Gairah Di Tengah Badai
Hai, masih ingat aku kan? Aku Dinda yang ada di “Darah Keperawanan Ayu”. Aku masih tetap kuliah dan masih satu kos sama Ayu yang sesekali masih “main wortel” bersamaku. Kabar Ayu baik, bahkan sekarang dia semakin mahir melumat puting susuku. Tapi kali ini aku tidak bercerita tentang Ayu, tapi pengalamanku yang lain.
Namanya Apriliani, atau lebih akrabnya Pri. Dia satu kos-kosan denganku. Kepribadiannya mirip cowok demikianpun postur tubuhnya. Badannya tegap dan cara berjalannya gagah. Wajahnya tidak cantik, tapi lebih terkesan tampan. Hidungnya mancung dengan mata setajam elang dan bibir yang sedikit tebal. Rambutnya keriting sebatas bahu yang sering dikuncirnya ketika kegerahan. Sebenarnya Pri ingin memangkas rambutnya seperti potongan cowok, tapi selalu dilarang oleh kami.
“Kamu lebih pantes begini Pri, kayak Nicolas Saputra.” kata Heny, salah teman kosku juga waktu Pri mengutarakan ingin memangkas rambutnya.
Ya.. sekilas memang mirip Nicolas Saputra, terlebih lagi kulitnya putih bersih. Pri itu orangnya pendiam dan sesekali mudah marah, dan paling sering disuruh ngerjain pekerjaan-pekerjaan cowok di kos-kosan itu. Pokoknya kecuali dadanya yang membusung, kelamin dan suaranya mungkin Pri sudah dalam kategori laki-laki.
Yang paling aneh, teman-teman kosku justru yang nggak lesbian (berarti kecuali Ayu yang waktu itu ngesex bareng aku) naksir pada Pri. Walaupun mereka sadar benar lahir batin kalau Pri itu asli cewek. Kemana saja Pri dikuntit dan ada saja yang cari perhatian Pri. Akupun sebenarnya suka sih.. tapi sekedar melirik-lirik wajah gantengnya itu (sebab aku kan bukan lesbian sejati, waktu sama Ayu itu kan kebetulan he.. he..). Pokonya aku masih doyan cowok.
Hari itu aku hanya tinggal berdua dengan Pri di kos-kosan. Sejak kemarin, teman-teman kosku pada mudik (termasuk Ayu) karena mulai kemaren liburan semester sudah dimulai. Rencananya Pri akan pulang besok, sedang aku seminggu lagi sebab ada urusan di BEM (aku termasuk aktivis BEM). Sebelumnya kami bersikap wajar-wajar saja. Pri tidur di kamarnya, aku di kamarku sendiri. Tak ada keinginan untuk tidur sekamar, karena aku kurang suka dengan sikap Pri yang mudah marah.
Mendung yang menggantung sejak siang tadi tiba-tiba berubah menjadi hujan yang lebat disertai angin. Waktu itu kira-kira pukul sembilan malam, waktu aku sudah akan tidur. Sialnya atap kamarku bocor cukup besar sehingga membasahi kasurku.
“Aduh sial! Gimana nih? Prii.. tolong kesini dong..” teriakku.
“Ada apa sih?” tanya Pri menuju kamarku.
“Bocor nih, gimana dong?”
“Kamarku sendiri juga bocor. Dasar rumah tua! Rumah beginian disewain!” umpat Pri.
“Sudah deh, jangan marah-marah. Biasanya juga nggak gini, mungkin karena hujan angin kali. Kalau begitu bantuin aku memindahkan barang-barang ini, nanti kamu aku bantuin juga.” ujarku.
Akhirnya Pri membantuku memindahkan barang-barang ke tempat yang kering. Lalu akupun turut membantunya. Setelah selesai kamipun segera berkumpul di ruang tengah dengan maksud tidur disitu, sebab kamar lainnya terkunci dari luar. Kebetulan ada TV disitu, daripada jenuh karena nggak jadi ngantuk aku menstel TV itu. Pri menghampiriku.
“Din, hujan-hujan begini enaknya ngapain?” tanya Pri.
“Enaknya tidur, tapi aku nggak jadi ngantuk nih.” jawabku.
“Enaknya makan mie goreng yang masih panas sambil nonton film. Kayaknya Inka punya film bagus deh.” ujar Pri.
“Trus?”
“Yaa.. kamu kan terkenal pandai bikin mie goreng, aku belum pernah loh ngerasain mie gorengmu.” kata Pri sedikit merayu.
“Iya deh, aku buatin.”
