celah antara dinding vagina dan kemaluanku, jatuh di biji kemaluanku, dan diikuti dengan keluarnya kemaluanku yang telah mengecil.<br/><br/>Buru-buru aku tarik kain kebayanya agar spermaku tidak jatuh ke sprei rumah sakit. Dia bangun dan ke kamar mandi. Setelah bersih dia berganti pakaian dan membersihkan diriku, memasukan perlengkapannya ke dalam tasnya, dan akhirnya aku dikeloni sampai pagi.<br/><br/>Saat dokter datang, dia lihat statusku. Suhu 36.8 derajat celcius, tekanan darah 110/70, SGPT dan SGOT dalam batas yang wajar walau ada ditepi, dan aku nggak punya keluhan, akhirnya aku disuruh pulang.<br/><br/>Bapak yang dari Irian Jaya juga nggak jelas penyakitnya, yang jelas dia tidak mengalami keluhan (hanya kalau malam suka melenguh), jadi diperbolehkan pulang.<br/><br/>Sementara Mas Manado, SGOT dan SGPT, masih terlalu tinggi, bahkan tadi pagi sempat jatuh. Dia belum diperbolehkan pulang. Makanya kalau dibilang bed rest sama dokter harus nurut, buktinya aku sama bapak sebelah bed rest walaupun melakukan bed action, jadi biar cepat sembuh.<br/><br/>Saat akan pamitan sama suster sambil mengucapkan terima kasih, juga sama kepala ruangan, aku bilang, &#8220;Bu, pasien yang itu diiket aja, biar total bed rest,&#8221; kataku. Bapak dari Irja mengangguk. Bukannya apa-apa, demi nyawanya dia sendiri, jojing melulu nggak lihat modal kesehatannya. Kepala Ruangannya hanya tersenyum, pasti nggak tahu yang kami (aku dan si Bapak) maksud.<br/>Kesehatan bukan segalanya, tapi tanpa kesehatan uang, harta, bahkan wanita tiada artinya.<br/><br/>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2008/08/22/one-night-service-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>One Night Service</title>
		<link>http://jablayonline.info/2008/08/22/one-night-service.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2008/08/22/one-night-service.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 03:07:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Lain Lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/2008/08/22/one-night-service/</guid>
		<description><![CDATA[Sinopsis: Masuk rumah sakit dan divonis harus rawat inap sungguh tidak enak. Apalagi pasien di sebelah kiri dan kanan rada-rada sableng. Yang satu berhubungan seks dengan istrinya di malam hari, dan yang satu lagi malah menyelinap pergi jojing ke diskotik. Bagaimana kiat Budi mengobati tuntutan arus bawah? Jawabnya, One Night Service!Sibuk ngurusin kerjaan yang ruwet, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sinopsis: Masuk rumah sakit dan divonis harus rawat inap sungguh tidak enak. Apalagi pasien di sebelah kiri dan kanan rada-rada sableng. Yang satu berhubungan seks dengan istrinya di malam hari, dan yang satu lagi malah menyelinap pergi jojing ke diskotik. Bagaimana kiat Budi mengobati tuntutan arus bawah? Jawabnya, One Night Service!<br/><br/>Sibuk ngurusin kerjaan yang ruwet, membuat pusing tujuh keliling. Sebenarnya sudah merupakan suatu siklus, kalau akhir tahun, buat daftar prospek tahun depan alias rencana pendapatan dan pengeluaran, laporan realisasi prospek dan acara tutup buku. Sementara kerjaan di awal tahun adalah cek fisik antara stok barang di gudang dengan yang di akunting, siap-siap pajak di bulan Maret. Pertengahan tahun rapat umum pemegang saham. Itu yang rutin, belum yang darurat.<br/><br/>Yah, namanya juga manusia. Kadang ada sehat kadang ada saat sakit. Karena kesibukanku, kurang tidur, nggak pernah olah raga, makan nggak teratur, kencing sering ditahan karena lagi tanggung (kamar mandinya jauh), ditambah buang air besar yang nggak jelas jadwalnya, akhirnya tumbang juga. Aku coba doping dengan multi vitamin dan beristirahat. Tetap saja nggak ada perubahan. Istirahat di rumah mana bisa total. Kadang ada telepon atau ada acara televisi bagus nonton, macem-macem deh.<br/><br/>Aku kontrol lagi dan dokter memvonisku untuk segera rawat inap dan istirahat total alias bed rest. Karena penyakit hepatitis, dia melarangku pulang, memintaku langsung masuk kamar. Aku telpon orang rumah untuk membawakan keperluanku &#8211; hanya alat kecil inilah penghubungku ke dunia luar. Paling nggak enak dengan bed rest &#8211; nggak bisa ngapa-ngapain, makan, minum, pipis, dan lain sebagainya di tempat tidur.<br/><br/>Perusahaanku menggunakan jasa asuransi, sehingga dengan jasa tersebut aku masuk sebuah rumah sakit di daerah Kuningan, Rasuna Said. Sesuai dengan preminya aku masuk ruangan perawatan yang berisi tiga tempat tidur, dan di pojoknya terdapat kamar mandi. Setelah menandatangani beberapa surat rawat inap dan lain-lain, aku masuk ke kamar perawatan yang bersisi dua tempat tidur. Kemudian aku baru tahu bahwa tempat tidur dekat kamar mandi sedang diletakkan di luar karena pasiennya habis meninggal tadi pagi. Wah, tambah serem aja.<br/><br/>Belum ada pasien yang menginap di kamar tersebut, jadi aku sendirian. Serem bener di kamar rumah sakit. Sendirian lagi, nggak ada teman, habis ada yang meninggal lagi. Aku pilih tempat tidur di tengah, karena di sebelah kanan dekat jendela. Nah, di luar jendela itu ada papan reklame dengan menggunakan lampu yang cukup terang, takut malamnya menyilaukan aku walaupun ada tirainya, sementara yang kiri dekat dengan kamar kecil, takut bau.<br/><br/>Nggak lama datang dua orang perawat dengan membawa botol infus dan peralatan lainnya. Pertama dia memasang gelang plastik, yang bertuliskan namaku. Kemudian mengukur suhu di ketiakku. Tidak berapa lama bersiap menusuk pergelangan tanganku untuk memasang infus. Enak juga ternyata ikut asuransi, nggak usah repot mikir beli obat.<br/><br/>&#8220;Pak, pasang infus yah,&#8221; katanya.<br/>&#8220;Suster, aku takut lho sama jarum!&#8221; kataku manja seperti anak kecil.<br/>&#8220;Ya, rileks aja Pak, nggak sakit koq!&#8221; kata yang satunya. Ditekan pergelangan tangan kiriku dengan kuat dan dipukul dengan jari untuk mencari pembuluh darah yang akan ditusuk. Begitu mendapatkan, ces, aduh sakitnya.<br/><br/>Setelah acara infus, aku ingin sekali istirahat. Mata ini akan terpejam, eh datang lagi dua orang perawat yang berbeda dengan yang tadi.<br/>&#8220;Maaf Pak, skin test,&#8221; katanya.<br/>&#8220;Buat apaan sih?&#8221; tanyaku.<br/>&#8220;Sebelum Bapak diberi antibiotik, dicoba dulu, Bapak alergi nggak,&#8221; jawabnya.<br/>&#8220;Suster, aku ini udah sakit. Tambah sakit Sus, kalau ditusukin terus,&#8221; kataku.<br/>&#8220;Nggak sakit koq Pak. Paling sakit sedikit seperti dicubit,&#8221; katanya.<br/>&#8220;Ya sudah,&#8221; kataku sambil memberikan lengan kananku. Tidak berapa lama dia menyuntikkan obat, tetapi tidak ke dalam daging, hanya berkisar antara kulit dan daging. Aduh mak, sakitnya, minta ampun.<br/><br/>&#8220;Khan, nggak sakit kan?&#8221; katanya menghibur. Nggak lama dia pergi.<br/><br/>Baru mau memejamkan mata sudah datang lagi pegawai dari laboratorium, yang ingin mengambil darahku, dan memberikan tempat untuk menampung air seni dan kotoranku. Kapan aku istirahat, kalau pegawai rumah sakit silih berganti menggangu pasiennya.<br/><br/>Akhirnya aku istirahat siang. Cukup lama nampaknya, hingga aku terbangun karena ada suara agak berisik. Ternyata ada pasien baru. Tentu saja seorang pria, nggak mungkin kan dicampur. Dia mengambil tempat di sisi jendela. Penyakitnya sama dengan aku, cuma dia agak parah. Sama dengan aku, datang sendirian. Sambil memicingkan mata karena silau, tampan juga tampangnya, seperti seorang presenter sebuah acara kuis di televisi. Dari namanya aku tahu kalau dia orang Manado.<br/><br/>Suster yang memasang gelang plastik dan infus, nampaknya lebih pelan dan nggak buru-buru seperti aku. Wah, ternyata susternya melek juga matanya kalau lihat pria ganteng. Sama halnya dengan diriku, belum sempat dia beristirahat, sudah datang lagi perawat yang lain. Prosedur yang sama denganku dilakukan tetapi dengan cara yang berbeda, agak dilama-lamain dalam melayani. Ternyata, suster suka juga dengan pria tampan.<br/><br/>Baru kita berdua akan istirahat, menjelang sore, kira jam 15:00, terdengar suara tempat tidur masuk, kemudian dibersihkan dan dipasang bed cover. Dan tak lama datang lagi pasien, pria tentunya. Kali ini bersama dengan istrinya, dan nggak tanggung-tanggung, datang dari daerah Irian Jaya, istrinya tinggal di Jakarta sedangkan suami lagi tugas, langsung masuk rumah sakit. Karena sisa tempat tidur ada di dekat kamar mandi, yah itulah pilihannya.<br/><br/>Dianya langsung mendapat perlakuan sama dengan pasien lainnya. Penyakitnya belum jelas, aku dengar dari pembicaraan mereka. Repot lho, kalau belum jelas penyakitnya. Bisa-bisa salah obat. bukan sembuh tapi makin parah. Jeleknya lagi setelah parah baru ketahuan penyakitnya dan ternyata salah diagnosa.<br/><br/>Menjelang jam 16:00, acara mandi sore. Aku ingin kencing, tetapi aku bel, kok nggak ada perawat yang datang untuk membawakan pisspot. Ah bodo amat, jalan ke situ aja masak nggak kuat sih. Paling cuma lima meter. Aku coba matikan dulu roda pengatur cairan infus, dan aku ambil botolnya. Udah gitu jalan ke kamar mandi sambil bawa botol infus. Pas aku mau masuk ke kamar mandi, terdengar, pembicaraan di luar ruang.<br/><br/>&#8220;Kita hom pim pa aja, untuk menentukan siapa yang mandiin dia,&#8221; kata seorang wanita.<br/>&#8220;Nggak bisa gitu dong. Curang itu namanya. Kamu khan tadi udah masang infusnya, terus kamu sudah skin test, sekarang giliran kita!&#8221; kata seorang wanita lainnya. Seterusnya aku nggak dengar, karena air seniku sudah di ujung tanduk.<br/><br/>Setelah kembali dari kamar kecil, ternyata Mas Manado itu lagi di washlap. Gitu aja rebutan. Tidak lama giliran aku tapi dengan perawat yang lain. Sementara di sebelah kiriku dibersihkan oleh istrinya sendiri. Tidak berapa lama datang petugas laboratorium untuk mengambil semua contoh air seni dan kotoran para pasien.<br/><br/>Jam besuk mulai tiba, nah ramai deh. Teman kantor masing-masing pasien berdatangan. Saat mereka pulang, datang lagi para tetangga. Agak malam, datang beberapa kerabat dekat. Jam besuk habis, mulai sepi lagi. Setelah menghabiskan makan malamku, aku tidur. Semua tirai ditutup sehingga menutupi sekeliling tempat tidur pasien. Kurang lebih sama dengan di papitra kelas reguler. Malam Pertama pun berjalan lancar.<br/><br/>Hari ke dua, pagi hari jam 06:00 sudah mulai sibuk. Pegawai kebersihan membersihkan ruangan dan kamar mandi. Nggak lama pegawai laboratorium datang untuk mengambil darah lagi. Semua pasien dibersihkan alias mandi bagi yang sudah bisa jalan. Semua tirai pembatas antar pasien dibuka, sehingga ruangan terlihat agak luas. Suster menyiapkan semua status para pasien di meja dokter ruangan. Suster yang jaga tadi malam membersihkan diri siap-siap serah terima pekerjaan dengan yang tugas pagi, tetapi sebelum mereka pulang ikut visit dokter ke ruangan pasien. Makanan pagi datang.<br/><br/>Dokterku ternyata sama dengan dok<br />
ter tetangga pasienku di kiri dan kanan. Orangnya sudah berumur, tetapi kocak.<br/>&#8220;Bagaimana Pak, sehat?&#8221; tanyanya ke si Mas Manado.<br/>Dia nggak jawab, hanya senyum saja. Aku perhatikan mata para suster seperti akan keluar aja dari kelopak matanya. Tidak lama dia melihat status dan menerima laporan dari suster jaga malam.<br/>&#8220;Bagus, kondisi sudah mulai membaik, tetapi masih perlu recovery,&#8221; kata dokter.<br/>&#8220;Kalau kondisi ini terus membaik kita coba lepas infusnya, kalau tidak ada apa, boleh pulang, OK?&#8221; tambahnya.<br/><br/>Setelah itu berpaling ke arahku, dan..<br/>&#8220;Bagaimana Pak, kabarnya?&#8221; tanyanya.<br/>&#8220;Yah begini Dok, masih di tempat tidur,&#8221; jawabku.<br/>&#8220;Apa yang dirasakan,&#8221; katanya. Dokter aja nanya, artinya masih pinteran pasiennya dong!<br/>&#8220;Perut agak gimana gitu Dok. Seperti makan kekenyangan, padahal makannya khan bubur. Agak sedikit mual, dan lemah,&#8221; kataku.<br/>&#8220;Baik, kalau gitu. Saya beri obat anti mual dan obat multi vitamin dosis tinggi, biar cepat pulih. Kalau lihat hasil lab pagi ini SGOT dan SGPT-nya mulai ada perubahan membaik,&#8221; katanya sambil memberikan perintah ke suster jaga pagi untuk mengganti obat yang aku minum.<br/><br/>Dokter memeriksa ke pasien sebelahku.<br/>&#8220;Bagaimana Pak hari ini?&#8221; tanya dokter.<br/>&#8220;Baik Dok,&#8221; jawabnya.<br/>&#8220;Apa yang dirasakan?&#8221; tanya dokter lagi.<br/>&#8220;Tidak ada apa-apa Dok,&#8221; jawabnya.<br/>Dokter melihat status, dan..<br/>&#8220;Infusnya boleh dilepas, obat ini dihentikan, ganti dengan yang ini,&#8221; memberikan perintah ke suster jaga pagi. Inilah bisnis kesehatan, dengan enaknya mengganti obat, padahal khan beli, sementara ada pasien yang nggak mampu butuh obat.<br/>&#8220;Pak, kita lihat apakah ada perubahan setelah infus dilepas. Kalau melihat hasil rotgen, laboratorium, dan suhu, tidak ada masalah. Jangan-jangan hanya kangen sama istri,&#8221; kata dokter sambil bercanda dan meninggalkan ruang untuk menuju ke ruangan lainnya.<br/><br/>Kegiatan tak jauh beda dengan kemarin. Perbedaan hanya, pasien sebelah kiriku, mandi sorenya di kamar mandi dan istrinya tidak pulang. Malam pun tiba. Setelah lampu dan televisi dimatikan serta tirai ditutup oleh suster. Kita semua mulai tidur. Istri bapak di sebelahku tadinya tidur sambil duduk di kursi dan badannya disandarkan telungkup di tempat tidur. Karena suaminya kasihan lihat istrinya tidur seperti itu akhirnya dia tidur bareng satu tempat tidur. Tumben malam ini aku sulit tidur. Maklum nggak biasa tidur siang. Tadi siang aku tidur cukup lama, jadi kelebihan tidur. Akibatnya malam sulit tidur &#8211; selagi sehat aku hanya tidur empat sampai lima jam, karena aku punya hobi tidur menjelang pagi.<br/><br/>Pasien sebelah kananku mendengkur. Si Mas Manado ternyata cakep-cakep ngorok toh. Terdengar sayup-sayup suara yang nggak asing olehku dari sebelah kiri. Di dalam ruang kamar yang redup dan penyejuk ruang yang cukup dingin, menunjang untuk melakukan hajat mereka, Apalagi telah berpisah cukup lama. Perbuatan mereka cukup sempurna, hampir tidak mengeluarkan rintihan, tetapi deru nafasnya yang nggak bisa diatur di tengah malam yang sepi, di rumah sakit lagi. Beruntung tempat tidur yang digunakan cukup baik sehingga tidak mengeluarkan bunyi. Seandainya aku mau iseng, bisa aja aku tarik rem roda tempat tidur itu sehingga akan ada guncangan sesuai dengan goyangan mereka.<br/>Malam ke dua &#8211; Pasien sebelah kiri GILA.<br/><br/>***********<br/><br/>Pagi harinya, kegiatan rutin seperti biasa. Istri pasien sebeleh pulang sebelum fajar. Suster yang membersihkan sprei bapak sebelah kiri bingung, masalahnya ada noda yang nggak umum untuk di rumah sakit. Setelah si bapak keluar dari kamar mandi (Weleh weleh habis keramas dia), ditanya sama suster, &#8220;Pak ini noda apaan, nih?&#8221; tanya suster.<br/>&#8220;Oh maaf suster, saya mimpi basah. Maklum udah lama nggak campur, terus bertemu istri, jadi ngimpinya ngaco,&#8221; jawabnya polos. Udah tua juga suka bohong nih si bapak. Susternya geleng-geleng sambil memasukkan ke dalam plastik dan mengganti dengan yang baru.<br/><br/>Setelah visit dokter, infusku dilepas. Mas Manado juga dilepas, tetapi jangan turun dari tempat tidur kecuali untuk aktifitas ke kamar mandi. Kegiatan yang membosankan pun berjalan, hingga sorepun tiba. Benar-benar menghitung hari aja di sini kegiatannya. Aku lihat si Manado setelah mandi, tidak menggunakan pakaian pasien (asli lho, seperti narapidana aja, pakai seragam dan dipeneng) dan menggunakan parfum, nggak lama dia..<br/><br/>&#8220;Mas, di samping itu kalau nggak salah ada diskotik namanya D****(edited)?&#8221; tanyanya.<br/>&#8220;Iya,&#8221; jawabku.<br/>&#8220;Tolong, kalau ditanya Suster bilang aku ke bawah sebentar,&#8221; katanya.<br/>&#8220;He eh,&#8221; jawabku. Langsung dia ngeloyor pergi. Dasar gila jojing.<br/>Istri bapak sebelah sudah datang, tampak ceria sekali. Tadi siang aku sempat bicara dengan bapak di sebalah kiriku. Ternyata dia telah jauh dari istri sekitar dua bulan. Oh pantes didukung situasi dan kondisi seperti itu aku maklum aja.<br/><br/>Sesuai dugaanku malam ini, si bapak melangsungkan lagi buang hajatnya. Lebih seru lagi nampaknya, &#8220;pertempuran&#8221; ke dua, soalnya si ibu sampai mengeluarkan sedikit desah, bahkan lupa sama tumitnya yang sudah mendorong tirai hingga menonjol ke arah tempat tidurku. Sepertinya si ibu di bawah dan kakinya dibuka lebar ke atas. Aku tertidur sambil mendengarkan desahannya. Aku nggak tahu si Manado gila jojing itu pulang jam berapa. Bodo amat.<br/>Malam ke tiga &#8211; Pasien sebelah kiri dan kanan sama GILA-nya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2008/08/22/one-night-service.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pacar Temanku 3</title>
		<link>http://jablayonline.info/2008/07/30/pacar-temanku-3.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2008/07/30/pacar-temanku-3.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 03:22:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Lain Lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/2008/07/30/pacar-temanku-3/</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa, sayang?&#8221; aku bertanya sambil menarik tanganku dari liang kewanitaannya. Aku tahu dia marah. Tapi kenapa? Ini anak, kok aneh banget, jual mahal lagi, pikirku. Atau dia ingat Heri lalu merasa bersalah? Terus ngapain dia mau kucumbuin sejak kemarin?&#8220;Mas Doni kan sudah janji untuk tidak melakukannya, kan?&#8221; tiba-tiba Erika berbicara. Aku terdiam.&#8220;Aku tadi nggak mau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kenapa, sayang?&#8221; aku bertanya sambil menarik tanganku dari liang kewanitaannya. Aku tahu dia marah. Tapi kenapa? Ini anak, kok aneh banget, jual mahal lagi, pikirku. Atau dia ingat Heri lalu merasa bersalah? Terus ngapain dia mau kucumbuin sejak kemarin?<br/>&#8220;Mas Doni kan sudah janji untuk tidak melakukannya, kan?&#8221; tiba-tiba Erika berbicara. Aku terdiam.<br/>&#8220;Aku tadi nggak mau kita masuk ke penginapan, karena aku takut kita nggak bisa menahan keinginan untuk melakukannya, Mas Don,&#8221; tambahnya memberikan pengarahan kepadaku.<br/>&#8220;Bagaimanapun juga khusus untuk yang satu ini tidak dapat aku berikan buat Mas Doni. Bukan hanya Mas Doni, aku juga sebenarnya sudah nggak tahan. Aku nggak munafik, Mas Don. Tapi.. kumohon Mas Doni mau mengerti sampai saatnya aku benar-benar siap,&#8221; sambil berkata demikian Erika mencium keningku. Aku tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Dalam posisi yang sudah sama-sama telanjang kecuali Erika yang masih mengenakan celana dalamnya, berdua di dalam sebuah kamar lagi dapat dibayangkan apa sebenarnya yang bakal terjadi. Tetapi kali ini tidaklah demikian. Bayanganku tentang kenikmatan saat bersetubuh dengan Erika sirna sudah, atau setidaknya tidak dapat kurasakan saat ini. Tapi sampai kapan? Aku jadi berpikiran untuk memaksanya saja tetapi hal itu bertentangan dengan hati nuraniku. Akhirnya aku cuma bisa pasrah dan diam.<br/><br/>Kemaluanku yang tadi kurasakan tegang tiba-tiba jadi lemas dalam genggaman Erika. Erika meminta maaf kepadaku menyadari kalau aku kecewa dengan pernyataannya. Merasa aku sudah tak mungkin bisa untuk melanjutkan permainan lagi aku akhirnya meminta ijin kepada Erika untuk mandi. Sungguh aku kecewa sekali.<br/><br/>Di kamar mandi lama aku terdiam. Aku memandang tubuhku di depan cermin. Kemudian kuguyur tubuhku dengan air yang mengalir dari shower di atas kepalaku. Aku ingin mendinginkan suhu tubuhku. Tiba-tiba aku merasakan tubuh yang memelukku dari belakang. Aku terkejut namun cuma sesaat setelah menyadari Erika di belakangku. Dia tersenyum memandangku. Eh, lagi-lagi sungguh aku masih kesel nih, gumamku. Tapi aku mencoba membalas senyumannya. &#8220;Aku ingin mandi bersama Mas Doni,&#8221; pintanya manja. Kutarik tubuhnya untuk berhadapan denganku. Masih di bawah guyuran air yang mengalir dari shower aku menangkap lengannya lalu memandang tajam ke arahnya. Berulang kali tangannya mencoba mengusap wajahnya dari guyuran air. Rambutnya yang basah menambah seksi wajahnya.