Lalu aku pergi ke dapur untuk membuat mie goreng. Aku kembali teringat pergumulanku dengan Ayu yang awalnya karena mie goreng. Teringat itu aku tersenyum sendiri. Setelah selesai aku bawa dua porsi mie goreng ke ruang tengah. Tapi aku sempat terkejut melihat Pri yang meremas-remas dadanya dengan nafas terengah-engah sambil memandangi layar kaca. Ternyata film yang ditontonnya itu BF. Dadaku bergetar saat memandangi wajah Pri yang telah berubah kulit menjadi merah merona. Apalagi gerakan tangannya yang meremas-remas payudaranya yang tak sebegitu besar hingga kaos yang dikenakannya tertarik-tarik keatas.
“Auhh.. ehh.. ehh..” desau Pri sembari memejamkan mata rapat-rapat.
Spontan birahiku bangkit memandang gerakan Pri yang bagai haus cinta. Segera aku letakkan dua piring mie di atas meja lalu aku menghampiri Pri dan memeluknya dari belakang.
“Eh.. Din, apa-apaan kamu ini?” tanya Pri kaget.
“Aku hanya ingin membantumu saja, Pri.” jawabku sambil meremas-remas buah dadanya.
“Aahh.. Diin.. sudah aduuh.. ennaak.. gilaa..”
Tangan Pri mencoba mengusir jemariku. Tapi jemariku sudah mencengkeram kedua buah dadanya dan meremasnya dengan penuh perasaan. Tinggalah Pri merasakan kenikmatan itu dengan desisan-desisan halus. Aku pelintir kedua puting susunya kemudian aku koyak-koyak ke kanan dan ke kiri. Pri menjambak rambutku dengan desahan yang panjang.
“Aaahh.. achh.. Diinn eennaakk.. sshh..”
“Lepasin kaosnya Prii..” pintaku kemudian.
Pri melepas kaosnya, juga celana pendeknya (kebetulan nih). Akupun segera melepas semua pakaianku kecuali CD. Kemudian aku peluk Pri yang masih di bawah kendaliku itu. Aku remas kembali buah dadanya yang masih terbungkus bra. Aku matikan layar TV karena kupikir Pri sudah dalam kendaliku sepenuhnya. Lalu tanganku bergerak ke punggung Pri dan berusaha membuka pengait bra itu. Sesudah berhasil melepas pengait branya tanganku kian bebas membelai dan meremas buah dadanya yang mengeras. Sementara tanganku bergerilya di kedua bukit bengkaknya, bibirku pun menciumi leher Pri. Pri mendesah tak tahan mendapat perlakuanku itu.
“Haahh.. kenyotin payudaraku kayak di film tadi Diinn.. please..”
Aku lepas branya lalu aku tarik tubuh Pri agar menindihku. Dalam posisi menungging Pri menjejalkan susunya ke dalam mulutku. Aku jilati saja ujung putingnya membuat Pri bergelinjangan geli. Lidahku menari-nari mempermainkan puting susu Pri yang bergelantungan tepat di depan wajahku.
“Ddiinn.. dikenyot dong.. jangan siksa akuu hoohh..” desahnya ketika puting kanannya aku himpit dengan kedua bibirku.
“Uuhh.. Diinn gelii.. ouuhh..”
Pri menyodokkan payudaranya ke dalam mulutku lalu aku kenyot-kenyot payudaranya dengan hisapan-hisapan yang kuat. Pri melenguh-lenguh keenakan, demikianpun aku yang merasakan remasan jemari Pri di payudaraku. Aku balik tubuhnya hingga kini posisiku berada di atasnya. Aku kenyot terus payudara Pri yang sudah membengkak dengan hiasan putingnya yang keras coklat kemerah-merahan dan sangat menggemaskan.
“Aduuhh.. Diinn.. kayaknya aku kebelet kencing nih..” rintihnya.
“Keluarin aja Prii.. kamu horny banget sayy..” jawabku disela-sela penthilnya.
“Auhg.. aku nggak tahan.. eeghh.. hohh.. Din aku keluar betulan.. hoohh.. uuhh.. aach..!!”
Viagra Pri menyembur dari lubang kenikmatannya dalam jumlah banyak. Aku segera melepaskan CDnya lalu menjilati viagra Pri yang membludak di kemaluannya. Pri menjerit-jerit tertahan ketika vaginanya aku hisap kuat-kuat. Rambut kemaluan Pri yang sama keritingnya dengan rambut kepalanya terbungkus aroma khas yang menambah nikmat hisapanku.
“Hhmm.. rasanya legit banget aacchh..”
“Ogghh.. terus sayang.. nikmat sayang.. oogghh.. oogghh.. yeeaahh.. nikmat sayang.. terus sayangg..”
Erangan demi erangan kami mengalahkan hujan badai malam itu. Tak lagi peduli dengan atap yang bocor ataupun kilat yang menggelegar-gelegar. Yang ada hanya kenikm