<br/><br/>Perlahan tanganku menangkap buah dadanya dan meremasnya kuat. Erika meringis. Bukannya melarang, Erika malah mengambil sabun lalu menyabuni tubuhku. Mula-mula dada, punggung lalu menuju kemaluanku. Aku merasa aneh atas sikapnya yang berubah-ubah dan suka menggoda. Diusapnya lembut batang kemaluanku yang sedikit demi sedikit mulai mengeras kembali. Tangannya yang penuh busa sabun begitu kreatif mengocok batang kejantananku sehingga aku merasa keenakan. Aku tidak hanya tinggal diam, kubalas menyabuni sekujur tubuh Erika. Aku mengikuti setiap gerakan yang dibuatnya terhadap tubuhku lalu kupraktekkan kepadanya. Aku membalikkan tubuh Erika membelakangiku. Sengaja kubiarkan tubuhnya di depanku agar aku dapat melihat bagian depan tubuhnya pada permukaan cermun di depannya. Aku melihat wajah Erika pada permukaan cermin, Mata kami beradu pandang sementara tanganku membelai-belai buah dadanya yang montok. Kupermainkan puncak payudaranya dengan jemariku, sementara tanganku yang satunya mulai meraba bulu-bulu lebat di sekitar liang kewanitaan Erika. Dengan sedikit membungkukkan tubuh, kuraba permukaan liang kewanitaan Erika. Jari tengahku mempermainkan klitorisnya yang mengeras terkena siraman air. Batang kemaluanku kini sudah siap tempur dalam genggaman tangan Erika, sementara liang kewanitaan Erika juga sudah mulai mengeluarkan cairan kental yang kurasakan dari jemari tanganku yang mengobok-obok kemaluan Erika.<br/><br/>Aku membalikkan tubuh Erika kembali sehingga berhadap-hadapan denganku. Kupeluk tubuh Erika sehingga batang kemaluanku menyentuh pusarnya. Tanganku membelai punggung lalu turun meraba pantatnya yang montok. Erika membalas pelukanku dengan melingkarkan tangannya di pundakku. Kedua telapak tanganku meraih pantat Erika, kuremas dengan sedikit agak kasar lalu kuangkat agak ke atas agar batang kemaluanku tepat mengenai liang kewanitaannya. Kaki Erika kini tak lagi menyentuh permukaan lantai kamar mandi. Kaki Erika dengan sendirinya mengangkang ketika aku mengangkat pantatnya. Meski agak susah namun aku tetap berusaha agar batang kemaluanku bisa masuk merasakan jepitan liang kewanitaan Erika. Kurasakan kepala batang kemaluanku sudah menyentuh bibir liang kewanitaan Erika. Kutekan perlahan seiring menarik pantatnya ke tubuhku. Erika menggeliat. Aku merasa kesulitan untuk memasukkan batang batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaan Erika berhubung karena kelaminku yang terus-terusan basah terkena air shower.<br/><br/>Kuangkat tubuh Erika ke luar dari kamar mandi. Bagaimanapun juga aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, apalagi Erika hanya diam saja ketika aku berusaha menyusupkan batang kemaluanku ke liang senggamanya. Erika melingkarkan kedua kakinya di pinggangku pada saat aku membawanya menuju tempat tidur. Kubaringkan tubuhnya di atas kasur menyusul tubuhku di atasnya tanpa mempedulikan butiran-butiran air yang masih menempel di sekujur tubuh kami hingga membasahi permukaan kasur. Kuciumi lagi lehernya yang jenjang lalu turun melumat buah dadanya. Telapak tanganku terus membelai dan meremas setiap lekuk dan tonjolan pada tubuh Erika. Aku melebarkan kedua pahanya sambil mengarahkan batang kemaluanku ke bibir kemaluan Erika. Erika mengerang lirih. Matanya perlahan terpejam. Giginya menggigit bibir bawahnya untuk menahan laju birahinya yang semakin kuat. Aku menatap mata Erika penuh nafsu seakan memohon kepadanya untuk memasuki tubuhnya.<br/><br/>&#8220;Aku ingin mengentotmu, Ka&#8221; bisikku pelan, sementara kepala kemaluanku masih menempel di belahan liang kewanitaan Erika. Sengaja aku memilih kata mengentot agar kesan joroknya lebih terasa. Kata ini ternyata membuat wajah Erika memerah. Mungkin dia jarang mendengarnya padahal aku begitu sering mengungkapkannya kepada setiap wanita yang kusetubuhin. Kupastikan Erika malu mendengarnya.<br/><br/>Aku berhenti sesaat untuk menunggu jawaban darinya, sebab bagaimana pun aku tidak mau melakukannya tanpa persetujuan darinya. Aku bukan tipe cowok yang demikian. Bagiku seks adalah kesepakatan, sepakat berdasarkan kesadaran tanpa adanya unsur pemaksaan. Erika menatapku sendu lalu mengangguk pelan sebelum memejamkan matanya. Bukan main senangnyahatiku, akhirnya.. &#8220;yes!&#8221;. Aku akan memperlakukannya dengan hati-hati sekali begitu dalam pikiranku.<br/><br/>Kini aku berkonsentrasi penuh dengan menuntun batang kemaluanku yang perlahan menyusup ke dalam liang kewanitaan Erika. Terasa seret, memang, namun aku malah semakin menyukainya. Perlahan namun pasti batang kemaluanku membelah liang kewanitaannya yang ternyata begitu kencang menjepit batang kemaluanku. Liang kewanitaan Erika begitu licin hingga agak memudahkan batang kemaluanku untuk menyusup lebih ke dalam. Erika memeluk erat tubuhku sambil membenamkan kuku-kukunya di punggungku hingga aku agak kesakitan. Namun aku tak peduli.<br/><br/>&#8220;Mas Don, gede banget, ohh..&#8221; Erika menjerit lirih. Tangannya turun menangkap batang kemaluanku.<br/>&#8220;Pelan Maas,&#8221; ujarnya berulang kali, padahal aku merasa aku sudah melakukannya dengan begitu pelan dan hati-hati. Mungkin karena lubang kemaluannya baru kali ini dimasuki oleh batang kemaluan seperti milikku ini. Soalnya aku tahu pasti ukuran batang kemaluan Heri, pacar Erika tidaklah sebesar yang kumiliki. Makanya Erika agak kesakitan.<br/><br/>Akhirnya batang kemaluanku terbenam juga di dalam kewanitaan Erika. Aku berhenti sejenak untuk menikmati denyutan-denyutan yang timbul akibat kontraksi otot-otot dinding kewanitaan Erika. Denyutan itu begitu kuat sampai-sampai aku memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yang begitu sempurna. Kulumat bibir Erika sambil perlahan-lahan menarik batang kemaluanku untuk selanjutnya kubenamkan lagi.<br/><br/>Aku menyuruh Erika membuka kelopak matanya.<br />
 Erika menurut. Aku sangat senang melihat matanya yang semakin sayu menikmati batang kemaluanku yang keluar masuk dari dalam kemaluannya.<br/>&#8220;Aku suka memekmu, Kaa.. memekmu masih rapet, Sayang&#8221; ujarku sambil merintih keenakan. Sungguh, liang kewanitaan Erika enak sekali.<br/>&#8220;Ihh.. Mas Doni ngomongnya vulgar banget,&#8221; balasnya sambil tersipu malu lalu mencubit pinggangku.<br/>&#8220;Tapi enak kan, Sayang?&#8221; tanyaku lalu dijawab Erika dengan anggukan kecil.<br/><br/>Aku menyuruh Erika untuk menggoyangkan pinggulnya. Erika langsung mengimbangi gerakanku yang naik turun dengan goyangan memutar pada pinggangnya. &#8220;Suka batang kemaluanku, Ka?&#8221; tanyaku lagi. Erika hanya tersenyum. batang kemaluanku seperti diremas-remas ditambah jepitan liang senggamanya yang sepertinya punya kekuatan magis untuk menyedot batang kemaluanku. Pintar juga dia menggoyang, batinku.<br/><br/>&#8220;Ohh.. hh..&#8221; aku menjerit panjang. Rasanya begitu nikmat. Aku mencoba mengangkat dadaku, membuat jarak dengan dadanya dengan bertumpu pada kedua tanganku. Dengan demikian aku semakin bebas dan leluasa untuk mengeluar-masukkan batang kemaluanku ke dalam liang senggama Erika. Kuperhatikan batang kemaluanku yang keluar masuk dari dalam liang senggamanya. Dengan posisi seperti ini aku merasa begitu jantan. Erika semakin melebarkan kedua pahanya sementara tangannya melingkar erat di pinggangku. Gerakan naik turunku semakin cepat mengimbangi goyangan pinggul Erika yang semakin tidak terkendali.<br/><br/>&#8220;Ka.. enak banget, sayang, kamu pintar, Sayang..&#8221; ucapku keenakan.<br/>&#8220;Aku juga, Mas Don..&#8221; jawabnya mali-malu.<br/>Erika merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatan. Berulang kali mulutnya mengeluarkan kata, &#8220;aduh&#8221; yang diucapkan terputus-putus. Aku merasakan liang senggama Erika semakin berdenyut sebagai pertanda Erika akan mencapai puncak pendakiannya. Aku juga merasakan hal yang sama dengannya, namun aku mencoba bertahan dengan menarik nafas dalam-dalam lalu bernafas pelan-pelan untuk menurunkan daya rangsangan yang kualami. Aku tidak ingin segera menyudahi permainan ini hanya dengan satu posisi saja.<br/><br/>Aku mempercepat goyanganku ketika kusadari Erika hampir mencapai orgasmenya. Kuremas buah dadanya kuat seraya mulutku menghisap dan menggigit puting susu Erika. Kuhisap dalam-dalam. &#8220;Ohh.. hh.. Mas Donii..&#8221; jerit Erika panjang. Aku membenamkan batang kemaluanku kuat-kuat ke liang senggamanya sampai mentok agar Erika mendapatkan kenikmatan yang sempurna. Tubuhnya melengkung indah dan untuk beberapa saat lamanya tubuhnya kejang. Kepalaku ditarik kuat terbenam diantara buah dadanya. Pada saat tubuhnya menyentak-nyentak aku tak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi. &#8220;Kaa.. aakuu.. keluaarr, Saayang.. Ohh.. hh..&#8221; jeritku.<br/><br/>Aku ingin menarik keluar batang kemaluanku dari dalam liang senggamaknya. Namun Erika masih merasakan orgasmenya sehingga pinggangku serasa dikunci oleh kakinya yang melingkar di pinggangku. Saat itu juga aku memuntahkan cairan hangat dari batang kemaluanku. Kurasakan tubuhku bagai melayang terbang, tidak berbobot. Aku tak sempat menarik keluar batang kemaluanku lagi karena secara spontan Erika juga menarik pantatku kuat ke tubuhnya. Mulutku yang berada di belahan dada Erika kuhisap kuat hingga meninggalkan bekas merah pada kulitnya. Telapak tanganku mencengkram buah dada Erika. Kuraup semuanya sampai-sampai Erika kesakitan. Aku tak peduli lagi. Spermaku akhirnya muncrat membasahi lubang sorganya. Aku merasakan nikmat yang tiada duanya ditambah dengan goyangan pinggul Erika pada saat aku mengalami orgasme.<br/><br/>Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh Erika. Batang kemaluanku masih berada di dalam liang kenikmatan Erika. Erika mengusap-usap permukaan punggungku. &#8220;Kamu menyesal, Ka?&#8221; ujarku sambil mencium pipinya. Erika menggeleng pelan sambil membalas membelai rambutku. Aku tersenyum kepadanya. Erika membalas. Kusandarkan kepalaku di dadanya. Jam telah menunjukkan pukul 17:00 dan aku mesti menjemput Era, kekasihku dan begitu pula dengan Erika yang mesti menemani Heri. Sebelum berpisah, kami berciuman untuk beberapa saat.<br/><br/>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2008/07/30/pacar-temanku-3.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pacar Temanku 2</title>
		<link>http://jablayonline.info/2008/07/30/pacar-temanku-2.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2008/07/30/pacar-temanku-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 03:21:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Lain Lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/2008/07/30/pacar-temanku-2/</guid>
		<description><![CDATA[Besoknya, aku merasa waktu begitu lama berjalan. Hingga tiba jam 4 sore aku menanti telepon dari Erika. Aku mulai gelisah ketika 15 menit berlalu Erika belum menelepon juga. Aku mulai menghitung detik-detik yang berlalu hingga hampir setengah jam, namun tiba-tiba.. teleponku berbunyi. Seketika aku berlari menuju ruangan telepon. Dari seberang sana aku mendengar suara Erika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Besoknya, aku merasa waktu begitu lama berjalan. Hingga tiba jam 4 sore aku menanti telepon dari Erika. Aku mulai gelisah ketika 15 menit berlalu Erika belum menelepon juga. Aku mulai menghitung detik-detik yang berlalu hingga hampir setengah jam, namun tiba-tiba.. teleponku berbunyi. Seketika aku berlari menuju ruangan telepon. Dari seberang sana aku mendengar suara Erika yang kunanti-nantikan. Erika meminta maaf sebelumnya dan menyuruhku untuk menjemputnya di wartel dekat pertigaan menuju kampusku. Aku langsung menyambar kunci mobil lalu bergegas menuju wartel tempat di mana Erika sedang menungguku.<br/><br/>Aku memarkir mobil di depan wartel itu, dan tak lama berselang kulihat Erika dengan memakai kaos ketat warna orange bertuliskan Mickey Mouse di bagian dadanya serta celana jeans warna abu-abu. Erika langsung naik ke atas mobil setelah memastikan tidak ada orang lain yang mengenalnya di tempat itu.<br/><br/>Aku tersenyum memandangnya. Erika kelihatan begitu cantik hari ini. Bibirnya hari ini dipoles warna silver, bikin jantung ini semakin deg-degan. Segera kutancap gas menuju arah KG yang berhawa sejuk kira-kira 30 km dari kota Y.<br/><br/>Selama di perjalanan aku dan Erika bercerita tentang Heri dan Era, pacarku. Sampai di KG aku mengajak Erika makan pada sebuah rumah makan yang nuansa romantisnya sangat terasa. Aku tanpa canggung lagi memeluk pinggang Erika pada saat kami memasuki rumah makan tersebut. Erika juga melingkarkan tangannya di pinggangku. Setelah memesan makanan dan minuman aku memeluknya lagi. Tanganku bergerilya di sekitar pinggangnya yang terbuka. Suasana lesehan yang ruangan yang dibagi-bagi beberapa tempat di rumah makan itu membuat aku bisa bertindak leluasa kepada Erika.<br/><br/>&#8220;Tadi malam mimpi lagi, nggak?&#8221; tanyanya.<br/>&#8220;Nggak, tapi aku sempat membayangkanmu waktu aku lagi main sama Era,&#8221; jawabku tanpa malu-malu.<br/>Erika tertawa, sambil tangannya mencubit pinggangku. Hari sudah agak malam ketika kami meninggalkan tempat itu. Setelah berputar-putar di sekitar lokasi pegunungan, akhirnya aku memutuskan untuk menyewa sebuah kamar pada sebuah penginapan. Semula Erika menolak soalnya dia takut kalau kami tidak bisa menahan diri. Aku akhirnya meyakinkan Erika bahwa sebenarnya aku cuma ingin berdua saja dengannya, sambil memeluk tubuhnya, itu saja.<br/><br/>Akhirnya Erika mengalah. Dalam kamar penginapan itu Erika tampak jadi pendiam. Dia duduk di atas kursi sementara aku di atas tempat tidur. Aku mencoba menghiburnya dengan bertanya tentang kuliah serta keluarganya termasuk hubungannya dengan Heri. Selama aku bertanya dia cuma menjawab ya dan tidak, cuma itu yang keluar dari mulutnya. &#8220;Mas Doni pasti menganggap aku cewek murahan, ya kan?&#8221; akhirnya dia berbicara juga jadinya. Ternyata Erika masih belum bisa menerima perlakuanku dengan membawanya ke dalam penginapan ini. Namun aku tidak menyesal karena dalam pikiranku sebenarnya dia sudah tahu apa yang bakalan terjadi sejak kejadian kemarin pagi di kamar Heri. Tinggal bagaimana caranya aku menyeretnya ke atas ranjang tanpa ada pemaksaan sedikitpun.<br/><br/>&#8220;Ka, aku sudah bilang sejak kemarin kalau aku ingin berduaan saja bersamamu, memelukmu tanpa ada rasa takut, dan kurasa di sinilah tempatnya,&#8221; jawabku mencoba memberikan pengertian kepadanya.<br/>&#8220;Tapi apa Mas Doni sanggup untuk tidak melakukannya?&#8221; Erika menatapku tajam.<br/>&#8220;Kalau kamu gimana?&#8221; aku malah balik bertanya.<br/>&#8220;Aku tanya Mas Doni, kok malah balik nanya ke aku?&#8221; tanyanya agak ketus.<br/>&#8220;Aku sanggup, Ka&#8221; tegasku.<br/>Akhirnya dia tersenyum juga. Erika lalu berjalan ke arahku menuju tempat tidur lalu duduk di sampingku. Aku lalu merangkul tubuhnya lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur.<br/>&#8220;Janji ya, Mas Don!&#8221; ujarnya lagi. Aku mengangguk.<br/><br/>Aku kini memeluk tubuh Erika dengan posisi menyamping sedang Erika menghadap langit-langit kamar. Kucium pipinya sambil jemariku membelai-belai bagian belakang telinganya. Matanya terpejam seolah menikmati usapan tanganku. Kupandangi wajahnya yang manis, hidungnya yang mancung lalu bibirnya. Tak tahan berlama-lama menunggu akhirnya aku mencium bibirnya. Kulumat mesra lalu kujulurkan lidahku. Mulutnya terbuka perlahan menerima lidahku. Lama aku mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Lidahnya begitu agresif menanggapi permainan lidahku, sampai-sampai nafas kami berdua menjadi tidak beraturan.<br/><br/>Sesaat ciuman kami terhenti untuk menarik nafas, lalu kami mulai berpagutan lagi dan lagi. Tangan kiriku yang bebas untuk melakukan sesuatu terhadap Erika kini mulai kuaktifkan. Kubelai pangkal lengannya yang terbuka. Kubuka telapak tanganku sehingga jempolku bisa menggapai permukaan dadanya sambil membelai pangkal lengannya. Bibirku kini turun menyapu batang lehernya seiring telapak tanganku meraup buah dadanya. Erika menggeliat bagai cacing kepanasan terkena terik mentari. Suara rintihan berulang kali keluar dari mulutnya di saat lidahku menjulur menikmati batang lehernya yang jenjang.<br/><br/>&#8220;Mas Don, jangan..!&#8221; Erika mencoba menarik telapak tanganku yang kini sedang meremas-remas buah dadanya. Aku tidak peduli lagi. Lagian dia juga tampaknya tidak sungguh-sungguh untuk melarangku. Hanya mulutnya yang melarang sedang tangannya cuma memegang pergelangan tanganku sambil membiarkan telapak tanganku terus mengelus dan meremas buah dadanya yang montok membusung.<br/><br/>Suasana alam pegunungan yang dingin saat ini sangat kontras dengan keadaan di dalam kamar tempat kami bergumul. Aku dan Erika mulai kegerahan. Aku akhirnya membuka kaosku sehingga bertelanjang dada. &#8220;Ka, aku ingin melihat buah dadamu, Sayang..&#8221; ujarku sambil mengusap bagian puncak payudaranya yang menonjol. Dia menatapku. Mestinya aku tidak perlu memohon kepadanya karena saat itupun aku sudah membelai dan meremas-remas buah dadanya, tapi entah kenapa aku lebih suka jika Erika membuka kaosnya sendiri untukku. &#8220;Tapi janji Mas Don ya, cuma yang ini aja,&#8221; katanya lagi. Aku cuma mengangguk, padahal aku tidak tahu apa yang mesti kujanjikan lagi.<br/><br/>Erika akhirnya membuka kaos ketat warna orange-nya di depanku. Aku terkagum-kagum menatap gundukan daging di dadanya yang tertutup oleh BH berwarna hitam. Payudara itu begitu membusung, menantang. Buah dada Erika naik turun seiring dengan desah nafasnya yang memburu. Sambil berbaring Erika membuka pengait BH-nya di punggungnya. Punggungnya melengkung indah. Aku menahan tangan Erika ketika dia mencoba untuk menurunkan tali BH-nya dari atas pundaknya. Justru dengan keadaan BH-nya yang longgar karena tanpa pengait seperti itu membuat payudaranya semakin menantang. Payudaranya sangat montok sama seperti yang selama ini kubayangkan.<br/><br/>&#8220;Buah dadamu bagus, Ka&#8221; aku mencoba mengungkapkan keindahan pada tubuhnya. &#8220;Pantes si Heri jadi tergila-gila sama Erika,&#8221; pikirku. Perlahan aku menarik turun cup BH-nya. Mata Erika terpejam. Perhatianku terfokus ke puting susunya yang berwarna kecoklatan. Lingkarannya tidak begitu besar sedang ujungnya begitu runcing dan kaku. Kuusap putingnya lalu kupilin dengan jemariku. Erika mendesah. Mulutku turun ingin mencicipi buah dadanya. &#8220;Egkhh..&#8221; rintih Erika ketika mulutku melumat puting susunya. Kupermainkan dengan lidah dan gigiku. Sekali-sekali kugigit putingnya lalu kuisap kuat-kuat sehingga membuat Erika menarik rambutku. Puas menikmati buah dada yang sebelah kiri, aku mencium buah dada Erika yang satunya yang belum sempat kunikmati. Rintihan-rintihan dan desahan kenikmatan silih berganti keluar dari mulut Erika. Sambil menciumi buah dada Erika, tanganku turun membelai perutnya yang datar, berhenti sejenak di pusarnya lalu perlahan turun mengitari lembah di bawah perut Erika.<br/><br/>Kubelai pahanya sebelah dalam terlebih dahulu sebelum aku memutuskan untuk meraba bagian kewanitaannya yang masih tertutup oleh celana jeans ketat yang dikenakan Erika. Aku secara tiba-tiba menghentikan kegiatanku lalu berdiri di samping ranjang. Erika tertegun sejenak memandangku, lalu matanya terpejam kembali ketika aku membuka jeans warna hitam yang kukenakan. Sengaja aku membiarkan lampu yang menyala terang agar aku bisa melihat secara jelas detil dari setiap inci tubuh Erika yang selama ini seri<br />
ng kujadikan fantasi seksku. Aku masih berdiri sambil memandang tubuh Erika yang tergolek di ranjang, menantang. Kulitnya yang tidak terlalu putih membuat mataku tak jemu memandang. Perutnya begitu datar. Celana jeans ketat yang dipakainya telihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada bagian pinggulnya begitu pas untuk menunjukkan lekukan pantatnya yang sempurna.<br/><br/>Puas memandang tubuh Erika, aku lalu membaringkan tubuhku di sampingnya. Kurapikan untaian rambut yang menutupi beberapa bagian pada permukaan wajah dan leher Erika. Kubelai lagi buah dadanya. Kucium bibirnya sambil kumasukkan air liurku ke dalam mulutnya. Erika menelannya. Tanganku turun ke bagian perut lalu menerobos masuk melalui pinggang celana jeans Erika yang memang agak longgar. Jemariku bergerak lincah mengusap dan membelai selangkangan Erika yang masih tertutup celana dalamnya. Erika menahan tanganku ketika jari tengah tanganku membelai permukaan celana dalamnya tepat diatas kemaluannya, basah. Aku terus mempermainkan jari tengahku untuk menggelitik bagian yang paling pribadi tubuh Erika. Pinggul Erika perlahan bergerak ke kiri, ke kanan dan sesekali bergoyang untuk menetralisir ketegangan yang dialaminya.<br/><br/>&#8220;Mas Don, nanti kita terlalu jauh, Mas..&#8221; ujarnya perlahan sambil menatap sayu ke arahku. Melihat matanya yang sayu ditambah dengan rangsangan yang dialami Erika menambah redup bola matanya. Swear, aku semakin bernafsu melihatnya. Aku menggeleng lalu tersenyum. Dibilang begitu aku malah menyuruh Erika untuk membuka celana jeans yang dipakainya.<br/><br/>Tangan kanan Erika berhenti pada permukaan kancing celananya. Kelihatannya dia ragu-ragu. Aku lalu berbisik mesra ke telinganya kalau aku ingin memeluknya dalam keadaan telanjang seperti yang selama ini aku mimpikan. Erika lalu membuka kancing dan menurunkan reitsliting celana jeans-nya. Celana dalam hitam yang dikenakannya begitu mini sehingga rambut-rambut keriting yang tumbuh di sekitar kemaluannya hampir sebagian keluar dari pinggir celana dalamnya. Aku membantu menarik turun celana jeans Erika. Pinggulnya agak dinaikkan ketika aku agak kesusahan menarik celana jeans Erika. Posisi kami kini sama-sama tinggal mengenakan celana dalam. Tubuhnya semakin seksi saja. Pahanya begitu mulus. Memang harus kuakui tubuhnya begitu menarik dan memikat, penuh dengan sex appeal.<br/><br/>Erika menarik selimut untuk menutupi permukaan tubuhnya. Aku beringsut masuk ke dalam selimut lalu memeluk tubuh Erika. Kami berpelukan. Kutarik tangan kirinya untuk menyentuh batang kejantananku. Dia terkejut mendapatkan kemaluanku yang tanpa penutup lagi. Memang sebelum masuk ke dalam selimut, aku sempat melepaskan celana dalamku tanpa sepengetahuan Erika. Aku tersenyum. &#8220;Oh..&#8221; Erika semakin kaget ketika tangannya menyentuh kemaluanku yang tegang.<br/><br/>&#8220;Kenapa, Ka?&#8221; tanyaku pura-pura tidak mengerti. Padahal aku tahu dia pasti terkejut karena merasakan kejantananku yang kokoh. Erika tersenyum malu. Kemaluanku yang panjangnya kira-kira 18 cm serta agak gemuk membuat Erika malu tapi mau, ditambah takut, mungkin. Erika mulai berani membelai dan menggenggam kejantananku. Belaiannya begitu mantap menandakan Erika juga begitu piawai dalam urusan yang satu ini.<br/><br/>&#8220;Tangan kamu pintar juga ya, Ka,&#8221;Â´ ujarku sambil memandang tangannya yang mengocok senjataku.<br/>&#8220;Ya, mesti dong!&#8221; jawabnya sambil cekikikan.<br/>&#8220;Mas Doni sama Era satu minggu bisa main berapa kali, Mas?&#8221; tanyanya sambil terus mengurut-urut batang zakarku.<br/>&#8220;Setiap ketemu pasti main, kalau kamu sama Heri?&#8221; aku malah balik bertanya.<br/>Mendapat pertanyaan seperti itu entah kenapa nafsuku tiba-tiba semakin liar namun aku tetap bertahan untuk sementara waktu sebelum menyetubuhinya. Erika akhirnya bercerita kalau Heri ternyata suka main perempuan, padahal bukankah sudah ada dirinya? Mau berapa kali Heri meminta, Erika pasti melayaninya. Akhirnya aku jelaskan kalau cowok memang begitu. Sudah dari sononya. Sama seperti aku, kenapa masih menginginkan Erika padahal Era siap melayaniku setiap waktu. Sambil memberikan perjelasan begitu jari-jariku yang nakal masuk dari samping celana dalam langsung menyentuh bukit kemaluan Erika yang sudah basah. Telunjukku membelai-belai klitorisnya sehingga Erika keenakan.<br/><br/>&#8220;Kamu biasa ngisep nggak, Ka?&#8221; tanyaku tanpa malu-malu lagi. Erika tertawa sambil mencubit batang kemaluanku. Aku meringis.<br/>&#8220;Kalo punya Mas Doni mana bisa?&#8221; ujarnya.<br/>&#8220;Kenapa memangnya?&#8221; tanyaku penasaran.<br/>&#8220;Nggak muat di mulutku,&#8221; selesai berkata demikian Erika langsung tertawa kecil.<br/>&#8220;Kalau yang dibawah, gimana?&#8221; tanyaku lagi sambil menusukkan jari tengahku ke dalam lubang kemaluannya. Erika merintih sambil menahan tanganku. Jariku sudah tenggelam ke dalam liang senggamanya. Aku merasakan liang kewanitaannya berdenyut menjepit jariku. Ugh, pasti nikmat sekali kalau kemaluanku yang diurut, pikirku. Matanya memandang tajam ke arahku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2008/07/30/pacar-temanku-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pacar Temanku 1</title>
		<link>http://jablayonline.info/2008/07/30/pacar-temanku-1.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2008/07/30/pacar-temanku-1.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 03:19:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Lain Lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/2008/07/30/pacar-temanku-1/</guid>
		<description><![CDATA[Sengaja aku menyamarkan nama-nama yang tertulis di dalam kisahku ini untuk menjaga segala kemungkinan adanya orang-orang yang ingin mendapatkan keuntungan dari kejadian ini, saya memohon agar alamat e-mail ini disamarkan. Disamping itu aku juga takut kalau-kalau temen, pacar, juga temen pacarku yang secara langsung terlibat dalam kejadian ini malah bisa menjadi bumerang untuk menuntutku.Kejadian ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sengaja aku menyamarkan nama-nama yang tertulis di dalam kisahku ini untuk menjaga segala kemungkinan adanya orang-orang yang ingin mendapatkan keuntungan dari kejadian ini, saya memohon agar alamat e-mail ini disamarkan. Disamping itu aku juga takut kalau-kalau temen, pacar, juga temen pacarku yang secara langsung terlibat dalam kejadian ini malah bisa menjadi bumerang untuk menuntutku.<br/><br/>Kejadian ini berawal sekitar bulan September 1999 yang lalu. Tanggal berapa tepatnya aku sudah lupa. Aku mempunyai seorang teman yang sangat dekat denganku, sebut saja namanya Heri. Aku dan Heri sama-sama kuliah di kota Y pada sebuah universitas swasta yang sama pula. Karena kami satu kampus, maka kami sering bertemu baik waktu kuliah maupun di luar lingkungan kampus.<br/><br/>Begitu akrabnya kami sampai urusan mencari cewek pun kami sering pergi berdua. Hingga suatu saat Heri bener-bener jatuh cinta dengan seorang gadis yang juga kuliah di salah satu akademi di kota Y juga, hubungan kami jadi agak renggang. Entahlah sejak berpacaran dengan Erika, nama pacarnya Heri itu, Heri begitu cemburuan. Memang harus kuakui kalau Erika memang termasuk cantik. Disamping itu Erika memang terlalu cantik untuk ukuran temanku, Heri itu. Padahal kalau menurutku, sih adalah hal yang biasa kalau cowok jelek pacarnya cantik. Kuharap temen-temen pembaca juga setuju.<br/><br/>Kukatakan Erika cantik bukanlah penilaianku secara subjektif. Teman-temanku yang lain juga bilang begitu. Bagi kaum lelaki yang memandang mata Erika boleh jadi langsung birahi. Percaya atau tidak mata Erika begitu sayu seolah-olah minta digituin ditambah lagi dengan bibirnya yang seksi dan suka digigit-gigit kalau Erika sedang gemes. Tapi memang Erika cewek matre. Dasarnya aku berkata demikian karena sebelum pacaran dengan Heri, Erika punya pacar yang jauh lebih ganteng dari temanku, Heri. Erika juga pernah bilang kepadaku kalau lebih baik cowok nggak usah ganteng tapi kaya dibanding cowok ganteng tapi kere. Nah, lho..<br/><br/>Pagi itu aku kebetulan ada perlu sama Heri mengenai masalah kuliah. Aku mengendarai sepeda motor menuju kost Heri yang jaraknya kira-kira 2 km dari kontrakanku. Sesampainya di kost Heri, aku melihat garasi tempat mobil Heri biasa diparkir dalam keadaan kosong yang menandakan Heri sedang keluar. Namun aku tidak mengurungkan niatku untuk bertemu dengan Heri.<br/><br/>Setelah aku memarkir sepeda motor teman yang kupinjam, aku masuk menuju ruang tamu yang pada saat itu pintunya dalam keadaan terbuka langsung menuju ke kamar Heri. Di dalam rumah itu ada 4 kamar dan kamar Heri yang paling pojok. Masing-masing kamar kelihatan tertutup pertanda tidak ada kehidupan di dalam rumah itu. Aku ingin menulis pesan di pintu kamar Heri karena memang aku sangat perlu dengannya. Samar-samar terdengar suara televisi dari dalam kamar Heri pertanda ada seseorang di dalam kamarnya. Aku memastikan kalau yang di dalam kamar itu adalah Erika, pacar Heri. Aku mengetuk pintu perlahan sambil memanggil nama temanku. Tidak beberapa lama kemudian pintu dibuka kira-kira sekepalan tangan dan kulihat wajah Erika nongol dari celah pintu yang terbuka.<br/><br/>&#8220;Eh, Mas Doni.. Herinya kuliah Mas,&#8221; jawabnya sebelum aku bertanya. Entah mengapa pikiranku jadi negatif ketika menatap mata Erika yang sayu itu. Aku sambil tersenyum menatapnya.<br/>&#8220;Jam berapa pulangnya, Ka?&#8221; tanyaku sekedar berbasa-basi.<br/>&#8220;Mungkin jam 2 nanti, tapi mungkin bisa lebih lama, soalnya Heri sering molor sih waktunya,&#8221;Â´ jawabnya agak kesal.<br/>Saat itu kira-kira jam 10 pagi berarti Heri pulang kira-kira 4 atau 5 jam lagi, pikirku nakal.<br/><br/>Aku mencoba mencari bahan pembicaraan yang kira-kira bisa memperpanjang obrolan kami agar aku bisa lebih dekat dengannya. Agak lama aku terdiam. Aku memandang matanya, bibirnya yang basah. Bibirnya yang dipoles warna merah menambah sensual bibirnya. Semakin lama aku melihatnya semakin aku terangsang. Sungguh, jantungku deg-degan saat itu.Mata Erika tidak berkedip sekejap pun membalas tatapan mataku.<br/><br/>&#8220;Anak-anak ke mana semua, Ka?&#8221; tanyaku menanyakan anak-anak kost yang lain setelah agak lama kami terdiam.<br/>&#8220;Mas Doni mau cari Heri atau..&#8221; kata-katanya terputus tapi aku bisa menerjemahkan kelanjutan kalimatnya dari senyuman di bibirnya.<br/>Akhirnya aku memutuskan untuk to the point aja.<br/>&#8220;Aku juga pengen ketemu denganmu, Ka!&#8221; jawabku berpura-pura.<br/>Dia tertawa pelan, &#8220;Mas Doni kenapa, sih?&#8221; Dia memandangku.<br/>&#8220;Boleh aku masuk, Ka? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu,&#8221; jawabku lagi.<br/>&#8220;Sebentar, ya Mas Don, kamarnya berantakan!&#8221;<br/><br/>Erika lalu menutup pintu di depanku. Tidak beberapa lama berselang pintu terbuka kembali lalu dia mempersilakan aku masuk ke dalam kamar. Aku duduk di atas kasur yang digelar di atas lantai. Erika masih sibuk membereskan pakaian-pakaian yang bertebaran di atas sandaran kursi belajar. Aku menatap tubuh Erika yang membelakangiku. Saat itu dia mengenakan kaos ketat warna kuning yang memperlihatkan pangkal lengannya yang mulus. Aku memandang pinggulnya yang ditutup oleh celana pendek. Tungkainya panjang serta pahanya bulat dan mulus. Kemaluanku jadi tegang memandang semuanya ditambah khayalanku seandainya aku membelai-belai kedua pangkal pahanya.<br/><br/>Kemudian Erika duduk di sampingku. Lututnya ditekuk sehingga celananya agak naik ke atas membuat pahanya semakin terpampang lebar. Kali ini tanpa malu-malu aku menatapnya dengan sepengetahuan Erika. Dia mencoba menarik turun agak ke bawah ujung celananya untuk menutupi pahanya yang sedang kunikmati.<br/><br/>&#8220;Mas Doni mau bicara apa, sih?&#8221; katanya tiba-tiba.<br/>Saat itu otakku berpikir cepat, aku takut kalau sebenarnya aku tidak punya bahan pembicaraan yang berarti dengannya. Soalnya dalam pikiranku saat itu cuma khayalan-khayalan untuk bersetubuh dengannya.<br/>&#8220;Mmm.. Ka.. aku beberapa hari ini sering bermimpi,&#8221; kataku berbohong. Entah dari mana aku mendapatkan kalimat itu, aku sendiri tidak tahu tetapi aku merasa agak tenang dengan pernyataan itu.<br/>&#8220;Mimpi tentang apa, Mas?&#8221; Kelihatannya dia begitu serius menangapiku dilihat dari caranya memandangku.<br/>&#8220;Tentang kamu, Ka,&#8221; jawabku pelan.<br/>Bukannya terkejut, malah sebaliknya dia tertawa mendengar bualanku. Sampai-sampai Erika menutup mulutnya agar suara tawanya tidak terdengar terlalu keras.<br/>&#8220;Emangnya Mas Doni mimpi apa sama aku?&#8221; tanyanya penasaran.<br/>&#8220;Ya.. biasalah, kamu juga pasti tahu,&#8221; jawabku sambil tertunduk.<br/><br/>Tiba-tiba dia memegang tanganku. Aku benar-benar terkejut lalu menolehnya.<br/>&#8220;Mas Doni ini ada-ada saja, Mas Doni kan sudah punya pacar, lagian aku juga kan sudah punya pacar, masa masih mau mimpi-mimpiin orang lain?&#8221;<br/>&#8220;Makanya aku juga bingung, Ka. Lagian kalaupun bisa aku sebenarnya nggak ingin bermimpi tentang kamu, Ka,&#8221; jawabku.<br/>Kami sama-sama terdiam. Kuremas jemari tangannya lalu perlahan kuangkat menuju bibirku. Dia memperhatikanku pada saat aku melabuhkan ciuman mesra ke punggung tangannya. Aku menggeser posisi dudukku agar lebih dekat dengan tubuhnya. Aku memandangi wajahnya. Mata kami berpandangan. Wajahku perlahan mendekati wajahnya, mencari bibirnya, semakin dekat dan tiba-tiba wajahnya berpaling sehingga mulutku bendarat di pipinya yang mulus. Kedua tanganku kini bergerak aktif memeluk tubuhnya.<br/><br/>Tangan kananku menggapai dagunya lalu mengarahkan wajahnya berhadapan dengan wajahku. Kuraup mulutnya seketika dengan mulutku. Erika menggeliat pelan sambil menyebutkan namaku.<br/>&#8220;Mas Don, cukup Mas!&#8221; tangannya mencoba mendorong dadaku untuk menghentikan kegiatanku.<br/>Aku menghentikan aksiku lalu pura-pura meminta maaf kepadanya.<br/>&#8220;Maafin aku, Ka.. aku nggak sanggup lagi jika setiap malam memimpikan dirimu.&#8221;<br/>Aku pura-pura menunduk lagi seolah-olah menyesali perbuatanku.<br/>&#8220;Aku mengerti Mas Don, Aku juga nggak bisa menyalahkan Mas Doni karena mimpi itu.&#8221;<br/>Aku menatap wajahnya lagi. Ada semacam kesedihan di wajahnya hanya saja aku tak tahu apa penyebabnya. Pipinya masih kelihatan memerah bekas cumbuanku tadi.<br/><br/>&#8220;Aku juga ingin membantu Mas Doni agar tidak terlalu memikirkanku, tapi..&#8221;Â´ kalimatnya terputus. Dalam hati aku terse<br />
nyum dengan kalimat ingin membantu yang diucapkannya.<br/>&#8220;Ka, aku cuma ingin pergi berdua denganmu, sekali saja.. agar aku bener-bener bisa melupakanmu,&#8221; kataku memohon.<br/>&#8220;Kita kan sama-sama sudah punya pacar, Mas Don, nanti kalau ketahuan gimana?&#8221;<br/>Â´ Nah, kalau sudah sampai disini aku merasa mendapat angin. Kesimpulannya dia mau asal jangan sampai ketahuan sama pacarnya. Batinku tertawa penuh kemenangan.<br/>&#8220;Seandainya ketahuan aku akan bertanggung jawab, Ka&#8221; setelah itu aku memeluknya lagi. Dan kali ini dia benar-benar pasrah dalam pelukanku. Malah tangannya ikut mambalas memeluk tubuhku. Telapak tanganku perlahan mengelus punggungnya dengan mesra sementara bibirku tidak tinggal diam menciumi pipi lalu turun ke lehernya yang jenjang. Erika mendesah. Kuciumi kulitnya dengan penuh nafsu. Mulutku meraup bibirnya. Erika diam saja. Kulumat bibirnya lalu kujulurkan lidahku perlahan seiring mulutnya mempersilakan lidahku untuk menjelajah rongga mulutnya. Nafasnya mulai tidak teratur ketika lidahku memilin lidahnya.<br/><br/>Kesempatan ini kugunakan untuk membelai buah dadanya. Perlahan telapak tanganku kutarik dari punggungnya melalui ketiaknya. Tanpa berhenti membelai telapak tanganku kini sudah berada pada sisi buah dadanya. Aku benar-benar berahi saat itu. Apalagi aku sudah sering membayangkan kesempatan seperti saat ini bersamanya.<br/><br/>Kini telapak tanganku sudah berada di atas gundukan daging di atas dadanya. Besar juga pikirku, kalau tidak salah dari kebiasaan tanganku menggenggam payudara cewekku mencoba menduga-duga payudaranya ukuran 34. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, justru yang seperti ini yang paling nikmat.<br/><br/>Pada saat tanganku mulai meremas buah dadanya yang sebelah kanan tangan Erika mencoba menahan aksiku. Payudaranya masih kencang dan padat membuatku semakin bernafsu untuk meremas-remasnya.<br/>&#8220;Mas Don, jangan sekarang Mas..&#8221;<br/>&#8220;Aku takut..&#8221; katanya berulang kali.<br/>Aku juga merasa tindakanku saat itu betul-betul nekat, apalagi pintu kamar masih terbuka setengah. Jangan-jangan ada anak kost lain yang melihat perbuatan kami. Wah, bisa gawat jadinya.<br/><br/>Aku akhirnya berdiri dari tempat dudukku untuk menenangkan suasana. Soalnya bagaimanapun juga Erika sudah bisa kunikmati, tinggal menunggu waktu yang tepat. Lagian aku bukanlah tipe laki-laki yang suka terburu-buru dalam berbagai hal, khususnya dalam masalah seks.<br/><br/>Aku kini duduk di kursi menghadap Erika sedangkan Erika masih di atas kasur sambil memperbaiki rambut dan kaosnya kuningnya yang agak kusut.<br/>&#8220;Mas Doni mau ngajakku ke mana, sih,&#8221; Erika menatap wajahku.<br/>&#8220;Pokoknya tempat di mana tidak ada orang yang bisa mengganggu ketenangan kita, Ka,&#8221; jawabku sambil memandang permukaan dadanya yang baru saja kuremas-remas. Erika duduk sambil bersandar dengan kedua tangan di belakang untuk menahan tubuhnya. Payudaranya jadi kelihatan menonjol. Aku memandang nakal ke arah buah dadanya sambil tersenyum. Kakinya diluruskan hingga menyentuh telapak kakiku.<br/><br/>&#8220;Tapi kalau ketahuan.. Mas Doni yang tanggung jawab, ya&#8221; katanya mencoba menuntut pernjelasanku lagi. Aku mengangguk.<br/>&#8220;Terus kapan jalan-jalannya, Mas Don?&#8221; &#8220;Gimana kalo besok sore jam 4?&#8221; tanyaku.<br/>&#8220;Ketemu di mana?&#8221; tanyanya penasaran.<br/>&#8220;Kamu telepon aku dari wartel lalu aku akan menjemputmu di wartel itu, gimana?&#8221; tanyaku lagi.<br/>Dia tersenyum menatapku, &#8220;Wah, Mas Doni ternyata pintar banget untuk urusan begituan.&#8221;<br/>Aku tertawa.<br/>&#8220;Tapi aku nggak mau kalau Mas Doni nidurin aku,&#8221; tegasnya.<br/>Aku terkejut namun pura-pura mengiyakan, soalnya tadi aku merasa besok aku sudah bisa menikmati kehangatan tubuh Erika. Makanya besok sengaja aku memilih waktu sore hari karena aku ingin mengajaknya menginap. Namun aku diam saja, yang penting dia sudah mau aku ajak pergi, tinggal penyelesaiannya saja. Lagian ngapain dia mesti minta tanggung jawab seandainya aku tidak berbuat apa-apa dengannya, pikirku lagi. Ah, lihat besok sajalah.<br/><br/>Akhirnya aku mesti pulang ke rumah, di samping memang Erika juga menyuruhku segera pulang karena dia juga takut kalau tiba-tiba Heri memergoki kami sedang berdua di kamar. Namun sebelum pulang aku masih sempat menikmati bibir Erika sekali lagi waktu berdiri di samping pintu. Aku malah sempat menekan tubuh Erika hingga punggungnya bersandar di dinding. Kesempatan ini kugunakan untuk menekan kejantananku yang sedari tadi butuh penyaluran ke selangkangannya. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena situasinya memang tidak memungkinkan.<br/><br/>Di rumah aku gelisah terus. Kemaluanku tegang terus membayangkan apa yang telah dan bakal aku lakukan terhadap Erika. Akhirnya sore itu aku menjemput pacarku Era untuk melampiaskan nafsuku yang sudah tidak terkendali lagi. Bersama Era aku mencoba berfantasi sedang bersetubuh dengan Erika. Untung saja Era tidak tahu kalau sebenarnya aku sedang membayangkan Erika karena pada saat orgasme mulutku mengerang memanggil nama Erika.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2008/07/30/pacar-temanku-1.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Paint and Love</title>
		<link>http://jablayonline.info/2008/07/23/paint-and-love.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2008/07/23/paint-and-love.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jul 2008 14:05:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Lain Lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/2008/07/23/paint-and-love/</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu malam di Singapura, hujan rintik-rintik kecil membasahi jendelaku saat aku melaju di dalam taxi menembus jalanan kota. Aku kembali menuju ke tempat Louisa, seorang gadis yang kukenal beberapa minggu lalu di sebuah internet chatroom. Tadi sore aku baru saja membantu mencat apartemen barunya dan malam ini ia mengajakku ke diskotik sebagai tanda terima kasih. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu malam di Singapura, hujan rintik-rintik kecil membasahi jendelaku saat aku melaju di dalam taxi menembus jalanan kota. Aku kembali menuju ke tempat Louisa, seorang gadis yang kukenal beberapa minggu lalu di sebuah internet chatroom. Tadi sore aku baru saja membantu mencat apartemen barunya dan malam ini ia mengajakku ke diskotik sebagai tanda terima kasih. Meskipun badanku terasa sedikit lelah setelah seharian bermain dengan cat, aku tidak mau melewatkan kesempatan pergi dengannya.<br/><br/>Senyum cerianya kembali menyambutku saat ia membukakan pintu, ia tampak menarik sekali dengan celana hitam ketat dan kemeja putih tanpa lengannya. Ia mengatakan bahwa kami harus menunggu 2 orang teman lagi, jadi ia mempersilakan aku masuk dan menunggu di dalam. Sambil menunggu, aku lalu berjalan berkeliling dan memeriksa hasil pekerjaanku seharian tadi, masih kutemukan beberapa tempat yang belum rata warnanya, maklumlah aku bukan tukang cat professional.<br/><br/>Pukul 11 malam kami sudah berbaur bersama para pengunjung diskotik lainnya, bergoyang mengikuti musik sambil meneguk minuman beralkohol. Tetapi malam ini aku lebih banyak bergoyang-goyang kecil saja sambil duduk di bangku tinggi dan bersandar ke meja bar, mungkin karena badanku masih terasa lelah, sementara Louisa berjoget ria di depanku. Kadang ia menghadapku sambil memeluk pundakku, dan kadang membelakangiku untuk bergoyang bersama teman-teman lainnya. Pada saat ia membelakangiku aku bisa menikmati indah goyangan pinggulnya yang sexy, bahkan kadang kala pantatnya bersentuhan dengan daerah sensitifku, entah sengaja atau tidak.<br/><br/>Makin lama aku makin terangsang dengan gesekan pantatnya, dan ditambah pengaruh alkohol, rangsangan itu membuat kejantananku makin mengeras. Aku yakin Louisa bisa merasakan ada yang mengganjal di antara selangkanganku saat pantatnya kembali menyentuh tubuhku berulang kali. Tiba-tiba ia berbalik dan memelukku dengan lebih erat, kemudian merapatkan seluruh tubuhnya ke tubuhku dan berbisik pelan..<br/><br/>&#8220;Apakah aku membuatmu bergairah?&#8221;<br/>&#8220;Ya, karena kau sungguh sexy malam ini&#8221; jawabku sambil melingkarkan tanganku ke belakang tubuhnya dan menariknya makin rapat ke tubuhku.<br/>&#8220;Kau tahu bahwa kau sudah membuatku bergairah dari seharian tadi?&#8221; bisiknya lagi. Aku hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.<br/>&#8220;Seharian aku melihatmu bekerja dengan serius sampai berkeringat, kadang aku melihat sedikit pantulan sinar matahari dari butiran keringat di badanmu, menurutku itu sangat sexy dan membuatku bergairah&#8221;. Aku hanya tersenyum mendengar penjelasannya. Aku tahu kadang rangsangan bagi kaum wanita tidak bisa dimengerti oleh kaum pria, tapi baru kali ini aku mendengar hal seperti itu.<br/><br/>Aku memberanikan diri untuk mulai menciumnya, mulai dari pipi kiri, kanan, kemudian turun ke bibirnya. Ia pun membalas ciumanku dengan antusias, tak berapa lama French kiss pun terjadi. Dan beberapa saat ke depan setelah itu kegiatan kami hanya berciuman dan saling meraba, seolah tak peduli lagi dengan orang-orang di sekitar kami.<br/><br/>Kami terus saling memberikan rangsangan, tanganku terus bermain menjelajah ke hampir seluruh bagian tubuhnya, turun ke dua sisi pantatnya, meraba dan meremas-remas di sana, naik ke bagian dadanya, kembali meraba dan meremas, dan turun lagi ke bagian depan selangkangannya untuk sekedar meraba-meraba daerah vitalnya. Tangan Louisa juga tak kalah sibuk, ia meremas-remas dadaku, sedikit memilin putingku dan kemudian turun meremas kejantananku dari luar celana jeans.<br/><br/>Aku sedikit tersentak saat kurasakan tangannya sudah masuk ke dalam retsleting celanaku dan menyentuh batangku dari luar celana dalam, ternyata di luar sepengetahuanku ia sudah berhasil membuka retsletingnya. Aku tak mau kalah lalu berusaha juga membuka retsletingnya tetapi cukup susah karena ia terus bergerak berjoget mengikuti irama. Akhirnya aku harus puas hanya dengan meraba-raba vaginanya dari luar. Itupun aku sudah dapat merasakan belahan vaginanya karena celana yang ia kenakan cukup tipis.<br/><br/>Pukul 2 pagi kami berempat meninggalkan diskotik dengan 2 taxi terpisah, 2 teman lain pulang ke rumah masing-masing dengan 1 taxi, sementara taxi kami langsung menuju ke tempat Louisa. Dalam perjalanan baru aku mulai berani meraba buah dadanya dari dalam kemeja meskipun masih tertutup bra. Buah dadanya tidaklah besar tapi terasa benar-benar pas di tanganku. Louisa hanya duduk bersandar ke bahuku sambil menutup matanya menikmati remasanku, kadang ia mendaratkan kecupan-kecupan kecil di pipiku.<br/><br/>Begitu sampai di tempat Louisa kami langsung kembali berciuman dengan panas di sofa ruang tengah, tangan kami mulai bekerja berusaha melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh. Kami sudah begitu bernafsu sampai tidak peduli lagi dengan bau cat basah dari tembok di sekeliling ruangan.<br/><br/>Setelah aku berhasil melepas kemeja dan celananya, Louisa bergerak mundur sejenak, kemudian berdiri dengan dua tangan lurus disatukan di atas kepala sambil mengangkat sebagian rambutnya, seolah memamerkan kemolekan tubuhnya. Ia sungguh tampak menggairahkan dengan pose seperti itu, hanya berbalutkan CD mini hitam berenda dan bra senada.<br/><br/>&#8220;Come and get me baby..&#8221; katanya menggoda sambil berbalik dan melangkah ke dalam kamar.<br/><br/>Aku melepaskan semua pakaianku, kemudian menyusulnya ke dalam kamar. Di dalam kamar Louisa sudah duduk di pinggiran tempat tidur, sebelah tangannya meremas-remas buah dada kirinya dan sebelah lagi melambai ke arahku.<br/><br/>Aku berlutut di hadapannya dan mendaratkan ciumanku di daerah dadanya, sebelah tanganku menggantikan tangannya meremas-remas buah dada kirinya dan sebelah lagi bergerak ke belakang menjangkau kaitan bra-nya. Sekejap saja bra-nya sudah terlepas, tanganku bebas bermain di dadanya tanpa halangan lagi. Ciumanku juga makin panas, menciumi kedua belah dadanya bergantian kiri dan kanan, dan tak lama lidahku juga sudah dapat bermain dengan kedua putingnya yang berwarna pink. Hanya desahan demi desahan yang kudengar keluar dari mulut Louisa.<br/><br/>Puas bermain di dadanya, ciumanku mulai turun ke daerah perutnya yang ramping. Louisa bergerak mundur kemudian berbaring di tempat tidur untuk memudahkanku menjelajahi tubuhnya. Ciuman dan lidahku terus turun sampai ke daerah kewanitaannya, sekilas melewatkan lidahku di atas gerbangnya yang masih tertutup CD, dan turun lagi ke bagian dalam kedua pahanya. Bergerak dari kiri ke kanan bergantian lalu kembali ke gerbangnya, mendaratkan ciuman demi ciuman ke daerah yang telah lembab itu.<br/><br/>Akhirnya aku menggeser satu sisi CD-nya ke samping dan melesakkan lidahku ke dalam, menempel pada dinding vaginanya, diam sebentar untuk membiarkannya merasakan kenikmatan yang ada, kemudian mulai bergerak perlahan, mengelilingi seluruh daerah gerbang dan kadang menusuk-nusuk ke dalam liangnya. Pinggul Louisa bergerak-gerak seolah menyambut hentakan lidahku di dalam vaginanya. Desahan kenikmatannya terdengar makin keras. Sesaat kemudian Louisa menahan kepalaku, mendorongnya makin dalam seraya menaikkan pantatnya, rupanya ia baru saja mencapai orgasme pertamanya.<br/><br/>Aku menggeser badanku dan rebah di sampingnya, Louisa langsung mencium bibirku begitu berada dalam jangkauannya. Tak lama ia menaikkan tubuhnya ke atas tubuhku dan mulai kembali menciumiku dengan ganasnya. Mulai dari leherku kemudian turun ke dada, perut dan akhirnya ke batang penisku yang telah keras menanti sentuhannya sedari tadi.<br/><br/>Pertama ia menciumi kepala penisku, kemudian turun ke daerah sisinya, turun terus sampai ke kantung dan dua bijiku. Lidahnya pun ikut bermain, aku merasakan kelembutan lidahnya bermain dengan kedua bijiku. Kenikmatan itu terus berlanjut saat lidahnya kembali bergerak naik mengelilingi batangku dan akhirnya kurasakan seluruh batangku perlahan masuk ke dalam mulutnya yang hangat dan mulai dikulumnya perlahan. Semakin lama kulumannya semakin cepat dan bernafsu, kadang diselingi dengan kocokan tangannya pada penisku. Aku benar-benar terbang dibuai kenikmatan yang diberikannya.<br/><br/>Cukup lama kubiarkan ia bermain di bawah sana sampai akhirnya aku harus menahann<br />
ya sebelum aku meledak dengan semua kenikmatan ini. Ia melepaskan penisku dari mulutnya sambil tersenyum menggoda. Ia lalu kembali menaikkan tubuhnya ke atasku, atau lebih tepatnya duduk di atasku.<br/><br/>Perlahan ia menjorokkan tubuhnya ke depan untuk menciumku sementara sebelah tangannya turun dan menggeser sisi CD-nya, aku membantunya mengantar kepala penisku menemui gerbang kewanitaannya. Dan kenikmatan pun kembali kurasakan saat ia bergerak turun dan batangku perlahan meluncur masuk ke dalam liangnya. Kami terdiam sesaat untuk menikmati sensasi kenikmatan yang ada, kemudian kembali berciuman sambil mulai bergerak perlahan.<br/><br/>Gerakan demi gerakan makin menambah kenikmatan dan sensasi yang ada, makin lama kami pun bergerak makin cepat dengan desahan nafas yang makin memburu. Tanganku tak tinggal diam, aku kembali bermain dengan kedua buah dadanya, meremas-remas dan memilin-milin kedua putingnya.<br/><br/>Beberapa menit dalam posisi ini, Louisa kembali mengejang sesaat dan kemudian ambruk di atasku, bibir kami kembali bertemu dan berpagutan. Aku merasakan bibir vaginanya berkontraksi sejenak menjepit batangku, semakin menambah kenikmatan yang ada.<br/><br/>Setelah beristirahat beberapa saat aku memintanya untuk berganti posisi. Louisa pun bergeser dan menunduk berpegangan pada tepi ranjang sementara aku pindah ke belakangnya untuk memasukkan penisku dari arah belakang. Ia pun menaikkan pantatnya sehingga lebih memudahkan penisku untuk mencapai gerbangnya.<br/><br/>Sambil berpengangan pada buah pantatnya aku perlahan mendorong batang penisku kembali memasuki vaginanya, kemudian mulai menggerakkan pantatku dengan berirama, mendorong batangku keluar masuk kewanitaannya. Tak lama Louisa kembali bergerak mengimbangi gerakanku dalam irama yang sama, batangku pun terdorong masuk makin dalam. Gerakan kami pun kembali makin lama makin cepat, secepat desah nafas kami yang kian memburu.<br/><br/>Aku tak bisa lagi lebih lama menahan orgasmeku, akupun meledak dalam kenikmatan sambil mencengkeram keras kedua belah pantat Louisa, menariknya makin mundur seakan menyambut semprotan muatanku di dalam kewanitaannya. Aku masih menikmati sisa orgasmeku saat kurasakan pantatnya bergerak mundur dengan tiba-tiba, mendorong penisku untuk semakin melesak ke dalam, rupanya Louisa juga mencapai orgasmenya lagi pada saat yang hampir bersamaan. Louisa pun ambruk ke tempat tidur dan aku menyusul ambruk di sisinya, kami berciuman untuk beberapa saat sebelum akhirnya larut dalam keheningan dan tertidur sampai pagi.<br/><br/>Kami terbangun saat handphone Louisa berdering, Louisa menjawab handphonenya sambil berjalan keluar kamar.<br/><br/>&#8220;Sayang, teman-temanku mau datang lagi untuk membantu meneruskan pekerjaan kemarin, mereka datang sekitar 1 jam lagi&#8221; katanya setelah kembali ke kamar.<br/>&#8220;Oke, aku mandi dulu baru kita teruskan pekerjaan kemarin ya&#8221; jawabku sambil melangkah menuju kamar mandi.<br/>&#8220;Kamu mau mandi juga sayang?&#8221;<br/>&#8220;Bersama kamu? Tentu saja&#8221; balas Louisa sambil ikut melangkah ke kamar mandi menyusulku.<br/><br/>Kami pun bercinta sekali lagi di bawah siraman shower. Ia bersandar pada dinding dan aku merapatkan tubuhku pada tubuhnya sambil mengangkat sebelah kakinya. Dalam posisi ini penisku bisa kembali melesak ke dalam vaginanya tanpa banyak halangan.<br/><br/>Siang itu aku meneruskan pekerjaan mengecatku pada bagian-bagian dinding tertentu yang kemarin kurang rata. Louisa dan teman-temannya sibuk membereskan perabotan kembali ke tempatnya semula, membersihkan noda-noda cat, dan membuang kertas-kertas koran yang kemarin dipakai sebagai penutup.<br/><br/>Yang berbeda adalah hari ini Louisa tampak selalu berada di sisiku, beberapa kali aku menangkapnya memperhatikan diriku, tetapi kali ini aku mengerti maksudnya. Kadang akupun menghampirinya dan mendaratkan kecupan-kecupan kecil di pipi dan bibirnya. Tak hanya ciuman, kadang kami juga berlanjut sampai saling meraba, bahkan kami sempat tertangkap basah oleh temannya saat sudah mulai saling membuka baju lagi di ruangan dapur.<br/><br/>Hari itu pun berlalu dengan penuh canda antara kami semua. Dan tidak hanya hari itu, canda tawa Louisa masih terus menemani hari-hariku sampai akhirnya kami harus berpisah karena aku harus pulang ke Indonesia.<br/><br/>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2008/07/23/paint-and-love.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Paranormal Mesum 2</title>
		<link>http://jablayonline.info/2008/07/05/paranormal-mesum-2.html</link>
		<comments>http://jablayonline.info/2008/07/05/paranormal-mesum-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jul 2008 15:38:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seks Lain Lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://detikhots.com/2008/07/05/paranormal-mesum-2/</guid>
		<description><![CDATA[Baru pasien yang ketiga, ibu yang aku inginkan memasuki ruangan kantorku, benar-benar cantik dan anggun tinggi besar dengan rambut sebahu, bibir sensual dan hidung mancung, kakinya mulus dan ramping benar benar aduhai. Ketika memperkenalkan diri, tangannya terasa hangat dan empuk sekali, suaranya yang agak serak membuatku makin terangsang sehingga hampir aku tidak mendengar ketika ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baru pasien yang ketiga, ibu yang aku inginkan memasuki ruangan kantorku, benar-benar cantik dan anggun tinggi besar dengan rambut sebahu, bibir sensual dan hidung mancung, kakinya mulus dan ramping benar benar aduhai. Ketika memperkenalkan diri, tangannya terasa hangat dan empuk sekali, suaranya yang agak serak membuatku makin terangsang sehingga hampir aku tidak mendengar ketika ia menyebutkan namanya Pratiwi. Aku berusaha bersikap tenang dan wajar mendengarkan keluhannya. Pratiwi adalah seorang pengusaha yang menjadi rekanan pemerintah, omzetnya miliaran, tetapi belakangan ini bisnisnya mengendur karena banyak tender yang meleset dan jatuh ke tangan pengusaha lain. Dia sudah berusaha macam-macam tetapi semuanya gagal total bahkan belakangan ini perusahaannya hampir kena penalti karena kekeliruan karyawannya.<br/><br/>Pratiwi benar-benar gelisah dan ngeri oleh semuanya ini. Wajahnya yang cantik kelihatan tegang dan di cuping hidungnya kulihat bintik-bintik keringat menambah keseksiannya. Melihat aku memandangnya, Pratiwi juga balas memandang tanpa berkedip.<br/><br/>Tiba-tiba aku bertanya kepadanya, apakah dia percaya bahwa kehidupan seksnya sangat mempengaruhi pekerjaannya, Pratiwi mengangguk dengan pelan, kulihat matanya sedikit berkedip seperti kaget. Aku langsung menyambung pertanyaanku dengan pertanyaan yang aku sendiri tidak menyangka kalau itu keluar dari mulutku, karena aku menanyakan apakah dia seorang lesbian. Di luar dugaanku dia mengangguk, tetapi dia menambahkan bahwa dia juga suka berhubungan dengan pria. Aku menanyakan kepada Pratiwi, coba ibu tebak, berapa kira-kira panjang kemaluan saya, karena jika ibu bisa tepat menduganya, maka berarti saya dapat menangkal masalah ibu. Pratiwi agak menyeringai mendengar perkataanku itu. Dengan ragu ia bertanya maksudnya panjang waktu tidur atau waktu berdiri. Aku menjelaskan yang mana saja pokoknya tepat. Pratiwi terdiam sambil berpikir keras, aku tahu dia bingung karena saat itu aku duduk di kursi di belakang meja kantorku, dan akupun memakai pakaian lengkap sehingga dia tidak mempunyai bayangan apapun tentang penisku.<br/><br/>Tiba-tiba saja dia meraih penggaris yang ada di mejaku dan merentangkan jari-jarinya di atas penggaris itu untuk kemudian ditunjukkannya kepadaku. Aku melihat angka yang tertera di ujung jari Pratiwi, aku kaget karena di situ tercantum angka 18.5 cm, hampir sesuai dengan kenyataannya. Pratiwi bertanya apakah itu benar, aku hanya berkata coba ukur saja sendiri. Aku langsung berdiri memutari mejaku dan mendekati Pratiwi yang sedang duduk, kubuka celanaku dan kukeluarkan penisku yang masih lemas itu. Pratiwi melirik penisku dan mengambil penggaris untuk mencoba mengukurnya, dengan ragu-ragu satu tangannya memegang penisku sementara yang satunya memegang penggaris. Tentu saja ukurannya tidak tepat karena masih lemas, seperti yang sudah kuduga, tangan Pratiwi meremas-remas penisku agar bangun dan mengurut-urut. Kubiarkan saja semua gerakannya itu, tetapi percuma saja karena penisku tetap tidur nyenyak.<br/><br/>Tiba-tiba saja ia menundukkan kepalanya dan.., slep.., penisku sudah terjepit di antara bibirnya yang tebal itu, terasa hangat dan lembut sekali, kurasakan bibirnya menjepit penisku dengan gerakan yang lancar meskipun tak sedikitpun Pratiwi membasahi penisku dengan ludahnya. penisku mulai bangun dan makin lama makin mengembang, sementara Pratiwi makin lancar mengulumnya, tanganku mulai bergerak meraba buah dada Pratiwi yang montok dan kenyal itu, tanpa ragu-ragu tanganku menerobos blousenya dan meremas buah dadanya, tak kukira bahwa Pratiwi tidak memakai beha, aku dapat merasakan puting susunya yang kecil tetapi keras seperti batu itu, kuremas-remas payudaranya, dan kupelintir puting susunya. Rasa geli di sekeliling penisku membuatku jadi tak tahan lagi, bayangkan sejak tadi aku sudah terangsang oleh ulah beberapa ibu yang aku temui, maka saat ini rasanya sudah maksimal dan, syer.., syer.., croot, air maniku memancar keras sekali dua, tiga dan empat kali memancar memenuhi mulut Pratiwi, tak sedikitpun Pratiwi melepaskan penisku semuanya masuk di dalam mulutnya dan saking banyaknya sampai sebagian mengalir keluar dari samping bibirnya. Aku meremas buah dadanya sekeras-kerasnya Pratiwi diam saja, dia asyik menelan air maniku.<br/><br/>Setelah dilihatnya aku sudah puas, Pratiwi mengeluarkan penisku dari mulutnya dan langsung diukurnya penisku yang masih berdiri itu dengan penggaris. Dia tersenyum ketika melihat bahwa dugaannya benar. Aku juga tersenyum karena hisapan Pratiwi yang nikmat itu. Tiba-tiba Pratiwi berdiri, tanpa kuduga ia mulai membuka pakaiannya sehingga telanjang bulat. Ia berkata bahwa sekarang saatnya aku memuaskan dia agar jadi seri. Aku jadi bernafsu lagi melihat tubuh Pratiwi yang luar biasa itu, payudaranya montok dan kenyal dengan puting yang berwarna merah muda sangat serasi sekali dengan kulitnya yang putih kekuning-kuningan itu, sementara ketiaknya juga berbulu lebat, sesuatu yang sangat aku senangi, sedangkan pangkal paha Pratiwi benar-benar menakjubkan, karena meskipun bulu vaginanya sangat lebat, tetapi Pratiwi telah mencukur sebagian bulu kemaluannya sehingga hanya tinggal bagian tengahnya tegak lurus dari pusar sampai ke bukit vaginanya.<br/><br/>Meskipun saat itu kami masih sama sama berdiri, Pratiwi tak segan-segan merapatkan tubuhnya dan menciumku dengan mengeluarkan lidahnya yang hangat menelusuri rongga mulutku, tanganku dengan lincah mengarahkan penisku ke liang vaginanya yang tepat menempel di depan penisku itu. Begitu ujungnya menempel, aku segera menggendong Pratiwi dan menekankan penisku sampai amblas ke dalam liang vaginanya. Dengan posisi menggendong Pratiwi dan mulut masih berkutat dengan ciuman aku berjalan menuju sofa. Pratiwi benar benar pemuas nafsu pria rupanya, karena meskipun dalam posisi yang sulit yaitu aku menggendongnya dan kakinya menjepit pantatku, dia masih sempat juga menggerak-gerakan pantatnya untuk memilin penisku yang sepertinya melengkung karena posisi tubuh kami yang berdiri ini. Begitu kami roboh di atas sofa, ciuman kami terlepas dan Pratiwi melenguh sejenak, mungkin dia merasakan enaknya sodokan penisku yang notok sampai ke liang rahimnya itu.<br/><br/>Tanpa malu malu Pratiwi mengangkat kakinya tinggi-tinggi dan meletakkannya di atas bahuku. Posisiku jadi bebas sekali, dengan ringan aku mendayung liang vagina Pratiwi yang sudah mulai becek itu, dan diapun dengan lincah memutar-mutar pantatnya mengimbangi tusukan penisku. Kurasakan liang vagina Pratiwi yang peret dan berpasir itu membuat penisku terasa geli sekali, entah berapa lama aku memaju-mundurkan pantatku, tetapi Pratiwi masih juga belum mencapai puncaknya begitu juga diriku sendiri. Kuhentikan gerakanku dan kuminta Pratiwi untuk menungging agar aku bisa menyetubuhinya dari belakang, aku benar-benar mata gelap dengan nafsu. Aku tak peduli lagi kalau mungkin di luar masih ada pasien yang menungguku, yang penting sekali ini aku harus membuat Pratiwi terpuaskan dan selanjutnya membantu kesulitannya agar tertanggulangi.<br/><br/>Ketika Pratiwi sudah menungging, tampaklah vaginanya yang sudah basah kuyup itu di pantatnya juga banyak bulu vagina sebagai tanda kalau memang bulu vagina Pratiwi luar biasa tebalnya. Aku langsung menempelkan ujung penisku yang sudah merah padam itu ke celah vagina Pratiwi dan, &#8220;slep.., bloos..&#8221;, penisku amblas sampai hanya tinggal pelirku saja yang menggantung di luar. Tanganku meraih buah dada Pratiwi dan meremas-remasnya, saat itu mulai kudengar rintihan Pratiwi mula-mula pelan tetapi makin lama makin keras dan tiba-tiba kurasakan liang vagina Pratiwi mengejang-ejang dan hangat sekali. Kurasakan rasa geli dan nikmat yang luar biasa saat itu, karena jepitan vagina Pratiwi sementara aku merojoknya membuat penisku seperti diurut. Dan tanpa bisa kutahan lagi akupun ambrol merasakan nikmatnya vagina Pratiwi, air maniku menyembur menabrak dinding kemaluannya dan bercampur dengan lendir yang keluar dari vaginanya. Aku terkulai lemas sementara Pratiwi menggigit pundakku karena menahan rasa nikmat dan agar tidak sampai berteriak karena rasa nikmat tadi.<br/><br/>Dalam keadaan masih gemetar, aku<br />
segera memakai pakaianku kembali begitu juga dengan Pratiwi, wajahnya semeringah dan tersenyum terus. Aku berpura-pura seperti tak ada apa-apa dan setelah kami berdua duduk berhadapan, aku memanggil Mery masuk. Mery tersenyum melihat wajahku yang mungkin kentara kalau habis main seks itu. Aku minta dibuatkan minum dan Mery dengan patuh membuatkan minuman buat kami berdua. Bagiku masalah Pratiwi bukan hal yang sulit dengan bermeditasi sejenak aku sudah berhasil menyelesaikan masalahnya, karena ada bapak pejabat yang pernah ditolak olehnya untuk berhubungan intim rupanya sakit hati dan selalu mempersulit Pratiwi. Aku katakan pada Pratiwi bahwa bapak itu sekarang sudah berubah tetapi sebaiknya Pratiwi jangan sekali kali memberi dia kenikmatan karena berbahaya. Pratiwi mengangguk manja dan ketika mau pulang dia sempat mencium bibirku lama sekali. Aku berjanji pada Pratiwi untuk sekali kali makan siang dengannya tentu setelah itu kita juga perlu kenikmatan seks.<br/><br/>Tamat</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jablayonline.info/2008/07/05/paranormal-mesum-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
